
Hari yang sangat cerah, matahari bersinar begitu indahnya seperti permadani bulu angsa yang berenang di angkasa.
Seorang pemuda berusia tujuh belas tahun dengan wajah oval dan mata coklat. Dia memiliki wajah yang lumayan tampan dengan ekspresi tenang.
Wajahnya juga terlihat santai, namun dia merasakan rasa sakit saat memikirkan mata pelajaran yang akan dia hadapi saat bel berbunyi nanti.
Seragamnya berwarna putih dan celana hitam pekat, dengan dasi hitam. Pakaian seperti ini sangat mirip layaknya pakaian pekerja kantoran, tapi begitulah aturan sekolahnya.
Sekolah SMA Bakti Marga menjadi sekolah yang paling besar di kota Bangau dan memiliki reputasi yang cukup besar.
Kota Bangau merupakan salah satu kota yang terletak di Distrik Empat, sebuah wilayah di negara Timur yang memiliki sistem pembagian wilayah ke dalam beberapa distrik. Di seluruh wilayah Timur, terdapat dua belas distrik, dengan Distrik Lima dijadikan sebagai pusatnya.
Dengan adanya sistem pembagian wilayah ini, memungkinkan para warga dan pemerintah setempat untuk lebih mudah mengorganisir dan mengatur segala aktivitas yang berkaitan dengan pengembangan dan pemerataan wilayah di setiap distriknya.
Rendy di usianya yang masih 17 tahun telah meraih keberuntungan dengan diterima di sekolah negeri kota Bangau.
Meskipun demikian, dia dikenal sebagai sosok yang lebih memilih untuk menyendiri daripada bergaul dengan teman sebaya, meski hal tersebut tidak berarti dia seorang antisosial.
Meski jarang bergaul, Rendy tetap memiliki dua orang sahabat yang sangat dekat dengannya dan selalu mendukungnya.
Bagi Rendy, kesendirian terkadang memberikan kenikmatan tersendiri dalam hidupnya, dan ia menikmati momen tersebut dengan baik seolah-olah itu adalah bagian dari kehidupannya.
Setiap individu memiliki caranya sendiri untuk menikmati hidup dan bersosialisasi dengan orang lain.
Rendy berjalan-jalan di lorong, mengawasi setiap siswa yang lewat. Saat masuk ke kelas, ia meletakkan tasnya di lantai dan duduk. Mengeluarkan ponselnya, ia mulai terlena dalam novel favoritnya.
"Rendy, apakah kamu sudah mengerjakan PR dari Pak Guru?" tanya seorang teman sekelas.
"Belum," jawab Rendy sambil menggelengkan kepalanya.
Baru beberapa hari yang lalu ibunya dibunuh secara kejam oleh seorang perampok yang masuk ke rumah mereka.
Kesedihan masih terlihat jelas di wajah Rendy dan ia kesulitan menjalani rutinitas harian.
Setelah kematian ibunya, Rendy memutuskan untuk bekerja di minimarket milik sahabatnya untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Meskipun mengalami tragedi, Rendy tetap tenang dan bertekad untuk melanjutkan hidup. Dia tahu dia memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi dan bertekad melakukan yang terbaik.
Rendy berjalan-jalan di lorong, mengawasi setiap siswa yang lewat. Dia memasuki kelas, duduk, dan meletakkan tasnya di lantai dan mengeluarkan ponselnya.
Ia mulai menyalakan ponselnya dan mulai terlena dalam novel favoritnya.
"Rendy, apakah kamu sudah mengerjakan PR dari Pak Guru?" tanya seorang teman sekelas.
"Belum," jawab Rendy sambil menggelengkan kepalanya. Baru beberapa hari yang lalu ibunya dibunuh secara kejam oleh seorang perampok yang masuk ke rumah mereka.
__ADS_1
Kesedihan masih terlihat jelas di wajah Rendy dan ia kesulitan menjalani rutinitas harian.
Setelah kematian ibunya, Rendy memutuskan untuk bekerja di minimarket milik temannya untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Meskipun mengalami tragedi, Rendy tetap tenang dan bertekad untuk melanjutkan hidup.
Dia tahu dia memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi dan bertekad melakukan yang terbaik.
Johan, salah satu teman dekat dan teman sebangku Rendy, memahami keadaan Rendy saat ini.
"Hei, lihat itu! Apakah itu hujan meteor di luar jendela?" teriak seorang siswa, menarik perhatian seluruh ruangan.
Rendy, yang tenggelam dalam novelnya, juga menoleh ke arah jendela.
Bahkan guru juga menatap keluar jendela dengan campuran kagum dan kekhawatiran.
Siswa-siswi bergerombol di sekitar jendela, terpesona oleh pertunjukan kilauan bintang-bintang yang melintas di langit.
Rendy merasa sedikit tercengang dan melupakan masalahnya sejenak saat dia memandangi cahaya spektakuler itu.
