
“Tidak. Aku tidak mencemaskanmu. Aku, aku hanya tidak mau menjawab semua pertanyaan mereka nanti. Bagaimana aku menghadapi mereka sedangkan kau yang sudah memberi janji. Pokoknya kau tidak boleh kabur. Kau harus mempertanggung jawabkan apa yang kau ucapkan.”
“Aku akan melakukannya dan kau tidak perlu memikirkan apa pun. Sudah sarapan?”
Samara sangat kesal hingga dia tidak mau melihat Natan. Dia juga tidak memperhatikan apa yang dibawa Natan saat ini. Pandangannya ke sisi lain dengan tatapan ketus.
“Tunggu di sini ya, aku akan menyiapkan sarapan untukmu.”
Natan ini menjengkelkan, tapi sikapnya terlalu manis. Dan lagi, dia juga tidak mau Natan menyiapkan makan untuknya terus menerus seperti kemarin. Dia bukan wanita yang ingin dilayani suami sampai keterusan.
“Tunggu. Aku ... aku akan menyiapkannya. Kau tunggulah di sini. Aku akan keluar sebentar membeli beberapa makanan.”
“Apa yang mau kau beli? Aku sudah membeli ini. Tapi jika kau menginginkan sesuatu, aku akan keluar dan membelinya untukmu.”
Natan menunjukkan barang-barang yang dia bawa. Baru setelah itu Samara sadar, Natan membawa makanan dari restoran terkenal dan juga … apa matanya tidak salah lihat? Ada paper bag dari Butik Moo.
Tidak, dia pasti sedang berhalusinasi gara-gara kekesalannya pada Natan.
“Kau menginginkan makanan lain?”
Samara hanya menggeleng kikuk.
“Kalau begitu tunggu di sini saja, aku akan menatanya dan membawa kemari.”
“Aku … aku akan membantumu.”
“Oke. Makan di bawah saja kalau begitu.”
Samara masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Saat Natan meletakkan tas belanja itu di atas meja, matanya seolah tertarik pada apa yang ada di dalam paper bag itu. Namun, Natan menggandengnya keluar.
Setelah Natan naik tadi, semua orang jadi gelisah. Apa mata mereka sedang tidak menipu? Bagaimana Natan bisa membawa pulang semua barang dan makanan itu?
Tapi karena ada Luke, semua orang sedang menahan diri untuk tidak membicarakan Natan.
“Sarapan sudah siap, aku akan memanggil Ayah kalian. Pergilah ke meja makan lebih dulu.”
Setelah semua orang berkumpul, Natan dan Samara juga turun bergandeng tangan. Semua orang tidak bisa untuk tidak pura-pura melihat. Apa yang ada di tangan Natan, adalah hal yang sangat mustahil, tapi itu terjadi nyata di depan mereka.
Tidak ada yang menyapa Natan dan Samara, semua orang sedang mati-matian menolak pikiran mereka sendiri dan mencoba bersikap setenang mungkin.
Luke berpikir Samara akan bergabung di meja makan, tapi wanita itu berjalan menuju dapur dengan suaminya. Mereka juga membawa banyak makanan restoran.
Ada meja mini bar di dapur, Natan menarik kursi untuk Samara.
“Duduklah, aku akan mengambil peralatan makan kita.”
Tadinya Natan masih kenyang setelah sarapan dengan keluarga barunya, tapi dia tidak tega membiarkan Samara makan seorang diri sedangkan keluarga Morgan sedang makan bersama.
Ucapan Natan tadi terdengar oleh mereka. Suasana di meja makan jadi tegang dan sangat tidak nyaman.
Tiana mencoba mengalihkan perhatian mereka. “Ayo, kita sarapan sekarang. Jika menunggu terlalu lama, hidangannya akan dingin.”
Baru setelah itu mereka seolah sadar dan bergerak mengambil alat makan mereka.
“Julia, layani suamimu. Kau harus mengambilkannya makanan lezat di sini agar dia bisa mencicipinya.”
“Tentu, Bu.”
Julia dengan senang hati mengambil piring Luke dan mengisinya dengan hidangan sarapan. Karena sarapan mereka terlalu siang, jadi pelayan menyesuaikan menu dan menghidangkan menu makan siang.
Ada beberapa menu makanan laut, kerang dan juga udang. “Kau harus mencoba masakan udang ini. Ini sangat enak.”
“Ambilkan dia daging lobster juga, Julia. Luke memerlukan lebih banyak asupan yang bergizi.”
