Strongest In The Universe

Strongest In The Universe
Bab 3 Melawan Zombie


__ADS_3

Johan menepuk pundak Rendy, matanya menatap penuh ke arahnya. Jahan mulai berbicara.


" Ren, kenapa kamu tidak relakan saja kematian ibumu. Jangan biarkan itu berlarut-larut, nanti ibumu di atas sana tidak akan tenang."


Rendy meneteskan air mata, ia mulai menangis pelan, lalu dia mengusapnya dan berkata.


" Kamu benar Jo, tapi aku tidak bisa menerima ini. Penjahat itu hanya dipenjara delapan tahun karena dia belum dewasa, apa-apaan aturan hukum ini ? Seharusnya nyawa dibalas dengan nyawa !"


" Kamu benar, mengapa tidak kamu bunuh saja pria itu saat kita keluar dari sini."


Rendy menaikkan alisnya, ia sedikit bingung dengan ucapan temannya itu. Lalu beberapa waktu, ia mulai sadar arti ucapan temannya itu.


" J.. Jadi kamu ingin aku yang membalas dendam sendiri ?" Tanya Rendy terbata-bata.


" Iya. Tapi kurasa orang itu sudah dimakan zombie penjara, kamu tidak perlu melakukannya lagi."


Rendy menunduk ke bawah, ia mengerutkan kening. Apa yang dikatakan Johan tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar.


Banyak manusia telah terinfeksi oleh virus zombie dan penjara tidak mungkin juga akan terlepas dari bencana apokaliptik ini.


Tapi jika orang itu selamat, apa dia bisa membunuh pria itu ?


Dia tidak pernah membunuh siapapun sebelumnya, anak itu juga satu tahun lebih muda darinya. Tapi semua akan terjawab di masa depan.


Johan kemudian menyodorkan logam besi dan pemukul bisbol logam. Rendy menutup mulutnya dengan tangannya, wajahnya seketika menjadi antusias.


" Jo, darimana kamu dapat harta Karun ini ?"


" Saat kamu tidur, aku mengambilnya di pojokan aula."


Sambil berbicara, ia menunjuk ke suatu sudut. Di sana masih terdapat beberapa logam di sandarkan ke tembok.


" Senjata ini mungkin bisa melawan para zombie," ucap Johan dengan penuh keyakinan.


Rendy mengangguk dan berkata, " Kamu benar Jo. Benda ini sangat menakjubkan."


Beberapa saat, ia bertanya, "apa aku boleh memilih ?"


Johan mengangguk dan berkata dengan semangat, " Kutebak kamu bakal memilih pemukul bisbol."


Rendy tersenyum kecut, Johan benar-benar menebak niatnya dengan baik. Dia benar-benar sangat peka.


" Sudah kuduga, kamu paling mengerti aku."


Rendy memegang tongkat bisbol da mencoba mengayunkan.


Benda ini setidaknya sangat kuat. Mungkin jika diayunkan dengan keras bisa membuat cidera otak, dan yang terpenting, benda ini sangat mudah dipegang.


Sementara itu, Johan malah sibuk memakai benda logam panjang dan menusuk-nusuk ke udara kosong.


Meskipun yang dipegang adalah tongkat logam tidak jelas. Namun ujungnya tampak sangat lancip, benda yang cocok untuk melawan zombie.


" Apa kamu siap Ren ?"tanya Johan, ia tampaknya sudah tidak sabar.


Rendy menjawab dengan tegas, " Tentu saja."

__ADS_1


Tampaknya setelah mimpi aneh itu, Rendy menjadi lebih berani. Dalam benaknya, ia sudah membulatkan tekadnya.


Dia harus menjadi kuat, dia tidak akan menjadi anak lemah yang tidak bisa melindungi keluarganya lagi.


Membuka pintu aula, zombie melompat dan hendak menerkamnya.


Namun Rendy dengan cepat mengayunkan tongkat dan memukul mundur zombie hingga terdorong mundur beberapa langkah.


Tidak berhenti sampai di situ, Rendy mengayunkan tongkatnya lagi dan memukul kepala zombie berkali-kali membuat darah hitam muncrat keluar dari kulitnya.


Rendy menjatuhkan tongkatnya dan wajahnya sangat tenang saat selesai membunuh zombie itu.


" Ren... Kamu ?"


Ia benar-benar tidak percaya temannya bisa menjadi seganas itu. Dulu ia melihat Rendy sebagai anak introvert yang hanya suka membaca novel online.


Kini sahabatnya terlihat seperti orang yang berbeda daripada sebelumnya.


" Manusia bisa berubah, Jo. Tidak hanya aku saja, nanti banyak manusia yang akan menunjukkan wajah asli mereka. Sangat sulit menemukan orang baik di zaman sekarang, " kata Rendy sambil menatap Johan.


" Benar, jaman sudah berubah. Kita harus hati-hati dengan orang lain," jawab Johan membenarkan ucapan Rendy.


Johan sepenuhnya setuju dengan perkataan Rendy. Mengingat ibunya Rendy yang dibunuh dengan keji hanya demi sebuah harta.


Padahal waktu itu masih ada aturan hukum yang melarangnya dan bisa dihukum. Tetapi masih ada yang berani melakukan hal itu.


