STELLA : Great Sister

STELLA : Great Sister
Masa Lalu Stella


__ADS_3

❤︎ꔛ❜


    Adam, Pria yang terkenal menjadi brandalan di sekolahnya. Umur sudah mencapai 17 tahun, dan akan menjadi senior kelas 3 di SMA nya tahun depan. Selain tampan dan digadang pangeran sekolah, Adam juga anak dari seorang pengusaha kaya terkenal di kotanya.


    Tetapi, karena beberapa alasan Adam harus menyembunyikan identitasnya itu dan menjadi berandalan. Ia pun menikmati hidupnya tanpa penyesalan. Lebih membuat heran adalah, Adam masih mampu meraih nilai tertinggi di Sekolahnya dan menempati juara 1 Umum.


    "Adam! Fans mu tuh!" Ucap Adi, teman Adam yang paling dekat dan terpercaya.


    "Usir Di, gue mau sendiri." Adam mengernyit.


    "Ya, gue tau. Emang biasanya lo nerima mereka? Kaga juga kan." Adi bergegas menutup pintu koridor atap.


    "Bre, ada masalah? Sama siapa? Kalau serius kita samperin terus hajar aja, toh anak anak lain juga udah lama ga main pukul-pukulan." Adi menebak pikiran Adam.


   "Ga, bukan itu." Adam semakin suram.


   "Bentar… jangan bilang lo ada masalah cinta?" Adi menebak.


    "GAK."


    "Lah terus???"


    "Lo…. Tau caranya minta maaf sama Cewe ga?" Adam dengan ragu bertanya.


    " Ha? LO BENERAN PUNYA CEWE? LOVE PROBLEM DAM?" Adi terkejut dan semakin tertarik.


    "GAK DIBILANGIN! Gue ada salah ucap sama cewek, pokoknya gitulah dan dia kesinggung gitu… masalahnya dua deket sama Nenek gue, mau ga mau gue harus minta maaf." Adam menjelaskan.


    "Oalaahh… jadi gitu. Pantesan, setau gue lo belum pernah minta maaf ya, jangankan sama cewe, sama gue aja ga pernah." Adi menggoda.


    "Apasi, buru ah! Ada solusi ga?" Adam kesal.


   "Hemmm…. Gini gini, tu cewe pasti gitu karena dia suka sama lo, jadi dia mau caper dan sok marah galak gitu" Adi mencoba menjelaskan.


    "Di,"


    "Ya?"


    "Emang kalau cewe suka bakal ngehindar terus? Bakal natap ga suka setiap saat? Pake dikit lah otak lo" Adam semakin kesal.


    "Hadeh… emang siapa si cewe yang udah buat lo gini? Gue kasih pelajaran sini!" Adi menepuk tangannya dengan tinju.


    "Stella." Jawab Adam, toh Adi ga bakal kenal karena cewe itu udah out.

__ADS_1


    "Ha? STELLA? Stella permatasari?" Adi segera melotot dan terbelalak. Ia terkejut bukan main kali ini.


    "Kenapa? Ga tau gua nama panjangnya." Adam menjawab dengan malas.


    "Gak, lo jahat banget Dam gila!" Adi seketika berubah.


    Adam menoleh dan menatap Adi, kenapa Adi jadi memihak Stella?


    "Stella itu keluarganya hancur parah Adam! Dia aja belum punya KTP! Gila lo, lo apain dia sampai marah gitu? Hiii serem, gue ga pernah disinisin aja takut dengernya." Adi merinding.


    "Kenapa? Lo kenal?"


    "IYA! Dia temen SMP gue! Tu cewek kalau marah bisa berubah 180°! Pokoknya serem!" Adi kembali merinding dan menatap lurus ke kota yang nampak dari atas atap.


    "Kenapa?"


    "Pake nanya! Dia tuh bisa ngehabisin orang kalau khodamnya keluar! Gue aja trauma abis di banting ama dia dulu, untung dia masih Adek kelas,jadi ga bakal temu." Adi menjelaskan dengan wajah kesal.


    Adam mulai tertarik, bocah itu mampu ngalahin Adi? Adam memang ga tau Adi karena beda sekolah dan ia tak tahu kemampuan Adi saat itu.


    "Coba lo ceritain." Adam penasaran.


    "Jadi gini, dulu Stella tuh masih kelas 8, karena cakep dia itu Bunga sekolah!"


    Karena menjadi Bunga Sekolah,Stella tak jarang mendapat ungkapan Cinta dari anak seusianya bahkan kakak tingkat nya. Pada awalnya semua aman aja,sampai ada yang Syirik dan iri.


    Rachel menyukai seorang pria dari kelas 9 lain dan berencana deketin dia. Cuma ga lama dia deketin tu cowok, Eh si Cowok malah nembak Stella. Stella memang sejak awal ga tertarik pacaran ya nolak si cowo.


