
Suara mobil berdentum memecah suasana saat kendaraan itu mulai berhenti empat orang turun dari mobil. Masing-masing dari mereka menunjukkan perawakan yang berbeda.
Yang satu adalah pria berkulit sawo matang dengan pakaian kaosnya. Tubuhnya sedikit kekar, wajahnya seperti pria berusia tiga puluh tahun.
Yang satu adalah gadis pirang dengan wajah persegi. Stiker bergambar hati yang ditempelkan di pipi kirinya membuat dia terlihat mencolok.
Seorang wanita paruh baya dengan rambut coklat. Matanya yang besar dan hidung yang mancung.
Yang terakhir adalah seorang pria dengan rambut seperti jengger ayam.
Pria itu menunjuk sebuah mobil hitam yang terparkir di jalan.
" Bukankah ini adalah mobil bajingan kecil itu? Apa dia ada di sekitar sini."
" Apa dia yang membunuh saudara ke empat ?"
"Dia pantas mati, beraninya dia membunuh adikku."
Ucap seorang wanita paruh baya dengan wajah keriput dan rambut coklat.
" Kalian jangan banyak omong kosong. Biar kusiksa dan kubunuh bajingan kecil itu."
Balas pria berjengger.
" Sshh... Diam, kalian. Jika bocah itu mendengar kalau kita disini, dia pasti akan berjaga-jaga, bahkan dia mungkin akan lari."
" Kak Ahru benar ! "
Pria berjengger menggaruk kepalanya dan wajahnya sedikit malu.
" Sebagai saudara pertama memang sudah sepatutnya lebih bijak dari kita."
Wanita paruh baya mulai mengeluarkan pisau kecilnya dari dalam saku.
" Kita harus menunggu aba-aba saudara pertama. Pemuda itu sudah pernah membunuh saudaraku, jadi dia mungkin tak akan ragu untuk membunuh orang lagi. Satu pengalaman, selanjutnya pasti dia akan terbiasa. Lagian sudah tidak ada hukum, pemuda itu juga tahu, membunuh bukan lagi hal yang ilegal lagi. Kita tidak boleh gegabah melawan bocah ini."
" Iya, kamu benar saudari ke dua."
Jawab Ahru sambil memasang senyum tenang. Mereka mulai berjalan saat Rendy membuka pintu kantor polisi.
" Ada orang ?"
Rendy menatap semua orang itu. Namun Rendy tidak mengetahui jika sekelompok orang ini adalah satu geng dari orang yang berusaha merampoknya sebelumnya.
" Hai adik kecil, apa kamu baik-baik saja ?"
Tanya wanita berambut pirang. Namun Rendy hanya menatap mereka dengan serius dan menjawab.
" Siapa kalian ?"
Karena sudah merasakan rasanya dirampok, Rendy sedikit waspada dengan penyintas yang dia lihat di depan.
" Bisakah kamu ikut kami. Aku tahu lokasi pangkalan militer yang aman buat kita semua."
Rendy mendengus dingin, " Pangkalan militer? Kamu bercanda, kan. Senjata api tidak lagi berfungsi, apa gunanya aku kesana ?"
" Nak, sopanlah ! Dia lebih tua darimu !"
Teriak wanita paruh baya.
Rendy terkekeh, " Aku memang akan bersikap sopan kepada yang lebih tua. Tapi aku sangat tahu niat kalian. Kalian ingin aku mendekat ke kalian sehingga kalian bisa mengepungku dengan mudah, kan ?"
" Sialan boss ! Bocah ini sudah tahu, kita serang aja !"
__ADS_1
Teriak pria berambut jengger ayam. Sementara itu, Ahru hanya menatap Rendy dengan takjub dan berkata.
" Nak, kamu cukup pintar. Bagaimana jika kamu bergabung dengan kelompok kita, dan kita akan mendominasi dunia."
" Kak, apa kamu gila ? Dia sudah membunuh saudara ke empat, sekarang kamu mau merekrutnya ?"
Teriak wanita paruh baya. Tujuan pertama mereka adalah membunuh anak muda yang sudah menghabisi nyawa saudara mereka.
Tetapi sekarang Ahru tampaknya berubah pikiran. Dia malah mencoba merekrutnya ?
Dia tidak terima !
Saudara ke empat adalah adiknya. Mereka menyebut satu sama lain saudara karena mereka berniat membuat kelompok kuat. Saudara dan saudari salah panggilan pemimpin dan sisanya adalah bawahan mereka berlima.
Dia tidak terima jika tidak membunuh anak itu. Apaan perkataan Ahru ? Dia tidak akan mendengarkan !
Dengan cepat wanita paruh baya itu melesat ke depan dan Rendy terkejut. Namun seketika Ahru menangkap tangan wanita itu.
Dengan cepat pisau di jatuhkan ke tanah dan dia menatap wanita paruh baya itu dengan dingin.
" Jangan impulsif ! Dengan kemampuan anak itu, menggantikan saudaramu sudah cukup !"
" Jangan bercanda Ahru ! Dia adalah saudara ku, aku akan mencincangnya !"
Rendy tertawa kering dan berkata.
" Jadi itulah pertunjukan ketulusan kakak untuk merekrutku, kenapa ada kata cincang dan bunuh ? Jika aku bergabung dengan kelompokmu, bukankah aku akan dibayang-bayangi ketakutan akan dibunuh saudarimu ?"
