Suamiku Binatang Buas!

Suamiku Binatang Buas!
Ep.16 | Suku Domba


__ADS_3

Yumi kembali ke gua dengan banyak barang ditangannya.


dia meminta Rigis untuk menggantung dagingnya di langit-langit gua. sedangkan Yumi bertugas mengisi air kedalam panci batu yang berukuran besar.


"Rigis, bantu aku mengangkat panci ini, taruh itu diatas kompor." Yumi berkata dengan lugas.


"masak air begitu banyak?" Rigis bertanya dengan heran. dia menaruh panci, lalu menyalakan kayu bakar.


"ya, selain untuk minum juga untuk merebus jeroan domba." Yumi berkata, berjalan ke ruang kayu bakar, mengambil garam, cabai dan bawang putih.


"Rigis, kita harus kembali ke padang rumput. Lihat, sayuran dan bumbu sudah habis, ini yang tersisa." katanya dengan mengeluh. menyesal tidak memetik banyak saat itu.


"aku akan mengambilnya besok, kamu hanya perlu menungguku digua." dia mengawasi api sambil menangani daging domba.


Yumi berjongkok didekat api tanpa melakukan apa-apa. penyakit malasnya kambuh lagi, hanya memerintah dengan kemalasan ditulangnya. "potong dagingnya jangan terlalu besar, cukup berukuran tiga jari, aku ingin membuat dengdeng pedas, tapi bumbunya kurang cukup, kamu cepatlah pergi mengambil banyak cabai, atau aku ikut pergi saja besok ke suku domba? bukankah kamu bilang suku domba punya banyak?"


Rigis mengangguk, dan berkata, "apa yang kamu butuhkan? ada banyak disana." dia berpikir untuk mengajak Yumi pergi. tapi kemudian dia mengurung niatnya lagi, sebab akan butuh waktu lama dalam perjalanan jika Yumi ikut, jadi dia hanya membuang ide ini untuk sementara.


"aku butuh banyak bumbu dan sayuran, tidak cukup hanya sedikit." Yumi merenung mengingat banyak rempah yang dia tahu. melirik Rigis yang sedang memotong daging domba,"kamu mengiris daging terbanyak, aku tidak bisa makan, sisa daging akan dibuat dendeng, nanti saja jika sudah ada bumbu. ayo bikin barbeque, aku ingin makan hati domba pedas."


"oke," Rigis menurut dengan patuh.


ketika air mendidih, tanpa permintaan Yumi, Rigis dengan cepat menuangkan sebagian air matang untuk diminum ke baskom batu yang telah disiapkan khusus untuk menampung air minum. sisa air mendidih dipanci digunakan untuk merebus usus dan jeroan yang telah dibersihkan.


setelah cukup waktu untuk merebus, panci diangkat, digantikan dengan wajan pipih untuk barbeque. sudah lama dia tidak makan barbeque jeroan domba, aromanya sangat harum ketika baru saja diletakan di atas wajan batu. Aroma dan rasanya menyebar diseluruh gua yang menambah nafsu makan.


dengan sumpit yang dia buat, Yumi mencicipi sepotong usus domba, ketika masuk ke dalam mulutnya rasa lembut dan asin menyebar dalam mulutnya, enak! ini benar-benar lezat.

__ADS_1


"cobalah keahlianku, ini lezat." Yumi menaruh potongan usus dan hati domba kepada Rigis. seketika mata birunya berbinar terkejut saat merasakan kelezatan yang belum pernah dia rasakan, hal yang menurut mereka menjijikan dan dibuang bisa menjadi hal yang lezat ditangan Yumi. sisa waktu mereka nikmati dengan mengobrol hingga tanpa sadar Yumi tertidur.


Esoknya ketika cuaca cerah, Yumi tidak melihat Rigis di gua. hanya makanan panas dalam mangkuk beserta air panas yang disiapkan dalam ember untuk mandi.


melihat perhatian ini membuat senyum Yumi terbit tanpa sadar. dengan hati yang bahagia, dia beraktifitas sambil menyandungkan lagu.


sementara itu harimau putih besar berlari dengan cepat menuju utara, dimana area hijau padang rumput paling luas dibenua orc.


ketika Rigis sampai diwilayah suku domba, hari sudah menjelang siang ketika dia sampai setelah tiga hari perjalanan. dia berubah menjadi manusia, berdiri disana sebentar, sebelum berjalan menuju area luas padang rumput yang dikelilingi batu atau bambu yang sengaja dipasang sebagai batas area.


suku domba terletak diutara, kebiasaan suku domba adalah menanam berbagai tanaman sendiri yang terkadang ditukar dengan daging kepada ras lain.


"Rigis! " Habi melompat membuang bambu ditangannya, ketika melihat temannya digerbang suku.


"Habi," Rigis menganguk,


"teman! kau lama sekali tidak datang berkunjung. bagaimana hari ini? mau bertukar akar hangat lagi?(jahe) saya simpan banyak dirumah. oh? dimana daging untuk ditukar?" Habi bicara dengan antusias kepada temannya, namun heran melihat Rigis tidak membawa apapun.


suku domba memiliki tinggi rata-rata 150-160 cm. jika dibandingkan dengan tinggi Rigis 190 memang pendek.


