
⍢⃞Hai~
Stella memikirkan beberapa hal setelah mengantar Shawn. Pertama, Usaha Laundry tidak begitu efektif, apalagi tak menentu kapan dan berapan ia mendapatkan Uang.
Yang kedua, ia mau saja bekerja tetapi ia bahkan tak memiliki KTP. Sedangkan syarat umumnya saat ini adalh Usia 17 tahun dan memiliki KTP.
HADUH! Ribet!
BRUUUUUMMMMMMM
Suara motor besar yang biasa dipakai anak cowok jalanan terdengar melaju ke arahnya. Stella yang berjalan pulang itu hanya bisa minggir agar tak terkena masalah.
Tetapi, motor itu justru melaju pelan saat hampir dekat. Dan
TIIIIIIIIINNNNN
Suara Klakson itu terdengar nyaring, ia berhenti di dekat Stella.
"Eh, naik sini Lo!" Suaranya tak asing.
"Kamu lagi. Gak, Sherly sendiri di rumah." Stella berjalan belalu.
"Ga bakal lama kok! Gue janji!" Adam, dia tetap memaksa.
Stella menatap mata Adam, dia terdiam sejenak.
"Gak. Makasi." Stella berjalan cepat.
Siapa sangka, Adam masih mengikutinya. Anehnya ia tak memaksa. Sesampainya di depan Rumah Adam segera turun dan ikut masuk.
"Anda masuk ke rumah orang tanpa izin, mau kena pidana?" Stella menyilangkan kedua tangannya.
"Gue perlu waktu lo, 15 menit aja!" Adam mulai mencoba berbicara pelan.
"Maaf, Saya sibuk."
"Yaudah, 5 menit! 5 menit!" Adam menunjukkan jari 5 nya.
Stella pun merasa kasihan dan penasaran, ia pun setuju. Mereka pun duduk berdua di kursi taman halaman rumah Stella. Stella membuatkan Teh, ia keluar sembari membawa Sherly.
"Oh, jadi ini Sherly? Cantik ya." Adam berbasa basi.
"Iya, makasih. Udah,sekarang to the point aja," Stella tak melanjutkan basa basi.
"Lo butuh pekerjaan kan? Tapi umur lo ga cukup dan Lo bahkan ga ada KTP." Adam memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Lalu?"
"Kalau lo mau, lo bisa jadi asisten pribadi gue, tugasnya bisa dari rumah, lo kerjain PR gue, semua kerjaan gue, bahkan kalau lo mau bersihin kamar gue." Adam mulai cerita panjang.
"Gak, Saya gak tertarik kerja sama Anda, Maaf." Stella menolak dengan tegas.
"Sebulan sejuta." Adam segera memberi tahu gajinya.
Tapi, Stella masih tak mau.
"Huft…. 3 juta?", Stella menggeleng.
"Cih, 5 juta?" Adam menyerah,kali ini jika dia ga mau Adam menyerah.
"Deal."
"...?!?!?!"
'Gila juga ni cewe, pas udah harga tertinggi baru mau, dibilang matre tapi gw yang nawar.' Batin Adam yang terkejut bukan main.
'Yah… wajar sih, dia pasti liat gue bakal nyerah dan ternyata duitnya kebetulan besar,jadi gitu.'
"Tapi lo harus kerja dari sekarang,gimana?" Tanya Adam menantang.
"Ga masalah."
"PR gue banyak, besok pagi harus selesai! Kalau catatan gue kasih waktu seminggu! Gimana?" Adam masih menantang.
"Ya, gapapa."
"Baik." Stella tak menolak sedikitpun.
"Profesional ya? Lo harus kerjainnya dengan rapi, salah dikit ga masalah, gue bisa benerin sendiri." Adam menatap diam-diam gadis itu, Stella sedang menyusui Sherly dengan botol yang lucu.
'Seperti Ibu beneran…. Cocok banget.' Adam melamun. Hingga ia tak mendengar lagi ucapan Stella.
