
"SHAWN!! MASUK SEKARANG! " teriak Stella.
Ibu, menatap lelaki kecil itu sejenak. Ia memelototkan matanya, Shawn masih ketakutan dan gemetar memeluk Kakaknya. Ia bahkan tak mendengarkan suara Stella yang menyuruh Shawn masuk.
"Shawn… anak Ibu, kemarilah… hiks Ibu merindukanmu" tiba tiba tangannya melentang dan meminta pelukan.
Shawn dengan ragu maju, ia pun sebenarnya merindukan kasih sayang Ibunya itu. Sementara Stella, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Shawnn… anak Ibu yang malang, wajahmu sangat rupawan sama sepertiku, tapi kamu mirip sekali dengan bajingan itu!" Pelukan mereka pun diiringi tangisan.
"MAKA MATI SAJA SEKALIAN! " setelahnya Ibu kembali sadar akan kegilaannya dan menyerang kembali.
Dengan sigap Stella menarik Shawn dan membawanya ke kamar, Ia pun berkurung lagi di kamarnya.
BRUK! BRUK BRUK!
"Stella sialan! Kau sama saja dengan Ayahmu ya, hanya bisa berlari dari kenyataan? Hah? HAHAHAHHAHAHA AKU AKAN MEMBUNUHMU, KELUARLAH! " Ibu masih menunggu dan mencoba masuk. Shawn dengan panik memeluk kakaknya.
Suasana kembali tenang ketika di sore hari Ibu tidur di kamarnya. Sherly masih menyusu dari botol dan Shawn mengerjakan PR nya. Stella? Ia masih harus membereskan semuanya.
CKLEK
Stella sedikit terkejut, yah… itu Ayah, ia baru pulang di malam hari. Dengan tubuh mabuk ia menjadi orang yang berbeda.
"Stella… heum, Putriku… Buatkan Ayah Kopi… " gumamnya tak karuan.
"Baik."
"Kau mabuk lagi?! Hah! Dasar b*debah, baru tadi siang kau mengataiku dan sekarang kau mengingkarinya?? " Ibu keluar dengan raut berantakan, wajahnya marah merah padam.
"Berisik! Aku pun begini karena kalian semua, aku capek cari kerja s*alan! " Teriak Ayah.
Ahhh… mulai lagi…
Kalau sudah begini, Aku harus pergi kan?
Stella berlari ke kamarnya dan menutup pintu. Sherly tampak bermain dengan Shawn, mereka tak mendengarnya atau pura-pura tak mendengar?
"Ayo Shawn, tidur. Besok kan masih harus sekolah? " ucap Stella dengan nada lembut, Shawn mengangguk dan merebahkan tubuhnya.
Langit yang begitu gelap dan tak bercahaya, masih mampu menampung kantuk mereka.
*┈┈┈┈*┈┈┈┈*┈┈┈┈
__ADS_1
"Shawn! Ayo bangun."
Rutinitas di mulai lagi, Shawn dan Stella harus pergi sekolah sementara Sherly pergi tidur setelah disusui.
Sebenarnya Sherly pun semakin kurus dan kesehatannya mungkin menurun, karena makannya yang tak teratur.
Siapa lagi yang akan menyuapi dan menyusui adik kecilnya itu ketika ia sekolah? Tidak ada. Jadi Stella hanya bisa bolak balik dari sekolah ke rumahnya hanya untuk memberi susu adiknya. Ia harus berlari dan menyusuri gang sempit agar cepat sampai.
"Shawn… belajar yang pintar ya… Kakak pergi dulu…" Stella membelai kepala adik lelaki satu-satunya itu dan pergi.
Sekolah Stella memang tak terlalu jauh. Ia hanya perlu berjalan 15 menit jika santai dan 8 menit jika berlari cepat. Tak jarang ia masuk jam pelajaran telat karena bolak balik rumah.
"Fyuuuhhh… Ujian sebentar lagi, Ayo semangat! " Stella memotivasi dirinya sendiri dan bersemangat untuk memulai hari baru.
"Stella! Kau terlambat lagi? Lari lapangan 5 kali sekarang! Kebiasaan ya. " Astaga, Guru killer itu ternyata menjaga gerbang kali ini.
"B-Baik… " ucap Stella lirih, yah ini pun sudah biasa.
