STELLA : Great Sister

STELLA : Great Sister
Hidup Baru


__ADS_3

       



          •┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈


    Mengingat dirinya sudah hanya tinggal dengan kedua adik kecilnya saja, Stella bangkit dari tangisnya dan segera beraktivitas. Dunia memang kejam, tetapi Ibu kota ini lebih kejam. Beruntung rumah ini tidak memiliki tagihan lain selain listrik dan air. Keluarganya yang memang pada awalnya berkecukupan itu tak pernah memiliki hutang ataupun kredit.


   "Aku harus mengatur semuanya dari awal sekarang." Stella segera menyiapkan bukunya. Sembari berpikir ia membersihkan kamar Ibu.


   Butuh waktu seharian penuh untuk membersihkan kamar Ibu dan Ayahnya seperti semula sedia kala. Kamar itu dulunya hangat, tetapi kini dingin dan sepi. Ia segera  menggeledah apa saja yang tersisa dari orang tuanya.


   Disinilah Stella menemukan hanya ada beberapa pakaian mewah yang ditinggalkan Ibunya. Baju itu masih baru dan bagus. Stella tak menemukan uang maupun emas milik Ibunya. Ia mengerti, benda berharga seperti itu pasti dibawa pergi untuk bekal.


    "Ibu beneran sudah pergi. Ia bahkan tak menungguku pulang dan hanya mencaci Shawn." Stella murung dan terduduk di bed besar milik orang tuanya.


   Rumah ini tidak bertingkat, hanya berlantai satu. Isinya hanya 3 kamar tidur milik orang tuanya, Stella sendiri, kemudian kamar bayi dan shawn yang a3l. Mereka akhirnya bisa bebas menggunakan setiap celah di rumah itu karena kedua orang tuanya telah pergi. Tetapi puncak tersulit nya adalah menjaga keamanan.


   Orang yang tahu bahwa ada rumah besar kosong bekas orang yang cukup kaya pasti akan mencoba menerobos masuk dan menggeledahnya bukan? Rumah ini tidak memiliki CCTV. Dulu Ayah selalu mengajari anak-anaknya agar menutup rapat semua pintu. Ia bahkan memberi besi teralis untuk jendela dan pintu.


     "Shawn dan Sherly masih kecil, aku harus bisa melindungi mereka." gumam Stella mengusap air matanya dan berdiri. Ia melanjutkan menata rumahnya.


     Shawn terdengar sedang mengajak Sherly bermain. Sherly belum bisa berbicara dengan lancar, padahal anak seusianya paling tidak sudah bisa berkata mama atau papa. Tetapi karena kedua orang tua mereka bahkan tak menyentuhnya selama 3 bulan, pada akhirnya gadis kecil itu telat tumbuh.


    Kerap kali Stella mencoba untuk mengajak bicara Sherly, tetapi anak itu tetap membisu dan hanya akan menangis. Beruntung anak itu masih bisa tertawa dan tersenyum layaknya.

__ADS_1


    "Shawn, ayo ajak Sherly duduk di sofa, mataharinya bersinar cerah banget! Kita bisa main di halaman belakang juga sekarang." Ucap Stella dengan penuh gembira.


    "Tapi Kak, kalau Ibu pulang gimana?" Shawn tampak ragu dan masih mengelus Sherly.


    "Jika ia kembali, maka ia harus menekan bell terdahulu bahkan mengetok pintu gerbang. Udahlah, Ayok! Bukannya kamu dulu paling suka menanam?" Stella masih berusaha membujuk adiknya.


   Akhirnya Stella menggendong Sherly dan menggandeng Shawn. Adiknya itu tampak sangat ragu dan canggung bahkan di rumah mereka sendiri. Tetapi melihat rumah yang bersih dan rapi bahkan gorden sudah dibuka dan cahaya masuk dimana mana mengalihkan ketakutan mereka.


    Semua kamar sudah bisa diakses semau mereka sekarang. Tidak ada lagi yang namanya mengendap-endap dan sembunyi lagi. Mereka bebas.


