Suami Perkasaku

Suami Perkasaku
Aku Hanya Pria Miskin


__ADS_3

Meskipun tidak sanggup berdiri di atas kedua kakinya lagi, Pria Tua itu menghargai usaha Natan. Ternyata Pria Tua itu juga bukan orang sembarangan seperti apa yang dipikirkan Natan. Pria Tua itu memiliki banyak anak buah yang membantunya berdiri dan membawanya ke suatu tempat.


Tidak ada satu jalan pun yang bisa dipahami Natan. Entah ke mana, tapi mereka memasuki kawasan yang begitu sepi. Hanya ada satu jalan saja di sana, melewati perbukitan sampai masuk ke area yang begitu luas dengan hamparan rumput.


Ada satu gerbang utama, tinggi menjulang, tidak memiliki celah seolah bangunan di dalam sana adalah wasiat Negara yang tidak untuk dipublikasikan. Mobil melambat, lalu berhenti dan menurunkan dia di atas kursi roda.


Seorang pria yang sepertinya sebaya dengan dirinya berjalan mendekat.


Natan mengatahkan pandangannya ke sekeliling, melihat beberapa pria yang sepertinya sedang berolahraga. Gedung ini begitu besar dengan beberapa bangunan yang memiliki sampai tiga lantai. “Di mana aku?”


“Selamat datang di markas Legion commander. Aku Sagara. Kau bisa memanggilku Saga.”


Markas? Sebenarnya siapa Pria Tua itu? Bagaimana dia bisa memiliki markas sebesar ini?


“Aku mendapat perintah dari Tuan Aaron untuk mengurusmu. Sepertinya kau mengalami luka yang cukup parah.” Saga mengamati Natan dengan tatapan datar seolah hal itu biasa saja.


Aaron. Natan menggumamkan nama Pria Tua itu sekali lagi dalam hatinya.


Mereka membawanya masuk, dan ternyata ada ruang perawatan juga di sana. Mereka memiliki fasilitas lengkap hampir menyerupai rumah sakit dengan banyak brankar. Ada banyak dokter dan perawat juga yang siap siaga dan segera memberikannya pertolongan.


Operasi dilakukan saat itu juga. Dibanding dengan ruang perawatan, ini jauh lebih tepat di sebut rumah sakit kecil. Peralatan yang mereka pakai juga canggih. Aaron pasti tidak main-main mendirikan markas ini.


Satu hari itu Natan tidak sadarkan diri. Begitu sadar, sudah ada Saga yang berdiri di sisinya.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Lebih baik. Aku belum sempat memperkenalkan diriku padamu. Aku―”


“Nataniel. Aku mengetahui apa yang diketahui Tuan Aaron.” Saga mundur beberapa langkah lalu menyandar di brankar sisi Natan sambil bersedekap. “Sebaiknya kau pulihkan dirimu lebih cepat. Setelah ini kau tidak akan mendapat waktu beristirahat.”


Natan ingat dengan ucapannya pada Pria Tua itu kemarin.


Satu tahun lebih telah berlalu ….


Natan sudah sangat berbeda dari Nataniel yang dulu. Setelah mengalami rasa sakit bertubi-tubi, kini semua rasa sakit itu sudah menyatu dalam tubuhnya. Menyedihkan memang, ketika tujuan hidup kita sudah berubah dan hanya memiliki satu pandangan saja.


Balas dendam untuk meratakan keluarga White.


Natan mempelajari segalanya. Latihan fisik yang dia dapatkan begitu keras sampai dia tidak memberi ampun pada dirinya sendiri. Setiap kali dia jatuh, dia akan mengingat bagaimana Sadam menginjak kepalanya.


Bagaimana cara mereka merebut hak waris darinya, padahal hampir semua kekayaan keluarga White memang dari Ibunya. Tidak cukup menghabisi Ibunya dengan cara paling keji, mereka juga menginginkan hal yang sama pada dirinya.


Tidak ada satu hal pun yang ingin dilupakan Natan. Setiap rasa sakit yang diingatnya akan menjadi cambuk yang membuat dirinya kembali berdiri.

