
Malam sebelumnya ….
Malam ini Samara sedang merayakan pesta dengan teman-temannya. Besok adalah hari tunangannya bersama Luke Langdon. Luke memiliki perusahaan industry hiburan terbesar di Crystal Hill. Dari perusahaannya, banyak sekali artis popular dan penyanyi terkenal yang sudah mereka cetak.
Acara tunangan mereka besok akan disiarkan di stasiun televisi secara langsung. Semua teman gadisnya merasa iri pada Samara.
Semua orang mengatakan mereka adalah pasangan emas tahun ini. Sebelum lulus kuliah, Samara telah dipinag oleh pemuda kaya raya. Di masa depan, Samara tidak perlu bekerja keras untuk memenuhi kehidupannya.
Luke Langdon adalah pria terhormat. Kekasihnya di bangku sekolah ini sangat menyayanginya. Luke juga memberikan dukungan penuh padanya sebagai desainer perhiasan. Di masa depan, dia berjanji akan membantu mempromosikan desainernya pada artis papan atas, lalu menayangkan itu melalui saluran televisinya.
Keluarga Morgan memiliki dua putri cantik jelita yang sudah terkenal di mana-mana. Meskipun kasta keluarga mereka tidak bisa mencapai level atas, tapi keluarga itu hidup sejahtera. Banyak pemuda kaya yang berharap bisa meminang putri mereka. Terutama anak kedua keluarga itu, Samara.
Namun, siapa yang menduga jika pesta itu akan menjadi malam kelam bagi Samara. Dia terbangun di sebuah kamar usang, pengap dan lusuh dengan seorang pria asing dalam keadaan telanjang bulat.
Satu-satunya yang dia ingat hanya … hari ini adalah hari pertunangannya.
Begitu dia sadar, Samara langsung bergegas menuju gedung pertunangan mereka.
Yang ada di depan matanya justru … pertunangan sedang berlangsung tanpanya.
Samara berjalan linglung melewati semua kerumunan.
Semua orang memandangnya dengan risih dan jijik.
Di depannya, Luke Langdon, pria terhormat yang digandrungi banyak wanita muda itu sedang menerima telapak tangan wanita lain. Dia ….
Julia Morgan. Kakaknya.
Dua cincin pertunangan yang telah didesain sendiri dengan sepenuh hati, ternyata sudah milik orang lain.
Samara merasa hatinya diiris-iris sampai berdarah dengan sebilah pisau tumpul. Gaun pertunangan yang sudah dia persiapkan, ternyata untuk dipakai wanita lain.
Hancur lebur sudah perasaannya sampai tidak ada kata yang mampu keluar.
Saat dia dalam keadaan linglung, sebuah tamparan melayang ke pipinya. Tangan itu berasal dari Ibunya, Tiana Rowee.
Karena Samara begitu patah hati, pipinya seperti mati rasa. Jauh lebih sakit hatinya ketimbang tamparan tadi.
Tiana menamparnya lagi untuk kedua kali, sampai Samara menoleh padanya.
__ADS_1
“Memalukan! Kenapa kau muncul dengan tampilan seperti ini!”
Tiana menjambak rambut anaknya di depan umum, lalu menyeret dia ke dalam. Sebelum bereaksi, Tiana mendorong tubuh Samara begitu keras sampai dia tersungkur di lantai. Botol minuman di atas meja juga disahutnya, lalu mengguyur kepala Samara dengan itu.
“Dasar anak tidak tau malu! Berani-beraninya kau muncul dengan tampilanmu seperti itu, hah? Katakan, dengan siapa kau menjual tubuhmu, hah? Kau ini buta atau apa? Ini adalah hari pertunanganmu, tapi kau malah tidur dengan pria lain! Kau tau, Kakakmu rela menggantikan dirimu untuk menyelamatkan nama keluarga kita. Tapi apa? Kau malah berani kemari dengan penampilanmu yang menjijikkan!”
Hati Samara sudah begitu perih, di tambah lagi dengan kemarahan Ibunya. Dia hanya terlambat lima menit, tapi bahkan seorang Luke yang sudah bersamanya selama tiga tahun tidak mau menunggunya.
Samara berdiri dengan senyum miris, mengusap wajahnya seolah menertawakan kekonyolannya sendiri.
“Jika aku muncul dengan kondisi rapi lima menit yang lalu, apa aku masih bisa menggunakan gaun pertunanganku? Jika aku muncul lima menit yang lalu, apa aku masih bisa berdiri di sana dengan cincin perhiasan yang sudah kudesain sendiri? Jika aku muncul lima menit yang lalu, apa pesta pertunangan ini belum dimulai?”
Tiana tidak bisa menjawab.
Samara bukan gadis bodoh. Keterlambatannya yang hanya lima menit, tidak sebanding dengan berapa lama Julia dirias.
Saat itu Julia masuk, mengangkat gaunnya. Lebih tepat, gaun miliknya.
Wajahnya terlihat begitu menyesal, meraih tangan Samara dengan menunjukkan kecemasan. “Sam, aku sungguh minta maaf! Aku tidak bermaksud merebut Luke darimu, tapi, tapi mereka―”
“Menjaulah, Julia!” Samara mengibaskan tangannya.
“Mengorbankan? Ya, dia memang sudah mengorbankan diriku.”
“Hentikan, Samara! Kau yang sudah merusak dirimu sendiri, jangan menyalahkan Kakakmu!”
“Ya, benar. Aku sudah melakukan kesalahan kemarin malam, tapi dia sudah merencanakan sejak jauh-jauh hari. Selamat, kau sudah mendapatkan bekas pacarku.”
