
“Ah, kau menambah masalah saja untukku.”
Itu Saga. Namanya sudah terkenal di beberapa daerah di kalangan tertentu. Dia salah satu orang kepercayaan keluarga Blade, dan orang yang memimpin Legion Commander. Untuk kalangan sepertinya, dia tahu Saga setelah beberapa kali mengawal anggota keluarga Blade.
Tubuh pelayan butik itu langsung memucat, berkeringat dingin dan gemetar. Dia telah membuat kesalahan besar!
Lututnya tertekuk. Dengan menangis dia memohon ampun pada Natan. “Tuan, saya sangat bodoh. Saya tidak bisa menggunakan akal saya dengan baik. Saya mohon ampun pada Anda. Saya berjanji saya akan belajar dari kejadian ini. Ampuni saya, Tuan.”
Natan masih tidak bergeming.
Saat itu juga Saga mencekram kerah kemejanya, menarik wanita itu sampai menegak. “Sudah sampai seperti ini baru meminta maaf? Ke mana akalmu tadi, hah?”
Saga hampir menampar wanita itu, tapi dihentikan langsung oleh Natan. “Cukup. Aku hanya tidak mau melihat dia lagi.”
Natan tidak memukul wanita, tapi Saga tidak. Siapa pun orang itu, dia akan hancur di tangannya jika membuat masalah dengan keluarga Blade. Namun karena Natan sudah mencegahnya lebih dulu, dia terpaksa menahan diri.
Wanita itu dilepas begitu saja. Tubuhnya limbung, lalu diseret oleh para pengawal. Mereka melempar ke luar, tanpa sedikit pun memberi kesempatan untuk memohon lagi pada Natan.
Melihat kejadian itu, Manager pengelola turun tangan langsung. Karena masih pagi, tidak banyak orang yang datang. Manager itu membawa semua pelayan dengannya untuk menyambut Natan.
“Selamat pagi, Tuan. Saya memohon maaf secara langsung pada Anda setelah apa yang dilakukan anak buah saya. Setelah hari ini, saya akan menjamin Anda memiliki kenyamanan saat berbelanja di sini.”
“Kau tidak mendidiknya dengan baik. Bukan seperti itu cara menjamu tamu. Tidak peduli bagaimana tampilannya, jika dia ingin masuk dan berlanja, artinya dia sudah siap dengan konsekuensinya.”
“Saya sangat menyesal, saya―”
Natan tidak peduli apa yang dikatakan wanita itu. Dia hanya ingin membeli gaun untuk Samara, lalu pulang setelah membeli sarapan.
Di belakangnya, Saga memperingatkan Manager itu dengan jelas. “Kau tidak memiliki kemampuan untuk mendidik anak buahmu. Nikmati saja hari terakhirmu di sini.”
Tanpa Saga melakukan apa-apa, jelas pemilik butik itu pasti akan segera memecat Manager-nya setelah mengetahui hal ini. Tidak ada yang mau menolak orang yang telah berurusan dengan mereka.
Natan memiliki penilaian yang akurat. Dia memang hanya melihat seluruh tubuh Samara sekali saja, tapi dia bisa menentukan berapa ukuran baju Samara. Dia juga memiliki pilihan warna yang sangat bagus karena ketrampilannya yang hebat dalam melukis.
Jika dia mau kaya, sudah sejak dulu dia menjual lukisannya dan melukis hal-hal lain. Sayangnya, Natan hanyalah pria sederhana. Bahkan setelah dilimpahi kekayaan yang takkan pernah habis oleh Arron, dia masih menggunakan uang pribadinya untuk membeli long dress dari koleksi terbaik mereka saat ini.
“Jangan mengikutiku lagi sampai di sini. Kembalilah dan selesaikan pekerjaanmu.”
“Kau yakin tidak memerlukan apa-apa lagi? Hal-hal seperti tadi tidak menutup kemungkinan akan terulang.”
“Aku tidak ingin ke mana-mana. Hanya ke restoran dan pulang. Kau bisa pergi.”
“Oke.”
Saga mematuhi semua perintahnya. Sekarang Natan telah menjadi bagian keluarga Blade, segala sesuatu mengenai identitas resminya akan diurus secepatnya dan perayaan besar akan diadakan setelah Natan mau mempublikasikan dirinya.
