Suami Perkasaku

Suami Perkasaku
Bukan Pria Brengsek


__ADS_3

Setelah Samara keluar dari rumah kontrakan, Natan tidak mau tahu lagi mengenainya. Baginya, itu adalah sebuah kecelakaan yang akan berlalu dengan cepat.


Dia sudah memutuskan untuk pergi ke Saint City, bersama Saga, dan juga para anggota Lagion Commander lainnya.


Sebelum hari ini, Natan telah merencanakan apa yang akan dia lakukan nanti. Selama ini tujuan hidupnya hanya satu, melenyapkan keluarga White. Apa yang dia rencanakan, Saga yang merealisasikannya.


Seluruh keluarga White secara tidak langsung tengah memenuhi undangannya untuk pergi ke vila keluarga di perbukitan.


Begitu tiba di Saint City, dia dengan yang lainnya langsung pergi ke vila itu. Hari sudah gelap saat mereka tiba, tapi pesta perusahaan White baru saja mencapai intinya.


Di atas panggung sana, Dominic White sedang memberikan pidato. Ditengah-tengah ucapannya, suara tepuk tangan tiba-tiba mengisi kekosongan.


Secara refleks, tentu mereka menoleh ke sumber suara. Seorang pria berdiri di tengah-tengah mereka, bertepuk tangan begitu keras dengan mengangkat kedua tangannya. Lalu, semua orang juga ikut bertepuk tangan karenanya.


Sadam, pria yang berdiri di sisi Dominic―Ayah tirinya, memicing dengan penuh kemarahan. Setelah pertemuan mereka yang terakhir, Sadam kembali lagi ke Crystal Hill mencari keberadaan pria itu. Ya, dia Natan. Sempat dia berpikir jika tubuh Natan telah membusuk karena luka-luka yang dia berikan, tapi ternyata pria itu berdiri di tengah-tengah tamu undangan dengan keadaan utuh.


Nataniel White telah kembali!


Karena acara perusahaan, banyak dari mereka yang mengenal Natan sebagai Direktur mereka dulu. Tapi, tidak ada yang tahu apa yang sudah terjadi di balik status itu.


Kemunculan Nataniel White, membuat semua keluarga White tercengang. Bahkan Dom yang saat ini sedang memberi pidato pun, mendadak seperti orang cengo yang tidak tahu apa-apa.


Dom menyelesaikan pidatonya lebih cepat. Begitu dia turun, pesta atas peluncuran produk baru perusahaan menjadi memuakkan.


Kemunculan Natan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya merubah suasana menjadi sesak.


Namun, keadaan berbalik pada Natan. Banyak dari karyawannya dulu yang masih menerimanya dengan baik. Memberi sambutan kembalinya dia, dan beramai-ramai menanyakan kabarnya.


Dibanding dengan acara pesta peluncuran produk baru, ini lebih tepat jika disebut pesta untuk menyambut kedatangan Natan.


Pesta berakhir begitu cepat setelah Austin White dikabarkan mengalami serangan jantung. Sialnya, sampai tamu undangan habis juga tidak ada satu ambulan pun yang datang.


Dalam kamar utama itu, suara langkah sepatu Natan menggema.


Austin White, Dominic White, Sadam White, Kevin White, Natan tidak akan pernah melupakan wajah mereka sampai mati!


Lalu seorang wanita yang berdiri di sisi Dom, dia begitu ketakutan begitu Natan mendekat. Rasa takut yang dia rasakan seperti sedang mencekiknya perlahan. Dia Lydia. Istri Daminic yang tertulis sebagai Ibu Tirinya.


“Natan, aku … aku tidak menyangka kau akan hadir malam ini.” Lydia mendekatinya dengan kaki gemetar. Bukan dia tidak tahu apa-apa, tapi dia yang tidak mau tahu meskipun apa yang dilakukan Dominic pada Natan jelas di kedua pelupuk matanya.


Sadar jika Natan kembali dengan aura berbeda, Lydia tidak mau ambil bagian. Natan pasti bisa memaafkannya.


Namun, Natan tidak lagi memiliki pengampunan.


