Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Masa lalu


__ADS_3

Sudah 3 bulan berlalu ... Tapi tiada tanda-tanda Rahmi akan bangun. Alif selalu datang mengunjunginya setelah pulang dari perusahaan, ia akan berada disana sampai pagi akan menjelang. Sudah beberapa kali Alif jatuh sakit karna kelelahan.


Disaat Alif tidak ada, Bibi yang akan menjanga Rahmi. Ryan dan Kelvin terkadang datang untuk menjenguk.


Kerja sama mereka tetao berlanjut dan setiap mereka meeting suasana selaku tegang. ketidak hadiran Rahmi diantara mereka menjadi perang dingin setiap pertemuan.


Ryan menganggap sakitnya adiknya karna ketidak becusan Alif sehingga musuh dapat masuk keperusahaannya secara bebas.


Kelvin, ia sudah kehilangan minatnya untuk bekerja sama. Ia hanya tertarik bertemu Rahmi, jatuh sakitnya Rahmi membuatnya tidak memiliki alasan untuk datang keperusahaan Alif bahkan disaat meeting penting ia tidak datang. Suasana perusahaan menjadi tegang karna Alif juga telah kehilangan kebahagiaannya.


Greb!


Alif kembali menganggam tangan Rahmi, tangannya dingin dan kecil.


''Bangunlah ...,'' guman Alif pelan.


Ia lelah menunggu kapan Rahmi bangun. Rumahnya terasa sepi, sesak, napasnya terasa tercekat setiap melewati kamar rahmi yang kosong.


Ckleek.


Pintu ruangan itu terbuka, terlihat seorang dokter datang dengan seorang suster.


Alif berdiri, ia sedikit menjauh. Ia memperhatikan mereka yang memeriksa kondisi Rahmi.


''Kapan ia akan bangun?''


Dokter itu menatap Alif kemudian menghela napas.


''kami tidak bisa memprediksinya ... Bisa saja besok, bulan depan atau bahkan bertahun-tahun. Berdoalah agar ia cepat bangun.''


Alif menunduk, bagaimana jika Rahmi tidak pernah bangun untuk selamanya.


Dokter itu keluar dari ruangan Rahmi, ia masuk keruangannya dan mencatat perkembangan kondisi Rahmi.


...


Ryan berjalan sambil menatap foto-foto yang ada diruangan itu. Sepi dan sunyi ... dulu ruangan itu yang paling ramai.


Pandangannya menjadi sendu melihat sebuah foto seorang gadis yang tengah tersenyum begitu lebar.


''Star ....''


Tes.


Air matanya turun tanpa ia dapat cegah. Ryan langsung mengusap air matanya. Ia kembali berjalan keluar dari ruangan itu.


Sudah 5 tahun ruangan itu tak berpenghuni. Sejak saat itu pula dunianya terasa sepi.


'Untuk apa memiliki segalanya ... Bila tidak ada yang dapat dibagi, tidak ada keluarga yang menemani ... Tiada kehangatan.'


Ryan terus berjalan dirumah besar itu dalam kesendirian. Meski banyak pelayan yang ia miliki, ia tetap meresa sendiri. Ia tidak bisa merasakan apapun bahkan jika mengobrol dengan orang lain.


''Kapan ini akan berakhir,'' gumamnya memandang kedepan.


Lorong yang gelap dengan kegelapan yang bagaikan tanpa ujung.


Dulu disaat semuanya bahagia, sebuah kecelakaan terjadi merengut nyawa kedua orang tuanya juga kebahagian adiknya.


...


Setelah liburan akhirnya mereka akan pulang kerumah. Namun langit tak mendukung mereka untuk pulang.


JDAR!!

__ADS_1


GLUDUK


JDAR!


Hujan turun begitu deras membuat penglihatan ayahnya tidak begitu jelas.


''Pah ... kita berhenti saja. Hujannya deras sekali,'' ucap Mama Rahmi khawatir.


''Tidak apa! Papa bisa kok!'' ucapnya menyakinkan istrinya.


Ia melirik istirnya yang memeluk anaknya begitu erat.


''Mah, enggak ada yang mau ambik anak mama,'' ucap Ryan bercanda.


''Pft ... Mama cuma takut Ami kedinginan,'' ucapnya terkekeh.


''Kakak cemburu yah? mau dipeluk mama juga?'' tanya Mamanya mengejek.


''Hahaha ... enggak mah!'' ucap Ryan tertawa keras.


JDAR!!!


PIPPP.


Mobil trak datang dari depan dengan silau lampu yang membuat mata ayah tidak dapat melihatnya.


CKITYY!!


Ryan tidak begitu ingat dengan jelas. Saat tersadar ia sudah berada diluar mobil. Dan disaat ia berbalik, mobilnya sudah terbalik beserta trak itu.


Ryan langsung berlari kesana.


Degh!!


Jantungnya terasa berhenti melihat Ayah dan Mamanya telah tiada dengan lumuran darah.