Jika sekarang sudah tidak ada aturan hukum, beberapa orang mungkin akan bertindak sesuka hati hanya demi sesuatu yang mereka inginkan.


Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ia bertemu manusia seperti itu.


Rendy berjalan dengan johan. Keduanya saling fokus menatap lingkungan koridor yang sepi.


Beberapa mayat yang tergeletak di dekat tembok membuat mereka berdua waspada terhadapnya.


Siapa yang tahu kapan mayat ini akan bangkit menjadi zombie ?


" Kita akan pergi ke lapangan parkir, " ucap Rendy sambil menggenggam tongkat dengan kuat.


Johan mengangguk. Tiba-tiba pintu didobrak kencang dan Johan terjatuh dan zombie sudah ada diatasnya dan meraung seperti anjing gila.


Johan menahan gigitan zombie dengan besi yang ia pegang. Jadi zombie itu hanya menggigit-gigit tongkat besinya dengan brutal.


" Johan !" Rendy berseru kaget.


Beberapa zombie seketika berjalan keluar juga, namun mereka tidak seganas zombie itu. Tiga zombie yang lain hanya berjalan kaki seperti manusia normal.


Rendy tidak berdiam diri. Dengan tangannya yang diayunkan, ia memukul zombie itu dengan pemukul bisbol dan membuat zombie itu terpukul mundur menjauh dari Johan.


" Menjauh dari kawanku mayat sialan !"seru Rendy dengan kesal saat ia berlari ke arah zombie.


Rendy dengan cepat mengayunkan tongkatnya lagi, namun zombie itu dengan cepat menepisnya dan melompat ke arahnya.


Jlebb....


Sebuah besi menembus kepala zombie itu dan Rendy dengan cepat berjalan mundur untuk menghindari cipratan darah.

__ADS_1


" Apa kamu baik-baik saja ?"


Rendy menghela nafas dan memberikan jempol. Dia tampak sedikit ngos-ngosan dan lengannya sangat lelah.


Tampaknya mengayunkan pemukul bisbol yang terbuat dari logam bukanlah perkara mudah. Dia sudah mulai merasa sedikit lelah.


Fisiknya dulu sangat lemah, dia bahkan jarang berolahraga. Frekuensinya mungkin hanya satu kali dalam seminggu.


Tidak heran dia cepat kelelahan hanya karena melawan dua atau tiga zombie.


Johan dengan sigap berlari ke arah tiga zombei itu dan mulai memukulnya dengan tongkat besinya.


Rendy tidak menganggur. Ia mengambil nafas, lalu dengan cepat melemparkan pukulan ganas ke arah kepala zombie dengan pemukul bisbolnya.


Keduanya saling bersinergi dengan baik, membuat tiga zombie kewalahan menghadapi mereka.


Keduanya bahkan sekarang ragu, apa zombie selemah ini ?


Setelah berhasil menghabisi ketiga zombie, mereka berdua tidak beristirahat, justru masih melanjutkan perjalanan. Mereka tidak ingin membuang waktu, karena zombie tidak akan beristirahat.


Jika zombie semakin bertambah jumlahnya, mereka pasti akan kelelahan menghadapi mereka.


Satu-satunya pilihan adalah mencari kendaraan dan keluar dari sekolahan ini.


Keduanya mulai mengarungi panjangnya lorong sekolah.


Setelah melewati ujung, mereka akan mrlewati kantin. Setelah itu, mereka harus belok kanan untuk keluar dari tempat ini.


Kelihatannya itu adalah hal yang mudah, namun nyatanya tidak. Beberapa zombie mulai berdiri di depan mereka dengan ekspresi antusias.


Ada zombie wanita berbadan besar, zombie tua berkumis, atau zombie kurus, zombie siswa. Mereka pasti berasal dari kantin.


Rendy mengingat dengan jelas wajah mereka karena dia sering pergi ke kantin untuk makan siang disana. Itu terjadi dahulu sebelum bencana apokaliptik terjadi.


Mengingat beberapa memori, Rendy tampak tidak baik. Dia mencengkram erat pemukul bisbolnya dan menutup mata sejenak dan bersuara pelan.


" Maafkan aku ibu kantin !"


Rendy berlari ke arah kerumunan zombie itu, wajahnya sedikit getir, namun pukulan tongkat yang dia ayunkan tidak berkurang kekuatannya.


Yang pertama maju adalah zombie tua dengan kumis putih. Makhluk itu meraung dengan matanya yang berwarna putih pucat menatap Rendy dengan beringas.


Pukulan menghantam zombie itu, namun zombie gendut berniat mencakar. Dengan cepat, Johan melancarkan serangannya ke depan dan menusuk tangan zombie itu.


Rendy memanfaatkan momentum ini dan mengayunkan tongkatnya ke arah zombie gendut.


Satu persatu zombie di hajar oleh duo kombo ini. Rendy sebagai pemukul yang handal, sementara Johan menjadi eksekutor atau pelindung ketika Rendy diserang.


Dalam waktu beberapa menit, Rendy dan Johan memegang pahanya sambil membungkuk sedikit.


Keduanya terlihat berkeringat, namun mereka tampak senang dengan pencapaian mereka.


" Hah, zombie ini terlalu sulit," keluh Johan.


" Tujuan kita sudah dekat Jo, kita pasti bisa."

__ADS_1


__ADS_2