Suami Perkasaku

Suami Perkasaku
Hanya Dibodohi


__ADS_3

Barnes masih saja keras kepala dan tidak mau pergi dari sana. Asisten Grace tadi sudah berkata jika dia tidak mengenal pria yang dia maksud dan hanya Grace Lowry saja yang mengenalnya. Namun, Barnes akan tetap tinggal.


Dia sengaja tidak pulang demi menunggu Natan keluar dari sana. Tidak mungkin Natan tidak memiliki hubungan dengan Grace Lowry, sedangkan dia cukup lama berada di dalam. Jika hanya untuk ukuran orang yang bertugas sebagai pembersih ruangan atau pengangkut sampah, Natan tidak akan selama itu. Seolah-olah dia sedang mendiskusikan sesuatu di dalam.


Semakin lama, semakin gelisah. Natan tidak juga keluar dari sana bahkan setelah berlalu dua jam lamanya.


Di dalam, Natan memang sedang mendiskusikan pekerjaan dengan Grace. Tadinya dia ingin mampir ke kantor sebentar karena memiliki tujuannya sendiri, tapi ternyata masih banyak yang perlu dibahas dengan Grace.


Setelah semalaman tidak beristirahat dan sampai saat ini masih belum memiliki waktu, Natan sedikit menguap.


“Anda terlihat lelah sekali, Tuan.”


“Hem, ya. Aku belum tidur semalam.”


“Bagaimana jika saya membuatkan kopi untuk Anda.”


“Tidak perlu. Aku hanya akan menyelesaikan ini sesegera mungkin karena aku ada acara dengan istriku.”


Setelah menyelesaikan dan sampai di pembahasan terakhir, Natan menyudahi pembicaraan.


Waktunya sudah tidak akan cukup jika dia harus mencari taxi ke markas, dan belum lagi ke Residence Inn. Natan menghubungi Saga untuk menjemputnya di perusahaan. Mereka memiliki tempat parkir khusus yang terpisah dengan karyawan lain, dan lift yang langsung menghubungkan ke lantai utama.


Di luar, Saga tiba dengan membawa lima mobil, menyita banyak perhatian karena mereka berpikir Direktur datang ke perusahaan. Selama ini mereka tidak tahu siapa Direktur Utama mereka, dan Steffan Blade juga dikabarkan sudah tidak ambil bagian lagi.


Tentu saja mereka sangat penasaran ingin melihat siapa pemimpin mereka, tapi sayang sekali mereka dihentikan di luar.


Barnes juga menjadi salah satu dari mereka, tapi tidak bisa melihat dengan jelas karena terhalang oleh pengawal lain. Samar-samar dia seperti melihat kaos milik Natan tadi, tapi hanya seperti kilatan cahaya saja.


Tidak tahu bagaimana wajahnya karena dia memakai masker dan topi hitam. Hanya saja, kaos itu khas dengan milik Natan. Dia belum pikun sampai melupakan apa yang dipakai pria itu tadi.


Ketika mereka semua keluar, Barnes hanya bisa melongo.


“Berapa waktu yang kau butuhkan sampai ke Residence Inn?”


“Tiga puluh menit. Masih banyak waktu, Nat.”


“Bisa lebih cepat? Aku ingin istirahat sebentar.”


“Tiga puluh menit sudah memotong waktu setengahnya. Tapi jika kau mau lebih cepat tidak masalah.” Saga menekan earpiece-nya dan berkata pada mereka, “Buka jalan di depan dan tambah kecepatan.”


Di belakang, Natan sudah menyandar tenang dengan menutup mata. Bahkan saat mobil melaju lebih kencang, dia masih tenang-tenang saja.


Saat Saga melihatnya dari spion, Natan sudah tidur. Dia menghubungi pengawal terdepan, menyuruh melambat lagi.


Setelah sampai, Natan tidak bangun juga.


“Apa perlu saya bangunkan?”


“Tidak perlu. Berjaga saja di sini dan pastikan pendingin masih menyala.”


Mobil terparkir berjejer. Tidak ada satu pun dari mereka yang masuk, hanya berdiri di sisi mobil saja termasuk Saga. Pria itu berdiri menyandar di sisi pintu sambil merokok dan sesekali memperhatikan waktu.


