STELLA : Great Sister

STELLA : Great Sister
Menikah?


__ADS_3

    Stella menatap atap rumahnya yang di lapisi dengan cat nuansa white cream dan lampu cantik yang biasa disebut Chandelier itu. Ia berada di tengah ruang tengah, tergeletak lemas dengan tatapan kosong, ia baru saja berhasil menidurkan kedua adiknya. 


  Shawn, tidur di sebelah kiri nya, Stella sengaja menata kasur agar mereka bertiga bisa tidur bersama di ruang keluarga itu. Sementara itu, Sherly su bungsu ia letakkan di sebelah kanannya dengan kasur bayi serta kelambu transparan. 


   


   "Menikah… "


   Stella berbicara lirih. 


   "Bagaimana rasanya menikah? Apa yang bisa kudapat dari menikah? Anak? Suami? " laniutnya. 


    Ia menatap Shawn,"Ayah dan Ibu menikah, tetapi kami berakhir dengan tragis begini. Lalu aku harus menikah? Meninggalkan adik adikku yang manis ini?" Stella menitikkan air mata. 


    Mata yang masih menatap kosong, tetapi air mata tetap berderai. Ia membayangkan betapa beratnya menikah, ia harus melayani suaminya, merawat adiknya, belum lagi hamilnya. 


   "Kenapa… dunia selalu begini… "


    Hiks… 


    Tangisan kecil yanh sesak memenuhi ruangan. Ia khawatir membangunkan adiknya. 


   "Jika saja mereka pergi tanpa meninggalkan luka seperti ini, jika saja mereka tak membuat kami seperti ini, Jika saja…   mereka tak menikah… ", Stella terhenti. Ia beralih menatap Sherly.


    " Gak, Maafkan Kakak. Kalian adalah keluarga kakak satu satunya, jadi Kakak punya alasan hidup sampai sekarang. Untuk kalian, resiko apapun akan kakak ambil jika itu menyangkut hidup kalian."


     Stella terdiam, angin dingin mulai masuk ke sela rumahnya dan membuat dirinya semakin kedinginan. Ia menatap Shawn bergidik dingin, dengan segera ia melapisinya dengan selimut. 


   ".... Karena kalian adalah adik Kakak. "


    Akhirnya, ia tak tertidur semalaman. Ia tak tahu menghadapi sidang dari warga setempat. Bahkan pada hal yang ga dilakukan olehnya. 


    


    Meski pagi telah menunjukkan harinya, Stella tetap beraktivitas seperti biasa dengan perasaan kacau dan tatapan kosong. Ia merasa dirinya berada pada titik terendah dan serendah rendahnya. Menikah adalah hal yang tak pernah ia pikirkan sejak kedua orang tuanya pergi. 


   "Shawn, ingat…  apapun yang terjadi di sekolah adukan pada kakak ya? Janji? " Stella memakaikan tas adiknya. 


  Shawn menatap Stella, kemudian ia mengangguk. Entah kenapa sepertinya anak kecil itu seolah tahu dan mengerti perasaan kakaknya saat ini, hingga ia tak banyak bicara. 


  "Anak pintar, ayo pergi sekolah? Sudah siang! " Stella mencoba tersenyum kecil dengan dengusan nafas kasar. 


    


    KREEEEKKKK!!! 


    Suara nyaring dari gerbang besi itu memanglah berisik dan pasti akan membuat orang lain risih bahkan terkejut. Tetapi Stella lebih terkejut melihat Adam berada di depan rumahnya lengkap dengan seragam sekolahnya. 


    "Ngapain kamu? "


    "Shawn biar berangkat sama gua aja, lu urus di Sherly aja udah. " Adam segera menggendong Shawn ke motor besarnya yang tak perlu di tanya soal harga. 


   "Woah! Motor kak Adam keren! " Puji Shawn terpukau. 


   "Yoi, kek orangnya kan?" 


   "Iya! Kakak juga keren! " Shawn memberi jempol pada Adam. 