"Dam? ...ADAM?. Adam?!" Stella memanggil berkali kali barulah Adam sadar.
"Ya? Kenapa?" Adam kebingungan.
"Huft… Jadi buku paketnya ga perlu? Kan nyatat gituan dari Buku." Stella menjelaskan.
"Oh iya, lo ga punya hp ya?" Adam bingung.
"Nih, lo pake dulu hp gue, guru sekarang pada suka kirim catatan dari internet dan wa,beda sama yang buku! " Adam menyerahkan ponsel miliknya. Tampak fancy dan mahal.
"Oh? T-tapi ini… aku ga bisa make…" ucap Stella malu-malu.
"He?" Adam tertegun.
"Pfftttt…."
"Yaudah, sini gue ajarin."
Akhirnya sepagian hingga siang Adam mengajari Stella, ia mengajarinya dari hal paling dasar hingga paham. Stella terkagum kagum dan bahagia melihatnya.
"Gitu,paham kan?" Adam menatap Stella.
"Iya,paham." Stella tersenyum.
Selagi Stella masih menatap ponsel dengan bahagia, Adam menatap Stella, gadis itu masih sangat kecil dan belia, putih seputih susu dengan mata coklat kehijauan serta rambut hitam pekat panjang.
"Cantik." Adam kelepasan.
__ADS_1
"Ha?" Stella menoleh.
"Eh,enggak! Yaudah,lo explore aja sendiri, ini si Shawn pasti udah pulang kan? " Adam segera mengambil kunci motor.
"Eh! Iya! Shawn! Astaga aku telat!" Stella menatap jam ponselnya itu.
"Udah, gue yang jemput, lo ambil aja buku di kamar gue." Ucap Adam dengan lembut.
"Oh? T-Terima Kasih…." Stella menatap kebingungan.
'Tumben? Perasaan baru kemarin dia songong dan nyebelin? Kenapa tiba-tiba?' Di tengah kebingungan, Stella segera membawa sherly dengannya mengambil buku Adam.
Madam Elly tampak senang mendengar Adam berbaik hati seperti itu, Stella tak berani mengatakan harga nya karena berisiko tak disetujui Madam Elly. Akhirnya Stella pulang tanpa pertanyaan berapa gajinya.
"OMG… Aku lupa bertanya berapa gaji yang diberikan Adam…" Madam Elly segera berbalik dan mencoba memanggil Stella. Tetapi gadis itu sudah jauh.
"Hais… sayang sekali." Madam Elly segera masuk.
Tampak Shawn sudah di rumah dengan Adam. Shawn sudah akrab dengan Adam, entah apa yang membuatnya begitu akrab.
"Ini?" Stella menunjukkan sekantong besar buku tulis.
"Yep! Good Job! Sekarang gue kasi tau yang mana aja." Adam mulai memberi arahan.
"Paham?"
"Iya, paham."
"Yaudah gue cabut, masih ada urusan gue!" Adam segera pergi berlalu.
Stella masih menatap ponsel yang diberikan Adam. Ponsel itu pasti mahal hanya dengan melihatnya saja.
"Woaaahhh! Ini ponsel baru kita kak? Keren! Temenku ada yang pakai dan bilang ini mahal!" Shawn tampak excited.
"Oh ya? Ini bukan ponsel kakak, tapi ponsel Kak Adam tadi, kakak cuma pinjam untuk keperluan kerja." Jawab Stella.
"Wah! Kak Adam orang Kaya dong? Ini merek keluaran terbaru harganya bisa belasan juta!" Shawn menyerocos.
"Ha? Apa si, udah kamu ganti baju sana,nanti baru belajar lagi." Stella mulai menaruh Sherly yang sudah terlelap tidur.
__ADS_1
Anak sekecil Shawn, Stella masih tak percaya 100 persen karena dia masih belum tahu soal beginian. Benar kan?