
₍ᐢ..ᐢ₎♡̷
Hari ini jadwal Stella mengantar pakaian ke Madam Elly. Sebenarnya dia heran mengapa wanita itu mau dipanggil madam oleh nya. Karena sebelumnya Stella sendiri belum pernah memanggil orang dengan sebutan tersebut.
"Oh? Stella! Mana lihat sini setrikaannya!" Madam Elly tampak ceria.
"Eh? Oh, ini Madam! Saya sudah memilah pakaian seragam dengan casual." Stella menjelaskan.
"Hoho~telaten juga ya." Madam Elly menerimanya dengan senang hati.
Ia memperhatikan satu persatu hasil cucian dan setrikaan Stella. Sangat rapi dan harum.
"Bagus~ saya suka banget sama kamu." Madam tersenyum khasnya wanita tua tak bergigi alias ompong.
"Terima kasih Madam!" Stella dengan senang hati menerima pujian manis itu.
"Nah, ini Stella. Uang ini untuk kamu, sisanya tabung beliin Hape gih, biar enak komunikasinya." Madam Elly memberi uang ratusan dan beberapa puluhan.
"Loh? Maaf Madam, ini kebanyakan…." Stella merasa tak pantas karena ia hanya mengerjakan hal sepele.
"Udah! Kamu pake aja! Kan kamu juga ada adek kecil." Madam segera menutup tangan Stella yang hendak mengembalikan uangnya.
"Terima kasih banyak, Madam! Saya sangat berterima kasih! Semoga tuhan memberkati Madam!" Stella membungkuk bungkuk terharu.
Madam ternyata bukan orang yang judes. Jujur, awalnya Stella merasa Madam Elly adalah orang yang garang dan judes dari penampilan dan gaya bicaranya.
Stella pun berpamitan pergi. Sesampainya di pintu utama dan akan keluar ia berpapasan dengan seorang pria tinggi dan sangat familiar.
"Kamu? "
Stella mengernyitkan dahi, ia langsung mengenalinya. Pria ini adalah pria yang sangat so asik dan kurang ajar menurutnya, si penolong dari anjing gila lusa lalu.
"Stella? "
"Ya."
"Wah, selain membuntutiku ke sekolah waktu itu sekarang ke rumahku ya? Naksir sama gue? " pria itu masih saja dengan sikap yang sesuka hatinya menebak.
"Gak, Saya aja ga tau ini rumah anda. " Stella berlalu keluar.
"Oh, nak Stella kenal sama cucu saya? " Madam Elly mencegat langkah Stella.
'Hadeuhhh… males banget sumpah.'
"Iya, Madam. Kami pernah bertemu sekali, dia orang yang menolong saya dari anjing gila-"
"Sekaligus nganterin dia sama adeknya." Potong Pria itu, menjengkelkan.
"Iya, Saya merasa berterima kasih dan merasa sayang ketika dia menyebut saya single parent plus muka emak emak. " Stella melanjutkan.
'Gila, Sarkas banget ni Cewe. ' Pria itu meneguk salivanya.
"Hoho~ Adam, kamu ga boleh gitu. Dia ini wanita yang hebat, membesarkan adik dan menjadi tulang punggung itu ga mudah di usianya. " ucap Nenek. Ia menatap sendu ke Stella.
__ADS_1
Jujur… Stella benci tatapan itu, tatapan kasihan dan sok peduli.
"Oh? Berapa umur lo? " ucap Adam.
"15"
"15?! LO MASIH SMP? " Adam melotot.
"Kelas satu SMA, kemarin SD nya kecepetan. " Stella menjawab malas.
Adam masih terdiam dan terpaku. Ia tak menyangka wanita itu masih 15 tahun, karena ia merasa dia pasti sudah cukup dewasa untuk mencari uang.
"Astaga… kamu masih kecil banget ya nak… " Madam Elly mengelus pundak Stella.
"Saya merasa senang atas empatinya. Tapi saya masih ada pekerjaan lain, jadi saya tidak ada waktu lagi sekarang. Saya permisi. " Stella menunduk dan berlalu.
Di perjalanan keluar Stella menahan rintikan air matanya. Ia merasa kalau dirinya begitu rendah dan sepele, ia terpukul lagi karena harus menjelaskan hal tersebut. Ia benci mengingat dan mengenang masa lalu.
"Mau bagaimana pun… aku harus bertahan. "
POV : ADAM
Madam Elly melihat Stella berlalu, ia tahu gadis itu pasti merasa sedih karena umurnya masih rentan menangis.
