
Rendy berdiri dengan Johan saat puluhan pasang mata mulai menatapnya dengan aneh.
Mereka melirik Rendy dengan ketakutan, mereka menganggap nya sebagai ancaman. Diluar sana berbahaya, tentu saja sangat tidak logis jika murid biasa masih bisa selamat dari zombie itu.
“ Keluarkan dia dari aula !” Teriak seorang pria yang memiliki kepala besar.
Setelah teriakan itu, banyak perdebatan mulai terdengar menggema di seluruh aula.
“ Keluarkan dia !”
“ Johan, kenapa kamu bawa murid yang terinfeksi ?!"
“ Dia dari luar ? Sudah pasti dia terinfeksi.”
“ Iya, murid biasa mana bisa bertahan diluar ?”
“ Anak itu bukannya satu kelas dengan Senja dan Johan. Pantas saja, Johan membawanya masuk.”
Sebuah langkah kaki terdengar saat semua orang yang awalnya berisik mulai menurunkan suaranya.
Seorang pria melangkah dengan langkah yang berwibawa dan wajah yang lembut, dia tersenyum, namun semua orang merasakan senyuman itu sangat berbahaya dan menakutkan.
Pria itu berjalan sambil menatap Rendy dengan tenang.
“ Jo, bukankah tidak bagus membawa orang yang terinfeksi ke dalam aula. Aku tahu kamu kuat, tapi membawa temanmu yang terinfeksi itu sama saja mencoba membunuh kami. Aku harap kamu bisa mengeluarkan temanmu itu, atau kita tidak akan bersahabat.”
“ Omong kosong apaan itu, aku bukan sahabatmu, lebih baik kamu menyingkir saja, pedangku tidak memiliki mata ! Satu hal lagi, Rendy tidak terinfeksi sama sekali !"
Johan mengangkat pedangnya.
“ Lihat, Johan tampaknya lebih memilih untuk membiarkan temannya masuk daripada menyelamatkan kita. Dia tidak terinfeksi ? Memangnya Johan bisa menjaminnya ?”
Kata-kata provokasi pria itu menyebabkan kerumunan bergejolak. Semua orang meneriaki Johan, bahkan ada yang memaki-makinya dengan kata-kata yang tidak pantas. Suasana damai tampaknya menghilang dalam waktu sekejab.
“ Diam ! Jika kalian tidak ingin aku bergabung, tidak masalah, aku akan keluar !”
Teriakan Rendy seketika menghentikan keributan di aula, tetapi tampaknya wajah lelaki di dekat Johan masih tidak berubah dan justru tersenyum tipis. Dia sepertinya telah menduga hal ini akan terjadi, jadi dia tetap tenang.
Alasan Rendy datang ke tempat ini karena Johan yang mengajaknya. Sebagai teman, Johan sudah begitu banyak membantunya. Dia tidak ingin membebaninya dengan kehadirannya.
Karena dia membantunya, banyak pihak yang mencibirnya. Jika Rendy masih bersikeras, nama Johan mungkin akan tercemar.
“ Begitulah jika kamu sadar, sekarang pergilah. Jangan buat kerumunan takut.”
“ Norman, kamu keterlaluan !”
__ADS_1
Johan menggenggam pedangnya dengan erat, tatapannya penuh dengan kemarahan.
Norman menatap Johan dengan santai, namun lengannya sudah disiapkan jika ada kemungkinan terburuk.
Rendy berjalan sedikit lalu menepuk pundak Johan dan berkata,” Jo, tidak perlu. Jika kamu menyerang sampah ini, zombie mutant diluar mungkin akan mendengar kita semua.”
“ Kamu benar,” Johan mengangguk ringan.
“ Baiklah, aku akan mengizinkan temanmu untuk tinggal, tapi dia akan diawasi dengan ketat. Siapa yang bisa menebak jika dia akan menjadi zombie beberapa waktu kedepan ?”
“ Apa Norman terlalu baik ?”
“ Mungkinkah dia takut dengan kak Johan ?”
“ Takut apanya, jelas kakak Norman sedang memberikan keringanan buat Johan. Johan seharusnya berterima kasih dengan Kak Norman !”
Suara keramaian berhenti saat Rendy duduk di pojokan, jauh dari kerumunan. Beberapa murid berpakaian putih duduk didekatnya. Mereka menatap Rendy seperti harimau yang sedang dirantai, pandangan mereka sangatlah tajam.
Jika Rendy menunjukkan tanda-tanda perubahan, mereka tidak segan melayangkan pedang di saku mereka.
Walaupun Johan adalah pemimpin mereka, namun apa yang dipikirkan Norman adalah demi keselamatan mereka. Jika Rendy berubah menjadi zombie, kemungkinan akan ada satu orang yang tergigit olehnya, mereka tidak ingin hal seperti itu terjadi.
Siapa yang tahu anak ini digigit atau tidak oleh zombie diluar sana ?
Jika mereka menjaga murid ini dalam waktu maksimal lima menit, mereka akan melepaskannya karena waktu maksimal perubahan adalah selama 5 menit maksimal.
Jam demi jam berlalu, waktu yang mereka lalui cukup lama. Banyak siswa yang mulai tampak bosan, bahkan ada yang sampai mengantuk.