__ADS_1


Aaron juga memberinya satu perusahaan dan tanggung jawab pengelolaan seratus persen miliknya. Dia berkata jika dia akan malu jika harus memberi uang saku padanya. Jadi, dia menggantinya dengan sebuah perusahaan.


Siapa Aaron, tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Sedangkan Aaron sendiri mengatakan jika dia akan mengetahuinya sendiri suatu saat nanti.


Saat ini Aaron sedang berdiri memperhatikan dia dari jauh. Setelah selesai bertarung dengan Saga yang hanya berakhri seimbang, dua orang itu menyudahinya. Natan mengambil minumnya lalu mendekati Aaron.


“Kau tidak akan mungkin mengalahkan Saga. Tapi dengan hasil seri, aku akui kau sudah belajar begitu banyak. Rasanya aku tidak mengenal siapa pria yang setiap hari tidur di bawah kolong jembatan.”


Natan tersenyum getir dan meliriknya sekilas. “Tidak ada kebaikan tanpa harga. Aku tau itu,” katanya datar. Dia bukan orang yang tidak tahu cara berterima kasih.


“Dan tidak ada harga dalam ikatan keluarga.”


“Keluarga?” Natan tertawa hambar. Ya, mungkin itu berlaku bagi beberapa orang saja tidak termasuk dirinya. “Kau sangat baik padaku sampai memberiku perusahaan sedangkan kau tau aku tidak memiliki apa-apa lagi.”


“Kau masih memilikinya satu. Balas dendammu juga memerlukan kekuatan finansial untuk mengambil hakmu lagi. Lagipula, kau memiliki kemampuan yang baik dalam mengurus perusahaan. Jangan melakukannya dengan setengah-setengah. Pergunakan apa yang aku berikan untuk mendapatkan tujuanmu.”


“Kenapa kau sangat peduli dengan balas dendamku?”


Aaron tersenyum hangat lalu menarik napas panjang. “Melihatmu, aku seperti bercermin pada diriku. Apa yang terjadi padamu tidak memiliki banyak perbedaan denganku.”


Ternyata bukan hanya dia yang sengsara. Jangan-jangan kesedihannya hanya secuil bagian dari penderitaan orang lain, tapi dia sudah ingin menyerah.


Karena sejak masuk ke markas Natan tidak pernah menghibur diri, malam ini dia pergi sengaja pergi ke bar untuk menyenangkan dirinya.


Natan yang terkejut menjauhkan tubuh wanita itu darinya, tapi wanita itu sangat lemah untuk berdiri. “Menyingkirlah!”


Namun, wanita itu justru semakin berani dan menyandar padanya. Telapak tangan wanita itu menyusuri dadanya, lalu meremas bagian itu dengan sensual. “Aku menginginkannya. Aku menginginkan ini.”


Untuk ukuran orang mabuk, wanita ini terlalu berani. Sepertinya dia dalam pengaruh obat.


Karena Natan juga mabuk, sentuhan sampai remasan itu begitu merangsang dirinya. Dia menarik wanita itu ke dalam ruang VIP, lalu menghempaskannya di atas sofa.


“Kau menginginkannya?”


“Ya, aku menginginkannya. Aahh … aku tidak tahan lagi.”


Wanita itu menggeliat seperti cacing kepanasan, kemudian melepaskan bajunya sendiri dengan sedikit usaha keras. Di bawah pengaruh obat dan situasi yang sangat mendukung, wanita asing di bawahnya menggila seperti seokor kuda yang baru saja keluar kandang.


Dia begitu agresif. Jemari lentiknya melepas semua baju Natan satu persatu. Tepat di ikat pinggangnya, wanita itu kesal dan menyerah.


“Kenapa kau mengikatnya kuat sekali?” Kepala wanita itu menyandar di selangkangannya, lalu menggeseknya seperti anak kucing.


Natan yang sudah tidak tahan lagi melepasnya sendiri lalu membuang celananya ke mana saja. Malam itu mereka menghabiskannya dengan sangat bergairah hingga keduanya terkapar lelah. Dibanding Natan, wanita di sisinya langsung terlelap setelah kehilangan banyak tenaga.

