Suami Perkasaku

Suami Perkasaku
Mereka Bukan Tanggung Jawabku


__ADS_3

Tadinya Samara berpikir jika mungkin Barnes saja yang akan hadir, tapi ternyata dia membawa banyak sekali teman-temannya. Lebih dari setengah mereka laki-laki, sedangkan mereka tidak membawa pacar mereka seperti saat melakukan perkumpulan seperti biasa.


Semua wanita takut wajahnya cacat.


Saat membukakannya pintu, kaki Samara terasa lemas untuk turun. Bagaimana dia menjelaskan pada mereka jika saat ini pun Natan masih belum bisa dihubungi? Lalu bagaimana cara dia membawa mereka semua masuk ke dalam? Bagaimana dengan semua administrasinya nanti?


Dalam hati Samara ingin menangis memanggil nama suaminya.


Seharusnya jika dia sudah tiba, dia keluar untuk menyambutnya. Bukan membiarkannya menghadapi mereka seorang diri.


Untuk sesaat, semua orang tertegun dengan penampilan Samara. Dia begitu cantik dengan long dress berwarna merah hati yang memiliki belahan panjang sampai ke pahanya. Samara terlihat begitu seksi dan elegan dalam waktu bersamaan.


Semua wanita yang melihatnya tidak bodoh, dan mereka tahu itu adalah koleksi terbaru dari Butik Moo yang katanya sudah terjual hari ini. Gaun itu memiliki belahan dada panjang dengan tali spagetthi, tanpa ada hiasan apa pun dan memang sangat mewah.


Jadi, gaun itu ada di tubuh Samara?


Semua orang tertegun. Ditambah lagi, Samara memakai perhiasan yang berupa berlian, berkilauan seperti kulit mulusnya.


Mereka merasa ini adalah mimpi! Samara yang tidak pernah memakai pakaian bermerk seperti itu kini tampil dengan semua kemehawan dan keanggunannya. Rambut hitamnya digelung menjadi satu. Hanya sedikit bagian yang dibiarkan tergerai di ujung telinganya. Lehernya seksi dan menggoda.


“Samara, kau sangat cantik sekali!” Salah satu teman wanitanya memuji dengan tulus. Dia memang pantas mendapatkannya.


“Jika Luke tau, dia pasti akan menukar seluruh hidupnya untuk berlutut dan memohon agar kau kembali.” Itu Barnes, dia yang membuat semua orang berkumpul di depan halaman Residence Inn saat ini.


Memang siapa yang berani menginjak halaman resort itu lebih dekat lagi? Melihat banyak sekali pengawal yang berjejer di depan saja sudah membuat mereka merinding duluan.


Beruntungnya Saga tadi memarkir mobil di halaman sebelah Barat. Tidak ada yang bisa melihat banyak mobil anggota LC di sana, dan salah satunya ada Natan yang masih tidur.


Semua pujian itu terasa hambar. Samara hanya akan bisa bernapas jika saat ini Natan muncul dari dalam dan menyambutnya.


“Jadi, Sam. Apa benar kita akan masuk?” Setengah dari perasaan Barnes meragukan pasangan ini. Dilihat dari ekspresi Samara, wanita itu juga terlihat cemas dan gugup.


“Masuk saja. Memang untuk apa kalian berdiri di sini? Apa kalian akan di sini sepanjang malam? Pestanya di dalam, bukan di halaman depan.”


Saga menyela. Dia bingung melihat ekspresi mereka semua, seolah mereka diundang untuk masuk ke dalam wisata rumah hantu.


Tidak ada yang menjawab.


“Sam, bawa mereka masuk. Aku akan masuk duluan.”


Saga meninggalkannya. Sekarang Samara semakin gugup lagi. Tangannya sudah terasa dingin, dan pucat.


Bisakah kali ini dia menghilang untuk sekejap saja? Atau setidaknya, siapa pun tolong seret Natan dan bawa padanya.