Situasi terasa sangat mencekam dalam beberapa jam. Zombie semakin menyebar dan berkeliaran dimana-mana membuat mimpi buruk bagi siapapun.
Koridor kelas yang awalnya sepi kini dipenuhi beberapa zombie yang berjalan dengan pelan.
Sementara nafas berat terdengar dari kejauhan, membuat beberapa zombie mendadak menjauh dari sosok yang sedang berdiri menatap sekeliling dengan tajam.
Pandangan itu sangat menakutkan, jika siapapun melihatnya, mereka seolah-olah merasakan perasaan seperti melihat malaikat pencabut nyawa di hadapan mereka yang siap merobek setiap inchi dari daging dan darah mereka.
Seorang lelaki duduk termenung seperti pemalas, tidak tahu harus melakukan apa. Banyak sekali pikiran aneh melintas di kepalanya.
Jika ini adalah kiamat, buat apa dirinya tinggal di tempat seperti ini ?
Daripada melakukan hal membosankan ini, dia lebih memilih melakukan sesuatu sebelum semua manusia punah. Ada satu pikiran yang masih mengganjalnya sampai saat ini.
Pikiran inilah yang terlintas saat ini, dia ingin membalas dendam !
Sudah lama dia sekolah di SMA Bakti Marga, dia selalu dikucilkan bahkan banyak murid yang menghina wajahnya yang sangat jelek.
__ADS_1
Dia juga pernah di hina oleh gadis SMA yang dia sukai di kelasnya, Lina.
Dia tidak terima !
Padahal waktu itu dia mencoba menembak Lina, teman sekelasnya. Meskipun ditolak kemudian, dia mungkin tidak akan terlalu memikirkannya.
Namun yang terjadi setelah itu, Lina menghinanya tepat di depan banyak murid, bahkan menghina orang tuanya yang sama jeleknya seperti dia.
Dipermalukan seperti itu, siapa yang bisa menahan amarah ?
Banyak siswa menertawakannya, membuatnya hampir menangis saat itu. Perasaan terluka akibat hinaan yang dilontarkan sudah tidak dapat disembuhkan lagi.
Kala itu, dia sangat ingin membalaskan dendam kepada Lina, dia ingin wanita itu merasakan rasanya menjadi manusia yang putus asa karena sesuatu tidak berjalan sesuai harapannya dan mendapatkan yang terburuk.
Memulai untuk menjalankan rencananya, Zhear berdiri dengan ekspresi tenang.
Beberapa siswa di dekatnya tampak jijik saat melihatnya. Namun karena terbiasa, Zhear tidak peduli dan memilih untuk berjalan ke seorang pria.
Dia sudah menyusun rencana untuk balas dendamnya. Satu-satunya orang yang dia ingin temui adalah seorang pria yang sangat hebat.
Lelaki ini memiliki kemampuan bela diri yang hebat. Dia bisa menjadi lawan yang kuat untuk mengalahkan Lina yang juga ahli bela diri.
Lelaki itu adalah anak buah Norman, Heru.
Dia adalah pria yang dikenal buaya darat dan beberapa kali menyakiti hati perempuan di luar sana. Konon katanya, sudah banyak wanita yang dirusak olehnya.
Pria ini seperti iblis, tidak memperdulikan perasaan orang lain. Namun parasnya yang tampan tidak bisa membuatnya dihindari wanita meskipun rumor buruk telah beredar di seluruh penjuru sekolah.
Selain reputasinya yang buruk, dia sebenarnya adalah pria yang cerdas dan menjuarai berbagai olimpiade di sekolah. Dia juga menjuarai kejuaraan bela diri tingkat internasional membuat namanya semakin bersinar daripada sebelumnya.
Banyak medali emas yang telah disabetnya. Lelaki ini menjadi murid kesayangan banyak guru di sekolah.
Bahkan pemerintah kota sendiri telah memberikan penghargaan sebagai pemuda terbaik di tahun ini.
Jadi ketika dia berbuat jahat, mereka seperti dibutakan prestasi Heru. Mereka hanya menganggap pihak lain yang justru bersalah karena mencoba menyakiti Heru dan mencemarkan nama baiknya.
Sosok Heru duduk dengan wajah bosan dan matanya tampak layu. Tampaknya kedamaian ini membuatnya tidak tenang sama sekali membuatnya sesekali mengingat kejadian masa lampau.
Dulu dia pernah bertemu Norman untuk pertama kalinya. Mereka kemudian bertaruh, siapa yang kalah, dia yang menjadi bawahan. Pertarungan jalanan itu berlangsung selama setengah jam, dan keduanya sama-sama terluka.
Namun Norman masih bisa berdiri tegap menatap dirinya yang telah terjatuh.
Meskipun darah mengucur di kepalanya dan beberapa tulang bergeser, namun lelaki itu masih menatap tajam dan kuat terhadapnya yang telah berbaring tak berdaya.
Dia masih mengingat momen menakutkan itu di dalam benaknya.
__ADS_1
Norman adalah monster ! Kekuatannya diluar nalarnya !
Sepertinya jika dia berlatih keras sekalipun, dia masih tidak akan bisa menyamai kekuatan pria itu.