Strongest In The Universe

Strongest In The Universe
Bab 7 Kekuatan Zombie Mutant


__ADS_3

Johan dan Norman dengan kecepatan penuh berlari ke arah zombie raksasa itu. Mereka sudah seperti ksatria yang bisa mengalahkan seribu tentara.


Beberapa teman ekskul pedang Johan juga turut membukakan jalan, membersihkan beberapa zombie yang terus berdatangan.


“ Boss, aku akan bawa beberapa anak ke bis sekolah ! “


Norman hanya melirik Heru sebentar dan mengangguk.


Di samping Heru, Senja dan Ruby sudah bersiap melawan zombie ganas itu.


Mereka tidak seperti yang lainnya.


Tongkat kasti dipegang oleh Ruby, sementara itu pisau dapur yang ada di kantin sekolah di pegang oleh Senja.


Dengan alat itu, walaupun tidak memahami seni bela diri, setidaknya mereka mampu bertahan melawan zombie biasa. Zombie ini rata-rata lamban, hanya sedikit yang bergerak cepat, bahkan kekuatan zombie itu tidak setara dengan manusia dewasa.


Hanya zombie yang bergerak cepat yang bisa mengalahkan orang dewasa jika lengah.


“ Kita akan membantumu Bro !”


Sahut senja yang sedang menusukkan pisaunya ke zombie sementara Ruby hanya mengangguk pelan, setuju dengan apa yang diusulkan kekasihnya.


Heru hanya tersenyum tipis mendengar pengakuan mereka.


“ Aku ikut membantumu ! Kukira kamu bajiingan tidak berperasaan, ternyata kamu masih memperdulikan teman satu sekolahmu.”


“ Lina ?”


“ Apa ? Tidak senang bertemu denganku ?”


“ Tidak, justru sangat senang. Ditemani wanita cantik saat melawan zombie adalah berkah besar bagiku.”


“ Gombalan sampahmu tidak berguna untukku, yang terpenting sekarang kita harus keluar dari tempat ini dan pergi ke tempat parkiran.”


Heru mengangguk saat dia mulai memutar kepala zombie dengan brutal.


Heru sekali lagi memutar beberapa kepala zombie dengan lengannya. Meskipun dia cukup kuat, jumlah zombie yang berdatangan terus menerus membuatnya kelelahan.


Dengan bantuan Lina, Senja, dan Ruby, dia bisa menjalankan rencananya dengan sukses.


Melupakan kejadian lama, Lina dan Heru tampaknya mulai akrab dan bekerja sama melawan zombie yang mencoba menghalangi jalan.


Meskipun terlihat lancar, beberapa siswa tergigit dan ada juga yang meninggal.


Di zaman ini, kekuatan adalah segalanya. Jika mereka tidak mampu melawan zombie, mereka akan dimakan. Heru dan kawannya tidak bisa mengawasi semua siswa di sini.


Mereka saja sudah kesulitan melawan zombie, jadi bagaimana mungkin mereka masih memikirkan teman satu sekolahnya ?

__ADS_1


Awal mulai era kiamat adalah seleksi alam, hanya sedikit orang yang mungkin bertahan dari bahaya ini.


Beberapa siswa ekskul pedang juga terus menyambar zombie dengan tidak bermoral, terus menerus membantai zombie yang menghalangi jalan kedua petarung terkuat di sekolah ini.


Pejuang ekskul pedang, Senja, Ruby, Lina, dan Heru bertarung demi membuka jalan tampaknya membuahkan hasil.


Zombie di sekitar telah di bersihkan dan mereka telah sampai ke dalam bis.


Pak Harto tampaknya duduk di kursi bis sambil memakai kacamata hitam. Tampaknya zombie yang berhamburan di sekolah tidak membuatnya takut sama sekali.


" Apa sudah lengkap anak-anak ?"


“ Kita tunggu Johan dan Norman dulu pak. Jika dia tidak kembali dalam sepuluh menit, kita akan pergi pak."


Semua orang yang tersisa hanya bisa mengangguk patuh dan mulai menutup pintu bis. Mereka semua tidak ada yang berbicara agar tidak mengundang zombie mendekati mereka.


Sementara di tempat lain, dua pemuda berpedang berdiri di sisi Johan, sementara itu Norman mulai membuka bajunya.


Kulitnya yang kencang serta otot-otot yang besar membuatnya terlihat sangat kuat dan perkasa. Ini adalah hasil dari latihan sehari-hari Norman.


Dia telah mengembangkan kemampuan bela diri tubuh besi tak tertandingi yang dia pelajari dari ayahnya.


Dia sekarang akan mencoba menggunakannya pada zombie. Melihat apa itu berhasil atau tidak untuk menghadapinya.


Sementara itu Johan mengungkapkan ekspresi yang serius dan mengamati zombie.


Dia harus bisa menarik kelemahan dari mutant zombie. Jika tidak, tebasannya mungkin akan kurang efektif melawan mutan ini.


