Suamiku Binatang Buas!

Suamiku Binatang Buas!
Ep.11 | memasak dengan panci batu


__ADS_3

"bangun? "


"hmm. " Yumi menanggapinya dengan malas sambil menguap. matanya yang bulat berair setelah menguap. seperti kucing, rambutnya yang sebahu berponi sedikit berantakan.


Rigis tersenyum dengan mata penuh cinta. "ayo cuci muka, saya sudah membersihkan mangsanya. hari ini aku membawa burung, kelinci, dan telur. katakan padaku kamu ingin dimasak seperti apa, aku bisa belajar. " ucapnya lembut.


"biar aku yang memasak, kali ini ada banyak alat dapur yang baru dibuat, aku ingin membuat sup. "


Yumi beranjak bangun untuk mencuci muka dan berkumur. sudah berapa hari dia tidak menggosok gigi? sangat menjijikan tidak gosok gigi membuatnya kesal tidak bisa memikirkan cara. sebenarnya ada cara jaman dulu nenek moyang kadang menggosok gigi mereka dengan kayu atau sesuatu, tapi Yumi tidak tahu. yang membuatnya sedikit frustasi.


setelah mencuci muka dan berkumur dengan air dingin Yumi menjadi segar. dia sebenarnya ingin mandi, tapi air dalam bak batu tidak cukup untuk mandi, lagi pula dia tidak ingin mandi di gua yang nantinya membuat lantai gua jadi becek. hari ini dia berencana untuk mandi disungai. jadi, untuk sementara ini dia menundanya.


Yumi membuat kompor kayu bakar seadanya dengan tiga buah batu dengan ketinggian dan ukuran yang sama, lalu meletakan panci berisi air bersih diatas kompor, menutup panci rapat-rapat agar abu yang beterbangan dari api tidak mengotori air didalam panci.


Rigis membantu Yumi memasukan kayu dan daun kering ke dalam mulut kompor lalu menyalakan api dengan batu api. seketika percikan api kecil membakar perlahan daun kering dan kayu.


sambil menunggu air mendidih Yumi mengambil ayam yang sudah dibersihkan Rigis, memotong daging menjadi beberapa bagian dengan pisau batu yang tajam, menyisihkannya kedalam mangkuk batu yang agak besar agar cukup menampung dua burung yang cukup besar yang telah dipotong-potong.


Yumi mencuci beberapa sisa sayur, dua buah terong, lima cabe merah, bawang putih dan kubis. sepertinya dia harus keluar lagi untuk mencari sayuran, hanya sisa ini yang tersisa untuk dia makan. buah-buahan dan umbi-umbian juga telah lama habis.


Yumi memasukan semua potongan daging, irisan cabe, dan kubis kedalam panci berisi air yang telah mendidih. lalu masukan garam secukupnya, aduk sup kemudian tunggu hingga daging perlahan matang.


hidup seperti ini cukup. meski tidak senyaman hidup di dunia medern setidaknya dia masih bisa hidup. Yumi melihat gua luas yang dulunya kosong kini penuh dengan barang-barang.


bahkan tumpukan wadah batu juga belum sempat dia rapikan, kayu bakar dan daun kering berserakan digua.


Yumi menghembuskan napas lelah. banyak sekali hal yang harus dia lakukan.


Rigis merebahan dalam bentuk harimau, dengan mata tertutup. dia menemani perempuannya dengan nyaman.

__ADS_1


"rigis, "


harimau putih itu membuka pelan kelopak matanya, melirik Yumi dengan sedikit sayu.


Perempuan itu melihat harimau dengan terpesona, saat kelopak mata terbuka dia bisa melihat bulu mata panjang pada harimau besar itu. Harimau masih ada bulu matanya kah?  dengan penasaran dia mencondongkan tubuhnya untuk melihatnya lebih jelas. iya, betul ini beneran bulu mata. oh oh dia ingin sekali menyentuhnya!


gerak tubuhnya lebih cepat daripada otaknya. dengan sekejap dia merasakan bulu-bulu halus di telapak tangannya.


Rigis menutup matanya, menggerakan kepalanya ingin di elus.


seketika hati Yumi meleleh merasakan harimau buas bersikap manja padanya. inikah rasanya memiliki peliharaan mewah seperti orang-orang kaya itu? ada perasaan luar biasa bisa memelihara harimau dirumah.


