Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Berusaha kabur.


__ADS_3

Rahmi menggerakkan tubuhnya yang terasa nyeri. Ia tiba-tiba teringat perlakuan buruk Alif.


Rahmi melihat sekitar yang terasa sepi.


Degh!


Rahmi melihat tangannya yang memiliki gelang besar yang berkelip-kelip.


''GPS!''


Rahmi menggertakkan giginya. Ia berlari kearah pintu berusaha membukanya.


Brak!


Rahmi berusaha sekuat tenaga tapi pintu itu tak bisa terbuka. Gelang itu juga tak mau lepas dari tangannya.


''Brengsek!!''


''KELUARKAN AKU DARI SINI!!''


''KELUARKAN AKU!!''


Rahmi terus berteriak hingga suaranya habis. Rahmi berbalik melihat jendela besar yang ada disebelah kasur. Ia mengambil benda berat dan melemparnya.


PRAK!


Kaca itu tidak pecah. Pot bunga yang dilemparnya pecah berserakan.


Rahmk menatap sekitar, tak ada jalan keluar ia benar-benar dikurung.


''Nona...''


''Bibi?!!''


Rahmi langsung berlari kearah pintu.


Cklek.


Saat pintu terbuka Rahmi mencoba untuk keluar.


Set!


''Nona dilarang keluar!''


Rahmi menatap penjaga yang berdiri didepan kamar. ia melihat sekeliling dari sana.


'Satu... dua.. Empat.. sepuluh... '


Bam!


Rahmi langsung menutup pintunya.


'Dasar kejam!! Ia menaruh penjaga disekelilingku!'


''Nona, Bibi bawa makanan...''


Rahmi tak menghiraukannya, biar saja ia mati kelaparan. Ia tidak mau hidup dengan orang yang telah menyakitinya hingga tega mengurungnya disebuah tempat yang bagaikan kandang singa yang bisa kapan saja ia akan diterkamnya.


Rahmi merebahkan tubuhnya kearah kasur ia memandang langit kamarnya yang megah. Tenggorokannya terasa haus ia melihat air diatas meja samping kasur.


Rahmi mengambil air itu kemudian meminumnya hingga tandas.


Beberapa menit setelahnya ia mengantuk dan tertidur begitu lelap.


Ditengah malam pintu kamar terbuka. Alif masuk dengan stelan jasny, ia baru pulang dari kantor. Pandangannya langsung tertuju pada ranjang dimana istrinya tidur begitu lelap.


Alif melihat ke arah maja dimana terletak gelas yang sudah kosong. Ia mengisi gelas itu dengan air kemudian memasukkan obat tidur kedalamnya sebelum pergi kekantor. Hal yang sama Alif lakukan kembali, ia mengisi gelas tersebut kemudian memasukan obat tidur didalamnya.


Alif duduk diranjang dimana Rahmi tertidur lelap dengan wajah yang damai. Alif melihat kamar yang sedikit berantakan.


"Tuan, nona tidak mau makan. Nona belum makan apapun seharian."


Alif menatap sendu istrinya yang begitu mungil.


"Rah, tidak semua yang kau dengar itu kenyataan... "


Alif merebahkan tubuhnya kemudian memeluk tubuh Rahmi begitu erat.


''Hmm.. alif." Rahmi mendekatkan tubuhnya dan bergumam pelan. Alif tersenyum mendengar ngingauan istrinya. Mungkin dihati Rahmi masih ada sebuah tempat untuknya.


Pagi datamg membangunkan sebuah pasangan yang bertengkar.


Alif membuka matanya perlahan. Ia menatap Rahmi yang berada dipelukannya. Alif teringat kata Ryan saat itu.


Tahun ini umurnya 20 tahun akan tetapi karna psikisnya Rahmi terlihat seperti 15 tahun.


Kecil, mungil, mudah marah, ingin dimanja, diperhatikan, Istrinya benar-benar mirip seorang remaja 15 tahun.


Kelopak mata indah itu terbuka secara perlahan.


Set!


Ia mendorong tubuh Alif dan langsung beranjak dari ranjang.


''Keluarkan aku dari sini!''


