
“Sebelum kau menjawabnya, aku ingin katakan padamu jika Ayah tidak suka penolakan. Jangan percaya jika dia sedang bertanya padamu, karena kau harus memastikan jika jawabannya ‘iya’.”
Steffan menyela lebih dulu. Saat berkata seperti itu, dia melirik Arron sambil memicingkan matanya.
Natan tersenyum tipis. “Sebenarnya aku sudah memiliki perusahaanku sendiri. Aku juga cukup nyaman di markas Legion Commander saja. Hal-hal seperti ini, aku merasa terlalu berlebihan.”
“Natan, ucapan Steffan tadi benar,” Arron menegaskan.
“Jadi aku tidak memiliki jawaban lain?”
“Tidak.”
“Kau tidak akan memiliki jawaban jika berhadapan dengan Ayah, Natan.” Ana, dia sangat manis saat bicara dengannya.
“Sudahlah, terima saja dan kita makan malam. Aku sudah mengenal kau lebih dari yang kau ketahui. Lama-kelamaan, kau akan terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Berkembanglah lebih pesat lagi, aku percaya kau bisa menerima tanggung jawab ini. Dan istrimu barumu itu … aku harap bisa mengenalnya lebih cepat setelah dia tahu siapa kau nanti.”
Arron memangkasnya lebih dulu. Dia tidak mau mendengar alasan apa pun karena sudah memilih Natan menjadi bagian baru keluarganya. Kekayaan keluarga Blade yang sebanyak itu, memang tidak akan seimbang jika dia memiliki satu anak saja.
“Kau sudah menikah? Aku pikir kau masih lajang. Aku sudah membuat daftar wanita yang akan kukenalkan pada Adikku nanti.” Ana menggodanya. Wajahnya yang memiliki banyak senyuman membuat Natan terasa hangat berada di antara mereka.
“Kemarin, Sayang.” Steffan menyahut. Diam-diam, dia mencari tahu mengenai Natan untuk melihat pria seperti apa yang membuat Ayahnya tertarik menjadikan pria itu Adiknya. “Dan aku dengar, dia menemui istrinya dengan memakai pakaian lusuh. Sampai sekarang, dia tidak mengatakan yang sebenarnya.”
“Hei, kau membohongi istrimu? Jangan mengadu kalau kau tidak punya tempat tidur nanti karena dia marah padamu.”
“Aku tidak bohong Kak, tapi mereka yang tidak percaya padaku.” Natan memang tidak berbohong. Saat bertemu pertama kali dengan Samara, dia memang miskin karena tidak memiliki apa-apa. Perusahaan yang diberikan Arron padanya resmi berpindah tangan setelah kejadian itu.
Lalu, dia juga sudah mencoba menunjukkan isi dompetnya, tapi tidak ada yang mau melihat. Mereka juga tidak bertanya pekerjaan apa yang dia lakukan. Jadi memang benar, dia tidak berbohong.
“Karena kau sudah menikah, kirim alamatmu padaku. Aku akan mengirim kado pernikahan untuk kalian.”
“Sebenarnya aku memiliki rencana untuk membawa dia kemari merayakan pesta pernikahan kami.”
“Itu bagus. Saga akan menyiapkan siaran langsung dan aku akan mengumumkan anggota baru keluarga ini. Itu akan menjadi acara yang besar.”
“Tidak, Ayah. Aku masih belum mau mempublikasikannya.”
“Apa alasanmu?”
“Aku hanya ingin memberi kehidupan normal padanya. Membahagiakannya dengan sederhana, dan berkencan seperti orang pada umumnya. Aku tau, setelah identitasku terbuka, tidak akan ada lagi yang namanya biasa-biasa saja.”
“Ya, kau benar, Natan. Kau tau, bertahan di sisi pria seperti dia itu susah.” Ana melirik suaminya sendiri. “Sebelum Ayah mendeklarasikan dirimu, bersenang-senanglah sepuasnya. Kalian masih bisa pergi berdua, jalan-jalan berdua, dan berkumpul dengan siapa pun.”
“Dengarkan Kakakmu, dia benar. Kau harus tau jika setelah identitasmu terbongkar, menjaga satu wanita di sisimu itu merepotkan. Kau harus menjaga keselamatannya, menghadapi kemauannya yang kadang-kadang menyimpang, menghadapai kemarahannya, dan menghadapi omelannya.”
“Steffan ….”
“Apa? Aku hanya meneruskan ucapanmu.”
Melihat mereka, Natan sudah membayangkan hal-hal indah di kepalanya. Dia juga ingin jatuh cinta lagi dengan orang yang tepat, memiliki anak-anak menggemaskan seperti mereka, dan hidup tenang.