Tapi perasaan itu tak bertahan lama kala tiba-tiba harimau cantik itu berubah menjadi seorang pria telanjang.


tubuh Yumi membeku. tangan nakal yang tadi mengelus kepala harimau kini malah tangan itu menempel pada dada telanjang pria.


Yumi dan Rigis saling tatap. suasana kini canggung dan memalukan. dia melengos salah tingkah.


dia membuka tutup panci, seketika aroma sup ayam memenuhi seluruh gua. "sangat harum! " seru Yumi, sekejap melupakan kejadian barusan.


Mulutnya mengisap air liur, tidak sabar ingin segera makan. "Rigis ambilkan aku mangkuk, cepat! "


dalam sekejap pria itu membawakan mangkuk beserta sendok batu. Yumi mencicipi sup yang dia buat seadanya. daging ayam penuh lemak direbus hingga empuk, meski hanya garam, bawang putih dan cabai sebagai bumbu, rasanya sangat enak, apalagi dagingnya empuk dan lunak, tidak bau amis sama sekali.


"Rigis, ini sangat enak, ayo coba rasakan. " Yumi membawa sendok ke mulut Rigis, menyuapinya tanpa rasa canggung.


Rigis dengan senang hati menerima perlakuan perempuan. dia dengan cepat membuka mulut dengan patuh.


Yumi melihat Rigis dengan penuh harap, menunggu pujian. "bagaimana? "

__ADS_1


dengan senyum lembut yang tersungging dibibir merah tipisnya, Rigis memberi jawaban yang ditunggu perempuan, "enak." pujinya tulus.


seketika Yumi tersenyum lebar. "benar kan! masakanku tidak pernah mengecewakan. meski hanya bumbu seadanya aku bisa memasak tanpa masalah dengan rasanya. " ucapnya dengan bangga.


Rigis tidak berbohong, supnya memang enak. rasanya agak ringan namun menyegarkan saat meminumnya. dagingnya di masak dengan tepat. air supnya menyegarkan, tidak ada bau amis sama sekali. ada rasa pedas ringan dengan aroma bawang, sedangkan kubis didalamnya memang sengaja dibuat sangat lunak hingga bisa dipecah sampai larut ke dalam sup agar bisa membuat sedikit rasa.


meski Yumi kerjaannya sangat malas setiap hari, dia tidak pernah meninggalkan pelajaran memasak sejak dia kecil dari neneknya. hanya sejak SMA dia mulai jarang memasak sendiri. tapi bukan berarti hal itu bisa membuat dia kehilangan keahliannya.


Yumi tinggal di desa dengan neneknya sejak kecil, membuatnya bisa beradaptasi cepat dengan lingkungan hutan belantara saat ini.


"ayo ambil mangkuk lain untukmu makan." Yumi berkata cepat.


Rigis hanya patuh tanpa banyak bicara. meski satu mangkuk makan ini tidak membuatnya kenyang sama sekali, dia masih akan tetap senang hati mencicipi makanan yang dibuat betinanya.


setelah Yumi menghabiskan satu mangkuk penuh sup dengan bahagia. masih ada sisa didalam panci.


"perutku sangat kenyang tapi masih ada sisa sup dalam panci, jika disimpan rasanya mungkin kurang enak nanti. " dia berkata dengan penyesalan. "Rigis, apa kamu masih bisa memakan sisa sup dalam panci? "


Rigis menyerngit, "kamu hanya makan sangat sedikit, makanlah lebah banyak. "


"aku sudah penuh. tidak sanggup lagi. cepat habiskan sisanya dalam panci, supnya masih hangat jangan tunggu sampai dingin, "


Rigis menatap Yumi dengan khawatir, betina makan sangat sedikit, pantas tubuhnya kurus. "kamu makan lagi. "


"tidak! sungguh aku sangat kenyang. kamu bisa menghabiskannya. "


"cepat. aku ingin mandi. " Yumi beranjak pergi dengan cepat.


Rigis melihatnya tanpa daya. dia menghabiskan sisa sup hanya dengan beberapa suap. kemudian menyusul Yumi keluar gua.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2