STELLA : Great Sister

STELLA : Great Sister
Family


__ADS_3


𝙵 𝚊 𝚖 𝚒 𝚕 𝚢


"Shawn, ayo pulang! " panggil seorang gadis belia yang masih memakai seragam sekolah dan menggendong tas nya.


"Kak Stella! Hehe, kakak hari ini masak mie kuah lagi ya! Aku lapar! " seorang anak laki-laki kecil yang berhenti berlari di depan Kakaknya.


Stella, gadis itu membelai kepala adiknya dan menggandengnya berjalan. Tinggi adiknya hanya sampai di bawah bahunya. "Iya, kakak masakkan. "


Shawn adalah anak yang periang dan ceria, ia bahkan tak pernah berkeluh kesah meski keadaan keluarganya hancur. Selain Shawn, Stella sebagai kakak tertua pun sangat kuat dalam melindungi adiknya.


"Kami pulang… " Stella berbicara lirih.


PRAAANGGGGGGG


Suara piring jatuh dengan diiringi bentakan seorang pria yang bercekcok dengan wanita dewasa. Ya, mereka adalah kedua orang tua Stella dan Shawn. Tiada hari tanpa perkelahian di rumah itu, tak jarang anak pun menjadi lampias kekesalan diantara keduanya.


Stella, mengendap-endap berjalan dengan memeluk Shawn ke kamar mereka. Sebenarnya, ada kamar sendiri untuk Stella dan Shawn di rumah itu.


"Ha! Dasar sialan! " pekik wanita yang tak lain ibunya, tampak Ibunya melihat Stella dengan tatapan amarah.


"Hii! Ibuu Kak! " Shawn berteriak ketakutan, karena tangan ibu mereka telah menggenggam sebuah botol kaca yang siap di lempar ke arah ke duanya.


"Matilah kalian! "


PRAANGGGG


Botol itu mengenai pintu yang sudah ditutup cepat oleh Stella. Suara lemparan kali ini berhasil membangunkan Sherly, si bungsu yang masih kecil berusia 11 bulan.


Stella segera mengunci pintunya dan menenangkan Shawn yang ketakutan, tak lupa ia menggendong Sherly. Sebenarnya, gadis itu pun takut dan gemetar, tetapi ia adalah satu-satunya pelindung bagi adiknya.

__ADS_1


"Dasar J*lang! Kau apakan anakku?! Bisamu hanya memukul mereka dan miras saja ya?! " teriak ayah diiringi pukulannya.


"Hah! Gausah sok suci! Kamu pun sama, hanya bisa tidur saja! Kerja sana! kerja!!! " terdengar perlawanan pula di sana.


Fyuuhhh…


Yang bisa dilakukan saat ini adalah menunggu mereka lelah dan berpisah sejenak untuk istirahat.


Sebenarnya, pada awalnya mereka tak sehancur ini. Rumah ini adalah rumah paling hangat di antara rumah lainnya di komplek. Tetapi, ketika Sherly lahir 3 bulan, Ayah kehilangan pekerjaannya karena ketahuan selingkuh dengan karyawan kantornya.


Ibu, yang awalnya memaafkan pun kini semakin temperamental karena dengan lancang Ayah menjual aset ibu dibelakangnya.


Ibu adalah anak dari orang kaya di kota itu, hingga ia pun menjadi budak cinta Ayah, seorang bawahan perusahaan Orang tua Ibu. Jelas, keluarga pihak ibu tak setuju karena Ayah dikenal malas dan tak paten bekerja. Tetapi ibu bersikeras ingin menikahinya.


Hingga… …


Ibu berpura-pura sakit parah dan tak mau sembuh jika tak direstui. Ibu adalah anak perempuan satu-satunya dari keluarga itu, hingga ia sangat disayangi. Hati Kakek luluh dan merestuinya hingga pada akhirnya Ibu justru meminta pisah rumah yang sangat jauh dengan alasan merintis hidup baru.


"Shawn… kau sudah tenang? " ucap Stella lirih dan penuh kelembutan.


"Iya." Jawab Shawn dengan mata yang sembap dan sedikit lelah.


"Kau masih mau mie? Akan kakak buatkan, tapi tidurlah dulu ya" Stella mengelus kepala Shawn dan meletakkan Sherly di tempat tidur bayinya.


Hanya kamar ini satu-satunya tempat berlindung mereka, tak ada yang bisa dilakukan tanpa adanya keberanian disini.


Stella mengintip keluar dan melihat sekitar, ia menebak-nebak kemana mereka. Karena pintunya terbuka dan tak dikunci itu artinya ayah sudah keluar. Lalu kamar utama tampak tertutup, Ibu sudah kembali ke kamarnya.


"Fyuhhh aman… . " Stella keluar dan mengendap-endap.


Ia mulai memasak mie, saking cepatnya ia sampa membawa semua peralatan makan ke kamar dan segera membawa mie itu yang masih begitu panas. Semua tertata sekarang, tapi masih ada yang kurang.

__ADS_1


"Oh? Aku akan mengambil air minum. " Stella beranjak keluar dari kamar.


"AKH! " Ia terkejut, Ibunta sudah berdiri di depan kamarnya.


"I… ibu… mau saya buatkan makanan?" Stella mencoba menenangkan Ibunya yang sudah seperti monster, bau dan kotor.


CKLEK.


Ia pun mengunci kamar dari luar dan ke dapur, Ibunya tak menjawab dan berkutik tandanya ia mau. Yah, monster pun bisa lapar.


Setelah menyiapkan makan Ibunya, ia mengantar minum kekamar adiknya dan membangunkan Shawn makan. Selagi Shawn makan, Stella mulai membereskan rumahnya.


Tiba-tiba saja, SUUUURRRRRRR


"AKH! PANASS!! " pekik Stella, mie kuah spesial yang ia buat dengan sepenuh hati itu di lempar Ibunya ke wajah Putrinya yang sedang menyapu dihadapan itu.


"Ibu… " Stella menatap Ibunya.


"Wajahmu itu… MATAMU BAHKAN MIRIP DENGANNYA! SIALAN! MATI SAJA KAU SANA! " ucap Ibu yang kemudian menyerang Stella. Ia menjambak dan memukuli kepala Stella sekuat tenaga.


"Ibu, tolong tenang! Aku putri Ibu, Stella! Stella permatasari! Ibu! " sayangnya Ibu sudah gelap mata, ia tetap melanjutkan aksinya.


"Hiks, baik… lakukan saja sesuka Ibu, toh ini sudah biasa… " Stella menitikkan air matanya dan berpasrah tanpa perlawanan.


BUGH! BUGH!


Suara itu menarik perhatian Shawn, ia pun keluar dan melihat kejadian yang memang biasanya disembunyikan kakaknya.


"KAKAAAKKKK!!! " Segera Shawn mendorong Ibu menjauh.


"Shawn! " teriak Stella menyadari adiknya itu keluar dari benteng mereka. Ibu, sangat benci Shawn.

__ADS_1


__ADS_2