Suamiku Bandar, Selingkuhanku INTEL

Suamiku Bandar, Selingkuhanku INTEL
Akhir Yang Indah


__ADS_3

Mario tersenyum cerah saat membaca berita kematian David Anderson. Takdir berpihak padanya, ajal telah menjemput rivalnya.


David Anderson diberitakan telah meninggal karena kecelakaan tunggal. Pria itu mengemudikan mobilnya dalam keadaan mabuk bersama wanita bayaran. Mereka sedang menuju hotel terdekat dari lokalisasi.


Katakanlah Mario manusia jahat sebab telah bersyukur atas kematian David. Akan tetapi, sebagai seorang ayah dia bahagia, karena mulai saat ini hanya dirinyalah yang menjadi ayah Noah.


"Ya Tuhan … terima kasih, Tuhan. Terima kasih!"


Mario berteriak kegirangan dalam ruang kerjanya. Dia melakukan selebrasi atas kematian Mario. Pria itu langsung keluar dari ruangan kerjanya. Dia mencari-cari keberadaan sang istri.


Terlihat Kamelia berada di dapur. Wanita itu sedang memasak. Segera Mario memeluk erat tubuh istrinya dari belakang. Tak berhenti di sana, Mario juga melabuhkan ciuman manis di pipi istrinya.


"Aduh, Mas. Geli ah … kumis kamu kena pipi aku," rengek Kamelia kesal. Dia tidak suka kalau suaminya memanjangkan bulu halus di bagian dagu dan di bawah hidung.


Dia menyukai wajah mulus sang suami. Namun, karena masalah yang menimpa keduanya membuat Mario tidak dak fokus merawat diri. Dia sedang memikirkan bagaimana jalan keluar dari masalah mereka.


Mario tetap nakal. Dia masih betah berlama-lama menguyel pipi istrinya. Bahkan, dia menggigit pipi chubby sang istri.


"Aku senang sekali hari ini," ujar Mario memberitahukan pada sang istri tentang kebahagiaannya.


"Senang kenapa? Habis menang lotre?" tanya Kamelia dengan nada bercanda membuat Mario tertawa pelan.


Sang istri makin hari makin pandai membuatnya kesal. Namun, tetap saja rasa kesalnya itu dikalahkan oleh rasa cinta Mario untuk Kamelia.


"Aku bahagia karena dia sudah meninggal."


Kamelia mengernyitkan dahinya. Bingung mendengar ucapan sang suami. Bagaimana bisa Mario bahagia atas musibah yang menimpa orang lain, begitulah pikir Kamelia.


"Siapa yang meninggal?" Kamelia kembali bertanya. Kali ini dengan nada serius.


Mario mematikan kompor, Kamelia kesal. Namun, tak bisa berbuat apa-apa. Sang suami membalikkan tubuhnya membuat keduanya saling berhadapan.


"David Anderson sudah meninggal karena kecelakaan tunggal. Tadi aku baru saja menonton berita di televisi."


Mario menjelaskan pada Kamelia apa adanya. Wanita itu membatu. Dia tidak tahu harus merespon bagaimana. Antara senang bercampur sedih, karena biang kerok dalam hidupnya telah tiada.

__ADS_1


Tiba-tiba Kamelia langsung memelototi suaminya. Dia menatap Mario dengan sorot mata serius. Seperti sedang mencari sebuah kebenaran.


"Bukan kamu yang membunuhnya, 'kan, Mas?" tanya Kamelia serius.


Wajah Mario yang tadinya tersenyum cerah berubah muram. Dia menjauhkan tubuhnya dari sang istri. Akibat catatan dosa di masa lalu telah membuat Kamelia meragukan taubatnya.


"Sejahat itukah aku di mata kamu?"


Mario membalikkan pertanyaan Kamelia. Wanita itu merasa bersalah saat mendapatkan luka di dalam bola mata sang suami.


"Mas, bukan begitu. A-aku …"


Mario langsung bergegas meninggalkan dapur. Kamelia mengejar sang suami, dia tidak mau berlama-lama marahan.


Hatinya sakit bila sang suami mengabaikan dirinya bila marah.


"Mas, maafin aku … aku salah!"


Kamelia berusaha mencekal tangan sang suami. Namun, Mario menghempaskan tangan Kamelia tanpa menoleh ke belakang.


Suara pecahan kaca membuat Mario menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya dia melihat sang istri terjatuh ke lantai dan tangan Kamelia berdarah akibat terkena pecahan kaca.


"Auch …!" Kamelia meringis kesakitan.


Tentu saja Mario panik melihatnya. Dia menekuk salah menekuk kedua kakinya di lantai. Lalu membantu sang istri bangkit.


"Kamu terluka. Ayo ke dokter!" ajak Mario panik.


Kamelia tersenyum haru. Sang suami masih peduli padanya meski sedang marah. Lagi pula luka goresan di lengannya tidaklah parah. Cairan kental berwarna merah hanya keluar sedikit. Cukup diobati dengan P3K.


"Maafin aku," lirih Kamelia lalu segera memeluk tubuh sang suami. Dia menumpahkan tangisnya dalam pelukan Mario.


Meminta maaf atas kesalahannya.


Mario menghela nafas berat. Mau bagaimanapun dia tidak bisa marah lama-lama dengan Kamelia. Rasa cintanya mampu memadamkan api amarah dalam dada.

__ADS_1


"Aku sudah berubah sejak aku memutuskan menjadi ayah dan suami yang baik."


"Iya, aku tahu … aku minta maaf, Mas. Jangan marah lagi," rengek Kamelia.


"Iya-iya aku maafin."


Mario melonggarkan pelukannya. Lalu menangkup pipi sang istri. Entah siapa yang memulai, bibir keduanya telah menyatu. Penuh damba dan hasrat, hingga terpaksa menyudahinya saat mendengar suara menggemaskan memanggil mereka berdua.


"Mama, papa!"


Keduanya terkejut dan saling menjauh. Terlihat seorang bocah laki-laki berlari ke arah mereka.


Hap.


Noah berhasil berada dalam gendongan Mario.


"Humm … harumnya anak papa!"


"Ini anak mama juga!"


Keduanya langsung memperebutkan Noah membuat bocah tampan itu tertawa cekikikan.


Keluarga kecil itu telah aman dari masalah. Mereka bisa hidup dengan bahagia tanpa gangguan. Saling menerima satu sama lain membuat hubungan mereka semakin erat.


"Kalian berdua adalah harta terindahku," batin Mario bahagia.


*


*


TAMAT


Terima kasih telah menunggu update dan mengikuti cerita ini sampai tamat. Bila ada kesalahan kata dalam berkarya mohon maafkan saya. Segala yang baik datang dari Allah dan yang buruk datang dari saya pribadi.


Salam hangat dan sukses. Mohon beri cinta kasih untuk author selalu ❤️🌹

__ADS_1


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2