Natan begitu tenang, sedangkan Samara sudah hampir tidak bisa bernapas dengan benar lagi.


Semua barang yang ditinggalkan Natan bukan barang biasa. Gaun itu ternyata benar dari Butik Moo, lalu perhiasan itu … mereka semuanya bertahtakan berlian. Samara tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Dia ingin menghubungi Natan, tapi ponselnya masih tidak aktif. Dia ingat jika Natan mengatakan dia kehabisan daya tadi, dan sekarang dia juga belum mengisinya.


Ini seperti tidak masuk akal, tapi waktu juga terus berjalan. Semua orang di grup ramai membicarakan ke mana mereka akan pergi. Mengikuti Luke dan Julia, atau Samara dengan suami miskinnya itu.


Natan sudah berpesan agar dia pergi ke Salon Carroline, tapi dia masih bimbang. Bagaimana jika Natan tidak juga kembali nanti? Tapi dilihat dari perlakuan Natan padanya, pria itu tidak mungkin menghilang begitu saja.


Meskipun begitu, tetap saja ini adalah keputusan yang sulit baginya melihat bagaimana kondisi Natan.


Pada akhirnya, dia pergi ke salon dengan sisa waktu yang minim membawa semua barang pemberian Natan tadi.


Sesekali dia mengecek ponselnya, melihat semua orang yang tidak sabar pergi ke pesta Julia dan Luke. Dalam hati Samara merasa lega, setidaknya tidak akan ada orang yang datang nanti. Biarkan saja mereka semua pergi bersama Luke, toh sejak awal dia juga tidak menginginkan pesta ini.


Namun, satu nama muncul di tengah pembicaraan mereka. Dia Barnes, menyebut namanya, dan mengatakan jika dia akan bergabung dalam pestanya.

__ADS_1


“Apa kau gila, Barnes?”


“Barnes, semoga lukamu tidak begitu menyakitkan nanti.”


“Jika kau mengalami patah tulang atau kritis, tenang saja kau akan mendapat pengobatan gratis dari rumah sakitku nanti. Aku akan memberi pelayanan yang terbaik, anggap saja kau uji coba kita semua.”


Semua orang mengatai Barnes, dan Samara juga sedikit terkejut dengan pria itu. Semua orang takut dengan pengawal LC, karena kabarnya, tidak ada yang selamat jika mereka mencoba melawan mereka.


Sekali lagi, Barnes menjawab semua itu dengan percaya diri. “Tidak ada orang yang menyerahkan harga dirinya habis-habisan hanya untuk bahan olok-olokan. Jika dia mengundang kita ke sana, aku pikir jika mereka memang mampu. Terserah kalian jika tidak mau ikut, aku tetap ke Residence Inn karena jika aku bisa masuk, ini akan menjadi pengalaman paling indah dalam hidupku dan kalian akan membawa penyesalan kalian sampai mati!”


Seketika grup menjadi senyap. Sepertinya mereka sedang menimbang ucapan Barnes, dan sekarang mereka ikut bimbang juga.


Samara diliputi kecemasan dan ketakutan. Pikirannya jadi kacau, sampai tidak sadar perias telah selesai melakukan pekerjaan mereka.


“Nona, Anda sangat cantik sekali! Kami sangat bangga bisa merias Anda.”


Saat itu Samara baru melihat wajahnya di cermin. Dia mengagumi wajahnya sendiri, tapi kekaguman itu datang bersamaan dengan pikiran buruk di kepalanya. Apa yang dia rasakan tidak bisa diekspresikan sama sekali. Dia justru terlihat datar dan biasa saja, seperti seorang wanita yang dipaksa kawin di film-film.


“Samara Morgan!”


Seseorang meneriaki namanya. Itu Saga, Samara tidak mengenal pria itu tapi Saga mengenalnya. Dia hanya pura-pura mencarinya saja agar terkesan baru pertemu pertama kali.


“Oh, kau Samara Morgan?”


“Ya, tapi aku tidak mengenalmu.”


“Aku Saga, teman Natan. Aku kemari untuk membawamu ke Residence Inn.”


“Di mana Natan? Aku tidak bisa menghubunginya.”


Saga ingin mengatakan jika suaminya itu masih tidur, dan membuat semua pengawal termasuk dia sendiri yang berdiri menungguinya berjam-jam. Sayang sekali Samara belum tahu siapa suaminya itu.