"ah! anda memiliki pasangan? bukankah kamu berkata akan kawin setelah menerobos ketingkat 5? apa kau orc tingkat 5 sekarang?"


Habi adalah orc domba yang antusias, selalu ada banyak pertanyaan dalam topik apapun dengan lawan bicaranya, juga merupakan orc paling cerdas disuku domba. Habi adalah orc jantan yang paling banyak berteman dengan banyak orc dari berbagai ras, paling banyak tahu berita dan pengetahuan. Rigis adalah salah satu teman favoritnya, menurutnya meski Rigis adalah tipe orc yang tidak banyak bicara, namun banyak pengetahuan.


"tidak." Rigis meliriknya.


Habi langsung mengerti, dan mengubah topik pembicaraan, "ah aku mengerti, ayo ke gubukku, apa yang anda butuhkan? dimana dagingnya? apa anda benar-benar butuh banyak rumput sayur? ayo negosiasikan.." Habi dan Rigis berjalan berdampingan menuju gubuk milik Habi sambil bicara sepanjang jalan.

__ADS_1


Berbeda dengan suku harimau, menggunakan gua atau celah batu sebagai rumah, suku domba membuat gubuk sendiri menggunakan batang bambu atau pohon tumbang sebagai tempat tinggal.


menurut sejarah, ada cerita di dalamnya, yaitu, Patriak domba generasi dulu merupakan salah satu orc domba cerdas yang berhubungan dengan suku kera yang pintar. domba umumnya memiliki otak bodoh namun jujur, kemudian bertemu kera yang cerdik, saat itu patriak domba menyelamatkan kera dari badai salju, membuat keduanya bersahabat dan berbagi pasangan dari generasi ke generasi hingga sekarang.


karena kecelakaan badai salju keduanya memutar otak dan bekerja sama membuat rumah yang cukup terhindar dari dingin dan angin.


itu menurut cerita yang diketahui secara umum dikalangan orc. untuk keaslian ceritanya sendiri, tidak ada yang diketahui apa yang sebenarnya terjadi.


untuk saat ini Yumi membuat pengecualian untuk dirinya sendiri, karena keadaan melakukan hobinya membaca novel, dia sedikit rajin. melihat daging yang tergantung dilangit langit gua, Yumi berencana mengiris semua daging domba, kemudian lumuri daging dengan garam secara merata untuk di asinkan.


Yumi sangat menganggur hingga harus melakukan sesuatu untuk diriku sendiri.


setelah selesai dia menjemur daging dibawah sinar matahari. sebentar lagi waktu makan siang. Yumi hanya menggoreng tiga telur burung dan sepotong daging untuk makan.


ketika tengah makan dengan santai, dia mendengar suara burung Elang menggema dilangit. gerakannya terhenti seketika, matanya menyipit tak terkendali. Namun kemudian suara itu tak terdengar lagi.


setelah menghabiskan makan siangnya, saya menganggur lagi. Yang bisa dilakukan Yumi kini berkeliling gua kemudian dia teringat dia tidak memiliki sayuran liar lagi. hanya menunggu Rigis kembali Yumi sangat bosan, jadi dia berencara mencari makanan disekitar gua.


Yumi berpikir karena ini musim gugur pasti akan ada banyak jamur ditambah hujan kemarin, dia pasti akan mendapat panen yang bagus.


dan benar saja banyak sekali jamur, diantaranya; jamur porcino, jamur morel, jamur lingzi,  jamur matsutake, jamur lion's mane, jamur portobello, jamur maitake, jamur truffle, jamur shiitake, jamur shimeji, jamur merang, jamur kancing, jamur kuping, jamur tiram, jamur enoki, jamur suung bulan.


ada begitu banyak jenis jamur sekaligus dihutan belantara saat ini, yang bahkan diantaranya ada banyak jenis jamur yang diluar musim, yang sangat ajaib. tapi itu tidak membuatnya merasa aneh lagi, saat ingat dunia yang Yumi tinggali sekarang, bukanlah bumi.


saat ini Yumi berjongkok menggali kumpulan jamur truffle yang hampir sama dengan warna tanah.


lagi-lagi suara kepakan sayap Elang terdengar diatas kepala. Yumi mendongkak ke langit.

__ADS_1


kali ini, Yumi bisa melihat burung besar yang berputar-putar diatas kepalanya. ini tidak baik, dia tiba-tiba merasakan firasat buruk.


Sedangkan untuk saat ini, jauh di kedalaman hutan harimau besar berlari membawa dua karung kulit binatang yang cukup besar di punggungnya. Rigis berlari sangat cepat, karena tidak sabar untuk segera kembali ke gua menemui Yumi. dalam perjalanan kembali ini, Rigis tiba-tiba merasakan kegelisahan, merasa firasat tidak menyenangkan dari arah keberadaan Yumi yang masih jauh. Segera Rigis mempercepat tanpa jeda.


__ADS_2