__ADS_1


    


   "Yaudah, hati hati. " Stella hanya menatap kakinya,  ia merasa tak enak menatap pria yang berdiri di hadapannya. 


  


   "Emmm, Stelle…  soal kemarin gua minta maaf ya, gua bakal coba jelasin lagi sama tuh RT. " Adam berkata sambil ragu. 


   "Hm, Ya. " Stella mengangguk kecil. 


   "Oh ya, lu bisa tidur aja dulu sampe siang nanti, lo keliatan abis begadang." Adam kembali memberi perhatian. 


    "Iya, makasih. " Stella kembali mengangguk kecil. 


    "Yaudah, gua berangkat, ada apa apa kabarin aja, gua stand bye kok" Adam segera pergi melaju pelan dengan membawa Shawn di depannya. 


    Stella menatap kepergian keduanya, ia bergumam kecil. "Penjelasan macam apa yang ia maksud? "


    Stella pun menuruti perkataan Adam, karena hari ini ia ingin istirahat, ia hanya tidur bersama Sherly seharian. Adam benar, ia memang kelelahan hingha pucat dan tenaga nya kurang. 


    


    "Sel…  Stelle…  Stelle! " Panggil Adam dengan nada lirih dan tenang. Ia menggugah Stella dan berusaha membangunkannya. 


    "Oh, maaf, Saya ga sadar kamu disini, Dam. " Stelle terbangun dan segera memeriksa Sherly. 


    "Loh? Sherly? " Stella kebingungan tak medapati Sherly di dekatnya. 


    "Ada sama Nenek. " Adam tak menatap Stella. 


     "Oh, begitu. Sudah lama datangnya? Saya buatin teh ya? " Stella berbasa basi sembari mengumpulkan nyawa dari alam mimpinya. 


     "Loh? Kenapa? Mau kemana? Bicara sama Pak RT nya udah? "  Stella bertanya-tanya. 


     "20 menit, gua tunggu dari sekarang. Shawn sama Sherly di rumah gua, jadi gua tinggal nunggu Lo. " Adam segera keluar dari kamar itu dan duduk di ruang tamu. 


   "Kenapa sih? Tiba tiba? " Sherly menatap ke jam tangannya yang ia simpan di meja kecil dekat kasur. 


    "WHAT? JAM 2?" Ia terkejut karena telah tertidur selama sekitar 5 jam lebih. 


    Ia segera mandi dan bergegas, ia bersiap dengan pakaian Casual dan tataan rambut yang ia kuncir satu agar cepat selesai. 


   "Gimana dam? Ayo berangkat, Sherly harus makan siang sama Shawn. " dengan gelisah Stella keluar dari kamarnya. 


    Adam menatap Stella dari ujung atas kepala hingga kaki. Ia belum pernah melihat pakaian Stella se Casual ini, hanya dress mini hitam dengan tas samping mungil. Bahkan gaya rambut simple, tapi tetap menyatu padukannya. 


   Biasanya gadis itu hanya akan memakai short pants dan kaos biasa. 


   "Yaudah, yok" Adam berdiri dan mempersilahkan Stella duluan berjalan. 


   


   "Oiya, tadi kamu datang jam berapa? Saya ga dengar motormu bersuara soalnya. " Stella penasaran, sedikit. 


   "Belum lama, udah naik aja! " Adam memberi aba naik. 


    Mereka segera berjalan menuju ke Rumah Adam yang terletak tak jauh daru kompleksnya. 

__ADS_1


    Padahal dekat, tapi pakai motor segala, ada ada aja si Adan ini! 


    Dengan waktu yangs sedikit, Stella bertanya, "Kamu udah bicara sama Pak RT? "


     Adam hanya mengangguk. 


    "Dia bilang apa? "


     Adam tak mau menjawab. 


    "Kenapa sih? Dari tadi ga ada respon" Stella kebingungan. 


   Ia tambah kebingungan dengan depan rumah Adam yang ramai itu, ia tak tahu apa yang terjadi. Memang sih Adam tadi sama sekali tak berekspresi dan selalu membuang muka padanya. Tapi memang biasanya dia judes. 


