
Natan tiba di depan kediaman Morgan, menggunakan kaos oblong lusuh dengan celana jeans pudar. Karena itu yang mereka pikirkan, begitulah dirinya.
Tepat saat itu, Samara juga berdiri di depannya. Dia terlihat begitu kurus. Ada lingkar hitam di kedua matanya, dan penampilannya berantakan. Jauh saat di mana terakhir mereka bertemu tiga hari yang lalu.
Melihat penampilan Samara saat ini, rasa bersalah Natan semakin menjadi-jadi. Meskipun dia tidak menginginkan ini, tapi kenyataan jika dia telah merusak seorang gadis muda adalah kenyataannya. Apalagi mendengar jika keluarga Samara akan membuang anak gadis mereka itu ke kampung pembuangan karena dianggap aib keluarga.
Dengan sangat percaya diri dia berkata, “Aku Nataniel. Aku adalah pria yang kalian cari selama ini. Sesuai keinginan kalian, aku akan menikahinya hari ini juga.”
Padahal hal itu yang diinginkan Jade dan Tiana, tapi mereka tertawa miris seolah merendahkannya.
“Muncul juga kau pria tidak berguna! Kau pasti sudah tidak sabar menikahi anak orang kaya, bukan? Aku akan ragu jika kau tidak muncul hari ini.” Tiana jelas menginjak harga diri Natan.
Orang kaya mana yang dia maksud? Natan tertawa getir dalam hati. Namun, dia tidak memiliki nafsu untuk meladeni omongan mereka. Pandangannya hanya tertuju pada Samara saja yang saat ini berpaling.
“Siapa pun kau, kau harus menikahinya. Aku tidak mau menanggung malu seumur hidup. Karena kau sangat miskin, aku yang akan mengurus pendaftaran pernikahan kalian. Yang terpenting, tidak ada lagi yang bicara mengenainya di pernikahan Julia besok.”
“Tidak perlu repot, aku sudah mendaftarkan pernikahan kita. Hanya perlu ke sana untuk tanda tangan saja.”
Tiana tertawa hambar. “Lihat, Jade! Sepertinya menantu gembelmu ini sudah tidak siap untuk meraup kekayaan keluarga ini.”
Jade maju mendekatinya. Telunjuk pria itu mengarah tepat di depan wajah Natan. “Ingat, ya! Meskipun kau menantuku, jangan berharap kau bisa memanfaatkan hartaku.”
“Ayah, jangan terlalu pelit seperti itu.” Tiba-tiba Julia Morgan ikut bicara. Dari nada bicara, itu tidak memiliki niat baik sama sekali. “Luke berkata jika dia akan mendukung perusahaanmu setelah pernikahan kita. Di masa depan, akan ada banyak kelimpahan untuk kita. Kita juga tidak kekurangan uang, masih cukup banyak untuk memberi makan semua orang di rumah. Bertambah satu mulut saja, itu tidak akan berarti apa-apa.”
Wanita ini! Jika tubuhnya terbuat dari karet, maka Natan pasti akan merobek mulut wanita ini. Sok memasang wajah malaikat, tapi ucapannya tajam dan menusuk. Rasanya tidak tahan untuk merobek mulutnya, tapi jika Nata melakukannya saat ini, semua orang akan mengatakan jika dia psikopat.
Membakar empat orang kemarin malam tidak termasuk hitungan karena mereka pantas mendapatkannya. Bahkan seharusnya lebih dari itu karena mereka sudah menyiksanya berbulan-bulan.
“Julia benar. Berbaik hatilah pada orang yang tidak mampu, Jade.”
“Tidak perlu. Kami tidak akan makan sesuap pun dari tangan kalian. Aku takut kelak kalian akan mengatakan jika kami menggigit tangan yang sudah memberi kita makan. Padahal aku bukan hanya akan menggigit saja nanti.”
Natan menyukai itu. Dia baru tahu jika Samara memiliki sisi yang seperti ini.
Pernikahan mereka terjadi hari ini. Tidak ada siapa pun yang tahu selain kerabat dekat. Sisanya, Jade merasa malu mememperkenalkan Natan. Bahkan dia tidak mengizinkan mereka untuk tinggal di luar.
Jika teman bisnisnya tahu anaknya tinggal di rumah kontrakan kecil yang kumuh, maka itu akan menjadi penghinaan juga baginya.
