Strongest In The Universe

Strongest In The Universe
Bab 9 Kucing


__ADS_3

Rendy terkejut, namun dia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Jika melakukannya, dia mungkin akan dipenggal oleh orang asing yang menodongnya.


“ Teman, kalau boleh, mobil ini jadi miliki kami. Kamu masih sayang lehermu, kan ?”


Rendy menelan ludah dan mejawab. dengan getir.


“ I…Iya, kakak bisa ambil saja mobilku. Aku hanya anak SMA biasa, jangan bunuh aku.”


“ Apa manfaatnya jika aku membiarkanmu hidup ? Bukankah di masa depan kamu akan membalas dendam ?”


Rendy terdiam, lalu dia menjawab, “ Aku cuma anak penakut, aku tidak bisa melawan siapapun.”


Dunia ini adalah era kiamat. Hukum yang dibuat manusia sudah tidak berlaku sehingga banyak orang melakukan hal semena-mena.


“ Boss, kita pergi ! Ada gelombang zombie datang kesini !”


Teriak seseorang yang tiba-tiba muncul dari kejauhan. Lelaki itu tampaknya sedikit ketakutan dan wajahnya penuh keringat.


“ Apa ?”


Pria itu terkejut dan menurunkan pedangnya. Karena ini kesempatannya untuk bebas, Rendy dengan cepat mengambil tongkat besinya dan dengan cepat menghantamkannya ke kepala pria itu.


“ Ahhh, bangsat ! Beraninya kamu memukulku ! Aku akan membunuhmu !”


Rendy masih tidak berhenti, tongkat besinya di gerakkan ke depan dan menembus dada pria itu hingga darah menyembur melewati lubang di dadanya.


Pria itu mulai tersentak pelan sebelum pria itu tergeletak, beberapa saat pria itu berhenti bernafas.


“ Boss ! Anak sialan, kamu berani bunuh boss ku ! Mati !”


Rendy terkejut saat pria itu kemudian mengeluarkan sebuah benda hitam. Itu adalah pistol !


Dorr…..


Rendy mengernyit mencoba menahan sakit saat peluru menggores pipinya. Beruntung peluru itu tidak mengenai kepalanya karena Rendy menghindar dengan cepat.


Rendy merasa dia cukup beruntung bisa menghindar dari tembakan. Tapi keberuntungan tidak datang dua kali, dia harus segera pergi.


Karena bisa lolos dari kematian, Rendy tidak menunggu pria itu menembak lagi. Dia dengan cepat melempar tongkat besinya yang langsung menabrak mata kanan pria itu.


Dengan jeritan keras saat dia memegangi matanya, Rendy tidak memberi ampun dan menendang pria itu hingga jatuh tersungkur.


Darah mengalir di bola mata kanannya dan pistol pria itu terlempar dua meter dari pria itu.


“ Sial, sial, sial, sakit, ahhh….”


Rendy menatap lelaki itu dan berkata.

__ADS_1


“ Jangan berpikir karena aku sendirian dan terlihat lemah kalian bisa merampokku. Aku bukan sampah yang bisa dirampok dengan begitu mudahnya. Ingatlah di kehidupan berikutnya, jadilah orang baik, jangan suka merampok.“


Setelah mengatakan itu, Rendy mengambil pistol pria itu dan menyimpannya ke dalam mobil.


Setelah mengisi bensin beberapa waktu, bensin telah terisi penuh dan Rendy menaiki mobilnya. Lelaki di luar menjerit terus menerus karena kesakitan.


“ Anak muda, selamatkan aku. Aku tidak mau dimakan zombie.”


Namun Rendy dengan dingin mengabaikan dan mengaktifkan mesin kemudian menancap gas, meninggalkan pria itu.


Rendy gemetar saat menyetir. Dia adalah anak berusia tujuh belas tahun dan ini adalah pertama kali dia membunuh orang.


Tindakannya yang 'sok' berani sebelumnya hanyalah tipuan untuk menenangkannya.


Wajahnya berkeringat dan mukanya tampak pucat. Dia membayangkan darah yang baru saja muncrat dari orang yang dia tusuk tadi.


Di era kiamat, jika kita tidak bisa membunuh musuh, makan kita akan dibunuh. Itu adalah salah satu prinsip sederhana di dunia baru ini.


Jika seseorang masih saja tidak tahu prinsip sederhana itu, dia tidak mungkin bisa bertahan di era kiamat ini.


Rendy perlahan akan membiasakan kehidupan barunya. Kendaraan melaju memasuki kota. Di sana terdengar raungan zombie dimana-mana.


Di suatu sisi, seorang pria meneropong dari jauh dan mengumpat dengan kencang. Pria itu bahkan mengobrak-abrik sekitarnya dan wajahnya sangat jelek.