Saat hujan meteor berlanjut, mereka terkagum-kagum dan menyaksikan bintang-bintang turun dari langit, menciptakan momen ajaib yang tak akan pernah mereka lupakan.
Di langit yang cerah, ratusan bola api kecil tiba-tiba muncul dan terlihat seperti bintang jatuh.
Namun, setelah beberapa saat, langit mulai berubah menjadi merah dan makin terang.
Rendy dan teman-temannya merasakan hal yang sama dan juga mulai merasa pusing.
Mereka meraba-raba kursi mereka untuk menahan diri, mencoba untuk tidak jatuh. Tapi, pusing itu terus berlanjut dan semakin menjadi-jadi.
Rendy terkejut ketika menoleh ke jendela dan melihat orang-orang berlari-lari dengan raut wajah kesakitan dan panik di luar.
Tidak ada yang berbicara, seolah-olah mereka kehilangan suara. Rendy merasa gelisah dan takut karena ia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak normal sedang terjadi.
Tiba-tiba, dalam sekejap semua orang terjatuh ke tanah dan tertidur lelap.
Bahkan di seluruh kota, kegiatan semuanya terhenti karena tidak ada satu pun orang yang terhindar dari peristiwa aneh ini.
Beberapa jam kemudian, Rendy membuka matanya dengan perasaan pusing. Ia memandang sekeliling dan melihat bahwa semua orang masih tertidur pulas.
Peristiwa ini benar-benar membuat Rendy merasa khawatir. Apa yang terjadi dengan dunia ini?
Suasana tiba-tiba berubah menjadi aneh dan menakutkan bagi Rendy.
Semua orang di sekitarnya tertidur, termasuk sahabatnya yang tangguh, Johan. Rendy tidak dapat memahami apa yang terjadi, tapi ia tahu bahwa ia harus segera mencari tahu.
__ADS_1
Sambil memeriksa sekelilingnya, Rendy merasa takut dan gelisah.
Ada sesuatu yang tak beres di sini dan dia perlu mengambil tindakan cepat. Dengan hati-hati, ia berjalan ke arah orang-orang yang tidur, mencoba membangunkan mereka, tetapi tak satu pun dari mereka bereaksi.
Pandangan Rendy kembali ke arah sahabatnya, yang masih tertidur lelap.
Dia merasa sedikit lega karena Johan masih bernapas, tetapi itu hanya memberinya sedikit kelegaan.
Rendy meraih bahu Johan dan mencoba mengguncangnya, tetapi tidak ada reaksi sama sekali.
Johan dikenal sebagai murid paling atletis di kelasnya dan selalu menjuarai pertandingan lari tingkat nasional. Kini pemuda tampan ini tertidur layaknya pemalas yang tidak suka melakukan apapun.
"Sial, apa yang terjadi di sini?" gumam Rendy dalam hati.
Masih merasa pusing, Rendy bangkit dan berjalan perlahan ke arah pintu.
Saat Rendy melangkahkan kakinya ke arah pintu, terdengar jeritan yang mengaum dari kejauhan.
Terdiam sejenak, ia memandangi sekeliling dengan pandangan waspada, mencoba mengidentifikasi sumber suara.
Namun, tidak ada petunjuk tentang siapa yang berteriak dengan keras di sekolah itu.
Lalu suara siapa tadi ?
Rendy membuka pintu kelasnya dan melihat lorong sekolah tampak sepi bak kuburan.
"Ren, kamu mau kemana?" tanyanya sambil menguap.
"Aku mau ke kamar, man... Gerry? Kamu kenapa?" jawab Rendy dengan nada cemas.
"Ren? Gerry masih tidur," ucap Gura dengan wajah bingung.
Namun setelah Gura berbicara, Rendy menunjuk ke arah sosok gendut yang berdiri di belakang Gura.
Ia merasakan ngeri di seluruh tubuhnya. Gerry menatap mereka dengan mata kosong dan putih, seperti penampakan sosok hantu yang keluar dari film horor.
Rendy langsung menjerit ketika melihat Gerry yang menyeramkan menerkam dan menggigit leher Gura.
Darah segar membanjiri meja, Gura merintih kesakitan sementara Gerry terus mengigit dengan ganas.
"AWAS GURA!" serunya sambil berusaha menarik Gura keluar dari cengkeraman Gerry.
Namun, Gerry terlalu kuat dan tak bisa dilepaskan.
Sambil menggigit, Gerry yang seperti binatang buas mengerang dan mendengus.
__ADS_1
Rendy merasakan adrenalin mengalir deras di tubuhnya saat ia mencari cara untuk menyelamatkan temannya yang terperangkap dalam gigitan mematikan itu.
Tapi terlambat, Gura dengan cepat terjatuh ke tanah, wajahnya berhenti dengan ekspresi kesakitan. Dia meninggal !