" Maaf, saudari ini tidak bisa menjaga emosinya dengan baik, jadi bagaimana tawaranku ?"
Ahru masih menawarkan lowongan, namun Rendy hanya acuh tak acuh dan berkata.
" Tawaran ? Bukankah kamu masih tidur dan belum bangun ?"
" Awas kak Ahru !"
Teriak gadis berambut pirang.
Wanita paruh baya dengan cepat berlari ke arah Rendy. Peluru gas telah tertembak dan menabrak baju wanita itu dan seketika itu meledak dan mengeluarkan gas berkabut.
Ahhhhhh !
" Bajingan kecil ! Kamu memakai gas air mata?"
" Boss, kami akan membantumu ! "
Teriak dua ornag yang jauh dari jangkauan gas air mata.
Rendy mengacuhkan teriakan mereka dan memasukkan peluru ke dua dan menembakkannya lagi membuat intensitas gas semakin pekat.
Mata wanita itu menjadi sangat merah dan rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Perasaan matanya seperti terbakar oleh api panas sangat menyakitkan.
Dia dengan menggila mengayunkan pisau kecilnya, namun tidak bisa melihat apapun.
Matanya terluka akibat gas air mata sehingga pandangannya sekarang sangat buram. Dia sedikit takut. Mengingat adiknya dibunuh dengan kejam, dia tidak bisa tidak merasa ketakutan saat ini.
" Jangan mendekat ! Jangan mendekat ! "
Wanita itu terus berteriak sambil mengayunkan pisau kecilnya kemanapun.
Rendy jelas tak berhenti. Menggunakan lengannya langsung mengambil kapaknya. Beruntung kucing putih sudah ia turunkan ke bawah sebelum pertarungan, jadi dia bisa bergerak lebih leluasa.
" Gas air mata ? Bocah, kamu sangat tercela !"
__ADS_1
Teriak Ahru dengan mata yang begitu merah, namun dia masih berjalan berusaha mendekati Rendy. Rendy dengan cepat mengamati dimana wanita paruh baya itu, lalu dia menutup mata dan menahan nafas.
Dengan ayunan kuat dan jangkauan yang telah dia perkirakan, Rendy menebas leher wanita itu hingga dia tergeletak dan meninggal ditempat.
Karena sudah membunuh orang lain sebelumnya, dia tidak gemetar lagi, justru dia tidak memberi ampun. Rendy dengan cepat berjalan
"Saudari ke dua ! " Ahru menatap perih ke depan.
Saudari ke dua meninggal tepat di depan. Meskipun bukan keluarga, tapi mereka telah melalui hidup mati bersama. Melihatnya dibunuh tepat di depan matanya, dia tidak bisa menerimanya.
Dengan cepat pria itu meraung geram dan berlari ke arah Rendy.
" Bocah sialan ! "
Rendy mulai membuka mata dan telah berjalan keluar dari jangkauan gas.
Dia mengayunkan kapaknya ke arah pria itu, namun dengan cepat, lelaki itu berlari ke samping.
Rendy terkejut, bahkan sebelum bereaksi, sebuah pukulan ganas menghantam wajahnya dan membuat nya terpental.
Darah menyembur dan Rendy terjatuh hingga parah.
Sakit sekali !
Ini adalah pertama kalinya dia di hajar oleh orang lain. Rasanya benar-benar menyakitkan dan seolah-olah dia bisa pingsan kapanpun.
Orang ini sangat cepat, dia bahkan tidak bisa menyabetnya. Pukulan barusan bahkan sangat keras sampai membuat kepalanya pusing.
Ahru tidak berhenti. Matanya sangat merah akibat efek gas air mata, terlihat sangat mengerikan.
Namun karena terlilit api amarah, pria ini menahan rasa sakitnya dan melampiaskannya ke Rendy.
Ahru dengan cepat mengangkat rendy dan menendangnya lalu berteriak.
" Bangsat ! Beraninya kamu ! Aku sudah memberikanmu keringanan, bajingan kecil, kamu mencari kuburanmu sendiri !"
Dengan cepat lelaki itu berlari dan mengangkat Rendy yang bonyok dan disandarkan ke tembok lalu dengan cepat pria itu menghajar Rendy hingga hidungnya berdarah.
Sial, apa aku akan mati ?
Pria itu tidak berhenti, dan terus memukulinya dengan kejam. Tidak ada ampun !
Meeeonggggg !
Seekor kucing melompat dan memberikan cakaran membuat pria itu terkejut. Mata kirinya menjadi buta seketika. Lelaki itu menatap kucing yang mencakarnya dan menjerit.
" Kucing sialan ! Kamu cari mati ! "
Dengan cepat dia mengangkat kucing dengan kasar dan melemparnya.
Ewmm..
Kucing itu terjungkal dan menggelinding beberapa meter.
Lelaki itu tidak memperdulikan kucing itu dan mulai memukuli Rendy lagi dan lagi.
" Ja.... Jangan sakiti kakak Rendy lagi ! "
Sebuah teriakan mengguncang semua orang, bahkan pria jengger dan wanita berambut pirang juga terkejut meskipun dari jauh.
Kucing yang terlempar tadi mulai menghilang dan kini hanya ada asap berwarna putih.
Asap itu sangat dingin seperti es, bahkan lebih dingin daripada badai salju. Ahru terkejut saat dia menatap ke sosok yang seketika muncul dari balik kabut dingin.
__ADS_1
" Ka.... Kamu !?!"