Alif memandang tak suka dengan perkataan Rahmi. Ia bangkit dan mendekati Rahmi.


''Kamu... Milikku!'' Alif berucap didepan wajah Rahmi sambil menunjuk dirinya.

__ADS_1


Plak.


Rahmi menyingkirkan tangan itu dan mengajungkan jari pada Alif.


''Kita sudah bercerai!!''


''Aku tidak mendatanganinya!''


''Aku sudah tidak mencintaimu! Aku benci padamu! jadi lepaskan aku!''


Alif menggempalkan tanganny, ekspresinya berubah sangar.


''Aku mencintaimu itu sudah cukup!!''


''Aku tidak peduli! Lepaskan aku kalau kau tidak mau kulaporkan pada polisi!!''


''Polisi? Apa yang kau punya untuk bisa memenjarakanku?'' tanya Alif sinis. Ia sudah mengambil menyita Handphonenya juga membatasinya, Rahmi sudah tidak memiliki apapun kecuali dirinya.


''Kamu!''


''Bersikaplah dengan baik... Agar aku juga tidak menyiksamu seperti ini!''


Rahmi menggertakkan giginya ia mengalihkan pandangannya kearah lain. Kapan ia dapat terbebas darinya.


Brak!


Suara pintu terbanting menandakan Alif keluar dalam keadaan emosi. Rahmi bernapas lega tingga dirinya disana.


Rahmi berjalan keruang kerja Alif dan melihat laptopnya. Ia menyalakannyan dan mengotak-atiknya.


'Kata sandi?'


Tetuttt!


Rahmi berusaha membukanya tapi sia-sia. Ia mencoba benda lain. Ia menceri kelaci-laci hingga menemukan sebuah kunci.


Rahmi segera berjalan kearah pintu berusaha membukanya.


Cklek.


Wajahnya sumringan melihat kunci itu terbuka. Ia membuka pintu, namun teringat penjaga yang didepan. Rahmi segera menutupnya sebelum ketahuan ia mempunyai sebuah kunci.


Dari kejauhan Alif melihat semuanya dengan jelas.


Cklek.


Pintu terbuka, Rahmi buru-buru menyimpan kuncinya dibelakangnya. Alif meletakkan nampan yang ada ditangannya kemudian menghampiri Rahmi.


Greb!


Alif menangkap tangan yang memegang kunci itu.


''Kau mau kemana?''


''LEPASKAN AKU!!''


''Tidak akan pernah,'' ucap Alif pelan dengan senyum diwajahnya.


''Kau!!''


''Rah, makan dulu, yah?'' Alif tak menghiraukan sikap Rahmi. Ia mengambil nampan yang berisi makanan.


''Tidak!''


Alif hanya tersenyum kecil mendengar penolakan tersebut.


''Kamu yang kesini atau aku yang kesana?''


Rahmi meggertakkan giginya. Apa-apaan itu, ia mengancamnya dengan datar.


''Heh! Kalau aku tak mau keduanya?'' Rahmi menyinggungkan senyumnya menantang.


Jreng!


Alif menatapnya dengan sangar seperti ingin menerkam gadis kecil yang ada didepannya. Keberanian Rahmi langsung ciut. Ia segera menghampiri Alif dengan takut.


''Aa...''


Rahmi menolak sendok yang akan masuk kemulutnya.


Tak!


Alif menyentak sendok itu hingga Rahmi tersentak kaget. Kehinangan terjadi, Rahmi memberanikan diri untuk melihat ekspresi Alif.


Deg!


Wajahnya datar dengan mata yang menyalang bagaikan predator.


set.


Rahmi meraih sendok itu dan makan dengan perlahan. Rasanya tidak enak, apalagi ia makan dengan ditatapi hingga terasa menusuk oleh Alif.


Piring itu sudah bersih, Rahmi melihat ekspresi wajah Alif yang sudah lebih tenang.


''Nih, minum.''


Rahmi menerima gelas tersebut kemudian meminumnya hingga habis.


Alif tersenyum begitu lebar melihat Rahmi menurutinya meski harus dipaksakan.