Mungkin keinginan untuk hidup tenang akan dia pertimbangkan lagi.
“Anak-anak, kemarilah! Sapa Paman kalian.”
Tiga anak kecil itu berlari ke meja dengan serempak. Satu persatu duduk di kursi lalu tersenyum bersama. “Hai, Paman ….”
__ADS_1
“Hai juga. Bisakah aku mengenal nama kalian?”
“Aku Javier.”
“Aku Jevan, dan ini adik kami, Jesselyn.”
“Kalian sangat menggemaskan. Berapa usia kalian?”
“Sembilan.”
“Delapan.”
Ada yang menjawab sembilan, ada yang menjawab delapan. Natan bertanya, “Jadi mana yang benar?”
“Jangan dengarkan mereka. Yang benar, delapan tahun lebih enam bulan.” Pria kecil yang memperkenalkan dirinya sebagai Javier tadi yang menjawab.
“Sudah, jangan melanjutkan mengobrol dengan mereka atau tidak akan ada habisnya. Mari makan,” sela Arron lebih dulu.
Setelah makan malam itu, mereka menginap di sana karena obrolan masih panjang. Ana mengajak anak-anaknya bermain di tempat lain, sementara mereka mengobrol lebih serius.
Pembahasan mereka hanya seputar pembagian kepemimpinan. Namun, hal itu tidak sesederhana yang dipikirkan Natan. Arron memiliki warisan yang sangat banyak, pantas saja dia bersikeras mengangkatnya.
Dalam hati dia berpikir, jika Arron terlalu cepat membagi kekuasan. Dia masih terlihat sehat dan yang terpenting masih bernapas juga.
Namun setelah pembicaraan panjang dengan semua ketentuan itu, Arron menghela napas panjang.
“Dengan begini, aku bisa tenang. Setelah ini, aku tidak peduli ke mana kalian akan membawa perusahaan. Aku sudah percaya kalian mampu mengelolanya dengan baik.”
“Ayah, apa … apa kau sedang tidak sehat?” Natan hanya berasumsi. Karena Austin tidak akan melakukan hal semacam ini selagi dia masih bisa bernapas. Bahkan Kakeknya itu mengatakan jika mereka harus memperjuangkan hak mereka jika ingin mendapatkan warisannya. Hal itu juga yang menjadi penyebab kehancuran keluarga White.
“Aku hanya mengkhawatirkanmu.”
“Aku tidak apa-apa, Natan. Kelak kau akan memahami jika kekayaan sebesar apa pun itu hanya sementara. Jika kau mati, kau tidak akan membawanya. Apa bedanya aku memberikan semuanya pada kalian saat ini atau nanti? Aku ingin pergi ke suatu tempat, menikmati masa tuaku dengan minum kopi, membaca koran, dan bermain catur dengan pria seusiaku. Ini adalah waktu kalian untuk menikmati kejayaan dan mengembangkan potensi kalian. Kelak, anak dan cucu kalian juga akan merasakan berada di posisi kalian dan kalian akan memilih bermain catur dari pada bermain saham. Ya, seperti itulah siklus hidup.”
Arron memiliki pemikiran yang sangat sederhana. Dia tidak seambisius seperti Austin dan Steffan tidak seperti saudara-saudaranya yang keparat itu. Ada kehangatan di sini, meskipun mereka memiliki segalanya.
Pembicaraan mereka tidak terasa menyita waktu semalaman. Arron sudah pergi ke kamarnya lebih dulu, dia hanya berdua dengan Steffan. Pria itu mengatakan segalanya mengenai keluarga Blade dan siapa-siapa saja yang perlu diwaspadai.
Setelah malam berlalu, pagi-pagi mereka sudah berkemas. Tempat itu akan digunakan Natan untuk merayakan pesta pernikahannya, jadi mereka pergi saat pukul sepuluh pagi selesai sarapan bersama.
“Natan ….” Ana memanggilnya.
“Iya, Kak?”
“Berikan ini pada Adik Ipar. Karena kau tidak memberiku alamatmu, kau harus membawanya sendiri."
Ana memberikan kotak persegi. Di dalamnya, ada satu set perhiasan. Berlian di dalam memancarkan cahaya yang sangat indah.
“Ya, aku minta maaf. Jika aku punya rumah sendiri, aku akan membagi alamatku. Untuk saat ini, akan berbahaya mengirim barang seperti ini ke sana. Aku pasti akan menyampaikan ini padanya. Terima kasih, Kakak.”
“Paman, kau juga harus mengajak kami jalan-jalan suatu hari nanti. Jika tidak, kami akan meminta Paman baru pada Kakek.”
