Suami Perkasaku

Suami Perkasaku
Membunuh Dengan Cara Terkejam


__ADS_3

Malam ini Crystal Hill mengadakan perayaan besar-besaran. Sebuah pesta megah terjadi di pusat kota dengan gemerlap lampu yang berkilauan.


Semua orang ikut merayakannya dengan turun ke jalanan memenuhi pasar malam. Katanya, tanggal ini adalah tanggal kelahiran putra mahkota keluarga Blade yang kekayaannya sudah di luar nalar sebagai pemilik tambang berlian.


Semua makanan dan minuman tersedia gratis untuk siapa pun.


Malam ini adalah berkah dari langit untuk seorang pria yang berdiri jauh dari keramain. Pakaiannya lusuh dan beberapa bagian sudah robek. Tubuhnya tampak kurus dengan lebam-lebam di wajahnya.


Melihat begitu banyak makanan dan minuman gratis, dia menatapnya seperti menemukan harta karun. Dengan menyeret sebelah kakinya dan tangan memegangi dada, dia mendekat ke salah satu stand yang menyediakan makanan.


Dipandanginya bermacam-macam kudapan itu dengan rona bahagia. Jakunnya naik turun setelah sejak kemarin dia tidak dapat menemukan makanan. Tangan panjangnya meraup apa pun yang bisa dia bawa dengan menggunakan kaos oblongnya sebagai wadah.


“Hei, kau buta, ya?”


Pemilik itu meneriakinya, tapi karena dia tidak peduli, sebuah tongkat pemukul melayang ke telapak tangannya.


Secara refleks dia mengibaskan tangannya, memandangi pemilik stand itu dengan bingung. Bukankah makanan ini disediakan pada semua orang yang membutuhkan dan digratiskan?


“Kembalikan semua makanan itu! Ayo kembalikan!” Wanita itu kembali berteriak padanya. “Apa kau tidak punya otak, hah? Lihat, kau sudah seperti habis merampok. Kau pikir hanya kau yang mau makan gratis? Letakkan itu dan ambil seperlunya. Dasar gembel!”


Tidak hanya meneriaki dirinya, wanita itu merebut makanan yang sudah dia tamping tadi dan memberinya dua potong roti saja.


Tidak masalah, dia bisa mengambil lagi nanti di stand lain. Pria itu membawanya ke samping, berjongkok di bawah lampu jalan dan duduk di atas rumput. Satu potongan itu dia kunyah dengan lahap dan serpihan potongan roti jatuh ke tanah.


Beberapa semut mulai berkerumun.


“Hei, kalian mau makan juga, ya? Ini, amblillah! Bawa makanan ini ke ratu kalian dan makanlah sama-sama. Jangan berebut, oke?”


Dia mencubit kuenya sedikit dan menaburkan remahan itu ke tanah. Sisanya, dia makan dengan sekali buka mulut sampai tersedak.


Sebuah tangan menjulur di depannya dengan sebotol air mineral. Dia mengangkat kepala memperhatikan sosok pria tua memakai coat panjang dengan kumis dan juga topi bulat hitam. Kaca mata bulat juga bertengger di atas hidungnya, lalu wajah itu tersenyum hangat.


“Minumlah dan jangan tergesa-gesa. Tidak ada yang memakan kuemu kecuali semut-semut itu.”


Dia mengangguk, menyahut botol air itu dan menghabiskan setengahnya.


Karena masih sangat lapar, dia membuka bungkus kedua dan memakannya lagi. Sementara pria tua itu ikut duduk di sebelahnya.


“Aku sering melihatmu di taman. Sekarang, kita bertemu lagi. Siapa namamu, Anak Muda?”


“Natan. Nataniel.”


“Nama belakangmu?”


Natan menghentikan kunyahannya. Nama belakang? Dia bahkan merasa jijik memakai nama belakangnya sekarang. Jangankan untuk menyebut, untuk memikirkannya atau menggumamkan di dalam hati saja enggan.


“Tidak ada.”

