
Saga pergi setelahnya tanpa berbalik lagi. Ucapan Natan tadi langsung dia teruskan pada kepala pengawal.
Di luar, beberapa mobil berdatangan dengan beriringan. Termasuk mobil Luke dan Julia juga. Semua orang penasaran apakah mereka tidak salah mendengar atau Barnes telah menipu mereka.
Di depan halaman, semua mobil teman mereka sudah terparkir. Itu tandanya mereka memang benar-benar ada di dalam.
Buru-buru mereka keluar dan meminta izin masuk.
“Pak, kami adalah bagian tamu undangan yang sedikit terlambat. Bisakah kami masuk?”
“Maaf, kami mendapat informasi jika tidak menerima tamu undangan lagi. Kalian bisa pergi dari sini.”
“Tapi, tapi kami juga mendapat undangan dari mereka, Pak.”
“Nona, jika Anda bersikeras, maka saya akan mengambil tindakan.”
Di belakang mereka, Luke tertawa puas. “Sudah kubilang, kalian hanya dibodohi. Tidak mungkin pria gelandangan itu bisa melakukan pesta di dalam. Jika dia bisa melakukannya, kalian pasti bisa masuk. Asal kalian tahu, untuk masuk saja setidaknya kalian membutuhkan tujuh puluh ribu dolar perkepala. Itu hanya tiket untuk masuk. Dengan uang itu setidaknya dia bisa menyewa apartemen di kota ini, tapi malah tinggal di kontrakan kumuh. Yang benar saja! Kalian mudahnya tertipu.”
Masih belum puas, Agnes bertanya lagi, “Apa … apa benar ada pesta pernikahan atas nama Nataniel dan Samara di dalam?”
“Ya, benar. Saat ini sedang berlangsung. Semua resort telah disewa penuh.”
Saat itu juga sebuah pesta kembang api dimulai. Mereka semua meledak di langit, lalu mengeluarkan cahaya indah yang terjadi terus menerus dan bersahutan.
Semua orang yang tidak bisa masuk menangis, merengek bersama. Rasa penyesalan ini akan mereka bawa sampai mati!
Mereka sudah mencoba menghubungi yang mereka kenal, tapi tidak ada satu pun yang mengangkat telepon.
Agnes pergi ke Julia dan mengamuk pada wanita itu. “Ini semua gara-gara kau, Julia! Kalau saja kalian setuju pesta diadakan di sini, saat ini aku pasti sudah bisa masuk ke dalam sana. Sekarang lihat, kita semua terlambat gara-gara hadir dalam pesta sampahmu itu. Kau tau, aku menyesal mengikutimu sekarang. Kenapa kau tidak katakan saja jika kalian sudah bangkrut, hah? Dengan begitu kami bisa mengikuti Samara.”
“Siapa yang mengatakan Luke bangkrut? Kami tidak kekurangan uang. Hanya sedikit masalah bukan berarti kami jatuh miskin!”
“Kalian masih saja percaya jika gembel itu bisa membayar semua ini. Aku akan buktikan jika dia tidak mampu membayar tagihannya nanti.”
Luke masih tidak terima. Dia pergi ke kepala pengawal untuk memastikannya. “Apa yang menyewa resort ini bernama Nataniel?”
“Ya, benar. Tuan Nataniel Blade memiliki hak kuasa untuk memakai resort.”
Luke tertawa hambar. “Dia bukan Nataniel Blade, dia Nataniel White. Kalian telah dibohongi olehnya. Asal kalian tau, dia adalah seorang pemabuk yang tinggal di jalanan. Aku akan melaporkannya pada Tuan Steffan Blade soal ini. Aku pastikan dia akan mendapat pelajarannya.”
Nataniel Blade? Luke masih tertawa mendengar nama Natan. Meskipun dia tidak mengenal baik keluarga Blade, tapi dia tahu Steffan Blade adalah satu-satunya pewaris keluarga Blade. Orang seperti Natan hanya bisa menipu untuk mendapatkan keuntungan.
Memikirkan Natan yang bisa menggunakan tempat itu, Luke tanpa sadar meninggalkan Julia di belakang. Dia tidak berhenti sekalipun Julia meneriaki namanya.