__ADS_1


Setelah tenaganya pulih, Natan bangkit dan memunguti bajunya sendiri. Dipandanginya wanita yang masih tanpa busana itu menggulung diri.


Keesokan paginya, mereka terbangun bersama di sebuah kamar sederhana dengan ukuran kecil yang hanya muat diisi dengan satu ranjang saja. Wanita tadi begitu terkejut melihat Natan di sisinya sementara tubuhnya terasa dingin.


Dengan cepat dia meraup selimut tipis yang menutupi tubuh mereka dengan ketakutan.


Natan tersenyum datar sambil mengusap kepala belakangnya. “Atas apa yang terjadi tadi malam, aku tidak akan mengambil bagian. Kau sendiri yang melempar tubuhmu padaku dan menelanjangiku di bar. Jangan meminta kompensasi karena kau tidak akan mendapat apa-apa. Gara-gara kau, aku harus menunggak hutang di sana hanya untuk membayar satu malam di kamar VIP mereka.”


Sambil berkata, dia berjalan keluar mengambil air mineral dan meneguknya. Tidak peduli apa yang dirasakan wanita di belakangnya.


“Di mana aku?”


Wanita itu bertanya dengan nada gemetar. Satu hal yang dia jaga seumur hidup telah hilang dalam satu malam. Kalau saja dia tidak masuk ke dalam jebakan saudaranya, obat perangsang itu tidak akan mempengaruhi dirinya sampai seperti ini.


“Rumah kontrakanku. Kau lihat sendiri, aku hanya pria miskin yang tidak memiliki pekerjaan. Kuharap kau bisa melupakan apa yang sudah terjadi karena aku tidak tertarik menjalin hubungan.”


Namun, sepertinya wanita itu tidak terpengaruh sama sekali. Tiba-tiba saja dia sudah melenggang keluar dengan pakaian lengkapnya meski rambutnya hanya disisir dengan jari dan sedikit acak-acakan.


Tanpa mengatakan sesuatu, dia menghilang begitu saja dari balik pintu. Natan memandanginya tanpa berkedip. Ingatannya kemarin malam kembali terulang seperti cuplikan film. Selain dia yang kehilangan keperawanannya, dia pun mengalami hal yang sama. Jadi, anggap saja mereka impas.


Natan mengambil ponselnya dan menghubungi Saga.


“Kau sudah dapat informasi wanita itu, Saga?”


“Samara Morgan. Umur dua puluh, dan anak kedua dari keluarga Morgan. Ngomong-ngomong … hari ini adalah hari pertunangannya. Tapi sepertinya sudah terlambat.”


“Apa maksudmu?”


“Calon tunangannya telah melamar Kakaknya. Aku sedang berada di sini, di lantai dua gedung pertunangan mereka.”


Ada rasa bersalah terbesit dalam diri Natan. Meski tadi malam Samara yang melempar dirinya, tapi dia juga yang mengiyakan hingga terjadilah one night stand.


“Sepertinya kau telah mengacau. Haruskah aku membawa dia kembali padamu? Aku lihat, dia tidak cukup beruntung di sini.”


Di sana, Saga melihat Samara yang menjadi bahan lelucon sampai mendapat penghinaan lengkap dengan tamparan dari tangan Ibunya. Suasana yang tadinya romantis berubah kacau setelah kemunculan Samara dengan rambut acak-acakan.


Saga menjadi salah satu penonton di antara semua tamu undangan.


“Satu tamparan … dua tamparan … itu pasti menyakitkan. Kau yakin tidak mau membawanya? Dia cantik. Anak-anak markas juga pasti senang jika mereka punya Ibu Negara.”


“Aku tidak membutuhkan informasi lebih.” Natan memotong ucapan Saga lebih dulu. “Kau tau aku tidak memiliki waktu untuk itu. Kembalilah dan atur penerbanganku ke Saint City sekarang. Sudah waktunya untuk bersenang-senang.”


***

__ADS_1


__ADS_2