
Stella menulis setiap runtunan soal matematika milik Adam, dia harus mempelajarinya dengan susah payah hingga belajar menggunakan bantuan internet untuk mencari jawabannya. Dia menghitung dan memastikan apakah itu sudah benar, karena takut salah dengan metode guru Adam.
"Hisss… kalau salah, katanya dia bisa benerin kan? Terus apa gunanya aku susah payab begini? Huft… " Stella kelelahan, padahal hanya 15 soal Matematika kelas senior yang belum pernah dia lihat.
"Besok si genit itu pasti akan datang dan merusuh lagi, aku harus cepat selesaikan catatannya malam ini. " Stella segera bangun dan menyeruput kopinya, semalaman ia tak tidur demi menyelesaikan catatan dan tugas essay Adam.
Usaha tak menghianati hasil, Semua PR dan tugas catatan selesai. Stella bisa menerima uangnya.
DINGG DUNGGG
Bel pagar mereka berbunyi.
Stella melirik jam tangannya, "jam 6? Pagi banget? ".
Di luar dugaan, untung Stella mengerjakannya. Buru-buru ia mengemasi buku Adam dan berlari ke depan gerbang.
BRAAKKK…
Stella membuka pintu dengan cepat hingga timbul suara besar. Ia menatap ada pria tinggi di depannya. Sedang mengenakan Hoodie hitam dan rambut acakan, bau segar dan harum dan rambut lembab, dapat ditebak ia baru selesai mandi.
" Gue mau ambil yang Matematika sama Catatan Ekonomi, bisa? " tanya Adam menatap mata Stella.
"Nih, ambil. " Stella menyerahkan kantong kresek besar berat yang ia bawa.
"Wait, Gue cuma minta yang Matematika sama Eko, Lo kalau belum selesai bisa lanjut kok. " Adam keheranan.
"Itu sudah selesai, Adam. Kamu juga bisa periksa sendiri jawaban Matematika dan Essay lainnya, toh katamu kalau saya salah kamu bisa perbaiki sendiri. " Stella menjelaskan dengan nada datar dan dingin.
"HA?! " Adam melotot dan terperanga.
"Semua ini udah selesai?! " Kembali Adam melotot.
"Huft, iya. Periksa aja, mungkin ada yang kelewat atau apa kalau memang ga percaya. " Stella bernafas kasar. Ia lelah, ingin segera menyiapkan Shawn dan Sherly lalu istirahat.
"Stella, Lo ga tidur Ya?? Jawab Lo!" Adam mencengkram kedua bahu Stella.
"Iya, sudah gapapa. Saya kan kerja sama kamu. Kamu gaji saya ga cuma cuma, ini ga seberapa. " Stella menahan uap kantuknya.
"Huft… Lo masuk, Tidur. Sekarang! Muka lo serem banget kalau capek, kek kuntilanak. " Adam menatap Stella dengan sinis.
"Lalu anda? Seperti serigala menatap mangsa. " Stella tak tersenyum, memang tak pernah.
Tapi Adam tak bohong, mata Stella jadi lebih datar dan wajahnya lebih dingin, efek lelah ini cukup membuatnya tak mau berekspresi. Adam tak menyangka gadis itu menyelesaikan kerjaan yang hanya bisa dia kerjakan sebulan dalam satu malam.
"Udah, pulang sana. Kalau ada yang lihat bisa dikira aneh aneh! " Stella hendak menutup pintu gerbang.
Adam masih dalam lamunan segera sadar, ia hendak mengatakan beberapa patah kata lagi namun hal itu tak berhasil saat Stella menutup pintu.
__ADS_1
Adam menatap sekantong besar yang muat untuk ikan 7 kilo itu, "Ha! Cewek macam apa dia? ".
༶•┈┈⛧┈♛
" Bye Kak! kakak, pulang nanti Shawn mau makan Fuyunghai bisa? Masakan kakak enak! " Shawn lari masuk ke dalam, padahal ia tak telat.
"Iya! Semangat ya! "
Stella tersenyum, senyuman yang langka. Ia hanya akan tersenyum pada dua orang adiknya saja. Itu pun jika ada moment manis begini, mungkin.
Sepulangnya, Stella masih harus mencuci baju Madam Elly dan mengurus Sherly. Stella merasa tubuhnya lelah, apalagi bagian mata dan otak, tetapi tekadnya dalam membesarkan adik begitu besar hingga mengalahkan omong kosong dari otak dan mata yang berkunang-kunang.
"Sherly pinter, nangisnya cuman laper, haus, berak. Hihi, gemes nya~" Adik kecil nya yang bahkan belum bisa berangkang itu adalah satu-satunya obat yang ia punya saat Shawn sekolah.
"Aiyaaa~ Sherly udah gede ya? Kakak harus segera beliin Shawn dan Sherly baju biar ga kekecilan! " Stella menggendong dan menyusui adiknya.
Setelah Sherly tidur dan pakaian laundry di jemur, Stella mengotak atik HP nya, ia mencoba memainkan beberapa fungsinya dan mencari tahu kegunaannya.