Samara mendengar semua itu, lalu dia melihat punggung Natan yang sibuk mengambil beberapa piring, gelas dan peralatan lain.
Seperti kemarin, Natan juga memberinya susu segar. Masih hangat saat gelas itu diberikan padanya.
“Apa itu?” Refleks Samara bertanya ketika melihat Natan mengeluarkan buah yang memiliki kulit merah.
“Mangga. Kau tidak tau karena aku sudah mengupasnya saat memberikan ini padamu kemarin.”
Wajah Samara berbinar bahagia. Setelah pertama kali mencoba buah mangga kemarin, dia langsung menyukainya dan merasa ingin memakannya lagi. Sekarang, Natan membawakan bauh itu lagi.
“Kau menunggu ini?” Natan senang melihat ekspresinya. Samara terlihat menggemaskan ketika wajahnya merona bahagia.
“Ya. Kemari, biar aku yang mengupasnya.”
“Duduk saja dan tunggu sebentar. Kali ini jangan makan terlalu banyak, oke? Kau sudah menghabiskan dua buah kemarin, dan sekarang aku hanya akan mengupas satu saja. Jika terlalu banyak, kau akan mengalami masalah pencernaan.”
__ADS_1
“Oke. Aku menunggunya.” Samara menyodorkan mangkuknya yang kosong, bersiap menerima potongan buah itu.
Di meja makan sana, Luke menelan ludah. Dia tahu mangga dengan kulit merah itu varietas miyazaki, dan harga satu buahnya memang mahal dibanding buah lain.
Bagaimana mereka bisa makan buah itu?
Sarapannya jadi tidak tenang. Bukan hanya dia, tapi semua orang di meja makan menjadi begitu penasaran sampai rasa penasaran itu menyiksa. Setiap suapan yang mereka telan seperti menelan biji buah kedondong.
Apa yang mereka makan?
Bagaimana mereka bisa makan makanan enak sejak kemarin?
“Mau sarapan apa sekarang? Aku membawa sup iga, steak daging sapi, ada pizza juga. Dan ini … oh, ini lobster roll.”
“Apa itu?”
“Hanya sandwich, tapi mereka mengganti isiannya dengan daging lobster. Mau mencobanya?”
“Boleh. Tapi kenapa membawa sebanyak ini? Kita tidak akan bisa menghabiskannya berdua.”
“Aku pulang terlambat dan kau jadi sarapan sesiang ini. Jadi aku berpikir membeli banyak menu. Jika terlalu banyak, pilih saja apa yang kau inginkan. Sisanya, kita bisa membaginya dengan pelayan di sini.”
“Aku ambil ini.”
“Kau juga harus minum susumu ini. Kalau begitu, aku akan memberikan pizza dan steak ini pada pelayan. Seharusnya aku membeli lebih banyak untuk mereka tadi.”
“Kau makan sup lagi?”
“Kemarin sup sarang burung wallet, sekarang sup iga. Dua menu itu berbeda. Ayo makan, kau pasti sudah lapar.”
Saat Natan mengatakan itu tadi, Julia langsung tersedak. Ternyata Ibunya berkata benar. Natan membeli sup sarang burung wallet.
“Berhati-hatilah jika makan.” Luke hanya memperingatkan dia saja, Tiana yang mengambil air untuk anaknya itu.
“Minumlah Julia, kau tidak perlu tergesa-gesa.”
Sekarang, makanan yang mereka telan terasa hambar. Menu makanan Natan dan Samara lebih enak dan mahal, membuat Jade tiba-tiba merasa tidak memiliki uang sama sekali.
Luke merasa makan sesuap sampah! Dia tidak berselera lagi.
Suasana pun jadi terasa panas dan sesak.
Tiana tidak bisa menerima jika mereka bisa makan enak. Lalu, dia menyinggung masalah pesta nanti malam karena Natan dan Samara pasti tidak akan mampu menggelar pesta sebesar Luke.
“Setelah pesta kemarin malam, kalian pasti sangat lelah dan masih memiliki satu pesta lagi nanti malam. Apalagi pesta nanti malam akan lebih besar dari kemarin. Kalian harus beristirahat dengan cukup nanti.”
Julia merasa sedikit bersemangat kali ini.
“Benar, Bu. Semua anak komunitas akan hadir dalam pesta kami nanti. Itu juga akan disiarkan di salah satu acara televisi di stasiun Luke.”
“Wah … kau sangat beruntung, Julia! Kau adalah pengantin wanita paling beruntung di kota ini.”
