
Hal-hal mengenai Samara menjadi bahan yang begitu sensitive akhir-akhir ini. Suami pemabuk, miskin dan melarat, lalu ditambahkan lagi malam ini pasangan baru itu akan mengadakan pesta pernikahan mereka.
Bagai kebakaran jenggot, Jade dan Tiana hampir mati karena kemarahannya sendiri.
Melihat kemunculan Samara dengan suami barunya itu, Jade langsung menyambutnya dengan kemarahan.
“Dasar pria yang tak tahu diuntung!” bentaknya pada mereka. Lebih tepatnya pada Natan, yang berjalan dengan begitu santai.
Jangankan bentakan, bahkan siksaan selama berbulan-bulan pun sudah pernah dia rasakan. Hal seperti ini tidak akan mampu mempengaruhinya sedikit pun.
Namun, Samara tidak.
“Sudah bagus kami menampungmu, tapi kau malah melunjak dan tidak tahu diri. Apa kau tidak punya malu, sampai melakukan pesta pernikahan yang bahkan memenuhi kebutuhan istrimu saja tidak mampu!”
“Ayah, sudah tidak apa-apa ….”
Lagi, Julia ikut campur. Kali ini, apalagi yang akan dia mainkan?
Wanita itu mendekati Ayahnya, menyentuh pundak Jade dan berkata dengan nada rendah, “Pesta pernikahan mereka juga perlu. Bukankah kita sama-sama pengantin baru? Tidak masalah jika mereka mau bergabung dengan pesta pernikahanku, Luke pasti akan memahaminya. Lagipula, aku juga yakin jika Luke tidak akan membiarkan orang lain menanggung biaya pesta pernikahan kami nanti. Itu akan menjadi hal memalukan baginya.”
Natan baru menghela napas saat mendengar itu dari Julia. Ternyata masih ada wanita yang lidahnya begitu licin seperti ini.
“Diam, Julia! Sudah tau mereka sedang memanfaatkanmu dan suamimu, Luke. Masih saja membela mereka. Jika mereka ingin pesta pernikahan, biarkan mereka menanggungnya sendiri. Benar-benar tidak tau malu! Mengacalah sebelum bergaya.”
Tiana memarahi mereka habis-habisan.
Kemarahan Samara sudah hampir mencapai level keterbatasannya, tapi Natan seolah tuli. Dia tidak merubah ekspresinya yang datar itu dan tetap mendengar ocehan mereka seperti sebuah kata-kata manis baginya.
Samara melangkah ke depan, tapi saat itu Natan menahan pergelangan tangannya. “Naik dan tidurlah dulu. Kita sudah berjalan-jalan sejak tadi, kau pasti sudah lelah.”
Entah apa isi kepala Natan saat ini. Bisa-bisanya dia masih bicara setenang itu, seramah itu, padahal keluarganya telah menghinanya habis-habisan.
Dibanding dengan kedongkolannya pada Julia, dia lebih gemas menghadapi Natan. Rasanya ingin sekali Samara menarik kaos suaminya itu, lalu berkata dengan suara keras, “Hei, kau sedang dihina di sini! Apa kau masih belum menyadarinya juga, hah?”
Sayangnya, rangkaian kata-kata itu hanya bisa dia telan saja. Dia tidak mau menunjukkan jauhnya hubungan mereka pada siapa pun. Meskipun pernikahan mereka karena kecelakaan, setidaknya dia masih bisa hidup dengan tenang.
Samara naik ke kamarnya.
Setelah memastikan Samara benar-benar masuk ke kamar dan terdengar bunyi pintu tertutup, Natan baru maju menghadapi mereka. Auranya yang begitu tenang justru membuat mereka semakin penasaran apa yang akan dia ucapkan.
“Kakak Ipar, apa aku pernah mengatakan padamu untuk membayar biaya pesta pernikahan kami?”
Julia tidak sanggup menjawab, tapi Tiana, dia selalu membela anak kesayangannya itu.
“Memang dari mana lagi kau akan mendapatkan biaya pesta pernikahan itu, hah? Apa kau tau, yang kau undang itu adalah komunitas pemuda kaya raya di kota ini. Pria sepertimu, bahkan bekerja sampai habis nyawamu pun tidak akan mampu menyenangkan mereka. Apa kau ingin mengubur kami dengan kotoran kalian?”
“Ibu Mertua, apa kau tertarik melihat isi dompetku?”
