
Detik kemudian, Luke tertawa terbahak. Begitu puas tertawa, dia menepuk pundak Natan beberapa kali lalu mengusap dada Natan.
“Apa kau begitu miskin sampai tidak mengenal tempat-tempat yang kau sebutkan tadi? Kuberi tahu kau. Luna’s Luxury Hotel hanya bisa diakese oleh kartu keanggotaan saja. Jika silver, maka hanya bisa menyewa lantai dasar saja. Jika Gold, bisa menyewa setengah. Dan Jika platinum, maka bisa menyewa seluruh hotel. Dan ini.”
Luke menunjukkan kartu anggotanya. “Ini platinum. Aku bisa menyewa semua isi hotel itu. Menampung kalian dalam pesta juga tidak akan jadi masalah sama sekali. Aku berani bertaruh kau tidak akan paham dengan hal seperti ini dan bagaimana cara mengakses tempat-tempat mewah di kota ini.”
“Benarkah? Aku memang tidak tau jika memerlukan kartu anggota untuk masuk ke dalam sana. Aku pikir tidak ada yang seperti itu karena aku masuk ke sana tanpa memilikinya.”
Luke tertawa lagi. “Untuk menjadi petugas pembersih kamar mandi? Sudahlah, Natan. Membuat kebohongan tidak masuk akal hanya akan membuatmu semakin menyedihkan.”
Padahal Natan tidak berbohong. Sudah beberapa kali dia masuk ke dalam sana tanpa memiliki kartu anggota atau sejenisnya. Bahkan hotel itu disewa secara penuh. Semua anggota Legion Commander melakukan perkumpulan terhitung sudah tiga kali ada di sana.
Semua pemimpin dari distrik Barat, Timur dan semua penjuru di kota berkumpul untuk memperingati beberapa hal atau atas undangan Arron Blade. Salah satunya peluncuran terbaru penemuan mereka yang merupakan alat pelacak paling canggih yang besarnya hanya sebesar biji beras.
“Lihat, kan, bahkan untuk hal seremeh ini saja kau tidak mengetahuinya. Bagaimana kau berpikir untuk mengadakan pesta di Residence Inn? Tempat itu hanya bisa digunakan oleh para konglomerat Negara. Pemiliknya keluarga Blade, miliarder super kaya. Bagaimana dia bisa berpikir untuk mendapatkan uang dari hasil sewa? Dia hanya akan menyewakannya untuk acara tertentu dan orang tertentu saja. Sudahlah, jangan bermimpi terlalu tinggi. Pesta di hotel Luna juga akan memberikan kesan terbaik sampai kau akan membawanya dalam kematianmu. Lagipula, aku yang akan menanggung. Hitung-hitung, sebagai saudara ipar. Aku juga ingin menyenangkan Adik Iparku.”
Sebutan ‘Adik Ipar’ mendapat tekanan dalam dari Luke. Samara tahu pria itu sedang menyindirnya, mencoba berkata jika dia akan lebih bahagia jika dengannya ketimbang dengan pria miskin seperti Nataniel.
“Kau tidak perlu repot-repot memikirkan cara menyenangkannya karena aku akan memastikan kebahagiaan istriku. Sebaiknya, kau pikirkan kebahagiaan istrimu sendiri. Dan lagi, jika kau tidak mau mengadakan pesta di Residence Inn, aku dan Samara akan mengadakannya sendiri. Kau bisa memilih tempat sesuai kemampuanmu, dan aku akan memilih tempatku sendiri.”
Samara mencengkram lengan Natan. Dia ingin memperingatkan Natan, tapi dia tidak mau membuat Natan lebih malu lagi di depan orang lain. Apalagi di depan Luke dan Julia.
Tapi, Natan hanya membalasnya dengan senyum tak berdosa.
Luke dan Julia tidak bisa untuk tidak menertawakan Natan.
“Kau sangat tidak tau diri rupanya. Oke, aku akan mengatakannya pada yang lainnya jika mereka diundang ke Residence Inn oleh suami Samara. Kita lihat apa yang terjadi padamu. Jika kau berubah pikiran, aku masih bisa menerimanya asal kau datang padaku dan minta aku untuk menanggung biaya pesta pernikahanmu. Aku sudah cukup baik padamu, jangan bilang jika aku tidak memperingatkanmu setelah kau dihajar sebelum menginjak lantai mereka.”
“Akan kupertimbangkan.” Natan tersenyum sarkastik.
Samara hampir kehilangan akal sehatnya menghadapi Natan. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara mengehentikan pria itu. Rasanya sudah putus asa dan dia hanya pasrah ketika semua orang di grup membicarakan mengenai omong kosong suaminya.
Jika dia keluar dari grup saat ini, mereka pasti akan semakin mencaci makinya jika bertemu nanti. Samara memilih mematikan ponsel, lalu mengunci pintu kamar. Dia tidak mau bicara dengan Natan malam ini atau melihat pria itu. Bagaimana besok, dia berharap ada keajaiban yang membuat semua orang lupa akan undangan ke resort di pegunungan itu.
Natan mengirim pesan padanya jika dia tidak akan pulang malam ini, tapi karena ponsel Samara mati, wanita itu tidak menerima pesannya.