“Oh ya Luke, aku dengar, stasiun televisimu akan menggelar acara penghargaan dalam waktu dekat. Banyak sekali acara dan artis hebat di sana. Pasti acaranya akan sangat mewah.” Jade juga ikut mendukung arah obrolan Tiana. Dia tidak mau Samara dan Natan makan dengan tenang.
“Benar. Itu acara tahunan kami dan akan hadir dalam waktu dekat. Ya … seperti sebelum-sebelumnya, acara penghargaan itu akan menjadi acara penghargaan terbaik. Perusahaan Blade juga akan mendukung penuh dan menjadi sponsor utama kita.”
“Kau memang menantu terhebat, Luke. Aku merasa sangat bangga anakku menjadi anggota keluarga Langdon. Kau pemuda cerdas yang memiliki masa depan cerah. Seharusnya pemuda di kota ini bisa sepertimu. Kau pandai melihat peluang dan melebarkan bisnismu sampai ke titik ini. Memang waktu muda tidak akan kembali. Menghabiskan masa hanya untuk minum dan bersantai-santai, hanya akan mendapat kerugian besar di masa depan.”
Jelas ucapan Jade saat ini sedang menyinggung Natan. Padahal orang yang mereka bicarakan tidak peduli sama sekali.
Samara dan Natan sedang menikmati makan siang dengan bahagia.
Setelah selesai makan siang, Natan pamit pergi lagi. Samara kembali merasa was-was. Pria itu tidak mengatakan ke mana akan pergi, dia juga terlihat tergesa-gesa. Dia hanya berkata agar pergi ke Salon Carroline untuk merias diri dan memakai semua barang yang dia letakkan di meja tadi.
Natan pergi ke perusahaannya tanpa menghubungi Grace lebih dulu.
Sesampainya di sana, dia disambut oleh seorang pria yang masih samar-samar dia ingat.
“Nataniel, tidak menyangka bertemu denganmu di sini.”
Setelah itu Natan baru ingat jika pria yang menyapanya ini adalah pria yang menekan klakson keras saat dia dengan Samara pergi mencari makan malam. Dia kekasih Agnes, wanita yang menyiarkan pesta mengenainya sampai seperti ini.
Nama Nataniel sudah terkenal dalam komunitas mereka. Dalam sekejap, Natan seperti menjadi artis dadakan. Kemiskinannya, kebodohannya dan perilakunya sebagai pemabuk selalu menjadi topik segar yang tak pernah ada habisnya.
“Bagaimana kau bisa ada di sini? Mendapat panggilan sebagai pembersih toilet?”
Pria itu tertawa renyah. Mengolong-olok Natan seperti menjadi kepuasan tersendiri bagi mereka.
“Aku tidak ada urusan denganmu. Menyingkir dari jalanku.”
__ADS_1
“Wow, ternyata benar, kau begitu sombong. Kuperingatkan kau ya, perusahaan Blade ini tidak mau lantainya kotor karena pria tidak berguna sepertimu. Sebaiknya kau berputar arah dan masuk lewat pintu belakang. Itu lebih cocok denganmu. Semua orang sudah tau kau melarat sampai tidak punya tempat tinggal, jadi tidak perlu terlalu sombong atau tidak ada yang bersimpati padamu. Mengerti?”
Natan belum menjawab sepatah kata pun, tapi pria itu kembali melanjutkan, “Sebaiknya turunkan kegilaanmu. Cukup menekuk lututmu pada Samara saja, kalau perlu pijat kakinya juga agar dia mau membelikanmu satu pasang kemeja lagi. Dia adalah desainer perhiasan yang handal. Di masa depan, kau tidak perlu bersusah-susah mencari pekerjaan. Kau memang memilih wanita yang sangat tepat.”
Pria itu tertawa merendahkannya.
“Sudah cukup bicara? Sekarang menyingkirlah.”
Natan melewati dia dengan semua pesonanya yang terlihat angkuh tapi justru semakin menarik.
Pria di belakangnya itu begitu kesal. Rasanya dia ingin mencekik Natan yang sombongnya sudah seperti memiliki kekayaan berlimpah melebihinya saja.
Natan naik ke lantai atas, dan pergi ke ruang Grace. Beberapa orang memandanginya, tapi tidak ada yang menghentikan Natan karena mereka pernah melihat Natan datang beberapa kali dengan menggunakan pakaian biasa saja. Sedangkan Grace, dia menerima Natan dengan baik. Jadi, tidak ada yang menanyainya atau menghentikannya sama sekali.
