STELLA : Great Sister

STELLA : Great Sister
Usaha


__ADS_3

    *┈┈┈┈*┈┈┈┈*┈┈┈┈


    "Wah! Tanamannya hidup dan segar!" Shawn dengan antusias meratapi tanaman yang ia tanam kemarin.


    "Ayo disiram, Kakak haru menunggu jemputan pakaian ini."  Stella menyiapkan pakaian yang telah ia setrika.


    "Oh! Baik." 


   "Shawn, bisa jaga Sherly sebentar? Kakak perlu ke depan menunggu yang punya pesanan datang." Ujar Stella.


    "Heum! Oke!" Shawn mengangguk sembari menyiram tanamannya.


    Stella pergi ke depan dan menyiapkan segalanya.


    "Huftt…. Aku harus beli ponsel kali ya? Agar lebih mudah berkomunikasi. Kalau begini terus aku harus menunggu lama." Gumam Sherly.


    TIIINNNNNNN


   Suara mobil berhenti, hanya ada Dara dan supirnya.


    "Hadeh!! Lo masih belum punya hp ya? Semiskin itu lo?! Susah banget buat hubungin!" Dara dengan kesal mengambil pakaian di tangan Stella. Ia masuk ke mobil dan segera pergi.


   "Yah… nambah lagi deh bucket list ku." Ujar Stella.


    "Kakaaaaakkkk!!!!" Suara teriakan Shawn terdengar hingga ke depan.


    "Astaga Shawn!" Stella segera berlari menuju halam belakang setelah mengunci gerbang.


    Betapa kagetnya Stella melihat Shawn yang memopoh Sherly dari bawah tanah. Sudah dapat ditebak bahwa Sherly merayap dan turun ke halaman tanpa diawasi Shawn. Tingginya memang tak seberapa, tetapi itu mampu membuat luka untuk anak seusia Sherly.


   "Shawn! Kakak kan bilang tolong diperhatikan adiknya!" Stella segera memeriksa Sherly yang tengah menangis kesakitan.


    Tampak tak ada luka luar tetapi pasti ada trauma di hati Sherly. 


    "Kakak sendiri kemana? Aku kan lagi menyiram tanaman!" Shawn tak terima disalahkan.


     Hufft…..


  Sulit menjelaskan pada anak seperti Shawn. Stella harus menjelaskan dengan baik agar Shawn tak mengira ia marah dan mampu belajar dari kesalahan.


    "Shawn… lain kali, jika kakak memberikan Sherly padamu, tinggalkan pekerjaanmu sebentar sampai kakak kembali, oke?" Stella berusaha menenangkan Sherly.


    " Tapi kakak lama.."


    "Shawn…. Shawn ga sayang Sherly? Shawn ga sayang Kakak?" Stella dengan tegas menjelaskan.


    "Sayang…."


   "Jadi? Shawn harus jaga Sherly dan nurut sama Kakak yaa…." 

__ADS_1


   "Iya kak, Maaf." Shawn akhirnya mau mengerti. Untung tidak ada luka serius pada Sherly.


    "Ayo mandi Shawn, hari sudah sore." Stella segera memecahkan suasana.


    Shawn adalah anak yang patuh pada dasarnya. Hanya saja kerap kali Ibu mereka salah paham dan tak mau mengerti akan anak-anaknya. Jangankan mengerti, mereka bahkan tak peduli.


    Setelah semuanya selesai, Stella mengajak Shawn belajar bersama dengan Stella yang menyusun rencana usahanya. Karena masih awal, ia mencoba mencari cara pemasaran yang baik. Beruntung di kelasnya ada pelajaran Ekonomi yang sangat membantunya.


    "Oh iya, jika aku keluar dari sekolah, aku harus mengembalikan buku cetak pelajaran.  Tetapi kudengar ponsel terbaru pun sudah dapat mengakses hal semacam ini? Apa aku harus membeli buku atau membeli ponsel ya?" Stella termenung menentukan keputusan.


    "Ponsel? Temanku ada yang mempunyai ponsel Kak! Keren banget! Bisa  bermain game dan juga belajar! Bahkan bisa  mendownload buku pelajaran sekolah! "  dengan semangat Shawn bercerita.


    "Oh ya? Tapi buku juga bisa di jadikan game loh." Stella masih ragu.


    "Tapi kalau buku gabisa dibawa ke mana mana, kalau ponsel lebih gampang tauk! Kan kecil kak." Shawn ngeyel.


    "Haduuhhh kamu kok pinyer banget si, yaudah iya…. Kakak usahakan kita beli sebuah Ponsel pintar!" Stella mencubit hidung Shawn.


    Shawn bersorak hore dan semakin girang. Sherly yang tadinya diam bermain pun ikut bersorak sebisanya. Melihat keduanya lebih baik sekarang membuat Stella senang.


