
*┈┈┈┈*┈┈┈┈*┈┈┈┈
Pagi ini, Stella telah mengantar adiknya dan kini giliran ia tiba di sekolah. Ia sudah memiliki feeling bahwa dirinya akan dibuli lagi oleh Dara.
"Pagi Stella~ keliatannya kamu bahagia banget yaa" ucap salah satu teman Dara yang tampak selalu mengekor itu.
"Maaf, Saya ada kelas penting hari ini."
"Sok sibuk, pulang ini temenin gue belanja di mall ya, lu sebagai babu gue gitu lah pokoknya." Dara melambai lambai tangannya dan memicingkan mata.
"Maaf banget ya Dara, aku harus jemput adekku pulang nanti." ucap Stella dengan sabar, ia tahu bahwa orang seperti Dara hanya akan memanfaatkannya saja nanti.
"Cih, kenapa lu? Takut ga gue bayar?" Julid Dara dengan alis terangkat satu.
"Nggak, bukan gitu Dar, aku beneran ga bisa karena adikku masih sekolah." timbal Stella ragu lagi.
Dara menatap Stella seksama. Ia melihat gadis sebayanya itu membawa buku di tangannya. Dengan segera Dara menyahut buku itu dan di bawanya.
"Kalau lo ga mau kena marah guru perpus karena buku lo ilang, lo ikutin gue" Dara berlalu tanpa rasa bersalah.
"DARA! Ga gitu caranya! Itu buku pelajaran yang penting hari ini!" Teriak Stella mencoba mengejar, tetapi Dara lebij cerdik, ia mengover buku itu ke temannya yang lain agar semakin jauh.
Dengan tersenyum sinis Dara berkata, "Lo harus nurutin gue."
Stella tak berkutik, ia semakin kacau. Mengapa tiba-tiba ada seseorang yang mengganggunya seperti Dara? Apa salahnya? Rasanya ia bahkan tak peduli dan tak mau kenalan dengan teman sekelas maupun sekolah nya itu.
'Terpaksa deh, jam istirahat aku harus ketemu Shawn biar dia pulang sendiri nanti.' Batin Stella dengan rasa bersalah mendalam.
Meski Shawn sudah kelas 4 SD, tetapi Shawn bukan anak yang cukup berani pulang sendiri. Dia hapal jalan rumah tetapi takut akan rumah itu sendiri dan isinya.
Sayangnya, Stella justru harus mendapat hukuman tak masuk akal dari guru mata pelajarannya karena tak membawa buku, yang sebenarnya ada di Dara. Ia jadi tak bisa menemui Adiknya.
__ADS_1
Sepulang sekolah, dengan hati lesu dan sedih, Stella menemani Dara dan teman-temannya ke mall. Ia membawa semua barang belanjaan mereka dengan tangan kecilnya. Selama beberapa jam, Dara dan temannya bahkan tak menawarkan minum pada gadis yang tak pernah sarapan itu.
"Aduuuhhh hari ini seru banget! Apalagi ada asisten baru hahahahha" ketus teman Dara.
"Eh, Cupu! Ini duit lo, siniin barang gue." Dengan kasar Stella melempar uangnya dan merebut paksa barangnya.
Seperti biasa, orang kaya ini dengan mudah menghamburkan uang ratusan dan puluhan sisa belanjanya itu. Dengan perasaan berkecamuk, Stella memunguti lembar demi lembar uang tersebut.
Dara tanpa aba aba segera pergi meninggalkan Stella di pinggir jalanan. Yeah, jarak rumahnya memang tak jauh dari tempatnya sekarang, tetapi ini sangat melelahkan bagi Stella.
"Fyuuuuhhh… aku ga boleh gini, Shawn pasti menungguku." Stella bergegas berlari.
"Ha… HUFT…" dengan napas terengos engos, Stella mendapati bahwa adiknya sudah pulang sendiri sejak tadi. Akhirnya ia melanjutkan perjalanannya menuju rumah.
Benar saja, seorang lelaki kecil dengan kulit putih dan rambut hitam ke abu abuan itu sedang meringkuk. Ia tampak menutupi wajahnya dengan lengan berbalut jaket merah itu.
"Huftt syukurlah… Shawn… Kakak pulang." Ucap Stella dengan suara gembira yang ia usahakan terdengar natural.
Dengan cepat anak itu mendongak, matanya sembab dan wajahnya memerah habis menangis. Ia tampak ceria dengan kehadiran kakaknya,tetapi kemudian ia menangis keras seolah ada hal buruk telah terjadi.