__ADS_1


“Tidak ada?” Pria Tua itu tertawa renyah. “Aku paham. Beberapa orang memang memiliki masalah berbeda.”


“Kau tidak keberatan? Aku harus pergi.”


Tidak menunggu pria tua itu menjawabnya, Natan berdiri dan pergi ke pusat keramaian lagi. Dari beberapa stand, dia mengumpulkan banyak makanan hingga kaos yang dipakainya sudah tidak mampu menampung lagi.


Pria Tua tadi memperhatikan dari kejauhan, lalu tersenyum lagi.


Natan kembali ke semak-semak di mana itu jauh sekali dari keramaian. Ada selembar kain kotor dan beberapa kardus yang selalu dia gelar untuk tidur di bawah jembatan. Jika masih musim panas, tidur di kolong jembatan tidak akan jadi masalah.


Bagaimana jika musim dingin nanti? Jika salju turun, itu akan membuat penderitaan lengkap baginya.


Kue yang diperoleh tadi dia simpan dengan baik di sisinya. Dipeluk seolah itu adalah barang paling berharga yang dia miliki.


Ketika matanya terpejam, air mata menetes dari sudut matanya. Tidak ada lagi yang tersisa, bahkan jika hewan buas memakannya pun, dia akan memberikan tubuhnya suka rela. Kekejaman yang dilakukan keluarganya, lalu berita kematian wanita yang dicintainya membuatnya terpuruk begitu dalam.


Aruna Griselda. Wanita yang didambanya dulu telah mati menggenaskan. Seseorang membakarnya hidup-hidup dalam kondisi dia yang baru melahirkan.


Apalagi yang bisa dia pertahankan? Harta, tahta, kuasa? Sejak awal dia tidak pernah tertarik dengan semua itu. Namun, keluarganya sendiri yang membuatnya menjadi seperti ini. Setelah puas menyiksanya, mereka membuangnya jauh dari negaranya.


Dominic White. Sadam White. Kevin White.


Sampai mati pun dia tidak akan melupakan nama-nama itu.


Diliputi dengan kemarahan dan kebencian, Natan melipat tubuhnya dan tertidur lelap.


Tiba-tiba saja seember air mengguyur tubuhnya. Natan terjingkat dengan gelagapan.


Suara tawa terbahak terdengar bersahutan. Suara yang sama sekali tidak asing baginya. Ketika Natan mengangkat kepala, tebakannya benar. Itu Sadam White. Bajingan yang sudah mematahkan kaki kirinya.


“Natan … Natan. Ternyata aku baru tau jika kehidupanmu lebih baik di dalam kurunganku. Lihat, sekarang kau harus merangkak untuk mendapatkan makananmu, bukan?”


Telapak tangan Natan mencekram tanah.


Sadam meludah tepat di sisinya.


“Kau benar-benar sampah! Bagaimana kau berpikir pantas mendapatkan White Corporation? Seharusnya kau tidak pernah kembali ke Saint City. Tapi ternyata kau memilih menyerahkan nyawamu. Bodoh!”


Jika bukan karena Aruna Griselda, dia tidak akan mungkin kembali ke Saint City. Dia sudah meninggalkan kota itu belasan tahun dan sama sekali tidak menginginkan apa-apa dari keluarganya. Belasan tahu meninggalkan kota kelahirannya membuat dia lupa siapa dirinya.


“Ingin tau rahasia lagi, Natan? Kau mau tau apa yang terjadi saat kematian Ibumu? Ayahku, ayah kita, Dominc White memberinya obat perangsang dan membuatnya terjebak dengan tiga pria. Setelah mereka menikmatinya, mereka menikam jantungnya berkali-kali hingga dia meregang nyawa. Wow, bukankah itu sangat menarik?”


Sadam tertawa hambar dan terbahak seperti orang tidak waras.


Saat itu juga Natan bangkit dan memberikan pukulannya yang paling keras. Satu pukulan itu menghancurkan rahang Sadam sampai tubuhnya terpelanting ke belakang.


“Biadab! Aku akan membunuhmu dengan tanganku!” teriak Natan dengan kobaran api yang menyala di kedua bola matanya.

