
Setelah pertemuan singkatnya dengan Dara, Stella masuk ke rumahnya dan hendak menabung uangnya. Ia menyimpan uang tadi ke dalam sakunya. Betapa senang dan bahagianya ia menerima uang kerja kerasnya untuk pertama kali.
"DASAR! JANGAN PERNAH KEMBALI KAU SIALAN! " Terdengar teriakan suara Ibu dan diiringi Ayah membawa tas besar pergi keluar rumah.
"A-Ayah… ayah mau kemana? " Tanya Stella dengan berkaca-kaca.
"Ayah pergi! Kamu tinggal saja sama Ibumu yang gila itu! Kerjanya cuma ngungkit Duit duit duit! Gila duit! " ucap Ayah dan beranjak pergi.
"Ayah! Ayah jangan pergi, gimana Shawn! Ayah kan janji bakal bahagain Shawn sampai gede, ayah janji sama Stella bakal disini terus… " cegat Stella kepanikan.
"Halah! Semua itu hanyalah kata-kata Stella! Ingat, kamu ga boleh percaya bahkan sama Ayahmu ini, Ibumu apalagi! Katanya bakal terima aku apa adanya, tapi baru ga kerja sebulan aja ngajak ribut terus, sampai berbulan-bulan malah ajak cerai! OKE! KITA CERAI AJA SEKARANG! " Ayah pun pergi dan mendorong kasar putrinya itu.
Ibu geram dan kesal, ia tampak semakin bengis.
"Ibu… "
"APA? KAMU MAU SAMA KAYAK AYAHMU? PERGI AJA! PERGI KALIAN SEMUA! " kesal dan gerutu ibu.
"Ngga, Stella bakal tetep disini bareng Ibu, Sherly dan Shawn. " Ucap Stella dengan senyum ciut.
"Cih! Kamu ga usah sok susah payah, kamu bisa apa? Anak kecil kek kamu ga ngerti! Susah tau cari uang! Kalian bertiga cuma beban buat aku! " Ibu kesal dan melempar pot didekatnya.
Beruntung, pot itu tak mengenai Stella dan hanya melewatinya. Ibu pun masuk dan membanting pintu. Stella segera menyusul takut-takut Adiknya jadi sasaran.
Fyuuuhh ternyata Ibu masuk ke kamarnya. Dan yah, seperti biasa… rumah berantakan, sudah ada piring pecah berserakan lagi.
"Shawn… "
Stella bergegas masuk kamar dan mendapati Adiknya yang memeluk Sherly sambil gemetaran. Pasti mereka mendengar perkelahian hebat tadi, tapi mereka tak tahu bahwa pahlawan yang selama ini mereka panggil Ayah telah pergi.
__ADS_1
"Shawn… sudah makan? "
Shawn menggeleng, ia hanya menunduk dan memeluk Sherly yang menangis. Stella segera mengambil Sherly dan mencoba menenangkannya. Namun sayang Sherly kali ini sangat rewel dan tak mau diam.
"Shawn, sudah kerjakan PR? " tanya Stella sembari mengayunkan Sherly, ia tetap memberi perhatian pada adik laki-laki nya.
Shawn mengangguk kecil, ia tak menjawab sepatah kata pun.
"Ya sudah, sekarang pergi lah menyiapkan pelajaran besok. Besok ada matematika dan IPA kan? Kakak ajari nanti ya… sekarang di baca dulu. " ujar Stella yang masih dengan nada lembutnya.
Shawn segera bergegas melakukan perintah kakaknya. Ia pun tak tahu harus apa pada Shawn karena Sherly masih tak kunjung diam dari tangisnya.
'Apa dia suntuk ya? Aku bawa keluar gapapa kan? Aku takut Ibu justru risih.' pikir Stella, ia belum pernah membawa Sherly keluar karena situasinya selalu tak tepat.
"Ah, gapapa deh. Kan mereka ga berantem." Stella membawa Sherly keluar dan menenangkannya di sofa. Ajaibnua bayi kecil itu langsung diam.
"Hoho, Sherly sudah paham bosan dan suntuk ya? Hebatnya~" Stella mengecup pipi dan kening adik bungsunya itu, ia sangat ingin semua adiknya hidup dengan kasih sayang yang cukup.
Sebenarnya, Stella kaget, tetapi tampaknya Ibu tak ada niatan untuk menyerang kali ini.
"Ibu… " gumam Stella menutupi Sherly dengan rambut panjang nya.
"Hah! Ibu katamu? Siapa ibumu? AKU BUKAN IBUMU. "
".... " Stella diam.
"Aku, ketika seumuranmu masih berbelanja ria di pasar lho, bahkan masih sangat cantik dan terurus. Lihatlah, kamu ini kok dekil banget si! " Wanita itu tertawa mengejek.
"Stella hanya belum mandi, nanti abis mandi juga fresh dan cantik kok. " jawab Stella cerdik.
__ADS_1
"Cih, mandi pun kamu tetap Dekil, Stella! Kamu tuh anaknya si Sialan itu! Jadi kamu mau gimanapun tetap ga guna, dekil! "
"Ya, Ya… ya sudah terserah Ibu. " Stella hanya tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum? Gila kamu? " tanya Ibu kemudian masuk lagi kekamar.
"Haa… Sherly masih kecil, ga boleh denger yang tadi ya… jangan ditiru! " Stella masih saja bermain main dengan adiknya.
Ayah sudah pergi, kini tinggallah mereka ber 4 sendiri di rumah ini. Tetapi jika di pikir, sedikit mengerikan meninggalkan Sherly sendiri di rumah dengan Ibu.
Dahulu, ketika awal-awal keluarga ini ribut, Sherly sering dijadikan ancaman Ibu. Terkadang Sherly seolah akan dibanting, dijatuhkan, dibunuh dan semacamnya agar Ayah mengalah. Tetapi kini, Ia pun tak tahu harus bagaimana.
"Apa aku berhenti sekolah aja ya? Kan masih bisa cari kerjaan? Aku bisa kerja kan? " Stella memutar otak.
Rumit, masalahnya adalah ia masih berumur 15 tahun, sekitar 1 bulan lagi baru ia berulang tahun. Sedangkan syarat bekerja di daerahnya kebanyakan 17 tahun.
Haisss… aku harus apa?
"Kak, Aku lapar… " panggil Shawn yang mengintip dari kamar.
"Oh astaga, Shawn lapar? Yaudah kakak suapin bareng Adek yaa" Stella bergegas menaruh Sherly di kaamr dan menyiapkan makannya di dapur.
Rencananya besok ia akan memindahkan kompor ke kamar agar tak repot bercekcok dengan Ibu. Untuk saat inj Stella harus bersabar karena mereka hanya memiliki satu kompor.
"Nah, ayo makan! Ini kesukaan Shawn kan? Kalau ini bubur kesukaan Sherly. " Stella menyuapi adiknya bergantian.
"Kakak ga makan? Nanti sakit lhoo" ucap Shawn penuh perhatian.
"Oh manisnya~ kakak udah makan kok tadi, ini abis ini kita belajar yaa? " ,Shawn mengangguk dan melanjutkan makannya.
__ADS_1
BOHONG, AKU BERBOHONG:)