“Enyahlah, Lydia!” bentaknya dingin dan datar.


Tangan Lydia yang hampir meraih lengan Natan tertahan di udara. Lydia tidak memiliki keberanian lagi untuk lebih dekat. Entah kenapa, dia merasa Natan memiliki aura kuat.


“Natan!” bentak Dominic. “Hentikan sandiwaramu dan kau yang seharusnya keluar dari sini! Kau sudah lama mati, dan jangan mencoba mencari perkara di sini. Minggir dan biarkan aku membawa Ayah ke rumah sakit.”


Austin yang terbaring di atas kasur terlihat begitu kesakitan. Pria tua itu mencekram dadanya, menatap Natan seolah ada banyak hal yang ingin dia katakan.


“Mau kuhajar lagi, hah?” Sadam menyeringai, lalu menelepon pengawal dari ponselnya.

__ADS_1


“Mencari mereka?”


Saga masuk dengan menyeret seorang pria berpakaian pengawal yang sudah babak belur. Wajahnya yang berlumuran darah, dilempar sampai menggelinding di bawah kaki Sadam. Lalu anggota Legion commander lain juga masuk melempar beberapa pengawal Sadam.


“Kau mau bermain-main denganku, Brengsek? Baiklah, aku juga tidak keberatan mematahkan tanganmu juga.”


Sadam menerjang maju, tapi gerakan Natan jauh lebih cepat darinya. Cengkraman Natan seperti sebuah rantai besi, meremat pergelangan tangan Sadam begitu kuat sampai bunyi gemelutuk tulang terdengar renyah.


“Aagghh …!” Sadam menjerit kesakitan.


Pergelangan tangannya sudah remuk. Natan mengibaskannya kasar dengan tenang seperti tidak melakukan apa-apa.


“Aku akan mengurusmu nanti, jadi menyingkirlah karena aku ingin menyapa Kakekku.”


Dominic, Lydia dan Sadam diseret keluar dari sana.


Di sisi Austin, Natan menarik kursi, duduk dengan tenang sambil memandangi pria tua itu yang sedang sekarat.


“Bagaimana kabarmu, Kakek? Aku rasa, ini adalah pembicaraan terakhir kita. Apa kau tidak mau mengucap selamat datang padaku?"


“Kau … kenapa kau kembali?”


Nada bicara Austin sudah bergetar, nyaris tak terdengar. Susah payah dia mengeluarkan kata-kata itu, menahan sakit di dadanya yang semakin mencekik.


“Tentu saja untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”


Natan mengeluarkan rokoknya, menyalakan itu dengan memandangi Austin yang menjerit tanpa suara.


“Sakit, Kakek?”


“Bukankah ini yang kau inginkan?” Natan menghisap rokoknya, menghembuskannya dengan tenang.


“Aku ingat kau pernah berkata padaku, jika aku harus memperjuangkan hakku dengan darahku. Bukankah aku sudah melakukan semua yang kau inginkan? Kau begitu menikmati saat di mana mereka menyiksaku, kan? Sekarang, biarkan aku mengantarmu sampai kau meregang nyawa.”


Austin yang begitu membanggakan perusahaannya sampai rela melihat anak cucunya saling menghabisi. Bahkan dia sempat mengatakan jika itu harga yang pantas untuk mendapatkan hak kuasa perusahaan White. Padahal, kejayaan keluarga White telah mendapat banyak dukungan dari kekayaan Ibunya Natan.


Namun, mereka seolah pura-pura lupa dengan itu. Pewaris utama hanya akan ditentukan oleh siapa yang mampu memilikinya. Sekarang, pria itu telah mewujudkan keinginannya sendiri. Sampai dia menghembuskan napas terakhir, Natan tidak memberi simpati sedikit pun.


Begitu Austin menutup matanya, Natan bangkit, membuang putung rokoknya dan menginjaknya di lantai.


Tatapan matanya sedingin es ketika memandangi wajah Austin terakhir kalinya.


Di luar sana, Sadam, Kevin dan Ayah tirinya masih terus memberontak. Hasilnya, mereka yang babak belur oleh pengawal Natan.