“Sudah miskin, tapi masih sombong! Bahkan isi dompetmu tidak akan bisa membayar harga makan siangku. Berani sekali kau mengatakan itu padaku?”
“Oh, kau sudah menebaknya sendiri. Ya sudah. Jadi aku tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi pada kalian.”
Natan memasukkan kembali dompetnya.
Jawaban yang sungguh bodoh dari Tiana. Padahal jika mereka melihat isi dompet itu, di dalam sana ada kartu hitam berlapis emas dan berlian bertuliskan namanya dengan marga Blade. Nataniel Blade.
Setelah Arron mengambilnya sebagai keluarga, dia juga memberi akses Natan dengan kartu eksklusif keluarganya. Dia memberinya itu kemarin, menitipkannya pada anak buahnya dan sampai sekarang Natan belum sempat menemui Pria Tua itu.
Itu masih satu kartu eksklusif yang hanya dimiliki keluarga Blade, belum kartu miliknya sendiri dengan kekayaan pribadinya. Jika mereka mereka melihat semua itu, Jade, Tiana dan Julia pasti akan kejang-kejang sampai mulut mereka berbusa. Mungkin juga mereka akan menyembah Natan bagaikan Dewa.
“Dan Ayah Mertua, kau jangan khawatir. Aku tidak akan menggunakan sepeser pun uangmu.”
Natan masih sempat tersenyum pada mereka, lalu berbalik dan pergi begitu saja.
“Bajingan keparat! Jika dia sampai menggunakan Samara untuk mencuri uangku, aku akan menggantungnya di alun-alun kota.”
Jade masih tidak terima.
Tidak terbayang bagaimana seandainya setelah mengatakan semua itu, mereka melihat isi dompet Natan. Pasti mereka akan memotong lidah mereka sendiri.
Saat masuk ke kamar, Samara masih belum tuntas dengan emosinya.
__ADS_1
“Sudah benar aku akan membatalkan pesta itu, kenapa kau malah mengiyakannya? Sekarang katakan padaku, bagaimana cara kita melunasi biaya pesta itu nanti, hah? Apa aku juga harus menjual ginjalku? Bahkan itu masih tidak sebanding.”
Natan justru tersenyum geli dengan ucapan Samara.
Dari sudut pandang Samara, wajar jika wanita itu khawatir seperti ini. Natan sama sekali tidak menyalahkannya dan tidak mau Samara memikirkan itu.
“Kenapa kau malah tertawa? Aku sedang bicara serius denganmu,” bentaknya lagi dengan berkecak pinggang.
“Ini hari pertama kita menikah, kenapa harus bicara keras-keras? Jangan memikirkan hal itu, oke? Kita juga butuh perayaan atas hari bahagia kita. Mandi dan tidurlah! Ini sudah malam. Aku mau merokok di luar.”
Rasanya Samara ingin *******-***** suaminya. Kalau perlu dia akan menggeplak kepala pria itu agar sekali saja bisa berpikir realistis jika keadaan mereka memang seperti ini.
Sekali lagi, emosinya tidak tersalurkan dengan sempurna. Natan sudah meninggalkannya setelah mengambil sebungkus rokok di atas meja.
Natan pergi ke halaman belakang, duduk di kursi panjang lalu menyalakan rokoknya.
Hari yang melelahkan!
Setelah kembali dari Saint City pagi tadi, dia masih belum bisa bernapas panjang dan seharian harus menghadapi keluarga Morgan ini.
Natan mengambil ponselnya, mengecek pesan yang masuk hari ini.
Tidak banyak, hanya dari Asitennya yang bernama Aidan di Saint City dan Grace Lowry. Aidan memegang kendali menggantikan dirinya di Saint City. Dia meninggalkan tiga perusahaannya di sana, dan semua laporan dia terima melalui Aidan.
Lalu Grace, dia Asistennya peninggalan perusahaan Arron. Pria Tua itu bukan hanya memberikannya sebuah perusahaan besar, tapi juga seisinya termasuk Sekretaris untuknya.
Dua orang itu hanya mengabarkan jika dia sudah mengirim email padanya, dan di antara mereka ada pesan Saga.
‘Telepon aku begitu kau tidak sibuk,’ kata Saga dalam pesan tersebut.
Natan menekan tombol telepon.
“Ada kabar apa?”
“Kau sudah menerima kartu barumu?”
“Ya. Dan sekarang aku bingung harus menyebutnya apa.”
