Strongest In The Universe

Strongest In The Universe
Bab 2 Dunia Telah Berubah


__ADS_3

Beberapa murid di dalam kelas mulai terbangun dari tidurnya, namun terkejut melihat pemandangan mengerikan di depan mata.


Darah kental yang memenuhi lantai di sekitar sosok Gerry yang menggigit leher Gura dengan kejam.


Hal itu membuat beberapa dari mereka syok dan langsung menutup mata mereka dengan ketakutan.


Beberapa siswa bahkan kehilangan kendali diri dan muntah setelah melihat adegan mengerikan tersebut.


"Apaaa ini!" teriak Pak Guru sambil segera menarik pundak Gerry.


Namun, Gerry menampik lengan Pak Guru dan menggigitnya dengan ganas.


"Gerr, sadar!"


Pak Guru mengerang kesakitan.


"Kamu murid gila, aku harus menelepon polisi!" Teriak pak guru yang hendak pergi menjauh.


Namun pak guru dan siswa mulai tampak panik ketika beberapa siswa yang masih tertidur tiba-tiba membuka matanya dan mulai kejang-kejang.


Mereka menatap kerumunan siswa dan langsung melompat.


Beberapa siswa maupun siswi yang sudah bangun juga seketika diterkam. Mereka tidak bisa melawan, bahkan pak guru juga sangat menderita.


Mereka dicabik-cabik oleh temannya sendiri yang sepertinya sudah berubah jadi 'zombie' layaknya binatang buas yang merobek daging mangsanya.


Rendy tampak menggigil, bahkan rahangnya gemetaran.


Meskipun begitu, ia masih berusaha tenang dan menatap Johan yang mulai membuka matanya. Ia bertindak cepat, mengangkat Johan yang setengah sadar ke atas punggungnya.


"Ren, kenapa kamu menggendongku?" tanya Johan yang maish bingung dengan keadaan.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan!" jawab Rendy, berlari menjauh saat sebuah teriakan panik bergema di kejauhan.


Setiap langkahnya, ia mendorong tubuhnya ke depan, bertekad untuk melarikan diri dari bahaya yang mengintai di belakang mereka.


Saat Rendy melangkah di koridor, Johan perlahan sadar dan melirik ke dalam ruang kelas.


Untuk kejutannya, ia melihat beberapa murid yang sudah gila, mengigit dan menyerang yang lain. Darah bersemburan kemana-mana menyebabkan lantai sekolah dihiasi warna merah gelap dan bau anyir menyebar.


Setelah bangun dari tidurnya, sekolah mereka telah menjadi taman berdarah.


Orang-orang berperilaku seperti hewan rabies, menggigit dan menyerang orang lain dengan keganasan.


Itu sebabnya Rendy membawanya berlari ?

__ADS_1


"Aku... Aku bisa berjalan sendiri!" ucap Johan, turun dari punggung Rendy dan mulai berlari. Ia tidak ingin membebani Rendy.


Rendy tetap berlari di sisinya, matanya memperhatikan sekeliling untuk mencari tanda-tanda bahaya.


Ia jelas tidak mau ketinggalan, ia juga berlari dengan sekuat tenaga. Johan berlari lebih cepat darinya, dan ia tidak boleh lembek saat ini.


Setiap kali mereka melewati kelas, banyak teriakan terdengar. Itu sangat kejam dan dapat mengganggu psikologis seseorang.


Suara manusia digigit, teriakan, darah menyebar, dan banyak hal gila di dalam sana. Membayangkannya saja, Rendy ingin muntah, namun ia menahannya sampai sekarang ini.


"Rooowwwwrr!"


Terkejut melihat zombie di depannya meraung.


Tanpa ragu, Johan melihat dua pintu di sebelah kanannya dan membantingnya terbuka.


Rendy menyusul masuk, dan mereka berdua dengan cepat menutup pintu sebelum zombie itu berhasil menyerang.


Rendy mengusap keringat di dahinya dan menghela napas lega. "Fuuuh.. Hampir saja," katanya.


Johan masih bingung dan bertanya, "Apa itu mereka? Kenapa semua orang menjadi gila?"


"Tidak tahu," jawab Rendy, "tapi yang jelas, mereka terlihat seperti zombie."


"Zombie? Tapi itu hanya ada di film saja, kan?" seru Johan tidak percaya.


Johan terdiam, menyadari bahwa kata-kata Rendy mungkin benar.


