
Alif hanya menatap dari kejauhan Rahmi yang membereskan barang-barangnya dibantu oleh seorang suster.
Rahmi tampak bahagia, ia tersenyum lebar dengan suster itu. Berbeda saat bersama dengan Alif, ia hanya menunduk dan gemataran ketakutan.
Keheningan terjadi diantara mereka selama perjalanan. Rahmi meremas pakaiannya, setiap melihat Alif bayangan ruangan gelap selalu menghampirinya.
Syut.
Mobil mereka telah sampai dirumah. Rahmi turun dengan cepat dengan membawa barang-barangnya. Ia berjalan bergitu cepat menuju dapur, tempat ia sering tinggali.
Deg!
Rahmi melihat ruangan pojok dapur biasa ia tidur kini kosong tanpa barangnya.
''Nona mencari apa?''
Rahmi berbalik melihat seorang pelayan yang agak tua mendekatinya.
''Say-''
''Antar ia kekamarnya,'' ucap Alif dari kejauhan, kemudian ia berjalan keluar lagi.
''Barang nona ada dilantai atas. Mari saya antar,'' ucapnya tersenyum hangat.
Rahmi diam memandang cukup lama. Siapa?
''Saya Kepala pelayan disini. Nona bisa memanggil saya Bibi Hani."
''Bibi Hani."
''Iya Nona?''
''Tidak! Tidak ada,'' ucap Rahmi nyengir.
''Baiklah Bibi antar kekamar."
Rahmi mengikuti langkah Bibi ia berjalan melihat kesana kemari. Pelayan yang ada disini sepertinya banyak. Ada yang membersihkan lantai, jendela, vas bunga dan dinding yang tinggi. Dulu itu adalah tugasnya, terkadang ia butuh waktu setengah hari untuk membersihkan semuanya.
''Kita sampai nona."
Rahmi menatap kamarnya, kamarnya berada didepan kamar Alif. Rahmi sedikit takut saat melihat lorong ujung, dikamar ia dulu dikunci.
''Nona? Nona tidak apa?'' tanya Bibi sambil menepuk bahu Rahmi.
''Ah... Rahmi tidak apa, Bi."
Bibi tersenyum kemudian ia membuka pintu kamar Rahmi. Kamar itu terlihat sederhana, tidak begitu luas tapi tidak juga sempit, tidak begitu mewah, namun juga tidak kuno.
''Ini kuncinya,'' ucap Bibu kemudian memberikan kuncinya pada Rahmi.
Rahmi mengangguk, ia memasuki kamarnya kemudian menutupnya dengan rapat. Ia merebahkan tubuhnya kekasur. Rahmi melihat koper kecilnya didekat kasur, Rahmi bangun dan membuka isinya. Pakaiannya ia susun dengan rapi dilemari.
Rahmi memandang seisi ruangan. Ia berjalan perlahan menuju meja belajar. Disana ada beberapa buku bacaan dan buku kosong.
''Hutan kelam ... ,'' gumam Rahmi pelan membaca judul sebuah buku.
Bunda kapan kita akan pergi beli buku lagi..
Tunggu Ayah pulang, kita pergi hari ini.
Hore!! Ami paling sayang Bunda!!
Gak sayang ayah?
Ami juga sayang Ayah!!
__ADS_1
Rahmi teringat kenangan bersama keluarganya. Tidak banyak hal yang ia ingat karna kecelakaan itu ia hanyak ingat beberapa hal saja.
...
'Bosan.'
Kelvin memainkan pulpennya sambil menatap orang-orang yang sibuk didepan sana.
''Ekhm."
Kelvin menenggokkan kepalanya. Sekertaris-nya menatapnya dengan tajam karna ia hanya main-main dari tadi.
Kelvin berbalik lagi, ia sama sekali tidak peduli. Toh iya ada atau tidakkan itu tidak penting.
''Cukup! Kita sudahi saja."
Kelvin berdiri siap untuk pergi, sekertaris-nya memijit kepalanya yang sakit. Kenapa ia harus memiliki bos yang seperti Kelvin, tidak bisakah ia kompeten seperti ayahnya. Selama Kelvin menjabat, ia tak pernah sekalipun serius.
''Tunggu dulu tuan Kelvin!! Kerja sama kita gimana?'' tanya Alif cepat.
''Ahhkk ... Aku malas, tidak menarik! Mau pulang,'' ucapnya sembrono.
''Tapi kerja samanya tinggal beberapa minggu lagi selesai ... ,'' ucap Sekertaris Alif.
''Hmm ... Bagaimana kalau kau bawa saja istrimu, Akan kupikirkan untuk memperpanjang kerja sama ini kalau kau membawanya,'' ucap Kelvin dengan senyum mengambang.
''Hah?!!''
Sekertaris Kelvin langsung menariknya dan berbisik kepadanya.
''Tuan jangan gila! Saya bisa laporkan pada tuan!'' ancamnya.
Kelvin mengidikkan bahunya tidak peduli.