Agnes tertawa mengoloknya. “Lihat suami kaya rayamu itu. Bahkan hotel Luna saja tidak bisa dia sewa. Percuma saja aku meletakkan obat perangsang ke dalam minuman Samara jika kau tidak berguna untukku. Setelah ini aku tidak mau berteman denganmu. Lebih baik aku dengan dengan Samara. Siapa tau suaminya itu adalah orang kaya raya yang hanya menyamar jadi pria miskin. Jika tidak, tidak mungkin dia bisa menyewa semua tempat ini.”
“Jangan bicara omong kosong, Agnes! Diam dan antar aku pulang.”
“Cih! Memang siapa yang mau memberimu tumpangan? Kenapa tidak memanggil suami tercintamu itu saja? Dia tidak mencintaimu, ya? Kasihan sekali.”
__ADS_1
Agnes tersenyum miring, lalu meninggalkannya juga. Semua orang meninggalkan Julia dengan lirikan sarkasme.
“Hei, kalian tidak bisa meninggalkanku! Hei!”
Tidak ada yang peduli. Semua orang pergi satu persatu dan hanya tinggal dirinya saja. Tidak akan ada taxi yang mau sampai ke sana, Julia terpaksa menelepon Ayahnya.
Jade tiba dengan cepat begitu Julia meminta untuk menjemputnya dengan menangis tersedu-sedu.
“Kenapa kau bisa sampai di sini? Bukankah seharusnya kau sedang berpesta di Hotel Luna?”
“Ayah, lihatlah apa yang sudah dilakukan Samara padaku. Dia memanfaatkan aku dan Luke agar bisa membuat pesta di Residence Inn, tapi saat kami akan masuk, mereka menyuruh pengawal untuk menahan kita. Samara sudah keterlaluan, Ayah! Pestaku hancur karenanya, dan semua teman-temanku menyalahkanku. Kau harus membeli pelajaran pada mereka, Yah!”
“Samara melakukan ini pada kalian? Dasar anak kurang ajar! Dia pasti sudah dimanfaatkan oleh suami gembelnya itu. Tenang Julia, aku tidak akan membiarkan mereka memanfaatkan kita sedikit pun. Besok, aku akan mempermalukan mereka untuk membalas apa yang sudah mereka lakukan pada kalian. Kau jangan menangis lagi, aku tidak akan membiarkan mereka bersenang-senang atas penderitaanmu.”
Jade sangat menyayangi Julia. Dia tidak akan membiarkan anak kesayangannya itu terkena masalah sedikit pun.
Di dalam Residence Inn ….
Setelah Samara membuat Natan telanjang dada, wajahnya jadi merona. Dia baru sadar jika sudah mengrayai tubuh suaminya itu dan sekarang dia yang membuat malu dirinya sendiri.
Samara berbalik dengan cepat. “Apa yang kau lakukan? Cepat pakai bajumu!”
“Tidak mau. Aku sudah memakainya sangat rapi sebelum kau merusak semuanya. Sekarang kau harus bertanggung jawab dan memakaikannya lagi padaku.”
“Tidak, aku tidak mau. Kau bisa menggunakan baju dengan tanganmu sendiri, Natan!”
Natan berjalan keluar dengan santai.
“Kau ini apa-apaan, sih? Kau mau memamerkan tubuhmu, hah?”
Dengan kesal Samara menarik lengan suaminya dan membawanya masuk lagi. Dipungutnya semua baju Natan yang sudah dia lempar tadi dan memakaikannya lagi pada Natan.
“Kau bilang sudah memakainya dengan rapi. Apa kau tidak sadar, kau keluar dengan baju berantakan tadi.”
“Kalau begitu memang sebaiknya kau yang membantuku. Lain kali aku akan datang padamu sebelum memakai pakaian seperti ini.”
Natan menikmati saat wajah Samara menyentuh pipinya. Hampir beberapa kali bibir mereka bertabrakan, tapi Samara masih malu dan menghindar. Rasanya dia tidak tahan lagi setiap kali bibirnya hampir menyentuh leher Samara. Dia begitu harum, seperti memikatnya untuk menciumi setiap bagian tubuhnya.