    "Kakak pasti capek." Ucap Shawn tanpa Ekspresi. Anak itu biasanya masih bisa tersenyum dan ceria, tetapi akhir-akhir ini ia jadi orang yang lebih diam.


    "Sama sekali engga. Kakak bahagia bisa beresin rumah kita. Rumah yang bersih dan asri akan membuat penghuninya nyaman." Stella membuka pintu besar transparan yang segera menunjukkan halaman belakang mereka. Pintu ini akan ditutup gorden besar pada malam hari, Stella sudah mengganti semua nya dengan kain baru agar lebih nyaman dilihat.


    "Kak, ayo ajak Sherly ke taman! " Shawn menepis lamunan Stella.


    Dengan semangat mereka menuju rerumputan panjang yang kini sudah menjadi rumput liar. Mereka mencari-cari tanaman yang telah ia tanam 3 bulan lalu tanpa diurus itu.


    "Huft… sepertinya sudah mati,kak. Kita bahkan tidak menyiraminya sejak kecil." Shawn murung.


    "Benar Shawn, jika kita tidak merawatnya sejak awal pasti akan mati. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa memperbaikinya. Mari tanam kembali, aku ingat ada bibit baru di gudang." Stella memberi pengertian. Ia pun mengajak Shawn ke gudang kecil di dekat taman mereka.


    "Oh? Ini bibit sayuran? Kakak! Ini bisa untuk membuat sup kan?" tanya Shawn sembari menunjuk gambar sayur pada bungkut itu.


   "Oh iya benar! Mau coba tanam Shawn?" tanya Stella dengan perasaan gembira.

__ADS_1


   "Uhuh! Ayo kita tanam!" Shawn segera berlari mengambil sekop mininya dan mulai menggali lubang.


   Setelah ia menanam puluhan biji benih dengan rapi dan teratur sesuai ajaran Ayah, Shawn pun menyiraminya. Ia dengan sangat hati-hati menyiram.


    Stella duduk di teras belakang rumah mereka bersama Sherly. Anak kecil itu tak terasa sudah mulai belajar berjalan dengan tangan dan lututnya.


    "Sherly pun tumbuh dengan baik ya, Kakak akan cari cara agar Sherly aman dan terurus. Apa aku berhenti sekolah ya?" gumam Stella.


    Ia perhatikan, Shawn 2 tahun lagi akan masuk SMP dan Sherly akan memasuki usia pertumbuhan balita. Semakin banyak kebutuhan mereka dan semakin besar biaya hidupnya. Kepintaran Stella pun belum mampu ia gunakan karena masih anak SMA kelas 1.


    "Ya tuhan… aku harus apa?" Stella bergumam dan menatap langit biru di atas rumah mereka.


     Kenapa Tuhan tetap memberi hari yang cerah ketika hariku suram dan berkabut? Mengapa ia justru seolah mengabaikanku? Atau dia memiliki rencana lain untukku?


    Tak terasa hari mulai Sore. Besok adalah hari Sabtu, Keputusan Stella sudah harus dibuat hari itu. Antara berhenti Sekolah dan lanjut. Ia sendiri tak mau putus sekolah karena prestasinya cukup baik. Tetapi keadaan berkata lain seolah ia tak menerima.


    "Kak Stella, Shawn sudah bisa mandi kok! Kakak mandiin Sherly aja. Hehe…" Shawn tersenyum lebar.


     "Yasudah, mandi yang bersih ya. Kakak mandiin Sherly dulu." Stella membiarkan Shawn mandi sendiri sementara Stella memandikan Sherly.


     Ketika jam 7 malam, akhirnya mereka mulai belajar dan me time bersama. Mereka menggunakan ruang tamu yang sudah sepi akan suara Ayah dan Ibu itu. Stella tetap berusaha meramaikan suasana dengan bernyanyi dan berhitung.


    Jam 9 malam, Stella menidurkan Sherly dan Shawn. Sayangnya ia sendiri masih dilema akan keputusannya.


    

__ADS_1


    


__ADS_2