Itu ucapan Jesselyn.
“Tentu. Aku akan mengajak kalian jalan-jalan jika memiliki banyak waktu luang.”
__ADS_1
Mereka pergi setelah itu. Hanya tinggal Saga, dia menikmati waktunya sendiri dengan berendam air hangat yang mengalir dari mata air di kamarnya semalam. Jarang-jarang bisa punya waktu selenggang kemarin.
Natan sibuk dengan mereka, dan sudah banyak pengawal yang melakukan penjagaan. Dia tidak ambil bagian.
“Ah … nyenyak sekali tidurku,” katanya sambil merentangkan kedua tangan.
“Aku menyuruhmu mencari desain interior, tapi kau malah tidur sepanjang waktu.”
“Hei, Residence Inn ini memiliki ahli desainnya sendiri. Kau pikir para desain interior di luar sana bisa masuk kemari seenaknya? Jangan khawatir, mereka akan datang lima menit lagi dan semua dekorasi akan siap nanti malam. Kau hanya perlu merokok, tidur, dan saat bangun semuanya sudah siap.”
“Kau di sini saja dan atur jamuan untuk nanti. Aku mau pergi ke suatu tempat.”
“Hei, kau sudah menjadi bagian dari keluarga Blade. Aku tidak bisa meninggalkanmu seorang diri.”
“Memangnya siapa yang mau menculik pria miskin dan melarat sepertiku? Mereka akan berpikir ulang untuk memberiku makan.”
“Benar juga. Belum ada yang tau siapa kau. Pergilah, aku masih betah di sini, bisa menikmati makan siang istimewa dari koki ternama. Jika kau perlu sesuatu, aku akan datang dengan cepat.”
Natan pergi ke sebuah butik terkenal di sana. Sebelumnya dia tidak pernah berpikir untuk berbelanja di sini, tapi dia ingin memberikan gaun yang paling bagus untuk Samara.
Dia pergi ke Butik Moo, rancangan seorang desainer terkenal. Kabarnya, gaun-gaun di sana hanya bisa dibeli jika mereka sudah menjadi pelanggan mereka.
Natan yang muncul dengan menggunakan kemeja biasa yang kusut dan berjalan kaki, menjadi pusat perhatian. Seorang penjaga butik segera menahan dia di pintu masuk.
“Kami tidak menerima sales di sini.”
“Aku kemari untuk membeli gaun yang akan kuberikan pada istriku. Apa ada gaun terbaru koleksi kalian?”
“Pergilah, kami tidak menjual gaun di sini pada orang seperti Anda. Gaun-gaun kami sangat eksklusif, Anda tidak akan mampu membayarnya. Dari pada Anda mengotori gaun di sini dengan tangan Anda tanpa bisa membeli, sebaiknya Anda pergi saja.”
“Aku bilang, aku akan membelinya.”
“Penjaga!” Pelayan butik itu berteriak seolah-olah Natan telah mencuri sesuatu. “Tolong singkirkan pria ini. Dia akan mengganggu pelanggan kita nanti.”
Natan sudah tidak tidur semalaman, dan sekarang harus meladeni wanita angkuh di depannya ini. Dia sudah terlalu malas berdebat. Setelah mengambil ponselnya, dia menghubungi Saga.
“Kemari secepatnya.”
“Baik.”
Di sana, Saga sedang sarapan. Begitu mendapat panggilan Natan, dia meletakkan makannya tanpa minum lalu berlarian keluar sambil menyiapkan anak buahnya.
Natan tidak perlu mengatakan keberadaannya, karena Saga bisa mendapatkannya dalam beberapa detik saja.
Saga dan anak buahnya kemarin datang dengan cepat. Mereka turun serempak, berdiri di belakang Natan dengan sikap tegak.
Pelayan butik tadi langsung gemetar begitu melihat jas yang mereka pakai bersimbol LC. Dia merasa kiamat akan datang padanya saat ini. Padahal dia sudah yakin, pria dengan kemeja lusuh di depannya ini bukan bagian dari orang kalangan atas. Tapi sekarang, anggota Legion Commander berdiri di delakang pria itu.
Jika sudah menyangkut LC, maka orang yang dia hadapi bukan orang biasa. Meskipun tidak tau siapa yang ada di depannya, tapi yang jelas pria itu pasti memiliki pengaruh yang besar. Atau mungkin anggota kerajaan yang meminta perlindungan mereka. Jika benar, dia pasti akan dicincang habis!
“Apa ada ini, Nat?”
“Berikan pelajaran pada wanita ini bagaimana caranya melayani seorang pengunjung dengan baik.”
***
__ADS_1