Semua orang memandangnya seolah menuntut kejelasan.


“Emm … kalau begitu ya, mari kita masuk.”


“Di mana suamimu itu?”


“Katanya dia sudah ada di dalam.”


“Kenapa tidak menyuruh dia muncul dan membawamu ke dalam? Apa kau yakin bisa masuk?”


Mana mungkin Samara mengatakan jika dia saja tidak berkomunikasi dengan suaminya seharian ini. Bisa-bisa mereka akan memakinya habis-habisan di sini.


“Kita akan melihatnya di dalam.”


“Kalau begitu kau masuk lebih dulu. Tidak ada dari kami yang mau dipukuli.”


Samara semakin gemetar lagi. Dia bahkan tidak mau bermimpi untuk masuk ke dalam sini, tapi Natan dengan entengnya mengatakan jika pesta pernikahan mereka akan diadakan di dalam. Sekarang, pria itu tidak muncul juga.


Dengan memaksa menarik kakinya masuk, Samara hanya berharap melihat Natan saja di dalam. Dengan latar belakangnya yang seperti itu dan tempat super mewah ini, bagaimana dia bisa percaya begitu saja?


Namun yang terjadi, semua pengawal justru membungkuk padanya. Samara merasa seperti ….


Aku siapa?


Aku di mana?

__ADS_1


Melihat itu, semua teman-temannya yang menunggu di belakang dengan sangat penasaran langsung ikut mendekat dan bergabung di belakang Samara.


Kepala keamanan menyambut Samara dengan hormat. “Mari silakan ikut saya. Saya akan membawa Anda dan kalian semua ke tempat pesta.”


Samara nyaris pingsan mendengarnya. Dia masih belum percaya jika pengawal itu mengizinkan mereka masuk. Residence Inn itu sangat luas. Begitu luasnya, jika tanpa pengawal di setiap sisi mungkin akan tersesat menemukan jalan kembali.


Ada beberapa resort dan resort utama di dalam. Semua area perbukitan itu sudah milik Residence Inn, terbagi menjadi beberapa bagian dan memisahkan resort utama yang terletak paling atas.


Katanya, di atas itu adalah tempat terindah dari yang paling indah mereka lihat. Jika malam, mereka akan melihat cahaya bintang yang seolah berada di atas kepala dan mendapatkan pengalaman makan malam paling indah. Itu adalah puncak Golden Hour.


Saat mereka masuk, semua orang masih terbengong. Antara nyata dan tidak, pikiran mereka seolah mengambang.


Baru saat semua pelayan berbaris memanjang di depan menyambut mereka, semua orang sadar jika ini bukan mimpi.


“Selamat datang di Residence Inn.”


“Aku, aku masuk Residence Inn?”


“Apa benar aku sudah di dalam Residence Inn?”


“Aku tidak percaya, tapi ini sungguh nyata. Ini, ini luar biasa, Sam!”


Semua orang mengungkapkan kegembiraannya yang tidak mampu lagi mereka tulisakan. Kabar jika resort itu sangat indah memang nyata. Mereka merasa masuk ke dalam dunia yang berbeda.


Bahkan seluruh pintunya terbuat dari kayu rosewood terbaik dengan ukiran rumit. Belum lagi semua ornament di dalamnya di kelilingi dengan berlian.


Secara refleks, mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak mengabadikan momen tersebut. Namun, pengawal tadi langsung menghentikan mereka.


“Maaf, tidak diizinkan untuk memotret di tempat ini. Silakan matikan ponsel kalian, atau menitipkannya pada kami. Kami menjamin keselamatan kalian semua selama berada di tempat ini.”


Sayang sekali, padahal mereka sudah memiliki rencana untuk mengambil gambar terbaik mereka, lalu mencetaknya dengan ukuran besar, dan memamerkannya ke semua akun media sosial. Pantas saja selama ini tidak ada yang bisa menggambarkannya dengan jelas.