SEMENTARA ITU DI SUATU DIMENSI LAIN…
Adam bersama teman-temannya. Adam termasuk pendiam meski di antara temannya itu. Dia duduk berdekatan dengan Adi sambil melamun.
"Oi, Dam. Minjam Chasan dong! Low batt nih! " salah satu temannya berteriak.
Adam menggunakan isyarat bahwa chargernya ada di tas dan ambil saja.
"Tumben ga mantengin IG, biasanya lo paling demen scroll reelsnya. " Adi mengisap rokoknya.
"Gak, gue..." Adam diam sejenak.
"Kenapa Dam?"
"Gak."
Adam segera pergi dan mengendarai motornya, ia sangat lalai kali ini, tapi ia pun tak kepikiran sampai sana.
"Haduh, tu orang baru megang hp kan??? Harusnya dia ga tahu si.. " Adam bergumam dibalik helmnya.
Segera ia pergi ke sebuah toko dan pergi lagi dengan cepat. Ia menuju ke rumah Stella.
Sesampainya, Adam pun membunyikan bel. Ia menekan bel berkali kali.
CKLEK
"Iya? " Stella menjawab sembari membuka pintu, ia menatap ke atas.
"O-oh… Adam. " Stella tampak agak terkejut dan gelisah.
"Kenapa lo? " Adam yang sendirinya juga gelisah menutupi rasa tersebut.
"Itu, Hpnya low batt, harusnya kan ada chargernya jadi saya baru mau beli, kamu kesini karena saya ga bisa dihubungi ya? " Stella agak kikuk.
__ADS_1
"EKHEM, uhuk… enggak. Nih, chargernya. Kalau lo beli sendiri mahal, jadi mending gua beliin. Jangan dipakein yang KW, ntar rusak lagi. " Adam mengomel.
Tapi tetap, ada saja yang membuat hatinya gelisah. Ia sebenarnya sangat ingin memegang hp itu sebentar.
"Gue… boleh pinjam hpnya sebentar? Bentaran doang, ada perlu. " Adam bicara sambil menggaruk leher nya tak gatal.
"O-Oh, Iya! Boleh!Boleh! Masuk,Dam." Stella mempersilahkan Adam masuk dengan Sopan.
Rumah Stella jauh lebih rapi, gadis itu pintar berimat ternyata, rumah ini tampak diurus oleh orang tua uang yang sudah bertahun-tahun tinggal disini. Padahal hanya anak SMA putus sekolah.
Adam masuk, ia mengecharge ponselnya dan menunggu sejenak. Ia menunggu sambil memperhatikan Stella.
"Lo umur 15 kan? " tanya Adam.
Stella yang hendak mengambil panci pun berhenti sejenak, "3 bulan lagi 16.(tahun) "
"Pfffttt, ya Sama aja! Lo masih 15! Kecik banget! Heran gue. " Adam terkekeh.
Stella tak menghiraukannya dan melanjutkan Aktivitas dapurnya. Tubuh dirinya memang tinggi, lebih tinggi dari Nenek Adam, tetapi dia tetap kecil di mata Adam.
Adam kagum, ia pun terpana. Melihat suasana dan posisi merema saat ini, orang pun pasti mengira ini keluarga hangat yang penuh dengan kemanisan.
Plung!
Suara ponsel yang sudah terisi penuh, bertepatan dengan Mie instant Stella jadi. Ternyata wanita itu memasak dua mie untuk nya dan tamunya.
"Wih, pas banget gue laper, thanks ya!"
Adam tersenyum lebar dan menatap Ponsel yang sudah siap ia geledah.
Sembari makan, sembari main ponsel. Stella memperhatikan Adam, entah mengapa ia tak setuju jika makan justru sambil bermain HP.
"MAKAN DULU, BARU MAIN! " Stella menggebrak meja makan kecil mereka.
Dengan menurut Adam menaruh ponsel dan memakan mie buatan Stella dengan cepat. Heran, padahal gaya Adam ini cukup menyeramkan tetapi justru Stella lebih seram dari Adam ( menurut Adam).
'Kok gue nurut si, sama curut ini?' Adam menatap lama.
"Kalau sudah, anda boleh bermain lagi." Stella membereskan bekas makan mereka dan segera pergi mencuci piring.
Adam segera memeriksa ponselnya, tiba tiba ponsel itu berdering bersamaan dengan tangis suara Sherly. Adam pun mematikan ponsel tersebut.
Stella, menggendong Sherly dan menatap lekat lekat pada pria yang bahkan tak terganggu akan suara tangis bayi itu, sungguh kejam.
"Cupp cupp… Sherly pintar, dan manis. Jangan nangis ya, " Stella mencoba menyusui Sherly di botol yang masih terasa hangatnya.
Adam masih tak bergeming, suara rumah masih penuh dengan suara tangis bayi. Stella heran dengan telinga pria ini, sangat tuli!
Tiba-tiba…
BRAAAKKKKK!!!
__ADS_1
Pintu rumah Stella dibuka dengan kasar dan cepat. Adam dan Stella melihat dari arah suara bersamaan, Sherly pun secara mengejutkan diam dengan cepat dan memperhatikan sumber suara itu.