Tidak masalah jika mereka tetap tinggal, karena Julia akan dibawa Luke ke rumah keluarganya. Anak pertamanya itu akan menjadi Nyonya Muda Langdon.
Berada di dalam kamar berdua membuat mereka sama-sama canggung. Baik Samara atau Natan, tidak ada yang pernah tidur dengan pria atau wanita asing sebelumnya. Kecuali kemarin, dan itu yang pertama kali.
Samara terlihat kikuk, memindah sebagian bajunya untuk berbagi lemari dengan Natan.
“Kau tidak perlu memindah sebanyak itu. Aku hanya perlu satu kotak saja karena aku tidak memiliki banyak baju.”
Samara mengangguk.
“Kamarku masih berantakan. Aku akan membereskannya satu-satu. Dan tidurmu … karena aku yang pertama melempar diriku dan kau terjebak di sini, kau bisa memakai ranjangku. Tidak masalah, aku juga jarang menggunakannya karena aku lebih sering tertidur di meja.”
“Aku akan tidur di sofa. Aku tau, tidak perlu menjelaskan lebih. Aku tau batasanku, tenang saja.”
Natan berkata tanpa melihatnya. Dia pergi ke sisi jendela, membuka tirainya lalu keluar ke balkon.
Pemandangan di markas jauh lebih indah dari pada tempatnya saat ini.
Di belakangnya, sekilas Samara memandangi punggung Natan. Tidak menyangka semua terjadi seperti ini. Dia memang menikah, tapi dengan pria yang bahkan tidak dia kenal lebih dari sekedar namanya saja.
__ADS_1
Samara meneruskan pekerjaannya. Setelah menyelesaikan semua, dia berkata pada Natan dengan sedikit gugup. “Aku … aku akan keluar mencari makan malam. Aku akan mentraktirmu jika kau mau ikut denganku.”
Sebenarnya Samara hanya takut Natan kelaparan. Karena dia yang sudah berkata tidak akan makan sesuap pun dari mereka, Natan pasti juga tidak akan mendapat jatah makanan. Sedangkan Natan … dia tidak tahu apakah dia punya uang atau tidak.
“Tawaran yang bagus.”
Mereka berjalan menyusuri trotoar dengan canggung. Tidak ada yang memulai pembicaraan, atau sekedar basa-basi. Tidak tahu ke mana mau pergi, dan apa yang akan mereka makan.
“Sudah banyak stand makanan yang kita lewati. Makanan seperti apa yang kau cari?”
“Kau bisa memilih apa yang kau inginkan. Aku bisa memakan semuanya, tergantung apa yang ada di depanku. Anggap saja ini sebagai hadiah karena kau telah kembali. Jika tidak, mungkin aku harus terpaksa melupakan balas dendamku pada mereka.”
“Jika kau mengatakan itu sejak tadi, kita tidak akan berjalan tanpa tujuan seperti ini.”
Samara hanya masih gugup memulai pembicaraan. Setelah apa yang sudah mereka lakukan, tentu saja dia masih tidak bisa menatap mata Natan.
“Aku tidak tau makanan enak di sini, tapi aku juga tidak pilih-pilih menu. Singgah saja di depan. Apa pun itu, aku bisa memakannya.”
Hanya ada kedai sederhana di depan. Menyajikan berbagai macam makanan ringan tanpa menyediakan makan di tempat.
“Apa mau pindah ke yang lain? Tidak ada tempat duduk di sini.”
“Kenapa harus berbalik dengan tangan kosong jika sudah jauh sampai ke sini? Pesan saja apa yang ada.”
Karena Natan juga tidak keberatan, dia juga tidak masalah. Satu hot dog untuk pria itu, dan kentang goreng untuknya. Sebenarnya di antara mereka juga tidak ada yang memiliki selera makan saat ini.
“Tidak baik makan sambil jalan. Duduklah di sini.” Natan menunjuk sisinya yang kosong dengan dagu.
Karena masih terlalu asing, jarak duduk mereka juga saling memojok. Di bawah tiang lampu, duduk di bangku panjang, sambil memperhatikan orang-orang yang berseliweran di depan mereka.
Melihat orang-orang bertengkar di sisi jalan, berkelahi, saling meneriaki, itu hal yang biasa. Tidak ada yang mau tahu dengan urusan orang lain di sini. Sebab, seiring dengan berkembangnya kota ini, tuntutan kehidupan mereka juga semakin tinggi.