“Natan sudah ada di sana, dia menunggumu sekarang.”


“Kalau begitu aku akan menyelesaikan administrasiku sebentar.”


“Siapa yang melakukannya?”


“Seorang pemuda, dia berkata jika Istrinya yang bernama Samara Morgan akan kemari.”


“Kalau begitu tunggu apalagi? Ayo pergi, Sam!”


Saga mengantar dia ke mobilnya, lalu membukakan pintu belakang untuk Samara.


“Tidak apa-apa, aku bisa membukanya sendiri. Aku juga tidak enak jika duduk di belakang.”


“Kau tamuku hari ini, jadi biarkan aku yang melakukannya.”


Samara sedikit canggung dengan perlakuan Saga. Dia sudah seperti dilayani sampai mendapat sopir pribadi.


Keadaan lebih buruk dari yang diketahui siapa pun di sisi lain. Saat ini, Luke sedang marah besar sampai mengamuk tidak jelas.


“Sejak tadi kau terus marah, padahal sebentar lagi pesta kita akan berlangsung. Ada apa denganmu, Luke?” Julia jadi takut sendiri menghadapinya. Dia tidak tahu jika Luke, pria paling baik menurutnya ternyata seorang temperamental. Jika dia marah, dia membanting apa saja di sekitarnya.


“Aku kehilangan banyak dana, Julia! Kau tau, perusahaan Blade yang menjadi sponsor utama dalam acara penghargaan bulan depan telah menarik diri. Sekarang aku harus mencari dana besar dalam waktu singkat. Kau mana tau masalah itu? Yang kau tau hanya belanja, menghabiskan uang dan bersenang-senang.”


Luke sedang tidak stabil, menyalahkan segalanya pada Julia.


“Karena aku tidak tau aku bertanya padamu, Luke! Kenapa kau jadi menyalahkan aku? Lagipula, lagipula kau juga kaya raya. Kenapa bingung dengan masalah itu?”


“Sebaiknya tutup saja mulutmu, Julia! Kau tidak tau apa-apa selain memperdulikan dirimu sendiri. Jika perusahaan Blade menarik diri, pasti mereka juga ikut membatalkan kerja sama ini. Dan kau tau apa artinya? Ini adalah masalah besar! Perusahaan Blade tidak akan bekerja sama lagi baik di bidang apa pun dengan perusahaanku lagi.”


“Apa … apa itu juga berdampak pada pesta pernikahan kita?”


“Ya. Aku tidak bisa menyewa seluruh hotel Luna. Aku hanya akan menyewa lantai dasarnya saja.”


“Tapi Luke ….”


“Tapi apa?” Luke membentaknya lebih keras lagi. “Jangan hanya bisa merengek saja. Kau pikir menyewa seluruh hotel Luna itu seharga satu gaunmu, hah? Jika kau mampu membayarnya, bayar saja! Kau sudah beban bagiku, dan masih meminta pesta semewah ini. Asal kau tau, aku harus menghabiskan setengah tabunganku untuk menyewa hotel itu. Jika kau tidak bisa membantu, maka diamlah dan jangan banyak bicara!”

__ADS_1


Julia telah mengumumkan jika Luke hanya bisa menyewa di lantai dasar, dengan alasan kalau hotel sudah disewa orang lain. Meskipun begitu, masih banyak teman-teman mereka yang datang walaupun tidak semuanya.


“Julia, kau bilang jika hotel akan disewa orang lain, tapi aku tidak melihat ada tamu selain kita di sini.” Itu Agnes, dia yang menjadi otak dari pesta ini.


“Maksudku, orang yang menyewa itu akan mempergunakannya besok. Malam ini mereka melakukan persiapan untuk mereka, jadi tidak bisa disewa. Benarkan, Luke?”


“Hem.” Luke memasang wajah masam. Kabar Blade yang melepas diri belum banyak didengar orang, jadi tidak ada yang tahu masalah Luke saat ini.


“Di mana pacarmu, Agnes?”


“Ah, pria bodoh itu benar-benar pergi ke Residence Inn. Jika dia kembali babak belur, aku hanya tinggal menguburnya saja.”


“Dia jadi pergi ke sana?”