Suara tabrakan antara besi dan daging terdengar kuat. Namun yang membuat semuanya terkejut, kepala zombie itu bahkan hanya mengeluarkan darah setetes saja.


“ Kerasnya… Apa tebasannya kurang bertenaga ? Tidak, tidak, tidak, kulit kepala zombie ini terlalu keras dan apakah pemulihan itu?"


Johan dan lainnya menatap luka gores yang ditimbulkan pedang Johan perlahan memulih dan mutant zombie seketika meraung dan mengirimkan tinjunya ke arahnya.


“ Otot sialan, apa kamu melupakan kakek ini ? Makan ni tinjuku !”


Norman menjerit saat dia mulai melakukan gerakan rahasia. Norman mengeksekusi tinjuan yang keras tepat ke pipi zombie itu hingga kepala zombie itu terdorong ke samping.


Zombie mutant itu melolong, dengan kekuatannya, dia mulai meninju balik Norman dan melemparnya sejauh tiga meter.


Norman memuntahkan seteguk darah dan wajahnya pucat. Zombie ini tidak sama seperti yang sebelumnya.


Sebelumnya, mereka telah mengalahkan zombie mutant ini dan membuatnya lari terbirit-birit. Tentu saja, karena ukurannya saat itu tidak lebih dari ukuran manusia dewasa normal, hanya saja kekuatannya sangat kuat.


Walaupun memakan korban, tapi setidaknya bisa membuatnya terluka parah dan hampir menghancurkan zombie mutant itu.


Tapi entah mengapa zombie ini sembuh dan memiliki ukuran dua meter dengan bentuk seperti binaragawan manusia pada umumnya. Kali ini, zombie mutant ini tidak hanya kuat, namun kecepatan pemulihannya yang tidak masuk akal.

__ADS_1


Norman merasakan badannya mati rasa seperti pisau terus menerus menghujani tubuhnya.


Namun dia dengan cepat berdiri dan berlari dengan kencang. Dengan tangannya, dia memanjat punggung zombie itu seperti sedang melakukan parkur.


Dengan gerakan cepat, dia mengunci leher zombie itu dengan ototnya yang mengembang.


Makhluk sebesar dua meter yang telah dia kunci dengan teknik bela dirinya meraung dengan ganas.


Johan yang melihat kejadian ini menganggapnya sebagai kesempatan besar.


Johan melakukan gerakan ayunan yang anggun dimana luka gores tidak terjadi, namun zombie itu tampak mengerang saat tubuhnya dihujani tebasan pedang bertubi-tubi mengakibatkan suara gesekan logam yang berulang-ulang.


Pemandangan ini spektakuler, namun sangat berbahaya.


Dua melawan satu, pertempuran ini seperti tidak adil. Tapi ini adalah perang, hanya pemenang yang akan mendapat hasil dan yang kalah akan mati.


Ini bukanlah kompetisi yang harus mengikuti aturan, ini adalah perang, tanpa aturan !


Tebasan itu bukan mainan, tapi benar-benar sesuatu.


Zombie mutant itu mulai terluka dan darah menyembur di dadanya dengan bentuk luka seperti sayatan.


Karena zombie ini terluka berat, Johan dan Norman memanfaatkan kesempatan ini untuk berlari. Monster jenis ini sangat menakutkan, bahkan tidak bisa mereka lawan meskipun memiliki keterampilan hebat.


Kecepatan zombie mutant itu saat bergerak memang tidak cepat sama sekali. Sedangkan pukulannya hanya lima puluh persen lebih cepat daripada manusia normal.


Tapi yang mereka khawatirkan adalah daya serangannya dan pemulihan tubuhnya. Zombie ini juga memiliki kulit yang cukup keras. Butuh usaha untuk dapat melukainya.


Saat sampai di bis, Johan dan Norman telah memasuki bis dan bis segera berjalan.


" Dimana Rendy ? "


Heru menjawab, " Dia mati dimakan zombie. Orang lemah sepertinya tidak mungkin bertahan di zaman sekarang."


Johan terduduk, matanya mengeluarkan air mata dan dia menangis keras.


" Maafkan aku Ren, aku teman yang tidak berguna.... Aku terlalu lemah, aku tidak bisa melindungimu."


Lina menepuk pundak Johan dan mengelusnya.


" Jo, kamu sudah melakukan yang terbaik. Rendy di atas sana pasti tahu kamu tidak berniat meninggalkanmu. Justru dia berterimakasih memiliki teman sepertimu. "


Johan hanya menatap Lina dengan wajah sembab dan ekspresi sedihnya masih belum menghilang.


" Terima kasih Lin..."


" Anak-anak, tujuan kita distrik lima. Bapak denger dari radio jika disana ada pusat perlindungan, kita pasti akan aman disana."

__ADS_1


" Baik pak !"


Semua orang menyahut bersamaan saat mobil menjauh dari sekolah.


__ADS_2