"Tuh… Dam, apa kata nenek. Sesulit apapun kamu, masih ada yang lebih sulit lagi. Jadi Adam tetap harus sekolah dan semangat, jangan jadi kayak Stella, dia begitu kan ada alasan keuangan dan keluarga, kalau kamu? Kamu masih ada keluarga dan Uang. " Nenek menasihati cucunya yang masih duduk diam di Sofa.
"Adam Adam… kamu ini… memangnya nenek ga tau kamu sering bolos dan foya-foya? Kamu masih mau menyangkal?" Nenek memilah pakaian.
"Huft… Nenek tau darimana? Siapa yang ngadu? Cepu banget sih! " Adam kesal.
"Adam… nenek ga tahu darimana mana kok, itu gurumu sendiri yang bilang. Tiap hari ada surat peringatan. Belum lagi surat panggilan. " ucap Nenek lirih.
"Cih, Guru kurang kerjaan banget ya sekarang. " celoteh Adam.
Nenek hanya menggeleng, ia tahu betul jika cucunya menjadi anak berandalan di sekolah. Padahal sebelumnya ia bukan orang yang seperti itu.
"Soal Stella, kamu udah apain dia? Sepertinya kalian ada masalah? " Nenek bertanya.
"Ga ada apa-apa. "
"Yang bener? "
"Cuma ga sengaja nanya soal orang tua sama manggil dia emak emak doang kok!" Adam mengelak.
"Hemmm, Iya deh Bapak Adam. " Nenek menjawab singkat.
"Ih, apasi Nek. " Adam menatap wajah Neneknya.
"Gimana rasanya? Aneh kan? Gitu juga dia, apalagi kamu tanya soal orang tua, tambah ga enak. " Neneknya menjelaskan.
__ADS_1
"Ya terus Adam harus gimana? " Adan kalah kali ini.
"Minta maaf, "
"Udah."
"Ga diterima pasti, iya kan? "
"Iya."
"Minta maaf lagi, tapi pakai cara yang berbeda. " Nenek memberi ide.
"Cara apa? "
"Untuk itu, kamu pikir sendiri. "
"Tuh kan Nenek! " kesal Adam.
Nenek hanya berlalu. Ia meninggalkan Adam yang kebingungan. Sebelumnya Adam bahkan ga pernah bahas masalah pribadinya apalagi soal cewek. Tapi kali ini berbeda, bahkan cewe itu kenal sama nenek!
"Bodoh lah! Lagian kan udah minta maaf! " Adam membawa tasnya ke kamar.
'15 tahun? Masi muda banget…'
Adam merebahkan tubuhnya, ia melepas baju sekolahnya dan menutup mata. Beberapa menit kemudian ia terbangun dan duduk.
"Haiiizzzzzz, tu cewek muncul terus di pikiran gue. Ngeselin banget si! " Adam menggaruk kepalanya dan menatap ponselnya.
"Apa gue deketin dia dari WA aja ya? Biasanya kan cewe gampang dideketin dadi WA? " Adam berpikir sejenak.
Akhirnya ia bergegas ke kamar Neneknya. Ia tak sabar mendapatkan nomor wanita itu.
"Nek! Nek! Nenek! " Adam memanggil.
"Ada apa Dam? Kok manggilnya ga cukup sekali? " ucap Nenek. Ia kebingungan akan tingkah cucunya.
"Ehem… uhuk, Nek… bagi nomornya si Stella dong. " Adam malu malu.
Nenek menoleh dengan cepat, baru ini Adam Malu-malu meminta nomor wanita. Biasanya banyak gadis yang akan meninta nomor Adam dari neneknya.
"Hoho~ Adam jadi kepo nih sama Stella? Naksir Dam? " Nenek menggoda Adam.
"Ih, apasi Nek! Kan nenek yang suruh Adam minta maaf, jadi Adam mau tanya tanya dulu dia suka apa. " Adam mengalihkan matanya ketempat lain.
"Hohoho~ Adam Adam… Sayang sekali ya, Stella ga ada Ponsel, dia ga punya WA, makanya tiap hari kesini buat ambil cucian. " Nenek hanya geleng-geleng.
"Ha?! Tahun berapa ini? Kok dia ga punya hape? Parah banget… " Adam terbelalak.
"Ya ampun, kamu tanya aja sendiri kalau ga percaya, dia lagi nabung sekarang biar memudahkan akses teknologi nya. " Nenek menjelaskan.
"Ah, yaudahlah! " Adam kesal dan pulang ke kamarnya.
'Niat hati deketin dia dari virtual, malah harus ke real life beneran!' Adam melempar tubuhnya ke kasur.
__ADS_1