Degh!


Ryan melihat tangannya yang berlumuran darah. Ia sebisa mungkin membuka pintu mobil dan mengeluarkan mereka.


''Hah ....''


Tes.


''Ayah ... M-mama ....''


Ia melihat mereka, pandangannya langsung tertuju pada Rahmi yang tak jauh dari mereka.


''Rahmi!! Rahmi bangun!!!''


Teriakan Ryan seolah tidak terdengar. Rahmi menatap dengan kosong. Darahnya mengalir dengan deras. Tubuh Ryan berlumuran darah. Bukan darahnya tapi darah dari kedua orang tuanya.


Degh!


Saat kesadaran Rahmi telah terkumpul. dengan pandangan yang tak begitu jelas, ia melihat Ryan berlumuran darah.


JDAR!!


Hujan turun semakin deras. Langit seolah mengamuk.


Pandangan Rahmi tertuju pada mobil mereka yang terbalik.


Degh!

__ADS_1


Tubuhnya bergetar, ia tidak bisa melihat pemandangan yang didepannya. Orang tuanya terbaring dengan lumuran darah.


Ia menatap Ryan, darah yang menempel padanya jatuh diwajah Rahmi.


Tes.


''KYAH!!!!!!''


Setelah teriakan Rahmi yang begitu keras ia pingsan.


Rahmi tidak pernah bisa melupakan kejadian itu. setiap menutup mata ia akan teringat Ryan yang berlumaran darah sambil memeluknya.


'''PERGI!!! ARGHHAHH PERGI!!!''


Rahmi mengamuk setiap melihat wajah Ryan. Wajahnya bagaikan kenyataan pahit yang harus ditelannya.


Rahmi mengalami masalah psikoligis. Ia selalu memeluk lututnya dan takut bertemu orang-orang.


PRAK!!


''ARGHH!''


Untuk kesekian kalinya Ryan harus menelan kenyataan pahit. Rahmi kembali menggila bahkan disaat ia melihat dokter datang membawa makanan.


Rahmi langsung mengamuk melihat orang asing memasuki ruangannya.


Ia butuh orang tua pengganti. Ryan pun meminta pengasuh Rahmi yang dulu untuk datang.


''Ayah ... bunda,'' gumam Rahmi saat melihat mereka.


Rahmi menganggap mereka adalah orang tuanya yang tiada. Rahmi langsung berlari memeluk mereka dan menangis sejadi-jadinya.


Tes.


Air mata Ryan jatuh. Bukan cuma Rahmi yang kehilangan, tapi ia yang paling kehilangan. Orang tuanya meninggalkannya disaat ia masih butuh bimbingan mereka. Ia baru masuk keperusahaan tapi sudah harus menjadi pemimpinnya.


Disaat bersamaan ia harus menghadapi kondisi adiknya. Rasanya sesak, menyakitkan, pedih.


Kenyataan kembali membuat Ryan terluka. Penyebab kecelakaan itu karna rem mobil yang dikendarainya rusak.


Keluarga yang dulu yang dikenalnya berdatangan. Ia bahkan tak memiliki waktu untuk berduka.


Kerabatnya kembali bersaing hak waris, Ryan tak akan pernah membiarkan mereka mendapatkan sepeserpun.


Kemungkinan besar keluarganya yang merencanakan hal tersebut. Tapi juga tak memungkinkan bahwa itu perbuatan musuhnya.


Ryan tak memiliki waktu bahkan untuk sekedar berduka, merenung atau menjenguk adiknya lagi. Ia sibuk mempertahankan posisinya juga melindungi adiknya.


Tiada satupun media yang mengetahui kejadian besar itu. Semua ia tutup rapat-rapat, tak lama setelahnya banyak bermunculan percobaan pembunuhan yang menghampirinya.


Dan demi mengamankan adiknya, ia mengirimnya kekampung halaman bersama pengasuhnya. Hal itu juga demi penyembuhan adiknya.


Memang benar, Rahmi menjadi membaik. Tapi ia memiliki satu kenyataan yang membuat Ryan tak bisa menahan tangisnya.


Rahmi memilih melupakan segalanya. Ia menganggap pengasuhnya bagai orang tua.


5 tahun setelahnya, Rahmi kembali mengalami kecelakaan. Selama lima tahun terakhir ingatannya hilang ... Dan beracak-acakan. Ada yang ia ingat juga lupakan.


Ryan kehilangan jejaknya beberapa bulan sampai ia menyadari kelvin yang menemukan adiknya. Tapi kondisi yang ia lihat jauh berbeda. Meski adiknya selalu tersenyum, ia semakin sakit.


Ia juga tak bisa Bertanya lebih jauh, yang bisa ia lakukan hanya berusaha menyembuhkannya.


''Tuan makanannya tidak enak?''

__ADS_1


Ryan tersadar, ia berada diruang makan. Ia menggeleng dan segera menyantap makanannya.


__ADS_2