Dua orang itu mengunyah dalam diam, memperhatikan beberapa orang yang bisa dijadikan pengalihan, atau sekedar menoleh ke sana kemari tanpa kejelasan.
“Jika ada hal yang ingin kau katakan, aku masih mendengarmu.” Natan memulainya dulu. Dia bisa melihat gelagat Samara yang sedang menahan dirinya.
“Sebenarnya … ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Yang pertama, karena pernikahan ini kecelakaan dan aku juga bersalah, kau tidak perlu mencemaskanku. Aku bisa menghidupi diriku sendiri. Lalu, karena ini kecelakaan juga, aku harap kau mengerti jika aku tidak ingin hal itu terulang. Kau tau, kita … kita hanya dua orang asing. Hal-hal seperti itu masih sangat jauh dengan keadaan kita yang seperti ini. Dan lagi, meskipun kita menikah dengan cara seperti ini, aku juga tetap ingin tahu siapa Ibu dan Ayah mertuaku. Setidaknya aku mengetahui sedikit mengenaimu.”
“Dari semua ucapanmu, hanya satu yang bisa kupastikan. Kedua orang tuaku sudah meninggal dan aku tidak memiliki saudara atau sepupu atau semacamnya di sini. Aku memilki sedikit teman, dan itu juga tidak begitu penting. Hal yang pertama dan kedua, tidak bisa dijadikan sebagai pandangan kehidupan kita nanti. Alasannya yang pertama, aku memang miskin dan tidak memiliki apa-apa sesuai dengan yang kau ketahui. Tapi, aku tetap suamimu. Yang kedua, karena sudah pasangan resmi, hal-hal seperti itu tidak menutup kemungkinan untuk kembali terulang. Entah disengaja atau tidak, tidak akan ada yang salah dari keduanya.”
Samara menelan ludahnya. Ucapan Natan tadi membuat suhu tubuhnya memanas. Dia berpaling menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Sebenarnya ucapan Natan tadi terasa sangat tenang. Meskipun dia dengan tampilannya seperti itu, tapi cara dia mengatakannya tadi, seolah menunjukkan jika dia bisa diandalkan. Seolah hal itu begitu kontras dengan latar belakangnya.
“Bisakah aku bertanya padamu, kenapa kau kembali? Saat di rumahmu, kau mengatakan tidak mau tau urusanku. Aku tidak berharap padamu, tapi kau tiba-tiba muncul begitu saja.”
“Aku bukan pria brengsek. Saat di rumah sewa itu, aku pikir tidak ada hal buruk yang terjadi setelahnya. Tapi aku mendengar jika orang tuamu mencariku dan meminta pertanggung jawaban. Aku datang, dan menepati ucapan mereka. Hanya itu.”
Samara mengangguk tipis. Dia ingin bertanya bagaimana Natan bisa mendaftarkan pernikahan mereka dengan begitu cepat. Namun, Samara menahannya karena tidak mau menyinggung Natan. Dia kembali saja sudah berarti menyelamatkannya.
Mereka kembali berjalan pulang setelahnya. Saat itu, tiba-tiba sebuah mobil menekan klakson panjang tepat di sisi mereka. Samara yang terkejut, dengan sigap menghindar dan hampir terjatuh jika Natan tidak menahan tubuhnya.
Bantley dengan warna seguin blue berjalan pelan di sisi mereka. Lalu, seorang wanita mengeluarkan kepalanya dari jendela.
“Hai, Sam.”
Samara hanya tersenyum tipis. Dia Agnes, salah satu teman kampusnya, dan teman perkumpulannya juga. Sebenarnya, dia mengenal Agnes juga karena Luke yang memiliki komunitas Bantley yang sering mengadakan pertemuan. Kalau tidak, dia tidak mungkin mengenal wanita angkuh itu.
__ADS_1
Jika bukan karena pria yang dikencaninya, Agnes juga tidak akan masuk dalam komunitas mereka. Bergabung dengan pemuda kaya di kota ini dan menaiki tangga popularitasnya.
“Besok adalah hari pernikahan Kakakmu, kenapa kau berkeliaran di jalan malam-malam seperti ini?”
Samara malas menjawabnya. Lalu, Agnes menengok Natan yang berdiri di belakangnya. Dari pandangan matanya, sudah terlihat tatapan merendahkan. Bahkan terlihat jijik.