Saat Natan keluar, mereka sudah terkapar di lantai. Dia berjalan mendekati Dominic, menggulingkan tubuh Ayah Tirinya itu dengan kaki lalu menginjak dadanya.


“Harusnya kupotong semua bagian tubuhmu. Apa yang sudah kau lakukan pada Ibuku, aku akan membalasnya hari ini.”


Dominic mengalami luka yang cukup parah. Dia tidak bisa menggerakkan kakinya sama sekali. Wajahnya berlumur darah, sampai tidak sanggup melawan Natan sedikit pun.


Namun, Sadam masih mampu berdiri.


Dia yang tadinya terbujur, tiba-tiba bangkit dengan menyahut kursi kayu di sisinya.

__ADS_1


Kursi itu dilayangkan ke punggung Natan, tapi tertahan di udara. Tangan pria itu sudah sigap lebih dulu sebelum kursi menghantam punggungnya.


“Kau belum puas juga rupanya.”


Kursi kayu yang melayang tadi direbut Natan, dihantamkan balik olehnya.


Meskipun Sadam sudah melindungi kepalanya, tapi pukulan dari Natan begitu kuat.


Darah mengalir dari kepalanya.


Tidak sampai di sana, Natan kembali mengayukan balok kursi tadi ke tubuh Sadam terus berulang-ulang.


Karena pukulan bertubi-tubi itu, Sadam muntah darah. Dadanya begitu sakit. Dia tidak mampu lagi berdiri.


Natan menghela napas puas.


“Sudah tau bagaimana rasanya?” Dia tersenyum miring. “Ini masih tentang balok kayu yang kau gunakan untuk memukuli tubuhku. Aku ingin mencambuk tubuhmu juga, tapi aku tidak mau kau mati dengan cepat. Seperti ucapanmu, aku akan membuatmu tersiksa sampai mati.”


Saga memberikannya satu tangki bensin padanya.


Bensin itu disiram ke tubuh mereka, lalu mengambil pematik api dalam saku jasnya.


Di pojokan, Lydia menangis ketakutan. Dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana hancurnya keluarga ini.


Natan menahan pematiknya. Meskipun Lydia tidak mau angkat bicara ketika mereka semua menyiksanya habis-habisan, tapi pengadilan seperti ini juga terlalu berat untuknya.


“Kirim dia kembali. Dia sudah mendapatkan hukumannya.”


Seseorang membantunya berdiri, mengirimnya kembali ke kediaman White dengan kondisi depresi berat.


Setelah Lydia keluar, pematik api itu kembali dinyalakan Natan, lalu dilempar ke tubuh mereka.


Kepulan api langsung berkobar dengan cepat.


Natan tidak mau tahu lagi apa selanjutnya. Semua orang telah pergi dari sana sebelum reporter menayangkan secara langsung bahwa keluarga White telah mengakhiri masa kejayaannya. Semua pewaris keluarga White telah meninggal akibat vila mereka yang terbakar habis.


Tidak ada yang tau, dalam kebakaran itu, seseorang merangkak keluar. Beberapa bagian tubuhnya menyala api, lalu pria itu menceburkan dirinya ke dalam danau di belakang vila.


Natan dan Saga memandangi vila yang berkobar itu dari kejauhan. Tampak mobil pemadam yang datang, tapi semuanya sudah terlambat. Jika masih tersisa pun, itu hanya tulang mereka.


“Nat.”


“Hm.”


“Kau menjadi primadona saat ini. Lihat, keluarga Morgan ramai-ramai mencarimu.”


Saga memperlihatkan ponselnya. Dalam ponsel itu ada laporan dari anak buahnya yang mengatakan jika keluarga Morgan datang ke rumah kontrakan semalam yang pernah dia sewa. Anak buahnya itu juga berkata jika mereka terus mencari keberadaan Natan di sekitar sana.


Natan hanya menghela napas jengah.


“Jadi, kapan kita akan kembali? Sepertinya kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu.”


“Aku masih memiliki sedikit urusan. Aku juga tau, aku bukan pria brengsek. Siapkan saja akta nikahnya begitu kita tiba besok.”

__ADS_1


***


__ADS_2