STELLA : Great Sister

STELLA : Great Sister
Choices


__ADS_3

              •┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈


      "Howweeeekkk Oweekkkkkkk" 


   Sherly sudah terbangun sejak jam 4 pagi. Ia tak berhenti menangis. Kini angka jam menunjukkan pukul 5 pagi. Stella sudah kebingungan selama satu jam lebih menenangkan si Bungsu.


     "Haduhh… Sherly sayang Kakak…. Kenapa dek? Disusu kok ga mau ? Suap juga nggak." Stella kebingungan. 


    Karena takut Shawn terbangun dan risih, ia akhirnya mengajak Sherly ke kamar Ibunya. Kamar itu besar dan memiliki fasilitas lengkap.


   "Susu Sherly mau habis ya? Makanya Sherly nangis. Atau Sherly mau diajak jalan - jalan?" Stella mencoba mengelus elus adik kecilnya dengan lembut.


   Tetapi tangis Sherly tak kunjung sembuh. Beruntungnya, ia tinggal di perumahan yang tetangganya acuh tak acuh. Jika tidak, ia pasti akan merasa bersalah dan harus mendengar komentar jelek mereka.


   Sejak awal ini adalah perumahan para kantoran, jadi cenderung rumah mereka sepi karena bekerja atau tidur di kantor.


     "Haduh hampir jam 6, Shawn harus bangun." Stella bergegas membawa Sherly yang masih menangis itu ke kamarnya untuk membanguni Shawn.


     "Shawn… banguh dek, Sekolah. Nanti kakak buatin telur ceplok mau? Adek mandi dulu tapi." Bujuk Stella.


    "Heumm… iya kak. Lho? Sherly kok nangis?" Shawn keheranan. Tak biasanya adiknya itu menangis sepagi buta ini.


    "Iya, dia suntuk kayaknya. Yaudah mandi sana, nanti telat lho." Ujar Stella.


    Dengan sigap Shawn ke kamar mandi dan mandi dengan bersih. 


   "Sherly diem dulu ya… kakak mau masakin Kak Shawn." Stella menaruh Sherly di ranjang tidurnya. Anak itu sedikit tenang meski ia tampak merenyeng sesekali.


    Sembari memasakkan sarapan Shawn, Stella masih kepikiran akan keputusannya. Ia berpikir, jika ia sekolah, bagaimana ia akan mengurus Shawn dan Sherly? Ia tak mungkin menitipkan Sherly ke pengasuh. Biaya di kota apa apa mahal, jadi mereka harus berhemat.


    Kalau putus sekolah…. Stella masih punya mimpi dan prestasi yang harus dikejar. Paling tidak dia harus lulus SMA agar dapat bekerja layak. Tetapi masih perlu 2 tahun lagi dan masa itu akan bersamaan dengan Shawn masuk SMP.


    "Masa Shawn gap year? Kan kasian…" Stella bergumam.


    Huft, hari sudah cukup siang. Ia tak mau pergi ke Sekolah. Ia tak tega meninggalkan Sherly sendiri lagi. Biasanya akan ada Ibu kan? Ini Sherly sungguh akan sendirian.


    'AKHH! Aku bingung!' Stella memejamkan mata cukup lama.


   "Kak! Telurnya sudah matang belum?" tanya Shawn.


  "O-Oh iya dek, ini sudah kok… maaf ya kakak melamun." Stella segera menyiapkan makanan Shawn.


    "Lho? Kakak ga siap-siap sekolah? Apa kakak ga masuk hari ini??" Tanya Shawn dengan kepolosannya.

__ADS_1


   "Hemm…. Kayanya engga deh, Kakak izin dulu buat jaga Sherly. Kasian kan kalau sendirian…" Stella merasakan guncangan hati yang dahsyat.


    "Maaf ya Kak, pasti berat buat kakak…" Shawn berhenti makan.


    "Hust! Gapapa kok, Kakak kan yang paling tua disini. Jadi Kakak harus memimpin adik-adik Kakak." ucap Stella.


   Mendengar penjelasan itu Shawn pun tertunduk sedih. Anak kecil itu tak seharusnya ikut berpikir dalam hal ini. Ia haruslah belajar menurut Stella dahulu.


   Tetapi, semakin diperhatikan… ia merasa harus mendidik Shawn betapa kerasnya dunia yang harus mereka hadapi. Ia tak mau adiknya kalah dalam pertarungan monster yang jauh lebih kuat dari Ibu mereka nantinya.


   "Shawn, ayo sekolah." Stella bersiap memakai Jaket dan mengambil kunci pintu.


   Mereka berjalan di pagi hari yang mataharinya bahkan belum menampakkan cahayanya. Karena perjalanannya cukup jauh, apalagi mereka jalan kaki tentunya jam seginilah seharusnya mereka berangkat.


    Ditengah perjalanan, mereka menemui seekor anjing gila yang tampak mau menyerang mereka. Karena jalanan sepi dan lurus, sulit untuk melarikan diri.