''Memang ini sudah yang keberapa kali? Aku sudah terbiasa,'' ucapnya acuh.
''Baiklah, pihak kami setuju,'' ucap Alif datar.
Kelvin tersenyum senang. Ia akan bertemu star, star yang selalu didambakannya untuk diajak bermain.
''Baiklah, kalian tidak akan menyesal telah setuju,'' ucap Kelvin yakin.
Mereka saling bersalaman. Kelvin tersenyum senang sepanjang perjalanan pulang. Ini akan jadi hal paling mengasyikan sepanjang sejarah hidupnya.
Drtt.
Melihat ponselnya berbunyi dan nama yang tertera membuat senyum Kelvin semakin lebar.
'Semakin seru saja rasanya.'
...
Pagi-pagi sekali Rahmi telah dibangunkan didandani dan diberi makan. Dia berangkat bersama Alif menuju kantor. Gedung yang begitu tinggi, Rahmi sempat tercengang melihatnya.
Rahmi kembali melangkah dibelakang Alif agar ia tidak tersesat.
Ting.
Ruang rapat terbuka, semua mata langsung tertuju pada Rahmi.
Glek.
Rahmi menelan ludahnya dengan berat, rasanya menakutkan. Tapi diantara yang lain, ada satu sosok yang tersenyum begitu lebar melihatnya datang.
Syung.
__ADS_1
Kelvi langsung melempar proposal yang dipegangnya bersamaan dengan jas-nya kearah sekertarisnya.
''Halo ... Nona, kita bertemu lagi, heheh,'' ucap Kelvin mendekati Rahmi.
Syutt.
Kelvin terkejut dan membulatkan matanya saat Alif menahannya untuk lebih dekat dengan Rahmi.
''Loh?''
Alif menyipitkan matanya menatap Kelvin yang hanya menyengir saja.
''Oke,oke tidak akan terlalu dekat,'' ucap Kelvin mundur beberapa langkah.
Terkadang Alif bingung dengan orang seperti Kelvin. Perusahaan manca negera, tapi dipimpin oleh orang yang sembrono sekali seperti Kelvin. Dan ia begitu tertarik dengan-nya, lebih tepatnya istrinya. Sebuah keberuntungan mereka mau bekerja sama dengannga.
Alif duduk dikursinya melanjutkan pembicaraan kerja sama mereka. Sedangkan Kelvin, ia menyerahkan segelanya pada sekertarisnya dan bermain bersama Rahmi.
Rapat itu bisa dibilang,'kacau.'
''Nah kalau ditambahkan balok disini jadi naga deh!!'' ucap Kelvin memperlihatkan pada Rahmi. Yah bongkar basang yang dibuat Kelvin beneran mirip dengan naga.
''Wah!!''
Prok, prok.
Rahmi hanya bertepuk tangan karna ia tidak tau ingin mengatakan apa.
Kryukk.
Rahmi langsung menatap Kelvin.
''Ekhm, saya lapar ... ,'' ucap Kelvin nyengir.
''Oi Tina! Belikan aku makanan!!!'' ucap Kelvin membuat sekertarisnya itu kesal.
''Baiklah, kita sudahi rapatnya,'' ucap Tina.
Mereka semua pun bubar kecuali beberapa orang. Alif masih disana, melihat Rahmi yang bermain dengan Kelvin. Tina membereskan dokumennya, ia berjalan kearah Kelvin dan dengan kesal memukul kepalanya.
Dhuak.
''Huk!''
''Tina kau sudah gila?!!'' ucap Kelvin kesal.
Tina acuh saja, ia memberikan dokumen itu dan dibaca oleh Kelvin sebentar. Kemudian Kelvin melemparkannya lagi pada Tina.
''Pergi saja belikan aku makanan,'' ucap Kelvin kembali fokos memasak blok-blok.
Kesal, Tina sangat kesal. Dia bukan lagi sekertaris tapi direktur berstatus sekertaris serta tambahan titel baru yaitu babu dari Kelvin.
''Kita makan diluar saja sekalian. Ini juga jam makan siang,'' ucap Alif bediri.
Rahmi menatap Alif dari atas hingga kebawah. Karna selalu menunduk Rahmi baru sadar. Ternyata Alif cocok sekali memakai stelan hitam dan memakai jas.
''Ho'oh, boleh tuh!'' ucap Kelvin berdiri.
Rahmi ikut berdiri, ia menatap mereka berdua secara bergantian. Pandangan Rahmi tiba-tiba tertuju pada Tina yang berkobar-kobar dengan amarah.
''Tina bereskan, oke?'' ucap Kelvin sambil mengedipkan matanya.
Tina langsung tersenyum profesional, bila dilihat isi pikirannya. Ia telah merebus majikannya itu.
''Ayok Rahmi!'' ajak Alif. Ajakan pertama yang tidak ada kemarahan ataupun kebencian didalamnya.
__ADS_1
Rahmi dengan gugup melangkah mendekati Alif.
Acara makan pertama yang Rahmi lalukan bersama dengan Alif.