Keindahan Residence Inn hanya mereka dengar dari mulut ke mulut. Itu pun sudah dari katanya yang menjadi katanya, katanya lagi.


Saat itu Barnes sedang mengangkat telepon dari kekasihnya, dan saat dia mengungkapkan kegembiraan, dia seperti orang tidak waras.


Belum lagi ribuan bunga yang menjadi penghias. Lalu meja-meja yang sudah di tata rapi dengan hidangan mewah yang hanya mereka temukan di restoran dalam menu utama.


Puluhan botol alkohol terbaik sudah tersusun rapi. Mereka semua dari merk terkenal yang akan mereka minum jika ada jamuan istimewa. Sekarang, mereka mendapatkannya secara gratis dalam bentuk pesta yang bisa mereka nikmati sepuasnya.


Ada penyanyi terkenal dari Negara mereka hadir untuk menghibur mereka dan menyambut mereka begitu mereka masuk.


Di depan, ada podium yang berhias bunga sepenuhnya dengan empat tiang di sisi, lalu kelambu putih yang menjuntai indah. Ada tulisan ‘A Legendary Wedding’ dengan tulisan warna emas. Lalu di bawahnya, ada nama Nataniel dan Samara.


Tulisan itu membuat rongga mata Samara terasa panas. Dia masih tidak percaya jika Natan membuat pesta semewah dan semegah ini, tapi semua itu nyata di depan matanya.


Di belakang sana, Saga yang baru saja mengantar Samara segera berjalan cepat menuju mobil. Melihat Natan yang masih tidur, dia berdecak dan mengetuk jendelanya dengan jari.


Natan baru mengerjap dan mengusap wajahnya.


“Hei, kau mau sampai kapan tidur? Kau tau, semua tamumu sudah masuk ke dalam.”


“Benarkah?” Natan terjingkat dengan gelagapan. “Di mana Samara?”


“Tentu saja di sana. Mandi dan ganti bajumu. Aku sudah menyiapkan di kamarmu tadi.”


Nyawa Natan langsung terkumpul seluruhnya. Meskipun masih sedikit bingung, dia berlarian kecil masuk ke resort utama dan pergi ke kamarnya sendiri.


Resort utama itu hanya milik keluarga Blade, dan dia sudah mendapat kamar pribadinya di dalam.


Natan mengguyur tubuhnya secepat mungkin, lalu keluar dengan berlarian.


Ada dua kemeja yang sudah disiapkan Saga. Dia mengambil dengan potongan three-piece suit. Kemeja putih, rompi hitam senada dengan setelan jasnya dengan dasi merah hati seperti milik Samara.


Karena sangat buru-buru, Natan tidak merapikannya dengan benar. Rambutnya dia keringkan dengan cepat, menyisirnya rapi dan keluar setelah memakai parfum. Semua lengkap di kamarnya. Entah sejak kapan kamar itu sudah penuh dengan baju ganti seolah sudah disiapkan sejak lama.


Natan berlarian kecil ke taman, dan di sana dia melihat Samara yang memandangi dekorasi nama mereka.


Dia terlihat begitu cantik. Kulitnya memancar indah dengan semua pesonanya. Saat dia tiba, Samara menoleh padanya. Matanya sudah berair, dan tiba-tiba saja wanita itu berjalan cepat lalu melempar tubuh padanya.

__ADS_1


Samara menangis. Antara terharu, atau sudah menahan emosinya sejak tadi. Sekarang, dia melihat suaminya yang dia tunggu-tunggu di depan matanya.


Reaksi Samara membuat Natan sedikit terkejut, tapi setelah itu dia membalas pelukannya.


“Kau ini ke mana saja, sih?” katanya kesal kemudian mencubit pinggang Natan dengan keras.


“Auh! Itu tadi sakit, Sam. Kau mencubitku sungguhan.”


