Suami Perkasaku

Suami Perkasaku
Pemberian Suka Rela


__ADS_3

“Makanan mahal seperti apa yang kau maksud untuk orang seukuran dia? Paling-paling hanya roti lapis dengan isi telur.”


“Kau salah! Dia bukan hanya membawa roti lapis, tapi roti lapis isi daging. Dan kau tau apa yang dia beli lagi, dia membeli dua porsi sup sarang burung wallet, dan buah mangga. Kau tau, kan, buah mangga mahal di sini dan sup sarang burung itu sudah mencapai seratus dolar satu porsinya. Bukankah dia benar-benar keterlaluan?”


“Tiana, pergilah ke kamar mandi dan cuci mukamu. Aku rasa kau masih mengigau. Sup sarang burung?” Jade tertawa konyol. “Bisa-bisa saja kau ini.”


“Tapi aku melihatnya sendiri! Kenapa kau tidak percaya padaku?”


“Ibu, Ayah, kenapa kalian berdebat? Apa di hari pernikahanku kalian akan bertengkar?”


“Julia, aku berkata jika tikus brengsek itu membawa sarapan sup sarang burung wallet, buang mangga dan susu segar ke kamarnya. Tapi Ayahmu ini tidak percaya padaku.”


“Mungkin Ayah benar. Tidak mungkin mereka mau menghabiskan ratusan dolar untuk sekali makan. Kau salah melihat, Bu.”


“Aku berkata yang sebenarnya tapi kalian tidak percaya.”


Dalam hati Julia terpengaruh dengan ucapan Ibunya. Namun dia menyangkalnya sendiri dengan cepat. Tidak mungkin pria sampah seperti Natan membeli dua porsi sup mahal itu. Jika benar, dia pasti sudah menghabiskan sisa tabungannya.


Setelah ini, dia akan menjadi istri Luke dan semua hal akan bisa dia dapat dengan mudah. Apa pun yang Samara beli nanti, tidak akan lebih mahal dari apa yang dia punya. Mungkin juga Samara mempertaruhkan uangnya demi pria itu agar dia tidak terlihat terlalu menyedihkan.


Mereka yang sibuk memikirkan sarapan Samara dan Natan, tapi Natan tidak memikirkan mereka sama sekali.


Samara ada di kamar mandi saat dia masuk. Natan menyiapkannya di meja balkon. Akan lebih enak jika makan di luar dengan udara bebas.


Tadi Samara berpikir jika Natan tidak ada di rumah, dia masuk ke kamar mandi tanpa membawa baju ganti. Dia akan mandi dengan cepat, lalu keluar sebelum pria itu tiba.


Tapi saat dia keluar dengan handuk saja, Natan sudah ada di depan matanya. Samara terjingkat dan refleks menutupi dadanya lalu pahanya. Tidak tahu mana yang harus dia tutup, dadanya terlihat, pahanya juga. Handuk itu hanya menutup bawah ketiak sampai bawah pantatnya saja.


“Pergi mengganti bajumu dengan cepat. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Jika terlalu lama, akan dingin dan tidak enak.”


Natan bicara seolah tidak melihat apa-apa.


Samara tidak merespon, tapi dia mendengarnya jelas. Setelah mengambil baju ganti di lemari, dia masuk ke kamar mandi lagi dan memakainya di dalam.


Natan sudah menunggunya di luar, jadi dia tidak merias diri. Hanya menggelung rambutnya dengan handuk, lalu pergi ke balkon.


“Duduklah, makan denganku di sini.”


Tapi Samara terbengong. Ada dua mangkuk sup burung wallet, dan dia tahu harganya bisa ratusan dolar. Tidak tau berapa, karena dia tidak pernah membelinya langsung. Meskipun bisa, dia menganggap itu pemborosan.


“Kau … dapat dari mana semua ini?”


“Tentu saja membelinya. Duduk dan makan ini sebelum dingin.” Natan menarik tangan Samara, menyodorkannya satu mangkuk sup, dan segelas susu segar hangat di sisinya. “Makan dengan benar dan habiskan susu itu.”

__ADS_1


Samara makan dengan berat hati. Bahkan roti lapis saja sudah cukup untuknya sarapan, tapi Natan mengeluarkan ratusan dolar hanya untuk sarapan saja. Lalu buah ini, dia tahu buah ini mahal di sini.


Dia ingin menanyakan dari mana Natan mendapatkan uang, tapi dia merasa tidak pantas menanyakan itu. Dia takut ucapannya itu akan menyinggung Natan dan merendahkan harga dirinya. Jadi, Samara memilih kata yang lebih halus.


“Sebenarnya, tidak perlu makan mahal untuk memuaskan perut. Akan lebih baik jika ditabung untuk keperluan yang lebih penting lainnya.”


“Oke, aku pasti mengingatnya.”


Meskipun di awal terasa berat untuk menelan sup mahal itu, tapi karena rasanya yang begitu nikmat, Samara tidak bisa berhenti menelan.


Natan menyukainya saat Samara mau menghabiskan makanan yang dia belikan. Setelah melihat dia meneguk susunya, Natan menyodorkan mangkuk dengan irisan buah mangga.


“Kau harus memakan buah juga. Cobalah, rasanya begitu manis.”


Samara menusuknya satu potong. Saat dia menelan itu, rasanya memang manis dan segar.


“Bagaimana, kau menyukainya?”


“Rasanya sangat manis.”


