
❥𓂃𓏧
Berpapasan dengan pria aneh itu membuat Stella kesal. Ia belum pernah sekesal ini bahkan pada Dara. Ia bingung bagaimana mengungkapkan sifat pria itu hanya dalam kalimat atau pun kata-kata.
"Haisss… aku ajak Sherly beli susu sama perlengkapan rumah aja deh, ga baik negative thinking mulu." Stella beranjak memakai gendongan bayi dan menggendong Stella. Ia menggunakan tabungannya dan keluar memakai tas belanja Ibunya.
Pasti setiap orang yang melihatnya mengira Stella adalah Mama muda beranak satu atau semacamnya. Stella tidak mengambil pusing dan tetap berjalan ke tujuannya. Supermarket tidak terlalu jauh, ia hanya menempuh paling tidak 6 menitan.
Segera ia mengambil bahan masakan yang ia perlu dan susu Sherly. Ia menghitung total belanja nya dan menghitung kecukupan uangnya. Untungnya masih sisa banyak. Ia melirik pada cemilan dan makanan ringan. Ada pula beberapa minuman botol dan kaleng kesukaannya dulu. Ia sering dibelikan oleh Ayah Ibunya jauh sebelum Shawn dan Sherly hadir. Tetapi itu semua kini hanya kenangan semata.
Ia harus menahan nafsunya dan move on dari masa lalunya itu. Ia tak akan bisa maju jika terus melirik ke belakang.
"Totalnya 275 ribu ya, mau cash atau gesek?" Tanya kasir itu ramah.
"Cash kak." Ucap Stella.
Setelah selesai, Stella kembali pulang ke rumah. Beruntungnya Sherly tidak rewel dan menangis. Ia bahkan tak renyeng sedikit pun.
"Heummmm… kalau niatku sudah mantap putus sekolah dan bekerja, lalu aku harus kerja apa? Mana ada yang mau menerima anak 15 tahun kerja?" Stella berpikir keras sembari menyusun belanjaannya.
"Tapi kalau aku ga segera dapat kerjaan, gimana Susu Sherly dan Sekolah Shawn? Makan sehari-hari apalagi. hufttt…." Stella menatap Sherly yang sudah bebas menyusuri rumah dengan merayap kesana kemari.
Bahagianya seorang kakak melihat perkembangan adiknya yang sehat. Ia tak bisa membayangkan jika dirinya juga rusak dan meninggalkan mereka. Sungguh suatu kekejaman yang tak berhati.
"Sherly sudah pintar ya! Wah wah… kakak semakin senang kalau begini."ujar Stella senang. Ia menuntun adiknya agar bisa sampai dapur.
TINGGG TUUNGGG
Bell dari pagar rumah mereka berbunyi. Tak biasanya ada yang datang jam segini. Terlalu dini untuk Shawn pulang. Stella segera keluar dan mengintip dari dalam pagar rumahnya. Ia melihat ada Dara di luar sana dengan pakaian sekolah lengkap.
'Dara? Ngapain?'
__ADS_1
"EH STELLA! Gue tau lo di dalam! Mending cepet buka! Gue bongkar juga rumah lo nih!" Teriak Dara.
CKLEK!
Stella menampakkan dirinya.
"Nih! Harus selesai hari ini! SORE INI!" Dara melempar seonggok pakaian lagi. Kali ini lebih banyak dari sebelumnya.
"Dara… maaf aku…." Stella mencoba menjelaskan situasinya.
"Nih! Tu Duit tambahan buat kemaren! Kan kemaren gue bayar sekaligus dua kali, nah ini bonusnya! Gue tau lo ga bego si ranking satu dikelas!" Dara melempar uang yang sudah ditali.
"Makasih Dara, Aku usahakan selesai sore ini, untung mataharinya masih terik."Stella membungkuk terima kasih.
"Ya! Seperti biasa,TUTUP MULUT!" Dara memberi isyarat dengan tangannya yang seolah menyeleting mulutnya.
"Iya." Stella mengangguk.
Akhirnya Stella bergegas mengerjakan cuciannya yang mencapai setengah karung itu. Rasanya ia mendapatkan kembali uang yang ia belanjakan dengan jumlah lebih besar.
"Heumm…. Apa aku buka usaha laundry? Aku yakin tetangga di sini adalah orang kantoran yang rapi dan pembersih. Mereka pun tak akan menolak kan ada jasa laundry yang lebih murah sedikit dari Ibu Kota? Hitung hitung untuk mengisi waktu Stella.
"Oke! Aku buka aja kali ya? Kan lumayan uangnya. Tetapi yang pertama harus kulakukan adalah reset pasar dan pemasarannya." Gumam Stella. Ia memikirkan secara seksama.
"Kaaa…. Kaaaaaa~.." Sherly berteriak dari ruang tamu memanggil Stella.
"Eh? Loh? Sherly udah bisa ngomong Kakak?" Stella bahagia dengan senang.
"Kak! Kaaa~k"ucap Sherly dengan keras dan tertawa ala bayi. Sungguh menggemaskan.
"Astagaaa~ pintar! Emmm kalau Kak Shawn gimana?" Stella mencoba memancing Sherly bicara.
__ADS_1
"An? An~ Annn…"
"IYAK! Kak Shawn! Pinternya~ Oke! Kakak harus bersyukur, ada rezeki tak terduga di tiap hari kakak ternyata!" Stella mencium adiknya.
Kini Stella dengan semangat menjemur pakaian tadi dan segera menggendong Sherly. Ia akan menjemput Shawn pulang. Stella mengenakan Payung karena hari begitu terik.
"Jam 11 sudah seterik ini, Shawn pasti menghabiskan uang jajannya karena kepanasan."gumam Stella.
"Kaaa~k!" Sherly menoleh dan tertawa riang.
"Hehe… iya dek iya. Nanti panggil Kak Shawn , An ya!" Stella mengelus adiknya.
"An!" Sahut Sherly.
"Iya gitu! Nanti Kak Shawn pasti seneng!" Ujar Stella.
Sesampainya di Sekolah,Stella mendapati Shawn sudah menunggu dan mandi keringat.
"Astaga,pasti panas banget ya tadi. Shawn beli sesuatu?"tanya Stella.
"Ngga, kan Kakak bilang kita harus hemat. Hemat pangkal Kaya." Ucap Shawn meraih tangan Stella. Ia segera berjalan mengiringi keduanya.
Stella tersenyum berdecak kagum. Ia merasa bangga akan kedua adiknya. Begitu kejam dan teganya kedua orang tua mereka mengatakan anak-anak ini beban hidup.
"Eh! Sherly kita habis jemput siapa ini? Kak Shawn?" Stella segera memberi aba kepada Sherly.
"An! Awnnn!! An~" ucap Sherly dengan semangat.
"Loh? Sherly manggil Aku? Wah hebat Sherly! Kamu hebat! Panggil lagi,Ann~" Shawn tampak ceria dan senang mendapati adiknya menyebut namanya pertama kali.
"Aaannn~ hehehehe…." Sherly tertawa terbahak bahak.
__ADS_1
❝Seolah keluarga ini sama sekali tak memiliki masalah,ketiganya melengkapi satu sama lain. Tiada hari untuk bersedih, hanya masa depan cerah yang pantas untuk diperjuangkan. Mungkin prosesnya sulit,tetapi percayalah bahwa hasilnya tak seburuk itu.❞
-Moruchan as a Mortoon.