__ADS_1


Rahmi menatap wajah Alif yang kesenangan. Rasanya mengesalkan melihat ekspresi itu sementara ia tak berdaya dan hanya dapat menurutinya.


Keduanya tidak beranjak dari posisi masing-masing. Alif menunggu hingga obatnya bekerja, sedangkan Rahmi takut untuk pergi.


Set.


Rahmi terjatuh dengan tidur yang begitu lelap. Alif menangkap tubuhnya kemudian membaringkannya dengan hati-hati. Ia mencium puncuk kepala Rahmi dengan mengatakan, ''Aku mencintaimu, Rah.''


Alif memandang sekali lagi sebelum benar-benar pergi. Ia tidak akan menyesal meski Rahmi akan membencinya seumur hidup telah mengambil kebebasannya.


...


Nyut.


Rahmi terbangun dikarenakan kepalanya yang terasa sakit.


''Aku... Kenapa tertidur?''


Degh!


'Air minumnya!'


Rahmi mencari gelas tersebut tapi sudah hilang. Gelas lain ada disebelah ranjang, Rahmi menghirup bau air yang ada digelas.


'Bau obat! meski tidak berwarna tapi baunya menyengat!'


PRAK!


Rahmi melempar gelas itu hingga berserakan dilantai.


Ia harus keluar bagaimanapun caranya.


Rahmi memperbaiki penampilannya, ia punya sebuah ide gila.


Tok.


Rahmi terus mengetuk pintu hingga terbuka.


''Nona tidak boleh keluar!''


''Tapi aku cuma mau jalan ketaman!''


''Tidak boleh! Tuan melarang nona keluar!''


''Kalau Alif membolehkannya bagaimana?!''


Mereka saling memandang satu sama lain.


'Bagus! ragulah!'


''Tidak bisa nona!''


''Apa kalian mau dihukum kalau kuadukan!''


''Kami tidak percaya, Nona!''


Rahmi kesal dengan ketugahan mereka.


''Alif sudah membolehkanku keluar agar aku tidak jenuh! Lagi pula aku hanya ketaman!''


Mereka kembali saling melirik. Rahmi mulai melihat celah.


''Yah, biar bagaimanapun aku juga tidak bisa kabur dengan penjaga yang disekelilingku. Nanti Alif pulang akan kutanya saja deh.''


Set.


Akhirnya mereka membiarkan Rahmi lewat.


Rahmi berjalan dengan tatapan intens dari setiap penjaga yang ada. Bahkan ditaman juga terdapat penjaga.


''Aku mau berenang! kalian semua menyingkir!''


''Tidak bisa Nona! tugas kami mengawasi Nona!''


''Kalian mau dipecat melihat sesuatu yang tidak seharusnya?!'' tuding Rahmi.


''Alif akan memarahi kalian kalau tau hal ini! Lagian aku mau kabur kemana? Pintu utama saja dijaga... Dipagar depan pasti penuh penjaga.''


Akhirnya mereka juga menyingkir menyisahkan Rahmi ditaman itu sendirian.


Rahmi melihat kearah tempat dulu ia menanam. Kini tanaman itu sudah besar hingga ada yang berbuah.


'Semangka'


Rahmi melirik kesamping. Tak jauh dari mereka ada sebuah pohon tinggi hingga melewati tinggi tembok dan juga sangat tersembunyi karna ada dibelakang rumah yang bersudut.


Rahmi menjatuhkan barang yang tidak penting. Baju renang, pelampung, kaca mata, ia jatuhkan kemudian ia memanjat keatas.


Ternyata langsung terhubung dengan jalan kecil, ia pikir akan terhubung dengan rumah orang lain.


Rahmi harus melompat dari atas, tapi kemungkinan ia akan kesakitan bila terjatuh.


Syut!


Rahmi tetap melompat meski terasa nyeri jatuh dari pohon tinggi.


'Kabur!'


Rahmi berlari sejauh-jauhnya dari sana.

__ADS_1


Disisi lain, Alif melihat pergerakan Rahmi dari GPS yang ada dijarinya.


'Kamu tidak akan bisa kemana-mana, istriku.'


__ADS_2