“Kau tidak mau memperkenalkan suamimu padaku? Aku dengar, kalian sudah menikah hari ini.”
“Aku lihat, kau sudah tau lebih banyak. Jadi, aku tidak perlu mengatakan apa-apa lagi padamu.”
“Ayolah, Sam … jangan seperti itu! Aku yakin teman-teman yang lain pasti akan suka jika kau memperkenalkan suamimu pada kami. Kau tau, mereka menunggu undangan pesta darimu. Oh, apa kau mau menggabungkan pestamu dengan Julia? Oke, tidak masalah. Aku akan mengatakan pada teman-teman kita jika pestamu akan diadakan di hari yang sama.”
Samara baru membuka mulutnya, tapi Agnes seolah begitu sengaja menjebaknya.
“Tidak perlu berterima kasih, aku pergi sekarang.”
Agnes dan kekasihnya itu pergi begitu saja tanpa menunggu persetujuan Samara.
“Tidak perlu dihiraukan. Dia tidak lebih dari wanita gila.”
Samara mengibaskan tangannya, dalam hati merasa was-was. Agnes memang gila, dan kegilaannya itu bisa merealisasikan ucapannya tadi.
Setelah beberapa langkah, ponsel Samara terus berdering. Saat dia membukanya, itu adalah grup komunitas bantley Luke. Dalam sekejap, grup itu langsung ramai dan banyak orang menyebut namanya.
Agnes bergerak cepat. Samara tahu Agnes sengaja melakukan ini untuk mempermalukannya, tapi ini benar-benar kelewatan. Agnes berkata jika mereka akan mengadakan pesta di vila perbukitan di malam Sabtu lusa atas undangan keluarga Morgan karena dua anak gadisnya baru saja menikah.
Saat itu nomor Julia baru ditambahkan, dan mereka semua bertanya apakah Samara perlu dikeluarkan atau tidak.
Detik kemudian, semua orang berkata jika Samara masih bagian dari mereka sebelum mereka mengucap selamat padanya.
Jelas mereka semua sedang mempermainkannya. Kabar pernikahannya dengan seorang pria pemabuk, miskin dan melarat merajalela seperti percikan api yang disiram bensin. Begitu cepat sampai-sampai mereka berlomba bagaimana cara mempermalukan dia nanti.
Selama ini Samara selalu menjadi pusat iri hati. Dari segi penampilan, kemampuan, sampai memiliki kekasih dari keluarga Langdon. Kehidupan Samara terlalu sempurna. Setelah kejadian ini, tentu mereka tidak akan melewatkan momen untuk menginjak-injaknya nanti.
Natan memperhatikan semua kata-kata mereka. Layar ponsel Samara yang menyala terang bisa dia lihat dengan mudah.
Jemari lentik itu terlihat meremat ponsel. Pundaknya terangkat tinggi, lalu turun perlahan. Samara mencoba menahan dirinya.
Kemudian, jari-jari itu mengetikkan sesuatu, “Aku tidak ada hubungan lagi dengan kalian. Pesta yang dikatakan Agnes, semuanya tidak benar. Mungkin hanya Julia, tapi aku tidak. Aku akan keluar dari grup ini sekarang ju―”
Sebelum Samara benar-benar menyelesaikan ucapannya, Natan merebut ponsel itu. Semua pesan yang akan dikirim Samara tadi hapus olehnya, lalu dia menggantinya dengan ….
“Ya. Aku akan mengadakan pesta sesuai hari itu. Kalian semua datanglah.”
Samara terkejut melihatnya. Bola mata bulat, hitam cerah itu hampir meloncat dari rongganya. Sebelum dia sempat bereaksi, Natan sudah menekan tombol kirim.
“Natan, apa yang kau lakukan?”
“Kau mau membuat dirimu dipermalukan orang sebanyak ini?”
“Apa kau sadar, apa yang akan kita lakukan dengan semua tagihannya nanti? Kau tidak tau, perkumpulan ini, mereka semuanya gila. Mereka bukan hanya berniat menjebak kita, tapi mereka berniat membunuh kita!”
Natan dengan tenangnya kembali berjalan, “Aku tau dan aku sengaja menceburkan diri.”
“Dan membuat seumur hidup kita menanggung semua hutang, iya?” Samara begitu emosional sampai wajahnya merah padam. “Aku rasa kau pun juga tidak waras!”
***
__ADS_1