    'Pokoknya harus bisa,paling tidak Shawn harus menjadi orang sukses.' Batin Sherly yang sudah sangat tak sabar menantikan pekerjaannya.


   •┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈


   Besoknya, Stella sudah mengantar Shawn sekolah dan mengantar surat undur diri dari sekolah. Ia sudah memantapkan hati, Sherly pun sudah tidur lelap. 


    "Stella Laundry"


    Akhirnya, satu langkah maju sudah ia buat. Stella semakin semangat menunggu pelanggan barunya.


    Tetapi…..


    Sampai siang tiba pun ia tak kunjung mendapatkan pelanggan. Shawn bahkan sudah pulang.


     "Kak? Kakak ini apa?" Shawn bertanya.


    "Oh itu usaha kakak, kakak coba coba buka usaha Cuci baju orang dek." Jelas Stella.


    "Ohh… Harganya berapaan Kak?" tanya Shawn Polos.


    "OH! Benar!  Harusnya Kakak pasang harga agar menarik!" Stella akhirnya memiliki idenya.


     Setelahnya, Shawn pun kebingungan.


    "Memangnya nunggu pelanggan itu selama ini ya kak?" tanya anak itu dengan polosnya lagi.


     "Haha! Ya mau gimana lagi, namanya masih usaha baru dek. Kalau lagi rezekinya ya rame nanti." Stella menjelaskan.


    "Shawn doain ya kak, Semoga rame dan banyak duitnya!  Nanti bisa beli Hape buat kita!" Shawn berdoa dan memejamkan matanya.

__ADS_1


    "Iya, amin."


   'Shawn…. Kamu sama Sherly adalah alasan Kakak hidup. Kalian itu semangat Kakak.' Stella menangis. 


   "Loh? Kok kakak nangis? Jangan nangis kak! Nanti rezekinya lari!" Shawn panik melihat kakaknya menangis.


    "Yaudah ayok masuk! Panas ini di luar!" Ucap Stella mengalihkan perhatian.


    "Oke!"


     


     Tak berselang lama, ada bunyi bell gerbang rumah mereka. Stella menyuruh Shawn masuk dan Stella melihat siapa yang datang.


    Tampak ada wanita paruh baya yang menunggunya di luar. Wanita itu mengenakan pakaian vintage yang sangat khas dan topi bulat yang serasi warnanya.


    "Halo… ada yang bisa saya bantu?" tanya Stella ramah kepada wanita itu.


    "Kamu buka jasa Laundry?"


    "Iya, harga saya boleh bersaing ini Bu. Hehe" ujar Stella ramah.


     "Hem… boleh lah. Nanti saya wa kamu ya kapan ambil bajunya." Ucap wanita itu dengan lentik.


    "Eh m-maaf bu… saya ga punya wa… saya ga ada ponsel." Dengan tak enak hati Stella mengatakan kekurangannya.


    "Oh? Keren juga kamu, jaman gini ga ada Hape. Biasanya anak seusiamu akan merengek ke orang tua minta dibelikan." Ucapnya dengan menatap Stella dari ujung kepala hingga ujung kaki.


    "Hehe, orang tua saya sudah pergi tak tahu kemana. Saya jadi harus membesarkan adik-adik saya sendiri." Stella tetap tersenyum meski batinnya tersiksa.


   "Oh?maaf ya. Saya kira kamu anak manja. Jadi nama kamu yang Stella? Bukan Ibumu?" tanya wanita itu.


   "Iya, Saya Stella."


   "Baiklah Stella, panggil saja Saya Madam Elly. Kamu ambil aja sekarang cuciannya di rumah saya, bisa kan?"  tanya Madam Elly.


    "Bisa! bisa! Mau laundry saja atau sekalian setrika, Madam?" tanya Stella sopan.


    "Hoho~ yah… sekalian setrika dong! Yang rapi ya." Ucap Madam.


     "Baik baik!"


   Dengan semangat Stella membuntuti Madam Elly yang rumahnya tidak jauh dari rumah Stella. Yah meski begitu rumah Madam Elly ini besar dan bertingkat. Jadi,  Stella harus ber effort tinggi. Ada cukup banyak pakaiannya dan sangat amat didominasi oleh pakaian pria baik yang tua dan dewasa.


    "Oh iya, seragam sekolah cucu saya jangan sampai ada yang tertinggal, semuanya harus rapi dan bersih ya." Tegas Madam Elly.


     "Saya mengerti, Madam." Stella dengan girang membawa setumpuk pakaian itu ke rumahnya.


    "Rezeki, harus disyukuri!" Semangat Stella di jiwanya yang sangat amat lelah itu.

__ADS_1


__ADS_2