“Memang kenapa? Aku justru ingin memukuli tubuhmu saat ini.” Samara menjauhkan tubuhnya dan mengusap air mata di ujung matanya. “Kau tau, aku sudah sangat cemas menunggumu sejak siang sampai sore. Tapi kau bahkan tidak menghubungiku sama sekali. Aku tidak tau kau berada di mana, dan kau membiarkanku menghadapi mereka sendiri.”


“Apa kau tau apa yang aku rasakan? Aku seperti tercekik karena terus bertanya apakah yang kau ucapkan itu sungguhan atau tidak. Aku menunggumu sejak tadi! Kau ke mana, Natan? Kenapa kau tidak keluar dan menjemputku? Aku takut saat kau tidak ada. Aku cemas saat kau pergi dan aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat kau tidak ada.”


Natan mendengar semuanya dengan tatapan bersalah. Dia tidak tahu jika Samara secemas itu. Mau mengatakan jika dia tidur, yang ada malah Samara akan menggeplak kepalanya nanti.


Maafkan Natan yang sudah semalam tidak tidur dan harus mengurus sedikit urusan di perusahaannya tadi dengan sedikit memberi pelajaran pada Barnes dan Luke, Samara.


Pria itu mendekatinya, menyetuh belakang kepalanya dengan lembut. “Kau bisa mempercayai semua yang kukatakan.”


“Ini semua … bagaimana kau bisa melakukan ini? Tunggu. Apa kau menyewa kamar?”


“Semuanya.”


“Ikut aku.”


Tiba-tiba saja Samara menarik Natan begitu saja keluar dari taman lalu celingukan di dalam. “Kamar mana yang kau sewa?”


“Semuanya kosong, Sam. Tapi jika kau mau melakukannya, aku memiliki―”


Natan belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tapi Samara sudah menarik dia masuk ke salah satu kamar. Dia mendorong Natan masuk, lalu melepas ikat pinggang pria itu dengan brutal.


Yang dilakukan Natan hanya pasrah sampai merentangkan tangannya juga.


Jas yang dipakai Natan sudah terlepas. Lalu rompi, dan sekarang Samara membuka kemeja pria itu juga.


“Setidaknya tutup pintu dengan benar, Sam.”


“Putar tubuhmu.”


Samara menarik pinggang Natan, dan meraba semua bagian perut suaminya. Tidak ada apa pun di sana, dan tidak ada bekas luka yang dia lihat.


“Yang kau cari masih ada di bawah. Kau harus melepas celanaku lebih dulu.”


“Di mana bekas lukamu?”


“Bekas luka apa?”


“Kau tidak menjual ginjalmu, kan?”


Natan ingin menahan tawanya, tapi dia tetap tertawa juga. “Apa yang kau pikirkan, Sam?”


“Lalu kau dari mana saja? Dan semua ini, lalu apa yang kupakai, bagaimana bisa kau melakukan semuanya?”


“Jika aku menjual ginjalku pun, aku tidak akan mampu melakukannya.”


Saat itu Saga sedang mencarinya. Setelah mendengar pengawal mengatakan mereka masuk ke kamar dan melihat pintu terbuka sedikit, Saga masuk begitu saja.


“Nat, di depan―” Saga menahan ucapannya dan berbalik dengan cepat. “Astaga … kenapa kalian tidak menutup pintu?”


“Tidak, kami … kami tidak melakukan apa-apa. Kau salah paham.” Samara menjawabnya dengan gugup.


“Apa yang mau kau katakan?” tanya Natan padanya.


“Di luar ada tamumu yang menyusul ingin masuk.”


“Tidak. Katakan jika aku tidak menerima tamu lagi. Mereka bukan tanggung jawabku.”


“Oke. Oh, jangan lupa kunci pintu kalian. Padahal kamar bulan madu kalian sudah siap, tapi kalian memilih melakukannya di sini. Sudahlah, terserah kalian.”


***

__ADS_1


__ADS_2