Mereka tidak tahu jika setelah mereka keluar, Luke membawa Julia ke butik itu juga. Sebenarnya itu juga karena Julia yang memohon, dan Luke mengiyakan setelah telinganya berdengung akibat rengekan Julia.
Luke mengikutinya dengan malas. Setelah berputar-putar, Julia tidak mendapatkan apa-apa.
__ADS_1
“Sebenarnya kau mau cari yang mana?”
“Aku dengar ada koleksi baru di Butik Moo ini, dan itu adalah koleksi terbaik mereka. Gaun itu dipamerkan dalam fashion show Paris kemarin, tapi aku tidak melihatnya di sini.”
“Oh, Anda mencari koleksi terbaru kami? Baru saja terjual, Nona.” Pelayan butik itu menyahutnya.
“Terjual? Nona Muda dari keluarga mana yang membelinya?”
“Bukan Nona Muda, tapi seorang Tuan Muda. Katanya, itu untuk istrinya.”
“Tuan Muda siapa?” Saat Luke bertanya, nadanya terdengar congkak.
“Saya tidak mengenalnya, Tuan. Tidak ada dari kami yang mengenal dia berasal dari keluarga mana.”
“Menjual koleksi kalian pada orang sembarangan hanya akan menurunkan kualitas butik ini.”
“Kami memang tidak mengenalnya, Tuan, tapi dia dikawal dengan anggota LC.”
Luke semakin penasaran siapa orang yang dimaksud pria itu. Orang yang berurusan dengan LC pasti bukan orang sembarangan. Jika dia bisa menjalin komunikasi yang baik dengan orang itu, tidak akan ada kerugian di masa depan.
“Sayang sekali, padahal aku suka sekali dengan gaun itu. Akan sangat pas jika memakainya saat pesta malam nanti.”
“Ya sudah, pakai saja apa yang ada di sini. Kau bisa memilih sesukamu, jangan terus merengek. Pilih sendiri, aku akan menunggumu di luar.”
“Tapi, Luke ….”
“Kau bisa istirahat, tidak masalah. Tapi … tapi bagaimana dengan gaun yang akan kupilih nanti?”
“Aku hanya mengantarmu ke sini. Bukankah aku sudah membelikanmu banyak gaun mewah? Jika kau tidak mau memakainya, kau bisa membeli sendiri sesukamu.”
Julia tidak protes lagi. Dia hanya menelan salivanya ketika merasa ucapan Luke membuatnya sakit hati. Namun detik selanjutnya, dia masih mencoba berpikir positif. Luke benar, dia telah mendapatkan banyak gaun dari pria itu.
Dia tidak mau memakainya karena dia sangat menginginkan koleksi terbaru Butik Moo. Luke adalah pria baik, saat dengan Samara dulu, dia iri pada Samara karena Adiknya itu mendapat pria yang sangat baik.
Mungkin Luke memang lelah, jadi dia sedikit kehilangan ketenangannya. Nanti Luke pasti akan kembali baik dan mengabulkan semua keinginannya.
Julia membeli gaun masih termasuk koleksi mahal mereka dengan semua sisa uang tabungannya. Dia tidak peduli lagi jika harus menguras isi rekening, karena Luke pasti akan menggantinya nanti.
Sekarang, tidak perlu khawatir lagi dengan uang bulanan. Luke pria baik, dia akan mencukupi semua kebutuhannya nanti.
Di rumah keluarga Joan ….
Semua orang sedang menunggu kehancuran Samara. Jika mereka sampai mempermalukan keluarga lagi, Jade bersumpah jika kali ini dia akan mengusir mereka dan mencoret nama Samara dari keluarga.
Di atas sana, Samara tidak turun atau membuka pintu sama sekali. Dia baru melihat pesan Natan pagi ini, dan dia semakin gelisah lagi.
Bukan takut Natan kabur, karena entah kenapa dia memiliki keyakinan pada Natan. Dia bukan pria yang tidak bertanggung jawab.
Hanya, ke mana dia pergi sampai tidak pulang? Apa dia melakukan hal tercela demi untuk membuatnya tidak dipermalukan habis-habisan? Atau, bagaimana jika melakukan hal nekat dan nyawa terancam saat ini?