    Merasa tersaingi, Rachel pun mulai mengusik Stella. Ia telah lupa akan cintanya, ia merasa semua gara-gara Stella. Wanita sok cantik yang jual mahal dengan menolak segala pria, begitulah pikiran Rachel.


   Semua gangguan ia berikan, Tapi Stella masih teguh bertahan, ia tak menghiraukan Rachel. Hal ini semakin membuat Rachel marah. Rachel naik pitam dan mulai punya rencana Gila.


   Hingga akhirnya menyuruh Anak kelas lain bersatu buat gebukin si Stella, bahkan buat mukanya hancur sekaligus perkosa tu bocah. Dan gue ada di salah satu suruhannya.


    Total, ada 7 orang yang sudah siap saat itu termasuk Adi, Adi pun ikut karena Rachel memberi bayaran besar untuk tiap orang agar tutup mulut.


    Sorenya, Stella melewati gang kecil yang selalu ia lalui karena merupakan jalam cepat ke rumah. Stella membawa adik laki-lakinya saat itu yang masih kecil.


    Mengetahui ada niat jahat dari para pencegatnya di lorong itu, Stella mengatakan beberapa hal.


    "Biarkan Adikku pergi, maka kalian urusanku."


  Tapi, ketua gue saat itu nolak, dan kurang ajarnya nyuruh si adek buat liat kelakuan bejat mereka nanti.

__ADS_1


   Stella ga nangis, dia natap kami dengan penuh amarah. Stella segera memundurkam adiknya dan duduk di dekat kotak sampah. Ia melepas jas sekolahnya agar menutupi pandangan adiknya.


    Saat itu, jangankan temen gue, gue aja ngiler liat tubuh dia yang udah terbuka karena dia ngikat rambut dan cuma pakai kemeja.


    Baru aja kami maju buat menyentuhnya, dia langsung banting orang pertama di depan kami. Melihat itu, semuanya pun dengan reflek mulai menyerang bersamaan. Karena sempit, Stella justru memanfaatkan itu agar ia mudah menolakkan kakinya ke tembok dan melayang. Ia segera menendang kami satu persatu.


   Yang kuingat, dia membantingku dan menendang alat kemaluanku dengan keras, bukan cuma aku, tapi semua nya. Dia pun mendengus kelelahan.


   "Bukannya sudah saya bilang? Saya meminta agar adik saya lari, jadi kalian ga perlu sesakit itu sampai ke ******** kalian, tapi ini yang kalian mau kan? Saya hanya bisa memenuhinya." Stella tetap memakai kata sopan dan menatap kami dengan wajah datar.


    Awalnya, ku kira ia mau pergi meninggalkan kami begitu saja. Tapi setelah itu lo tau apa yang ia lakukan? Dengan santainya dia ngasih obat merah sama alkohol buat luka kita!


    Dia ga ada rasa dendam bahkan benci? Dia bahkan tidak berteriak selama bertarung, darimana wanita ini bisa belajar hal liar seperti itu? Padahal dia wanita baik-baik yang dijuluki bidadari.


   Herannya, kami semua justru terpesona dan berterima kasih, meski masih nyeri du bagian bawah.


    "..... yah, abis itu gue ga mau lagi urusan sama circle gue, amit amit dah! Ga ketemu Stella aja gue udah syukur." Adi menutup ceritanya.


    "Di."


    "Iya dam?"


    "Gue punya satu permintaan."


    "Apa? Ngomong aja."


    "Gue pukul lo ya?"


    "Ha? Lo baper nih ceritanya? Gila! Ga mau gue!" Adi segera menjauh.


   "Lo bajingan banget, gue ga tau lo dulu sebajingan itu." Adam menatap Adi dengan tatapan sinis.


   "Hiii! Kan dulu dam! Gue udah insaf! Gue ikut lo! Plis lah jangan gini" Adi masih ketakutan.


   "Yaudah, gue pukul sekali aja, gue kesel."


    Adi dengan pasrah mendekatkan wajahnya, ia sudah siap wajah mulusnya kena tinjuan maut.


     BUUGGHHHH


    "Uwaaakk! Gila! Gue kasih muka kok lo malah minta jantung ******! Uhuk! UHUK!" Adi kesulitan bernafas dan meringkuk, Adam memukul bagian perut Adi.


    "Tauk dah, cabut gue! Lo kalau mau masuk kelas masuk aja! Mau sendiri dulu!" Adam segera meninggalkan Adi.

__ADS_1


    "Gila! Dam, tunggu gue! Woi!" Adi masih meringkuk kesakitan.


     Blacklist nomor dua Adi setelah Stella adalah Adam. Dua orang yang tidak boleh dia ganggu


__ADS_2