Jika dia terus panik dan tidak bisa menerima realita baru ini, maka dia mungkin tidak akan bertahan hidup di dunia yang penuh dengan kekacauan ini.


Satu-satunya pilihan, adalah menerima keadaan dan bertahan hidup. Itulah yang terpenting !


"Saat itu, kita melihat banyak meteor di langit, lalu kita semua tiba-tiba pingsan. Aku yakin kalau meteor itu penyebab semua orang menjadi zombie," ucap Rendy dengan yakin.


Johan masih merasa bingung dengan spekulasi Rendy, sehingga ia pun bertanya untuk menghilangkan rasa kebingungan nya.


"Jadi maksudmu, meteor itu membawa sesuatu seperti virus yang bisa menginfeksi manusia menjadi zombie?"


Rendy mengangguk, dia melanjutkan.


" Aku rasa, survivor yang kebal dari virus akan tetap bisa berubah menjadi mereka jika digigit oleh zombie-zombie itu. Kita harus berhati-hati."


Johan mengangguk setuju. Di masa sekarang, mereka harus berhati-hati agar tidak tergigit oleh para zombie.


Jika sampai tergigit, hanya tuhan yang tahu apa yang akan terjadi pada mereka.

__ADS_1


Rendy berjalan ke tengah aula dan ia mulai membaringkan tubuhnya. Mental nya saat ini sedikit terganggu, Rendy benar-benar sangat kelelahan.


Sementara itu, Johan duduk di dekat Rendy dan menoleh ke bawah dan berkata.


" Istirahatlah, saat kamu bangun, kita akan pergi dari sini." Johan duduk dengan tenang, mengawasi lingkungan aula.


Di suatu rumah, langit tampak gelap dan berkabut, tidak ada suara sama sekali. Seolah-olah berada di ruang hampa yang sangat luas. Rendy duduk di meja belajar, menatap PR yang ia kerjakan.


Sesekali ia melihat lampu belajar, lalu ia kembali menulis. Saat belajar, suara piring pecah terdengar memecah keheningan.


Namun setelah itu, suasana menjadi sunyi lagi. Rendy tanpa sadar berjalan.


Ia membuka pintu kamarnya dan tidak ada suara berderak sama sekali. Tempat ini sangat sepi sekali, bahkan lebih sepi dari kuburan, bahkan banyak kabut tipis di sekitarnya.


Rendy seolah-olah tinggal di luar angkasa yang tidak ada suara sama sekali. Di depannya, ia melihat sosok siluet yang memegang seorang wanita paruh baya.


Siluet itu menyeringai dan menatapnya seperti psikopat. Siluet itu berbicara, namun entah kenapa, suara itu tidak dapat didengar sama sekali di tempat ini.


Rendy tiba-tiba berteriak, namun teriakannya juga tidak terdengar sama sekali. Saat Rendy berteriak, ia berlari ke arah siluet itu.


Namun, sosok siluet itu membuka mulutnya lebar-lebar, seperti tertawa lepas. Sosok itu dengan cepat menendang Rendy lalu menggorok leher wanita paruh baya itu.


Darah menyembur seperti air mancur membasahi sosok siluet itu.


Namun pria itu hanya bergeming di tempat dan tanpa ekspresi seolah-olah membunuh adalah kebiasaan sehari-hari nya.


Rendy yang ditendang hingga terjatuh menatap sosok siluet yang berjalan ke arahnya.


Dengan tatapan seperti binatang buas, sosok siluet itu mengangkat pisaunya lebar-lebar yang penuh dengan darah.


Sosok pria itu mulai menusukkan ke arah kepala Rendy dan seketika langit menjadi gelap.


" Huahhhhhhhhh !"


Rendy tampak ngos-ngosan dan menatap lingkungan sekitarnya. Keringat dingin membasahi punggungnya, dan wajahnya masih sangat jelek.


" Kau sudah bangun Ren ?"


Rendy menatap sahabatnya Johan, lalu melihat lingkungan sekelilingnya. Ia menghela nafas lega dan berkata.


" Huh, ternyata cuma mimpi." Rendy mengusap keringatnya.


" Apa kamu baik-baik saja ?"tanya Johan dengan nada khawatir.


Rendy menggaruk kepalanya dan menjawab dengan suara lirih.

__ADS_1


" Tidak apa-apa, hanya mengingat kenangan buruk."


__ADS_2