STELLA : Great Sister

STELLA : Great Sister
Waduh, Wir!


__ADS_3

      Suasana sunyi sejenak, ada kerumunan warga yang baru saja memaksa masuk ke rumah dan beberapa orang diantaranya Stella kenal. Ada pak RT? kenapa? 


      Masih dalam keadaan diam, tiba-tiba ada suara pemecah keheningan namun bukan suara yang baik. 


     "KYAA~ Get Some baby? Yes~" suara merdu dan syahdu. Sudah dapat dilihat dari jauh oleh mereka bahwa itu adalah video pmo. 


     "Ga! Ini! Aduh, bukan begitu! " Adam kebingungan dan kehabisan kata. Dia sendiri terkejut mengapa playlist itu terputar dengan sendirinya, apakah ia tak sengaja menekan tombol play? 


    "Hei! Apa itu! Kemarikan! " Pria bertubuh gemuk itu memerah padam dan segera meraih ponsel tersebut. 


     Adam dengan segera menghapus video itu, kalau tidak, habislah dia. 


     "Wah, ternyata kamu mau menghilangkan barang bukti? Dasar anak muda jaman sekarang! Tahu kalian hanya begini saja! Tidak mudah membesarkan anak! " pak RT dengan nada tinggi berteriak.


      Sherly terkejut dan menangis, Stella pun marah. 


    "Atas dasar apa kalian masuk dan berteriak di rumahku? Kalian akan saya tuntut dalam pelanggaran HAM jika tidak keluar atau menurunkan nada suara kalian!" Stella menatap tajam, dia murka kali ini. 


     


    "Nak Stella, saya tidak menyangka kamu yang pendiam dan dikenal polos serta tertutup ini begini, Umurmu itu pun belum pantas menggendong anak. " Pak RT mulai menurunkan nada suaranya. 


    "Maksud bapak? " Adam dan Stella bertanya bersamaan, dari tadi mereka pun tak tahu maksud kedatangan mereka semua kemari. 


   "Sudahlah Stella! Kamu menikah saja, jangan mencemari lingkungan ini dengan hubungan gelap kalian! Apalagi anak sudah sebesar itu! Apa ga malu? " usul salah satu wanita di belakang pak RT. 


    "HUBUNGAN GELAP? SAYA? " Stella mengerutkan dahi, ia tak terima dirinya di cap seperti itu, padahal dia sendiri tak pernah pacaran. 


     "Woe! Kalian apa-apaan sih! Hubungan gelap apa? Gue ke sini karena ada urusan, udah itu doang! " Adan mulai tahu arah pembicaraan mereka. 


     "Oh ya? Itu anak siapa lalu? Anak kambing? " sewot salah satu wanita baya yang sangat nyinyir. 


      "Ini adek saya, bukan anak kambing tidak bermoral yang dididik seperti manusia. " sarkas Stella masuk dan mengenai wanita tadi, dia terdiam. 

__ADS_1


      "Sudah! Pokoknya, besok kalian menikah! Ini sudah keputusan bulat! Berani sekali kalian di lingkungan sini berbuat asusila! " Pak RT marah dan mulau melerai situasi. 


      "Saya tidak setuju, kami tidak bersalah! Kami tidak melakukan Asusila apapun, Adam disini semata-mata ada keperluan khusus! Jadi tidak ada kaitannya dengan tuduh kalian! " Stella masih menenangkan Sherly. 


     "Haduh, Stella, kamu itu mau sampai kapan si sok polos gitu? Kamu mau bilang adek? Orang adek kamu itu udah sekolah! Udah gede, kalau ini mah masih keliatan bayi abang!"


     "Bener! Dan lagi, ada saksi nya kalian berdua tadi pagi bercekcok dan bertemu di depan rumah, pagi pagi udah berani aja! "


     "Udah deh, kalian pilih, mau diusir dari sini atau menikah? Tidak ada penolakan! " Pak RT menangani dan memberi pilihan. 


    Secara mengejutkan ada wanita tua masuk, ya, itu Nenek Adam, Madam Elly. Dia masuk dan melihat ke seluruh ruangan yang berbau keringat warga mengotot ini. 


   Madam Elly menjelaskan, dan mulai membela satu persatu dari mereka. Tapi, tuntutan warga lebih banyak dan konsekuensinya juga bukan main. Madam Elly pun kebingungan karena kalah suara. 


     "Ya sudah! Sampai besok siang! Jika belum ada jawaban, kalian semua saya usir! Bila perlu saya bakar rumah ini! " ucap Pak RT. 