“Kau bisa menghabiskan itu. Buah ini sering kumakan saat aku di Indonesia, tapi aku tidak menyangka harganya akan sangat mahal di sini.”


“Lain kali, tidak perlu menghabiskan uangmu seperti ini.”


Memang tidak akan, karena dia tidak mungkin kehilangan uangnya hanya untuk makanan yang jumlahnya hanya ratusan dolar saja. Bahkan itu tidak ada artinya sama sekali.


Jika saja Samara tahu yang dia makan itu adalah buah mangga dari jenis Miyazaki, mungkin dia akan mengomel sampai berbusa. Satu buahnya seharga lima puluh dolar, dan dia membelinya dua buah tadi.


Samara tahu jika Natan pasti menggunakan semua uangnya, dan itu hal yang ceroboh. Namun, dia bersikap manis padanya, dan membuat dia tidak tega memarahinya terus menerus.


Setelah mereka sarapan, Samara berkata jika dia ingin mengajaknya ke suatu tempat.


Setelah Natan mengeluarkan uang untuknya, dia juga mau membelikannya setelan jas dan kemeja baru. Natan tidak memiliki pakaian untuk pergi menghadiri pernikahan Julia, jadi dia juga tidak bisa menutup mata.


Uang tabungan yang dia simpan hasil dari menjual desain perhiasannya dia gunakan untuk memilihkan Natan pakaian formal.


Natan juga tidak menolak. Mereka pergi ke toko baju dan dia yang memilihkan itu sendiri.


Padahal itu bukan pakaian mewah, tapi setelah masuk ke tubuh Natan, mendadak pakaian itu seperti memiliki kualitas premium. Samara terperangah melihatnya. Setiap lekukan setelan tuxedo itu menempel sempurna, memperlihatkan kaki panjangnya, dan bentuk tubuhnya yang menyerupai perunggu. Natan sangat mempesona.


“Apa ini bagus untukku?”


Itu bukan hanya bagus, tapi sempurna. Samara rela menguras tabungannya demi penampilan Natan yang setampan ini.

__ADS_1


“Tidak perlu dilepas, kita akan pergi langsung ke tempat pernikahan mereka.”


Padahal Samara tidak mau cepat-cepat mengakhiri pemandangan ini. Harga yang sebanding dengan apa yang dia lakukan.


Samara sudah menggunakan gaunnya tadi, dan saat mereka tiba, semua orang terkejut. Kabar mengatakan jika Samara menikah dengan seorang pria pemabuk, miskin dan melarat. Tapi kenapa sekarang dia menggandeng seorang pangeran?


Aura mereka mengalahkan pasangan pengantin hari ini. Semua orang diam-diam berkata pada dirinya sendiri jika mereka juga pasti akan rela menikahi pria pemabuk jika pria pemabuk itu setampan suami Samara.


Bahkan kini Julia pun merasa sangat iri.


Luke dan Julia menghampiri mereka. Julia ingin mempermalukan Samara di depan Luke, menunjukkan siapa pria yang telah tidur dengan mantan pacarnya itu. Terlepas dari seberapa tampan dia, latar belakangnya tidak akan merubah apa pun.


“Jadi ini suamimu?” Luke tersenyum jijik. “Aku dengar, kau diusir dari rumah kontrakanmu karena tidak membayar uang sewa. Aku terkesan, kau bisa datang kemari dengan tampilanmu seperti ini.”


“Terima kasih, aku juga menyukai selera istriku.”


“Jadi ini pembelian Samara?”


“Ya, kenapa? Istriku yang membelikan ini untukku.”


Luke dan Julia menertawakannya.


Memang kenapa? Natan tidak mengerti.


Padahal dia bangga mengatakan itu pembelian istrinya, tapi mereka menertawakannya seolah-olah itu hal memalukan. Justru dia sangat senang karena ini baru pertama kali mendapat barang dari seorang wanita. Apalagi itu istrinya. Dia pasti akan merawatnya dengan baik.


“Kau sangat jujur. Tidak masalah, aku juga akan membayar biaya pesta pernikahan kalian nanti. Bukankah mendapat hal gratis itu menyenangkan, Nataniel?”


“Apa aku memintamu untuk membayarnya?”


“Tidak perlu meminta, aku memberikannya itu sebagai pemberian suka rela. Kau tau, pesta akan diadakan di Luna’s Luxury Hotel. Kau tau, hotel itu hanya untuk yang memiliki kartu keanggotaan dengan level masing-masing. Kau tidak memilikinya, kan? Maka biar aku yang menanggungnya untuk bantuan kalian.”


“Kenapa harus di sana? Bagaimana jika di Residence Inn? Bukankah momen spesial harus dirayakan dengan spesial juga?”


Luke, Julia dan Samara tercengang.


Natan ini gila atau bagaimana? Luna’s Luxury Hotel saja sudah hotel paling mewah yang hanya bisa masuk jika memiliki kartu keanggotaan. Bagaimana bisa dia mengusulkan yang lebih mewah lagi? Residence Inn tidak bisa dipesan sembarang orang.


Resort yang katanya sudah seperti surga dunia itu hanya untuk para konglomerat saja. Tidak pernah ada yang tahu bagaimana di dalam sana. Mereka hanya mendengar, jika resort yang berada di perbukitan itu memiliki segala inti keindahan. Seperti tinggal di negeri dongeng.


“Kenapa, kau tidak mampu membayarnya?”


***

__ADS_1


__ADS_2