“Aku sudah menyiapkan ini. Mana yang mau kau pilih?” Saga menenteng dua setelan kemeja mewah rancangan desainer terkenal dari Perancis dengan edisi khusus. Di sisi kanan warna putih, di sisinya warna hitam.
“Aku tidak akan mengganti pakaian.”
__ADS_1
“Hei, pakaianmu itu sudah kau pakai sejak siang, apa kau mau memakainya sepanjang malam lagi?”
“Jika aku bisa tidur dengan memakai ini, aku akan memakainya.”
“Terserah kau.” Saga membalas kesal. Saat dia berbalik, dia mengoceh, “Seperti tidak pernah mendapat hadiah dari seorang wanita saja.”
“Hei, aku mendengarmu.”
“Dengar saja, aku juga tidak peduli.” Saga berbalik, keluar dengan kesal.
Setelah merapikan sedikit tampilannya, Natan keluar kamar. Di luar pintu, sudah berjejer anak buahnya yang menunggu dan Saga juga.
Mereka semua mengiringi Natan, masuk ke lift, turun ke lantai dasar.
Sudah ada lima mobil yang berjejer di halaman. Mereka semua akan mengikutinya sampai ke Residence Inn untuk memenuhi undangan Arron.
Natan masuk ke mobil tengah, Saga di depan dengan sopir mereka, dia berada di belakang. Lima mobil itu melaju beriringan menuju ke jalan pegunungan.
Saat mereka tiba, sudah banyak mobil juga yang terparkir. Salah satunya mobil pribadi Arron, dan sisanya mobil pengawal.
Di gerbang utama, ada penjagaan ketat. Mereka membuka gerbang tanpa diminta, dan di depan berjejer anggota Legion Commander lain.
Pria Tua itu sudah tiba lebih dulu. Berdiri di sisi kolam ikan, dan menabur makanan untuk mereka.
Natan berjalan padanya, lalu membungkuk pada Arron. “Selamat malam.”
“Kau mau menyebutku Kakek?”
“Aku masih mempertimbangkannya.” Natan tersenyum lebar.
Setelah itu, seorang sepasang suami istri membawa tiga anak kecil muncul dari kejauhan. Dua anak lelaki, dan satu perempuan itu berlari dengan kaki kecil mereka dan berebut memeluk kaki Arron.
“Kakek ….” Mereka berteriak bersama memanggilnya.
“Ke mana saja kalian? Kakek di sini menunggu kalian sampai merasa lapar.”
“Lihat, Mama membutuhkan waktu satu jam untuk berdandan. Kami sangat bosan menunggunya.”
Natan begitu gemas melihat gadis kecil itu saat mengoceh. Jika tidak salah memprediksi, mereka masih berumur sembilan tahun.
__ADS_1
Lalu, pasangan suami istri itu juga memberi salam pada Arron. Natan juga memberi salamnya. Dia mengenal mereka, Steffan Blade dan istrinya―Ana. Saga pernah menunjukkan foto mereka.
“Jadi dia yang ingin kau kenalkan pada kami, Ayah?”
“Ya. Dia Nataniel.”
Natan mengangguk dan kembali tersenyum tipis.
“Kita bicara dengan makan malam. Kalian sudah membuatku lapar di sini sejak tadi.”
Mereka pergi ke tempat makan yang sudah disiapkan dengan nuansa outdoor.
Meja persegi panjang itu memiliki banyak kursi, dan juga pelayan yang mengelilinginya. Keindahan Residence Inn yang terkenal seperti negeri dongeng memang tidak sekeder bualan semata.
Memang begitu indah, dengan pemandangan langsung kota Crystal Hill. Taman yang dihias dengan banyak lampu itu juga memiliki kemewahannya sendiri.
Sudah masuk akhir musim dingin dan akan masuk musim semi di kota ini. Bunga sakura yang menjadi keindahan taman mekar dengan begitu indahnya.
Tiga anak kecil itu berlari ke sisi lain, bermain sendiri di bawah pohon sakura dengan para pengawal mereka.
Dalam hati, Natan pasti akan membuat Samara melihat keindahan ini besok.
Setelah mereka semua duduk, pelayan menyajikan hidangan pembuka. Semua peralatan yang mereka gunakan menggunakan emas dengan ukiran rumit.
Jika Natan masih dengan kehidupannya dulu, mungkin saat ini dia sudah mengantongi satu pasang alat makan dan mangkuk porselen antik di depannya saat ini. Jika dijual, dia pasti bisa hidup sejahtera selama beberapa waktu.
Anak-anak masih belum bergabung, jadi suasana begitu hening sebelum Arron membuka pembicaraan.
“Aku mengundang kalian kemari, karena aku ingin memperkenalkan Natan pada kalian. Sebelumnya, aku sudah pernah mengatakan hal ini padamu, Steff.”
“Ya, aku juga mendukungmu. Kami menyambut baik keputusanmu, Ayah.”
“Kau sudah mendengarnya, Natan. Setelah aku mengirim kartu eksklusif keluarga Blade, aku rasa kau bisa menebak apa yang kuinginkan. Aku ingin memasukkanmu pada keluarga ini, mengangkatmu sebagai anakku. Dengan semua yang kumiliki, aku berpikir Steffan akan gila jika mengurusnya sendiri.”
“Ayah ….”
Arron tertawa kecil. “Bagaimana Natan? Apa kau menerima ini?”
***
__ADS_1