      Stella menatap tajam tak bersuara, bagai serigala masih dalam tahap mengamati musuh. 


      Pak RT tampak ketakutan sedikit, namun akhirnya ia pergi dan meninggalkan mereka, pak RT membawa semua warga yang ia ajak untuk bubar. 


      … 


      "Adam, kamu kenapa ga angkat telepon Nenek? " Madam Elly mulai berbicara. 


      "Maaf Nek, Adam masih sibuk mencari sesuatu yang penting, Adam ga tau kalau itu Nenek. " Adam menunduk. 


      "Kenapa kamu bisa ada disini? " tanya Nenek lagi. 


      "Adam, ada perlu sama Stella, soal pekerjaan, beneran ga ada apa apa Nek… " Ucap Adam penuh penyesalan. 


     "Sudah, Nasi sudah menjadi bubur, kamu harus membuat pilihan bijak. Saran Nenek, kamu nikahi Stella, kalau kita diusir, banyak yang bisa kita lakukan, tapi Stella? " Nenek memberi pengertian. 


    "Saya mungkin akan menjual rumah ini" Stella langsung menjawab, ia tak mau dikasihani. 

__ADS_1


     "Nak, ini rumah dimana kamu lahir, kan? Rumah ini tak lebih berharga dari rumah lainnya, kenangan disini tak mampu digantikan. " Nenek mencoba menasehati dari hati ke hati. 


    "Tapi Nek, di rumah ini pula Saya hancur, keluarga saya hancur disini. Bukankah lebih bagus jika saya pindah? " Stella menatap Sherly yang sejenak saja sudah tidur lagi. 


      "Stella, biar nenek kasih tahu, uang jual rumah ga bakal sebesar itu, bahkan membeli rumah pun sekarang susah! Jarang ada yang cocok dengan harga kita, uang pindahan mahal, apa apa mahal! Belum lagi sertifikat nya, kamu belum legal buat tinggal sendiri. 


     Lebih baik kamu menikah dengan Adam, saya lihat, kalian pasti bisa bersatu. Nenek bisa lihat cucu nenek ini tampak nyaman sama kamu, Kamu pun bisa menjaga Adam sama seperti adikmu! Biaya rumah dan segalanya biar Adam dan nenek yang tanggung. "


     "Nek, jangan begitulah! Adam ga siap! " Adam menolak dengan nada yang dipaksa pelan. 


    "Dam, sudah. Menurut saja ya? Anggap ini permintaan terakhir Nenek sama kamu, Kakekmu pun pasti suka, Stella ini anak baik-baik yang paten. " ucap Nenek. 


     "Nek… " Adam masih merengek. 


     "Gimana nak Stella, mau kan? " Nenek menatap Stella. Adam pun begitu, ia penasaran apa jawaban yang akan diberikannya. 


     Stella diam, kemudian ia mengangkat kepalanya. "Saya…  perlu waktu, maaf. " 


      "Nah, tepat! Kamu memang harus memikirkan semuanya dahulu, jangan langsung menolak tanpa pikir panjang. " Nenek menyindir Adam. 


    "Nek… " Adam masih saja mencoba membujuk Neneknya. 


    "Sudah, kamu pulang aja! Orang jam segini kamu itu harusnya di sekolag Lho dam! Ngapain si! " nenek heran sendiri. 


    Adam kalah, ia harus menurut karena ketahuan bolos dan Stella pun memberi jawaban Ambigu. 


    Semua telah pulang, tersisa Stella dengan Sherly, sebentar lagi waktu jemput Shawn, namun Adam berkata akan menjemputnya. 


     "Haaaa… , Adam bodoh. " Stella berdecak kesal. 


     Ia mengingat, beberapa jam lalu sebelum Adam datang, ia mengotak atik ponsel itu, dan betapa terkejutnya Stella menemukan puluhan Video PMO. Stella belum sempat berteriak, namun ponsel itu segera mati karena lowbat. Stella pun bingung, ia belum pernah melihat hal se vulgar itu sebelumnya. 


    Ia beberapa kali mengusap wajahnya, ia selalu terbayang bagaimana reaksi Adam menonton video menjijikkan itu. Stella mencoba untuk berpikir positif tapi ia tak bisa. Tubuhnya tak tenang. 

__ADS_1


     Hingga Adam datang, Stella menjadi canggung, ia tambah canggung karena Adam ingin menggunakan ponselnya lagi. 


    Sial, kok bisa begini sih! 


__ADS_2