"Hei, kau Stella anak X Ipa 1 kan?" Seorang gadis seusianya menghampiri dirinya.
"Ah, iya… " tampak malu-malu Stella pun mengangguk.
"Kudengar kau ini kekurangan uang ya? Keluargamu broken home? " ujar wanita itu dengan nada merendahkan.
"Cih, Nih! Cuci itu semua, gua ambil besok siang ya di depan gang rumahmu. " gadis itu melempar sekantong besar pakaian.
"Eh? T-Tapi aku… "
"Nih, lo butuh duitkan? " gadis itu menghamburkan uang ratusan dan tersenyum. Ia tampak puas dengan kelakuannya.
"T-Terima kasih, tapi siapa namamu? "
"Oh? Namaku? Panggil aku Dara. D A R A" Ucapnya dengan logat bahasa inggris yang aneh.
"Baik, terima kasih banyak! "
"Pfffttt Dasar, dia ga tau lagi di rendahin ya? Hahahhahaha, yaudahlah lagian tu baju Ryan bau banget kok nyuruh lu nyuci ya Ra. " ucap salah satu temannya ketika ia berbalik membawa baju itu.
'Terserahlah, yang penting adalah aku mendapatkan upahnya, bukan hanya capeknya. '
❥𓂃𓏧
__ADS_1
"HAH?!"
Stella tampak terkejut bukan main, ketika ia menghitung jumlah uang yang ia dapat dari Dara.
"500… ribu? "
Bukan senang, tapi Stella malah terkejut karena dirinya belum pernah memegang uang sebanyak itu. Ia bingung, apakah nanti Dara akan mengambil lagi uangnya karena terlalu banyak? Atau justru menuntut Stella mencuri.
"Ini jebakan? Kalau iya aku tertipu dan hanya dapat capeknya? " ucap Stella dengan nada yang bingung. Yah, ia pun mencuci memakai mesin cuci Ibunya yang khusus ada di kamar Sherly.
Kamar ini memang serbaguna, bahkan kini Stella berpikir untuk memindahkan beberapa alat dapur ke dalam. Ia berharap bisa bertahan lama karena adiknya masih kecil.
"Fyuhhh selesai. Aku tinggal menunggu Dara datang. " Stella pun pergi keluar dan menunggu.
Keringat bercucuran ke seluruh tubuh, ia telah menunggu selama 1 jam lebih di bawah terik matahari. Tetapi, Dara belum menunjukkan dirinya.
Tetapi…
TINNN TIIINNN
Mobil mewah masuk di gang dan berhenti di depan rumahnya. Ia tampak bingung tetapi akhirnya ia tahu itu Dara dengan Sopirnya.
"HEH! Dara! Lo ga punya hp ya? Kalau iya, apa lo sepikun itu? Gue kan nyuruh lu nunggu di depan gang, bukan rumah lo! " oceh Dara tanpa rem yang membuat Stella sedikit sedih.
"Iya, maaf. Ini bajumu Dar. Aku udah setrikain juga. " Stella memberikan sekantong pakaiannya.
"Ya, makasi! " Dara dengan kasar mengambil kantong itu.
"Itu… bukan bajumu ya Dar? Kok name tag nya bukan namamu?" tanya Stella.
"Gausah sewot! Itu duit kemaren lebih kan? Itu buat sekali lagi kalau gue mau laundry ke lu! " sewotnya.
"Jadi semuanya punyaku? " tanya Stella terkejut.
"YA IYALAH BEGO, Is nyebelin banget si. Kenapa? Kebanyakan? Miskin amat, itu tuh sekalian duit tutup mulut, lo harus tutup mulut kalau ini bukan baju gw, paham? " Dara melotot.
"Iya, paham. " Stella mengangguk kecil.
"Yaudah, thanks ya! Gue mau ngedate dulu" Dara pun pergi dengan pakaian tadi.
"Uang… aku? "
"Aku punya uang? "
__ADS_1
Stella masih tak menyangka, ia tak pernah mempunyai uang saku selama beberapa bulan terakhir, ia memanfaatkan tabungannya untuk kebutuhan Adik-adiknya.
Akhirnya, uang tadi ia tabung lagi agar berguna. Stella, sejak kecil sudah diajari Ibu untuk menabung demi masa depan.