Suamiku Binatang Buas!

Suamiku Binatang Buas!
Ep.12| makanan disini rasanya beda


__ADS_3

Yumi berjalan perlahan menuju sungai diikuti harimau putih dibelakang punggungnya.


sama seperti pergi tur di alam untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan hutan dan gunung. Yumi tampak menikmatinya dengan santai, tanpa rasa takut. ternyata begini rasanya menghirup udara segar dihutan, pantas saja kakak laki-lakinya suka melakukan kegiatan survival digunung atau hutan. sama seperti dia rasakan saat ini, bisa menyatu dengan alam kapan saja.


Yumi memejamkan mata, menghirup oksigen dalam-dalam, menajamkan penciuman dia bisa mengenali aroma pohon dan bunga liar. menajamkan pendengaran dia bisa mendengar nyanyian burung beserta kepakan sayapnya, mendengar gemerisik daun pohon tertiup angin, gemerisik hewan kecil dirumput.


semua seperti mimpi hampir tak nyata untuk digapai dibumi kita yang penuh polusi dan kerusakan.


Alam semesta.


Itulah yang Tuhan ciptakan untuk kita hidup kini dalam perjalan menuju kerusakan, entah karena keegoisan mahluknya atau memang karena sudah takdirnya untuk hancur.


Yumi tersenyum ironis. melanjutkan perjalanan kini dia berjalan cepat tanpa berlama-lama menikmati pemandangan hutan.


ketika akhirnya dia sampai, dia langsung mencari tempat yang cukup tersembunyi dibalik batu dan pohon.


"Rigis, berjagalah aku ingin mandi, dan kamu jangan coba-coba untuk mengintip! " peringatnya dengan keras. setelah yakin harimau itu tidak akan lagi berbuat aneh-aneh. Yumi akhirnya diyakinkan.


dia berjalan menjauh. kemudian mendapat tempat yang dirasa aman, perempuan itu mulai menanggalkan pakaiannya, sambil tetap waspada melihat sekeliling.


Yumi duduk dibatu hanya mengenakan ****** ***** dan bra. dia membasuh tubuhnya dengan air hingga cukup basah terutama tangan dan kakinya dengan cermat. kemudian karena tidak ada sabun, Yumi hanya bisa menggunakan batu halus untuk menggosok tubuhnya agar kotoran dan kulit mati terangkat bersih. Ini adalah salah satu cara jaman dulu untuk membersihkan badan tanpa sabun yang Yumi tahu.


tempat yang sering banyak keringat Yumi gosok agak lama, agar bersih. meski tidak wangi karena tidak ada sabun, setidaknya badannya bersih dari kotoran dan kulit mati.


Untuk berjaga-jaga dia tidak menanggalkan semua pakaiannya hingga benar-benar telanjang. Yumi rela membuat pakaian dalamnya basah dari pada harus terekspos jika sewaktu-waktu ada orang yang melihatnya mandi disungai.

__ADS_1


Setelah menggosok seluruh tubuhnya, dia turun ke air langsung, menyelam hingga rambutnya basah sepenuhnya, menggosok kulit kepalanya dengan cermat karena tidak ada shampo. setelah itu dia berenang di sungai bolak balik.


dirasa sudah cukup mandi, Yumi beranjak dari sungai. dia lagi-lagi melihat sekeliling dengan teliti memastikan tidak ada yang mengintipnya. meski ini hutan, siapa yang tahu ada orc lain seperti Rigis ditempat ini. setelah yakin area tempatnya aman dia mulai berani menanggalkan bra dan ****** ********.


Yumi hanya memiliki satu pakaian yang melekat pada tubuhnya saat pelarian, cukup membuatnya sakit kepala memikirkan baju ganti atau baju hangat yang tebal untuk musim dingin nanti. lain kali dia akan bicara dengan Rigis untuk meninggalkan bulu binatang yang pria itu dapatkan.