"Eh? Shawn? Kenapa? Maaf yaaa kakak tidak menjemputmu, kakak ada kerjaan sebentar tadi. Shawn kenapa? Lapar ya? Ayo masuk kakak masakkan makanan enak! Sherly juga pasti lapar" bujuk rayu stella yang ternyata tak mempan.
"Shawn, taruh tasmu dan siapkan pr untuk belajar, oke? Kakak masakkan ramen mau? Okey" Stella segera memasakkan makanan kesukaan Shawn.
Tak terasa air mata menetes dengan sendirinya, ia tersedu-sedu menangis saking bersalahnya pada Shawn. Sebelumnya ia tak pernah membuat Shawn menangis kecuali orang tua mereka. Stella sangat amat merasa bersalah kali ini.
Tetapi, tumben sekali rumah ini masih hening. Ibu tidak ribut mendengar Shawn menangis kencang bahkan tak risih mendengar isakan Stella yang pasti terdengar jelas melalui kamar.
"Apa Ibu tidur nyenyak ya? Ah, sudahlah…. artinya kami aman." gubris Stella dengan perasaan lega. Dia segera kembali ke kamarnya dan memberikan makanan itu pada Shawn.
Terlihatlah bahwa Shawn sedang bermain dengan Sherly. Astaga, Sherly bahkan sampai tak terurus.
" Makanlah Shawn, Aku akan membuatkan Sherly Susu dulu." Stella berangkat.
__ADS_1
"Sudah aku buatkan." Shawn menjawab singkat.
"Oh ya? Shawn yang menbuatkan ya? Pintarnya~ pantes adek dari tadi diam yaa" Stella memecahkan suasana. Ia merasa ini terlalu tenang baginya.
"Kak…" Shawn mendekati Stella dan menatap kedua matanya.
" Ya? Shawn makanlah, Kakak ambilin minum dulu" Stella berdiri tetapi kemudian dicegat oleh Shawn dengan satu kata pilu yang mendalam.
"Ibu pergi."
"Apa shawn? Kakak ga denger."
" Ibu sudah pergi, dia membawa koper besar seperti ayah. Ibu bilang aku hanya beban baginya makanya dia pergi." Ucap Shawn menunduk. Tampak jelas bahwa anak itu sedih akan kalimat terakhir Ibunya.
"Shawn…. Jadi kau menangis karena itu? Bukan karena aku tak menjemputmu?" tanya Stella tanpa menoleh.
" Iya, aku takut kakak juga menganggapku beban hidup sehingga meninggalkanku seorang diri." Shawn berkata lirih.
Stella tak kuasa menahan tangisnya, ia masih menangis membelakangi adik kecilnya itu. Ia tak bersuara tapi syahdunya tangis itu mampu membuat suasana semakin panas.
Dengan cepat Stella mengusap air matanya dan berbalik. Ia menatapi adiknya yang menunduk dan melamun.
"Shawn…." Stella menggapai pundak Shawn. Anak itu mendongak.
" Aku adalah Kakakmu, Keluarga Shawn. Begitupun Sherly. Kakak akan tetap disini bersama Shawn apapun yang terjadi. Kakak akan usahakan kita mampu bertahan sampai akhir." Stella mengucapkan kata yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Shawn… mulai sekarang tugas Shawn belajar yang rajin agar pintar dan sukses ya? Kakak akan menjadi pijakan Shawn kedepannya, Shawn harus sekolah sampai lulus!" Stella mengucapkan kata yang masih sulit dicerna oleh Shawn sambil tersenyum. Shawn hanya paham ia harus rajin sekolah dan belajar.
"Kakak… beneran ga akan ninggalin Shawn? " tanya anak itu meyakinkan.
"Benar."
Pria mungil itu memeluk Stella dan menangis. Ia masih memiliki trauma akan kepergian kedua orang tuanya yang tak bertanggung jawab. Stella paham, berat bagi anak berumur 10 tahun untuk menerima kenyataan pahitnya.
"Ya sudah, Shawn makan dulu. Kakak mau beresin rumah." Shawn menurut dan segera makan.
__ADS_1
Stella memasuki ruangan Ibunya yang kumuh itu. Sungguh kotor dan bau isinya. Ia tak bisa membayangkan bahwa Orang yang meninggalkannya ini adalah orang tuanya sendiri.
"Ibu… Ayah… Kita sehancur ini sekarang."