“Tunggu. Ada sesuatu yang kurang.” Natan melingkari kepala Samara, lalu melepas ikatan rambut itu dan menggerai rambut Samara.
“Lain kali, jangan menguncir rambutmu. Lebih baik seperti ini,” katanya dengan menata rambut Samara. Padahal dia yang tergoda dengan lehernya. Jika tidak segera ditutup, bisa-bisa dia nekat membanting tubuh Samara ke atas ranjang dan memperkosanya saat ini juga. Memang siapa yang akan menyalahkannya? Dia sudah sah mendapat haknya.
Setelah mereka keluar, semua orang memberi selamat. Padahal dalam hati, tidak peduli bagaimana cara Natan mendapatkan pesta seperti ini, yang terpenting mereka bisa masuk Residence Inn sekali seumur hidup.
Namun, Natan lebih tenang jika tidak ada yang mempertanyakannya. Ada juga Barnes yang tiba-tiba begitu baik padanya. Baginya, melihat Samara senang saja dia merasa tujuannya tercapai.
Samara mengajaknya menepi setelah bergabung dengan mereka. Dia mengeluarkan ponselnya lalu masuk ke grup untuk keluar.
“Setelah ini, tidak perlu memperdulikan mereka lagi.”
__ADS_1
“Kau yakin kehilangan temanmu?”
“Mereka bukan temanku, Natan. Tidak perlu mengikuti gaya mereka yang takkan pernah ada habisnya. Aku hanya memiliki beberapa teman baik saja di antara mereka, sisanya aku tidak peduli.”
“Oke, itu hakmu. Mau makan? Aku lapar sekali.”
“Ada banyak makanan di sana. Mau kuambilkan apa?”
“Tidak di sini. Akan lebih menyenangkan di atas. Biarkan saja mereka berpesta sampai sepuasnya. Di sini terlalu ramai, aku tidak suka.” Natan menariknya pergi.
“Mau ke mana?”
“Puncak. Kau tidak keberatan jika berjalan? Tidak jauh.”
“Bukankah itu … maksudmu, Golden Hour?”
“Ya. Kau bisa melihat bunga sakura mekar di sana.”
“Tapi, tapi itu, kan―”
“Sudah, ikut saja.”
Jamuan makan malam sudah disiapkan oleh koki di sana. Natan memang sudah berjanji akan membawa Samara melihat pemandangan dari puncak.
Tepat di sana, semua pelayan berdiri di sisi meja. Mereka membungkuk menyambut kedatangan Natan dan Istrinya.
Samara tidak terpaku pada meja utama, melainkan pemandangan yang terlihat dari puncak. Dia seperti berada di atas awan dengan pemandangan langit cerah.
“Kau menyukainya?”
“Tentu saja. Aku bahkan membayangkan siapa pemilik resort ini. Dia pasti bisa tinggal di sini sepanjang hari dan menikmati pemandangan seperti ini setiap saat.”
Natan hanya tersenyum tipis.
Meja makan sudah ditata dengan romantis. Tiga lilin yang menjadi hiasan, dan lampu natal yang membuat suasana semakin hangat.
Berbagai menu makan malam dikeluarkan satu persatu sampai memenuhi meja. Samara tidak tahu harus mengambil yang mana, rasanya dia ingin mencoba semua itu sedikit-sedikit.
“Kenapa, kau tidak cocok dengan menunya?”
“Tidak, aku bingung mana yang harus kumakan. Semua ini … ini hidangan mewah, Natan.”
“Kau bisa memilih mana yang lebih dulu ingin kau coba. Masih ada waktu untuk mencoba lainnya. Ada sarapan besok, makan siang, makan malam lagi, dan … jika kau mau masih ada sarapan kedua atau bahkan ketiga.”
“Natan, semua ini … bagaimana kau bisa melakukannya? Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Sekarang aku akan menunggu sampai kau menjelaskan sesuatu padaku.”
***
Novel ini akan berhenti update dn akan segera saya hapus, karena saat ini lanjut di aplikasi Fiz .... o sampai tamat dengan nama pena dan judul yang sama dn sudah banyak bab. Cerita lain dr saya bisa kalian baca di sini dengan judul Suami Jahatku yg akan terus update di sini, ya. Terima kasih ....
__ADS_1