    Stella segera di tarik Adam masuk, sedikit memaksa tetapi Stella pun tak keberatan meski merasa aneh. 


    "Adam! Lama banget si! 2 jam ditunggu! Kamu mau buat kakekmu mati menunggu kamu?! " ada seorang wanita berambut pendek dengan pakaian seksi dan heels merah ceria menghampiri mereka. 


     Adam tak menjawab, ia hanya melewati wanita itu dan segera membawa Stella masuk dan menerobos kerumunan. 


    'Ha? Apa yang dia bilang tadi? Kakek Adam? '


    Dipikir pikir Stella tak pernah melihat Kakek Adam, karena Madam Elly selalu berkata bahwa Kakek Adam masih aktif bekerja di kantor meski usianya sudah tua. 


   Segera setelah Stella masuk, ia disuguhi pemandangan, seorang kakek tua lemah tak berdaya dengan istrinya yang setia menunggu di samping nya dengan isak tangis. 


    Adam dengan lemas melepas pegangan tangannya pada Stella. Semua mata telah tertuju pada Stella. Gadis dengan pakaian casual dan rambut tertata rapi. 


    "Ada apa ini? " tanya Stella kebingungan. 


      Madam Elly segera menoleh, ia menghentikan tangisnya dan menatap lama gadis itu. Tersadar, ia pun segera beranjak dan menarik gadis itu ke hadapan Kakek tua terbaring lemas itu. 


     "Dia…  dia adalah Stella. " ucap madam Elly lembut. 


    Kakek tua itu menatap lama, ia mencoba meraih wajah Stella yang sudah didekatkan Madam Elly, Stella dengan inisiatif mendekatkan lagi agar mudah diraih. 


    "Ste… lla…  cantik…  ya… . " kakek tua itu mengeluas lembut. 


    Entah mengapa, Stella merasa tersirat dan aneh. Ia lupa kapan terakhir kali di panggil cantik oleh orang tuanya. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali makan bersama. 


    "Iya, Terimakasih. " Stella tersenyum tulus. Ia menangis, dengan nada sesak. 


   "Stella… " lanjut Kakek itu. 


    "Ya, Kek? ada yang bisa saya bantu? " Stella sigap. 


    "Tolong jaga cucu Kakek ya, kamu anak yang baik dan tulus sekali. Saya merasa Adam akan lebih cocok denganmu. Saya minta maaf jika ini terlalu mendadak, tapi…  maukah kamu menikah dengan Adam? Ini adalah permintaan terakhir Kakek, Kakek merasa umur Kakek tidaklah lama lagi… "  Pria itu berbicara pelan dan tertatih. 


   "Kek…  Saya…  bukan wanita sebaik itu, saya juga memiliki latar belakang yang buruk, saya tak akan pantas. " Stella menolak dengan halus. 


   "Siapa bilang? Saya sudah membesarkan Adam sejak ia kecil, dan Saya tahu persis pria macam apa dia. Tetapi, setiap gadis yang datang atau ia bawa untuk bermain ke rumah, tak ada yang sebaik kamu. Kamu berbeda, saya tambah kagum dengan mendengar latar belakangmu yang kuat dan berani itu. Kamu adalah wanita hebat yang mampu mengubah Adam. " 


     "Kek, Saya tidak paham… "


    "Menikahlah dengan Adam, ubah dia, ajari dia, dia anak yang tidak tahu apa itu cinta, bodoh dalam hal hubungan serta rapuh dari segi latar belakang. Kakek akan mendukungmu, dan kakek hanya bisa meminta hal ini sebagai harapan terakhir. "


    Kakek tampak menatap dengan wajah sendu. Tatapan orang tua yang sedih begini, Stella tak mampu menolaknya. 

__ADS_1


    " Saya…  tidak yakin Kek. "


    "Adam adalah anak yang bertanggung-jawab, saya percaya itu. Jadi, tolong ya… "


__ADS_2