“Dia lebih tepat jadi Kakek.”
“Kau masih saja mengatainya. Kemari, biar kukatakan padanya jika dia mengangkat anak durhaka.”
Natan tertawa kecil.
“Dia memintamu datang besok malam ke Residence Inn. Aku rasa, dia akan memperkenalkanmu pada anaknya sebagai anggota baru. Berpakaianlah yang benar, jangan mencari celana kumal dan kaos seperti tadi.”
“Hem, ya.”
“Di mana aku akan menjemputmu besok?”
“Belum bisa kupastikan. Akan kukabari besok.”
Natan menutup pembicaraan. Dia tahu nama anak Arron, tapi dia tidak pernah bertemu dengannya. Sebenarnya dia hanya ingin hidup biasa saja, tapi Arron melimpahinya dengan kekayaan seperti ini. Padahal mengurus perusahaannya sendiri saja sudah merepotkan.
Dia menghela napas panjang dan lelah.
Setelah menghabiskan satu batang rokok, Natan kembali masuk.
Di dalam kamar, Samara sudah melipat dirinya dalam selimut. Dia melepas kaosnya, lalu mencari handuk di lemari.
Tadinya Samara memang hampir tidur, tapi suara air dalam kamar mandi mengusiknya. Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, samar-samar dia membuka mata.
Natan keluar dari sana, hanya dengan handuk putih yang dia lilitkan di pinggul saja. Bola matanya melotot melihat tubuh Natan.
Dalam kaos lusuh itu, tubuh Natan terbentuk sempurna. Perutnya memiliki kotak-kota seperti roti sobek, dan dadanya begitu menggoda. Dari ujung kepala sampai kaki, posturnya sempurna. Seperti model majalah pria dewasa.
Bagaimana Natan bisa mendapatkan bentuk tubuh seperti itu? Biasanya para pria akan melakukan latihan ketat, dan rajin berolahraga sampai menjaga asupan makan mereka. Sedangkan jika dilihat dari latar belakang pria itu, rasanya mustahil.
Melihat tubuh Natan yang telanjang dada saja sudah membuat suhu tubuhnya meningkat. Pantas saja dia merasa remuk setelah berhubungan semalam dengannya.
Saat itu dia mabuk dan tidak sadar, jadi dia tidak bisa memperhatikan tubuh telanjang Natan.
__ADS_1
Tanpa sadar, Samara menelan ludahnya.
Natan berpikir jika Samara benar-benar tidur, jadi dia melepas handuknya di depan lemari, lalu berpakaian tanpa canggung.
Sekilas Samara melihat seluruh tubuhnya, lalu dia memejamkan mata erat-erat dan merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa pria itu tidak tahu malu? Dia saja yang melihat merasa sangat memalukan. Seperti sedang mengintip pria asing.
Natan memakai celana pendek di atas lutut, lalu kaos oblong seperti biasanya. Karena sangat lelah, dia pergi ke sofa dan bersiap tidur.
Sayangnya, tinggi badan dan panjang sofa sama sekali tidak bisa disesuaikan. Kakinya tidak bisa selonjor dengan leluasa, menekuk pun tidak enak.
Dia mengambil bantalnya pergi ke sisi ranjang, lalu tidur di atas karpet tepat di bawah Samara. Tidur di lantai pun sudah biasa baginya, tapi tidur dengan memandangi wajah wanita itu bukan hal biasa.
Saat itu Samara sedang tidur dengan posisi miring, merepet ke pinggir kasur. Karena takut Natan mengetahuinya pura-pura tidur dan melihatnya ganti baju tadi, Samara tidak berani bergerak. Namun, dia sadar Natan berjalan dan tidur di bawahnya saat ini.
Jantungnya jadi berdebar tak karuan.
Natan memandangi wajah Samara. Kulitnya begitu bersih, cerah dan dia terlihat begitu cantik. Kata anak-anak di markas, Samara memang anak gadis keluarga Morgan yang terkenal dengan kecantikannya. Itu memang benar.
Bagaimana dia bisa terjebak dengan keluarga aneh seperti ini? Membanggakan kekayaannya yang hanya seujung kuku seolah-olah dia menggenggam langit dalam kepalan tangan mereka.
Katanya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Natan merasa jika itu tidak benar sekarang.
Sampai akhirnya, Natan terlelap sendiri.