Grace Lowry adalah wanita berbakat, cerdas dan tegas. Dia salah satu kebanggaan keluarga Blade setelah melihat kinerjanya.
Wanita muda itu terkejut dan langsung berdiri begitu melihat Natan masuk ruangan kerjanya. “Direktur?” Grace membungkuk. “Saya minta maaf tidak mendengar kabar kedatangan Anda.”
“Aku memang ke sini karena ada hal mendadak. Sebelumnya, aku ingin melihat kamera pengawas di lantai dasar hari ini.”
“Apa ada masalah, Tuan?”
Grace Lowry sudah mendengar kabar Natan yang menjadi keluarga Blade. Sikapnya pada Natan semakin baik lagi hari ini.
“Ya.”
Grace bergerak cepat, meminta bagian keamanan mengirim itu padanya.
Setelah Natan memutarnya, dia menghentikan rekaman itu dan memperbesar wajah pria yang menghadang jalannya tadi. “Siapa pria ini? Apa dia memiliki urusan dengan perusahaan?”
“Oh, dia Barnes Brown. Proyek Green Airport Anda, mereka mengajukan diri. Saya sudah melihat proposal mereka kemarin, dan mereka cukup kompeten. Saya mengundangnya kemari untuk melakukan tanda tangan kesepakatan.”
“Batalkan.”
“Batal?” Grace sedikit tidak percaya. “Maaf Tuan, tapi proyek pembangunan bandara kali ini, saya rasa perusahaan mereka yang mampu melakukannya. Selain itu, perusahaan mereka juga sudah terbukti kualitasnya.”
“Aku akan memilih perusahaan proyek mana yang akan mendapatkan proyek kita. Tidak perlu mencari tender lagi.” Dalam kepalanya, dia sudah memutuskan ke mana dia akan mendapatkan perusahaan proyek itu. Lalu, dia bertanya lagi, “Apa ada kerja sama lain dengan mereka?”
“Ada beberapa, Tuan.”
“Putus semua. Baik itu yang masih terencana, atau sudah berlangsung. Aku tidak mau berhubungan dengan perusahaan mereka.”
“Baik. Segera saya laksanakan.”
Grace memang tidak diragukan lagi. Saat Barnes masih berada di ruang tunggu, Ayahnya menelepon.
“Iya, Ayah. Aku sedang berada di perusahaan Blade saat ini. Kau tidak perlu khawatir, aku pasti bisa mendapatkan kontrak kerja sama dengan mereka.”
“Kembali, Bodoh! Katakan padaku, siapa yang sudah kau singgung, hah?”
“Apa maksudmu, Yah? Aku tidak menyinggung siapa pun.”
“Jangan bohong! Perusahaan Blade baru saja telah membatalkan kerja sama dengan kita. Semua kerja sama yang sudah terjadi dan yang baru kita rencakan, batal! Kau tau itu, hah? Dan semua ini gara-gara kau yang tidak bisa menjaga sikapmu. Cepat pulang agar aku bisa menghajarmu!”
Barnes masih tidak percaya. Dia pergi ke Asisten Grace dan menanyakan kebenarananya.
“Benar, Pak. Pertemuan Anda telah dibatalkan oleh Nona Lowry. Tidak ada kerja sama dengan perusahaan keluarga Anda mulai sekarang. Saya baru saja mendapatkan konfirmasi tersebut.”
“Tidak, ini pasti tidak benar. Izinkan aku bicara dengan Nona Lowry.”
“Maaf, Nona Lowry sedang ada pertemuan dengan orang penting dan tidak bisa diganggu.”
Barnes tidak menyangka, kerja sama dengan mereka sudah ada di depan mata, tapi sekarang hancur semuanya.
Siapa yang dia singgung?
Dia merasa tidak bicara dengan siapa pun sejak dia datang ke sini tadi. Sebelumnya semua baik-baik saja, tapi mendadak hancur seketika.
Kecuali … ya, Natan. Dia hanya bicara dengan Natan saja tadi.
Apa benar itu gara-gara pria sampah tadi? Siapa dia sebenarnya?
“Tunggu. Ada hal yang ingin kutanyakan padamu. Apa ada seorang pria yang memakai kaos biasa dengan celana jeans masuk ke dalam ruangan Nona Lowry hari ini?”
“Ya, benar. Dia sudah beberapa kali datang kemari.”
“Siapa dia? Apa kau mengenalnya? Apa Nona Lowry mengenal dia?”
***
__ADS_1