" Bocah sialan ! Jika kami bertemu denganmu nanti, jangan harap bisa memohon ampun !"


Karena hari sudah larut, Rendy memilih memberhentilkan mobil.


Suasana di sana sangat sepi dan tidak ada orang sama sekali, padahal ini sudah memasuki kota. Rendy bergerak ke belakang mobil dan mencari benda ataupun makanan yang dia butuhkan.


Tetapi setelah lama mencari, dia hanya menemukan satu snack ringan dan air mineral. Rendy segera memakannya, namun saat dia sedang menikmati makanannya, tiba-tiba ada suara rintihan pelan.


Rintihan itu tidak terlihat seperti diluar, itu seperti di dalam mobil. Karena penasaran, Rendy menatap bagian belakang mobil.


“ Siapa disana ?”


Rendy menatap sekitar dan tidak menemukan siapapun. Wajahnya tegang dan tubuhnya merasa tak nyaman, tapi seketika dia melongok ke bawah dan terkejut.


“ Kucing ? Bukannya ini kucing putih yang ada di sekolahku ? Apa dia terpisah dengan ibunya ?”


Rendy menatap kucing itu, namun kucing muda itu menatapnya balik dan matanya sedikit bersinar.


Cahaya biru muda bersinar di balik kegelapan. Lucu banget !


Rendy mengangkat kucing itu, tetapi kucing itu tampaknya cukup tenang saat dia gendong dan Rendy mencium-cium kepala kucing itu dengan lembut.


“ Ihhh… Kamu manis banget, walaupun ini zaman ini telah berubah, aku masih sayang banget kok sama kamu. Aku merasa ditemani disini. ”

__ADS_1


Sambil berbicara, Rendy menyuguhkan snack oranye dan kucing itu melahapnya dengan gegabah lalu mengeong dengan pelan. Rendy membuka segel air mineral lalu membuka tutupnya.


Dia meminummya lalu menggendong kucing ke pangkuannya. Rendy menuangkan air ke tutup botol lalu meminumkannya ke kucing muda itu.


Kucing itu tampak menurut, bahkan dia terlihat mengeong bahagia.


Karena sudah sangat larut, Rendy tertidur lelap. Keesokan paginya, mentari menyinari mobil dan Rendy perlahan membuka matanya.


Rendy menatap kucing itu yang sejak tadi diam dan tak bergerak.


Rendy memberinya minum, namun setelah itu, kucing itu masih tidak bersuara seperti sedang sakit. Rendy bahkan merasa kucing ini memiliki badan sedingin es.


“ Ada apa dengan kucing ini , tidak mungkin kan dia sakit ? Tapi aku tidak tahu cara merawat hewan sakit. Di sini tidak ada dokter hewan.”


Namun melihat mata kucing itu masih cerah dan baunya malah semakin wangi, ini membuat Rendy yakin jika kucing ini baik-baik saja. Mungkin saja kucing ini kelelahan atau ketakutan karena induknya menghilang.


DOK… DOKK.. DOOOK...


Rendy terkejut saat melihat sosok zombie di kaca dan mengetuk nya berulang-ulang.


Rendy terkejut sebentar bahkan dia mengelus dadanya sebentar. Karena kesal dikagetkan saat pagi hari, dia mengambil kapak yang ada di bagian belakang mobil lalu membuka pintunya.


" Beraninya kamu mengganggu orang yang baru bangun, kalian mayat benar-benar ingin mati."


Dengan cepat, Rendy langsung menendang zombie itu dan langsung mengayunkan kapaknya ke kepala zombie itu.


Beberapa zombie yang lain mulai mendengar gebrakan, namun Rendy hanya menatap zombie itu dengan tenang sebelum dia mulai berlari lagi.


Dengan kekuatannya, Rendy membalingkan kapaknya ke arah zombie yang mendatanginya.


Satu persatu zombie telah ditebas dengan kapaknya. Walau sudah kelelahan, Rendy masih menghajar satu per satu zombie yang terus berdatangan.


“ Zombie terus berdatangan. Jika aku meneruskannya, tubuhku tidak bisa menahannya.”


Karena merasa terkepung, Rendy memilih untuk memasuki mobil lalu menancap gas.


Benar saja, zombie satu persatu mulai berdatangan mengejar mobilnya. Rendy bingung, dia tidak tahu apa yang memancing zombie untuk mengejarnya.


Saat Rendy melihat ke belakang, wajahnya mengernyit. Di belakang, sekitar ratusan zombie berlari mengejarnya.


Tetapi sayangnya, kecepatan mobil lebih cepat daripada seorang zombie yang berlari sehingga mereka tidak mampu mengejarnya.


" Fuah... Hampir saja."


" Miao."


" Uhh... Kamu tenang saja, selama ada aku disini, tidak ada zombie manapun yang bisa menyakitimu."

__ADS_1


__ADS_2