    "Kak…. Kakak… gimana ini?" Shawn bersembunyi di belakang Stella.


   Jujur Stella pun takut, tetapi entah bagaimana ia memikirkan ide agar anjing itu lari. Ia menggapai batu besar dan melempari anjing itu. Anjing itu mengonggong dan semakin marah, ia akhirnya menyerang keduanya.


    KHUUUU KHUUUU KHUUU KHAINNNGG


    Suara anjing itu merintih kesakitan. Ia melihat jelas anjing itu menyerangnya. Tetapi ketika ia menutup mata dan menutupi adiknya, tak ada respon sedikitpun. Perlahan Stella membuka mata. 


      "Anjing kek gitu tinggal dilawan pakai benda keras, ngapain pake batu mungil gitu? "  Pria itu akhirnya pergi.


    "T-terima kasih." Stella menunduk malu dan sangat berterima kasih.


   Pria itu tak menghiraukannya dan tetap pergi ke arah yang sama dengan mereka. Aduh, sungguh sial sekali ya hari ini.


    'Kutanya nama tidak ya, aku merasa seperti membuntutinya padahal memang arah kami sama.' Stella membatin lesu.


  Ia memperhatikan pria itu. Tubuh tinggi nyaris sempurna dengan postur kurus yang khas anak sekolahan.


   "Seperti anak SMA." gumam Stella tanpa ia sadari.


   "Terus kenapa? Merasa tua lo? Tante!" Pria itu hanya menolehkan mukanya dengan tampang seram yang sinis.


    "Ah… maaf! Saya hanya menerka, Saya sendiri ga setua itu kok! Panggil aja Stella!" Stella dengan gagap menjawab ejekannya.


    'Ternyata begini rasanya dipanggil tante padahal umur masih 15 tahun. Malu banget ya.


    "Ga nanya." Pria itu melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


   'Stella ya… kek asing. Tapi ngapain dia ngikutin? Trauma anjing?' batin pria itu. Ia masih memperhatikan langkah Stella di belakangnya.


   Karena sudah beberapa menit berlalu akhirnya pria itu berbalik dan bertanya.


   "Lo ngikutin gue? Ngapain? Takut ketemu anjing tadi?" Ucapnya sinis.


    "Nggak, maaf ya. Kebetulan kami juga searah dengan anda makanya terkesan begitu." Jawab Stella tanpa menatap mata pria itu.


   "Oh ya? Kalau gitu lo jalan di depan."  Pria itu memberi jalan.


   Akhirnya mereka bertukar posisi, Stella memimpin jalan kali ini. Ia pun tetap mencapai tujuannya. Sesampainya di depan sekolah SD, dia mengantar Shawn dan pergi.


    "Oh? Single mom?" tanya Pria itu masih dibelakangnya.


    "Maaf, itu adik saya." Jawab Stella singkat dan hendak pergi.


   "Tapi muka lo kek emak emak parah si, begadang abis nyusu bayi semalaman gitu." Pria itu masih saja mengomeni dirinya.


    " Ya memang! Saya punya adik bayi! Bukannya single parent! Reseh amat si sama hidup orang! " Bentar Stella marah. 


   Yah, ia tak pernah semarah ini sebelumnya. Ia begitu kesal karena ada pria yang tak ia kenal begitu nyinyir. 


   "Pfffttt- Emang kemana emak lo? Pergi? Ga ada kerjaan banget sumpah. " Pria itu tertawa kecil. 


   "Iya, kenapa emang? " 


   "Eh? " Pria itu kini berhenti ketawa dan ekspresinya berubah 180°.


   "Lho? Maaf maaf! Aku ga maksud buat gitu! Beneran, aduh aku ga ada niatan aku ga tau. " tampak ia kebingungan karena mengatakan hal yang menyakitkan. 


   "Gapapa, memang faktanya begitu. Udah kamu pergi aja sana Sekolah, ga baik ninggalin pelajaran meskipun sehari. " ucap Stella dan berlalu. 


   Stella mengatakan itu semata karena ia menyayangkan dirinya yang diambang putus sekolah. 


   "Lo sendiri? Ya meski gue ngomong muka lo kek tante-tante, sebenarnya gue boong. Lo masih babyface kek anak SMA gitu. " pria itu ingin mencairkan suasana. 


   "Ya, makasih. Maaf sebelumnya, Urusan saya bukan urusan anda. " Stella berjalan menuju arah berlawanan. 


   "Haisss… feeling gue bilang lo mau putus sekolah si ini. " Pria itu masih saja bergumam. Ia tak menyadari Stella semakin jauh. 


   Ingin sekali Pria itu berteriak dan menyampaikan namanya tetapi hal itu berlawanan dengan kepribadiannya. 


   "Haissss!!! Next time deh kalau ketemu lagi. " ucap Pria itu kemudian berbalik lawan arah dengan Stella menuju ke sekolah. 

__ADS_1


__ADS_2