Yumi memakai jaket dan celana bahan hitam panjangnya. meninggalkan kaos pendek dan pakaian dalam basah untuk dia cuci. tanpa pakaian dalam membuatnya agak aneh pertama kalinya, untungnya celana yang dia pakai saat itu berbahan kain halus bukan jeans yang keras dan kaku. kini meski tanpa celama dalam, dia tidak khawatir merasa tidak nyaman atau membuat selangkaannya lecet.


setelah mencuci seadanya karena lagi-lagi tidak ada deterjen. Yumi menghampiri Rigis. harimau itu sedang duduk ditempatnya semula tanpa bergerak, namun telinga dan mata biru terangnya sangat tajam memindai sekeliling, berjaga dari orc jantan atau binatang buas yang siapa tahu, sewaktu-waktu mendekat ke area perempuannya mandi.


Rigis melihat perempuannya muncul dari balik batu dan semak-semak disisi sungai, merasa lega. akhirnya Yumi menyelesaikan mandinya. dia berjalan mendekat, menggosokan tubuh besarnya pada tubuh betina dengan intim.


"yah, kau sudah berjaga untukku, terima kasih. " Yumi tersenyum, dan berkata dengan tulus.


dengan sedikit enggan dia menghentikan tangannya bermain-main menggosok bulu halus Rigis.


"sudah agak siang, ayo cari makanan. "


Harimau putih itu memberi isyarat pada Yumi untuk naik ke punggungnya. dengan patuh, Yumi naik. "Rigis kita kembali dulu ke gua. ambil tas kulit binatang yang ku buat kemarin. " selain itu dia juga harus menjemur pakaian basah yang telah dicuci ini segera.


keduanya kembali ke gua dengan cepat. setelah menjemur pakaiannya dibawah matahari dipohon dekat gua, Yumi masuk ke dalam gua mengambil tas kulit binatang yang cukup besar. kemudian keduanya pergi ke hutan mencari makanan.


Rigis membawa Yumi ke tempat pohon buah-buahan yang sering dia bawa untuk perempuan makan.


ada lima pohon apel yang tersebar di tempat ini. Yumi hanya memetik beberapa yang matang. "Rigis apel ini rasanya sangat enak, beda sekali dengan apel ditempatku berada. "

__ADS_1


kali ini Rigis berubah menjadi manusia, untuk membantu Yumi memetik buah di atas pohon dia harus memanjat.


"hm. apa bedanya," tanya dia dengan santai sekedar menemani perempuannya bercakap-cakap.


dia sebenarnya bukanlah pria yang suka banyak bicara dengan siapapun, atau mendengar orc yang cerewet yang banyak maunya seperti kebanyakan betina. tapi sekarang, dia sangat suka mendengar suara kecil dan lembut Yumi. cara gaya bicara Yumi tidak seperti betina lainnya yang terdengar membentak dengan suara keras, yang kadang terdengar kasar dan sombong, apa lagi kebanyakan mereka berbicara hanyalah sekedar memerintah jantan. tidak banyak pembahasan lain untuk bercakap-cakap santai seperti yang sering dilakukan Yumi.


"beda, apel disini lebih manis dengan tekstur lembut. kalo apel ditempatku rasanya memang manis tapi teksturnya renyah."


"lalu? " Rigis berhasil menjangkau buah paling bagus dan besar di ujung pohon.


"buah lainnya juga sama, beda banget sama buah-buahan ditempatku, dari rasa, ukuran, warna bahkan teksturnya juga beda. aneh banget gak sih? apa ya, yang buat mereka beda? " Yumi merenung.


Rigis turun dari pohon, menghampiri Yumi yang duduk di rumput menunggunya.


dia terkekeh, merasa lucu. "apa bedanya? yang penting sama, sama-sama bisa dimakan. "


iya ya? yang penting sama, bisa dimakan. ngapain aku pikirin yang gak penting, yang sudah jelas-jelas dia bahkan tidak tahu jawabannya. tiba-tiba dia merasa malu sendiri. dia yang berkata dia yang pusing sendiri.


"oh! kamu sudah selesai memetiknya? petik yang paling bagus saja kan? " dia berpura-pura tidak mendengar perkataan Rigis. tangannya merogoh tas kulit binatang yang berisi buah apel yang Rigis petik. menghidar tatapan senyum Rigis.


Rigis hanya terkekeh, tidak mengekspos. "ayo pergi, ambil lebih banyak jenis buah yang kamu inginkan. "


"iya! ayo cepat pergi jangan tunda waktu lebih lama. " serunya semangat. akhirnya dia lega, berhasil menghindar dari topik yang akan mengekspos kebodohannya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2