“Cukup, Sam!” Suara berat seorang pria juga muncul. Dia Luke, pria yang seharusnya menjadi tunangannya hari ini. “Terlambat atau tidak, aku memang tidak seharusnya bertunangan denganmu. Jangan membela diri karena kau yang salah di sini. Kau sudah mengkhianatiku. Kau keluar dari bar dengan seorang pria asing, lalu kau tidak pulang kemarin malam. Jangan menyalahkan Julia, karena aku yang memintanya menjadi calon istriku.”
Samara merasa semua orang sedang berlomba-lomba menaruh garam pada lukanya. Semua rasa sakit yang dialaminya secara bertubi-tubi membuat hatinya jadi mati rasa, tidak tau mengekspresikannya bagaimana.
Luke mendekatinya, menarik Julia ke sisinya.
“Asal kau tau, aku akan menikahi Julia dalam waktu dekat. Cincin yang sudah kau desain ini, akan kubeli dua kali lipat.”
Dengan itu, semua orang meninggalkannya. Samara terpaku di belakang. Otaknya mendadak kosong. Dia merasa sedih sekaligus menjadi orang paling konyol. Dia tahu ada yang tidak beres dengan tadi malam, tapi tidak satu pun orang yang mau mendengarnya.
Dalam sekejap, berita pernikahan Julia dan Luke tersebar luas. Mereka akan melangsungkan hari itu dalam tiga hari lagi. Bersamaan dengan itu, kabar buruk mengenainya juga ikut mengiringi.
__ADS_1
Semua orang beramai-ramai membicarakan Samara, yang katanya lebih memiliki seorang pria jalanan pemabuk ketimbang seorang pria terhormat seperti Luke. Sebuah foto juga ikut beredar, di mana seorang pria dengan tampilan biasa-biasa saja memapahnya keluar bar.
Mereka berkata jika Samara adalah wanita buta dan bodoh!
Semua sanjungan yang bertaburan untuknya kemarin, berganti dengan kata-kata kasar. Sekarang, Julia menjadi pembicaraan utama. Banyak yang mengucap syukur jika Luke lebih memilih Julia ketimbang Adiknya.
Kabar yang seharusnya menjadi paling bahagia itu telah ternoda dengan berita miring Samara. Ayahnya, Jade Morgan begitu murka dengan kedua berita yang bertolak belakang itu. Dia merasa jika Samara adalah aib bagi keluarganya.
Seorang gadis, yang tidur dengan pria asing. Samara dikurung dalam rumah selama dua hari, tidak diperbolehkan keluar sama sekali sebelum pria jalanan itu datang ke rumah dan bersedia menikahinya. Jika tidak, Samara akan menjadi kotoran yang menempel di wajahnya seumur hidup!
Jade berusaha mencari pria asing itu di rumah kontrakan kumuh di mana ada salah satu orang melihat Samara keluar dari rumah itu. Namun, pemilik kontrakan mengatakan jika orang yang menyewa rumah kontrakannya tidak mampu membayar uang sewa dan dia mengusirnya. Tidak tahu pergi ke mana dia.
Kemarahan Jade tak bisa dibendung lagi.
Tiana yang mendengar jika pria asing itu menghilang merasa tidak terima. “Kau harus mencarinya lebih keras lagi, Jade! Julia tidak akan bisa menikah dengan bahagia sebelum anak memalukan itu menikah! Jika Samara belum menikah, dia akan terus mengganggu Julia di masa depan. Belum lagi jika dia hamil bagaimana? Semua orang di kota ini akan mengutuk keluarga kita. Aku tidak mau itu!”
“Kau pikir aku juga terima dengan ini? Ke mana lagi aku harus mencarinya, katakan! Besok adalah hari pernikahan Julia. Jika besok pria itu tidak datang, aku akan mengirim Samara ke kota pembuangan. Memalukan!”
Kabar itu juga langsung tersebar dengan cepat. Semua teman kampus Samara mengoloknya, mengatakan jika Samara adalah perempuan yang tidak diinginkan siapa pun! Bahkan seorang pria jalanan saja tidak mau menikahinya.
Besoknya, Jade sudah mengurus penerbangan untuk Samara. Mereka akan mencoret nama Samara dari daftar keluarga Morgan demi kebahagiaan Julia di masa depan. Mereka memilih untuk menghilangkan rasa bersalah Julia dari pada bagaimana nasib Samara.
Samara yang berada di dalam kamar selama tiga hari, keluar dalam keadaan kurus. Ekspresinya begitu dingin. Dia menyeret kopernya sendiri dengan bibir yang terkatup rapat.
“Sam, tolong jangan marah padaku. Aku tidak bisa menghentikan kemarahan Ayah dan Ibu. Jika kau tidak mau pergi, tidak apa-apa, tidak perlu pergi dari kota ini. Kita saudara, aku akan merasa sedih jika berpisah denganmu.”
“Hentikan, Julia! Kau ini sudah mengalah terlalu banyak untuknya. Biarkan dia sadar diri dan belajar menghargai kehidupannya.” Tiana menarik Julia menjauh.
“Biarkan dia pergi!” bentak Jade. “Jika dia tidak pergi, dia akan menjadi symbol rasa maluku.”
“Tidak. Dia tidak akan pergi ke mana-mana.” Seorang pria muncul di ambang pintu.
Ya, itu orangnya. Dia Natan. Dia yang sudah tidur dengan Samara tiga hari yang lalu, dan sekarang dia muncul dengan pakaian lusuh. Warna celana jeans yang sudah dipakainya memudar, dengan kaos oblong longgar.
Meski penampilannya jauh dari kata mewah, tapi wajahnya tampan dan bersih. Pria itu, dia memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi!
“Aku Nataniel. Aku adalah pria yang kalian cari selama ini. Sesuai keinginan kalian, aku akan menikahinya hari ini juga.”
***
__ADS_1