“Iya, dan kau tau, dia membawa setengah teman kita. Banyak lelaki yang ikut dengannya tadi.”


“Kita lihat saja, setelah ini mereka akan menelepon dan mengatakan jika mereka berada di rumah sakit.” Luke sangat percaya diri, dan menyuruh mereka masuk.


Di luar yang mereka pikirkan, tidak ada hal istimewa di ballroom sebesar ini. Tidak ada artis terkenal yang akan mengiringi pesta, tidak ada minuman mahal, dan tidak ada DJ popular.


“Luke, apa-apaan ini? Apa ini yang kau sebut pesta? Lihat, bahkan semua alkohol di sini adalah alkohol yang tidak akan kubeli di bar. Kau tidak punya seorang penyanyi, dan kalau tidak salah, itu DJ di bar kota, kan?”


“Kau tau, Luke? Ini pesta terburuk yang pernah kudatangi.”


“Jika ini yang kalian sebut pesta, lebih baik aku pulang dan minum jus jeruk.”


Semua orang marah karena rasa kecewa, melampiaskannya pada Luke dan Julia dengan saling bersahutan.


“Hei, jangan asal bicara! Di antara kalian semua juga tidak ada yang bisa menyewa seluruh hotel ini. Aku sedang dalam sedikit masalah, jadi nikmati saja apa yang ada di depan kalian dari pada kalian mati babak belur hanya untuk menginjak halaman Residence Inn.”


“Jika tau ini, lebih baik sewa bar, tidak perlu memaksakan diri.”


Masih ada yang tidak bisa menerima pesta Luke. Bahkan tidak ada yang bisa menerimanya. Hotel Luna hanya beroperasi jika seseorang menyewa dengan acara khusus saja, karena harga sewa saja sudah sangat mahal hingga orang tertentu yang mau merelakan rekening mereka tersedot habis.


Hanya saja, mereka tidak lagi mengatakannya di depan Luke. Diam-diam, mereka mencari tahu apa yang terjadi di Residence Inn dan bagaimana akhir mereka.


Agnes menelepon kekasihnya.


“Barnes, bagaimana keadaanmu? Apa tulangmu masih lengkap?”


“Astaga … aku tidak percaya ini. Sungguh ini luar biasa! Aku bisa masuk Residence Inn! Aku bisa masuk ke sini! Apa aku bermimpi? Ini, ini sangat menakjubkan! Aku bisa masuk Residence Inn ….!”


Barnes berteriak dari ponsel seperti orang gila. Semua orang di sekitar Agnes bisa mendengarnya. Mereka semua tercengang bukan main!


Selanjutnya, terdengar suara seseorang berkata, “Jika kau tidak mematikan ponselmu, kami akan menahanmu di luar. Di sini tidak diizinkan memotret, atau silakan kumpulkan ponsel kalian. Keamanan kalian akan dijamin seratus persen di sini. Tidak perlu khawatir.”


“Baik, baik. Ini, ambil ponselku! Aku tidak membutuhkannya, aku akan bersenang-senang sampai pagi dan tidak mau digangggu siapa pun!”


Agnes dan teman-teman lainnya ingin menangis mendengar teriakan bahagia Barnes. Saking bahagianya, Barnes seperti orang tidak waras.


Setelah sambungan terputus, mereka saling melempar pandang seolah tidak percaya.


“Apa itu sungguh Barnes?”


“Memang siapa lagi?”


“Masa bodoh dengan pesta ini! Aku akan pergi ke Residence Inn dan bergabung dengan mereka.” Dia berkata sambil memecahkan gelas di tangannya.


“Aku juga akan pergi. Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu di sini.”


“Aku juga.”


Mendadak, semua orang meletakkan gelas mereka dan berhambur keluar tanpa mengatakan apa-apa pada Luke atau Julia. Mereka bahkan tidak sabar sampai sedikit berlarian, seolah takut akan kehilangan sedetik saja kesenangan di sana.


“Luke, apa … apa benar mereka bisa masuk ke sana?”


“Mustahil!” Luke memecahkan gelasnya juga. “Aku tidak percaya jika pria gembel itu bisa masuk ke sana. Aku hanya akan percaya jika aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku yakin mereka hanya dibodohi.”


***

__ADS_1


__ADS_2