Setelah cukup lama berpura-pura, Samara memberanikan diri membuka matanya perlahan. Dilihatnya Natan yang sudah lelap di bawah. Wajahnya bersih dan tampan. Bahkan dia akui lebih tampan dari Luke. Sedikit saja di make over, pasti orang akan mengira dia Tuan Muda dari golongan keluarga kaya raya.
Samara menahan dirinya. Dia berbalik, berpaling dan mencoba tidur.
Besoknya, Natan bangun lebih dulu. Dia sudah terbiasa bangun pagi, karena setelah dia bangun, dia akan langsung olahraga dengan anak-anak di markas.
Samara masih belum membuka mata. Wanita itu tidur nyenyak dengan telentang. Bahkan saat tidur pun, dia masih terlihat cantik. Melihat wajah itu, hati Natan terasa hangat. Dia tersenyum tipis, lalu pergi ke sisi jendela dan menutup tirainya rapat-rapat agar sinar matahari tidak membangunkannya nanti.
Setelah membersihkan diri, Natan pergi keluar lebih dulu. Dia ingin mencari sarapan untuk Samara sebelum wanita itu bangun nanti.
Sebenarnya dia juga ahli memasak, tapi jika dia memasak, orang rumah akan mengatakannya mencuri bahan makanan. Jika ada waktu luang, dia akan berbelanja sendiri nanti.
Natan keluar dengan sekalian olahraga.
Setelah mendapat beberapa menu makan sehat, dia kembali ke rumah. orang-orang rumah terlihat begitu sibuk pagi ini. Hari ini acara pernikahan Julia, pantas mereka begitu sibuk.
Natan tidak peduli. Begitupun Tiana yang meliriknya dengan tatapan jijik. Juga Julia, mereka semua menatapnya rendah.
“Lihat, Bu, dia kembali membawa banyak makanan. Pasti dia telah menggunakan uang Samara untuk membelinya dan memanfaatkan itu agar bisa makan enak.”
“Tentu saja. Samara adalah wanita bodoh! Dan sekarang, dia tidak tau diri. Bisa-bisanya dia tidak keluar dan membantu kita bersiap. Aku akan menyeretnya sekarang.”
Saat itu Natan sedang berada di dapur, menyiapkan hidangan sarapan untuk dia dan Samara di atas nampan. Ada roti lapis dengan isian daging, sup sarang burung wallet, dan susu segar lalu buah manga yang sudah dia kupas dan diiris dadu.
Natan membawa satu nampan besar di tangannya.
Saat dia naik, Tiana ada di depan pintu kamar. Tangannya sudah bersiap mengetuk pintu.
“Ibu Mertua.” Natan menahannya lebih dulu sebelum dia membangunkan Samara. Dia mempercepat langkahnya dan menahan Tiana di depan. “Ada perlu apa?”
“Kau masih bertanya ada perlu apa? Ini adalah hari pernikahan Julia. Bagaimana dia masih bisa tidur dengan nyenyak? Dia harus turun dan membantu persiapan pernikahan.”
Setelah selesai berkata, Tiana mencium aroma sedap dan harum. Begitu melihat isi nampan Natan, matanya melotot.
“Ibu Mertua, kemarin adalah malam pertama kami. Istriku masih tidur karena kelelahan. Apa kau juga tidak malu, melihat kasur kami yang berantakan? Dia hanya akan turun denganku.”
Tiana tidak sempat menjawab apa-apa. Rasa keterkejutannya membuat isi kepalanya kosong. Sampai Natan masuk dan menutup pintu, dia baru sadar lalu mengerjap.
Apa dia tidak salah melihat tadi? Itu adalah sup sarang burung wallet yang harganya seratus dolar dan ada dua mangkuk. Belum lagi roti lapis, irisan buah mangga yang setahunya manga adalah buah mahal di sini lengkap dengan susu.
Tiana menelan ludahnya. Dia hampir jantungan karena terkejut.
Bajingan kecil itu terlalu sombong untuk ukuran pria miskin. Dia benar-benar keterlaluan! Untuk sarapan saja mengeluarkan ratusan dolar. Mentang-mentang tidak menggunakan uangnya.
Wanita itu buru-buru turun dan pergi ke kamar menemui Jade. “Jade, lihat tikus brengsek itu, Jade! Kau tau, aku baru saja melihat dengan mata kepalaku sendiri jika dia membeli makanan mahal untuk sarapan menggunakan uang Samara. Kau harus melihatnya, Jade!”
***
__ADS_1