__ADS_1
Semua pemikiran buruk memenuhi kepalanya, berjejalan hingga dia merasa stress menunggu kepulangan pria itu. Ponsel Natan tidak bisa dihubungi juga, hal ini seolah menjadi pelengkap sempurna.
Suara mobil terdengar di bawah sana. Samara menengok dari balkon, dan itu mobil Luke. Pria itu keluar bersama Julia.
Seolah begitu sengaja, Julia menenteng papar bag dari Butik Moo tinggi-tinggi dengan menggandeng Luke mesra.
Melihat pemandangan itu, justru Samara merasa geli. Memang sudah sepantasnya mereka jadi pasangan. Setelah melihat kelakuan asli Luke, dia merasa harus bersujud syukur atas gagalnya pertunangan dia dengan pria itu.
“Ibu … Ayah ….” Julia memanggil dengan sangat bersemangat. Rona bahagia terlihat begitu jelas di wajah Julia seolah-olah dia telah mendapatkan hal yang begitu besar.
Tiana menyambut kepulangan Julia dengan hangat sambil merentangkan tangan. “Aku berpikir kau tidak akan pulang lagi sebelum aku yang memintamu.”
“Aku baru saja berbelanja di Butik Moo, dan aku mampir ke sini.”
“Oh, Julia … kau sangat beruntung sekali. Padahal kau sudah menerima banyak gaun dari Luke saat pernikahan kalian kemarin, dan siang ini kau masih bisa berbelanja.”
Tiana merasa hatinya berbunga-bunga melihat perlakuan Luke pada Julia. Setelah itu, dia juga memuji Luke, “Luke, kau seorang pria dan suami yang begitu baik. Aku merasa sangat bersyukur mendapatkanmu sebagai menantuku.”
“Aku tidak―”
Sebelum Luke mengaku jika dia tidak membelanjakan Julia, Julia memotong ucapannya lebih dulu. “Ya, Luke yang memberikan ini padaku. Sebenarnya dia ingin mendapatkan koleksi terbaru mereka, tapi sayangnya, gaun itu sudah terjual lebih dulu.”
Julia tidak mau menanggung malu setelah Tiana memuji dirinya.
“Kau memang wanita paling beruntung di kota ini. Kalian sudah sarapan? Kebetulan, kami semua bangun kesiangan karena pesta kalian tadi malam. Aku dan Ayahmu belum sarapan. Apa kalian mau bergabung?”
“Itu ide yang bagus. Aku dan Luke juga kesiangan karena semalam.”
“Kalau begitu, kalian tunggu di sini. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita semua.”
Luke tidak menolak. Dalam hati dia juga ingin melihat Samara saat ini. Meskipun dia sudah memiliki Julia, Samara tetap yang paling cantik. Dia masih belum terima, dan jika dia bertemu Natan nanti, dia akan merendahkan Natan sampai serendah-rendahnya agar Samara semakin menyesal telah menolak dirinya demi pria gembel itu.
Di saat yang sama, Natan juga kembali. Dia berjalan dengan tenang membawa banyak barang di tangannya. Sebelah sisi papar bag dengan symbol Butik Moo, dan sebelah sisi kotak makanan dari restoran mewah. Mereka semua tidak buta melihat nama restoran itu. Dan dia membawa banyak sekali kotak.
Rahang Julia dan Tiana melorot melihat Natan berjalan membawa itu semua.
Tidak, Julia tidak akan percaya jika Natan baru saja berbelanja di Butik Moo. Jika itu terjadi, pasti matahari sudah terbit dari Barat. Mungkin pria itu baru saja mengobok tempat pembuangan sampah lalu memungut tas butik terkenal itu.
Natan hanya tersenyum tipis, mengangguk sedikit lalu naik tanpa banyak bicara.
Pintu terkunci. Natan mengetuknya pelan. “Samara.”
Samara memang membukanya, tapi dia terlihat begitu kesal dan langsung menarik Natan masuk. "Kau dari mana saja? Kenapa sampai tidak pulang?”
Semua ocehan Samara hanya seperti angin saja di telingnya. Dia tidak bisa mendengar dengan jelas, tapi ekspresi marah, kesal dan khawatir Samara membuat hatinya senang.
Natan tersenyum manis. “Mencemaskanku?”
***
__ADS_1