__ADS_1


Sayangnya, Natan tidak lagi bisa mendekati Sadam. Pengawal yang dibawa pria itu menghentikannya dan menyerangnya bertubi-tubi. Setelah mendapat siksaan dari mereka dua bulan lalu tanpa perawatan, sekarang tubuhnya kembali mendapat pukulan keras.


Bekas pukulan preman-preman mabuk kemarin malam saja belum hilang rasa sakitnya. Tulang rusuknya seperti remuk, dan sekarang mereka menyerangnya di bagian yang sama. Luka cambuk di punggungnya pun belum pulih, dan sekarang dia mendapatkan tendangan di sana.


“Bagus. Pukuli dia sampai sekarat! Tapi jangan membuat dia mati. Dia harus menderita sepanjang hidupnya.”


Tubuh Natan sudah seperti mainan bagi delapan pria. Ditendang, dilempar dan dibanting. Beberapa kali dia muntah darah, tapi selama Sadam belum menyuruh mereka berhenti, penyiksaan itu akan terus berlanjut.


Setelah Natan tidak bergerak dan tidak melawan sama sekali, Sadam baru merasa puas.


“Periksa, apa dia masih bernapas atau tidak.”


Salah satu pengawal Sadam mengeceknya. Masih ada denyut nadi meskipun lemah. “Dia masih hidup, Tuan.”


“Benar. Jangan biarkan dia mati dengan mudah.” Sadam mendekat, berjongkok dan meludahi tubuh Natan. “Kita bertemu dua bulan lagi, Adik. Jangan merindukanku, oke? Aku sudah sangat baik mau menjengukmu jauh-jauh ke sini.”


Kesadaran Natan sudah tinggal setengah, tapi bayangan wajah Sadam masih terlihat walau samar. Natan tersenyum miring, sebuah gurat merendahkan. “Pastikan kau membunuhku saat kau datang lagi, atau aku yang akan melakukannya padamu.”


“Jangan khawatir, aku akan datang dengan membawa alat untuk mencabuti semua jemarimu. Sekarang, aku harap lukamu ini tidak membusuk.”


Natan menatap kaki-kaki mereka yang semakin menjauh, lalu pandangannya semakin tidak jelas. Perlahan dia mulai menutup mata, merasakan detakan jantungnya yang semakin melemah juga.


Namun, dia merasakan air mengucur dari atas wajahnya sekali lagi. Natan tergagap dan matanya kembali terbuka.


“Payah! Bangun Anak Muda! Bagaimana kau bisa mati dengan cara menyedihkan seperti ini?”


Mata Natan sudah terlihat sayu. Sangat berat untuk terbuka. Sekujur tubuhnya terasa begitu menyakitkan. “Pria Tua,” katanya lirih dengan senyum miring.


“Jika kau mati sekarang, maka tubuhmu yang akan menjadi makanan semut. Bukan makananmu lagi.”


Pria Tua yang ditemuinya kemarin malam itu kembali mengulurkan tangan padanya.


“Jika kau meraih tanganku, kuajari kau cara balas dendam paling mengerikan.”


“Kau menyuruhku berdiri, aku bahkan tidak bisa merasakan kakiku lagi.”


“Jangan manja! Hidup ini memang keras, Bung. Kalau kau tidak mau, aku juga tidak akan membuang waktuku di sini. Mungkin kau akan menjadi santapan istimewa bagi semut-semut malam ini.”


Natan sudah berusaha keras menggerakkan tubuhnya, tapi tidak ada apa-apa yang terjadi. Kakinya mati rasa, kepalanya terasa hampir pecah.


“Baiklah. Kau yang memilih akhir hidupmu sendiri.”


Pria Tua itu menarik tangannya lagi lalu berbalik dan berjalan menjauh.


“Tunggu!”


Natan mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa hanya untuk menegakkan punggungnya saja. Karena kedua kakinya sudah patah, dia hanya bisa merangkak padanya.

__ADS_1


“Ajarkan aku membunuh dengan cara terkejam.”


***


__ADS_2