
Hari terus berjalan, waktu perpisahan semakin dekat. Antara sedih dan juga bahagia. Bagaimana tidak justru di saat waktu kebersamaan dengan suami hanya tinggal 1 tahun lagi, Aluna harus di hadapkan hamil.
" Sayang... sudahlah jangan menangis terus, kasihan bayi dalam kandungan mu. Mungkin ini semua takdir dari Tuhan, aku yakin jika Tuhan memiliki sebuah rencana yang indah. " Ucap Anael sambil memeluk sang istri dan mengusap lembut punggung sang istri mencoba menenangkan.
Aluna merenggangkan pelukan sang istri bahkan dirinya berusaha melepaskan pelukan suaminya...
Aluna memilih duduk di pinggir ranjang, dengan wajah yang sudah di basahi dengan air mata yang terus mengalir.
" Ya kamu enak bicara seperti itu. Aku yang akan merasakan nya. Memiliki anak tanpa suami ! Aaaahh...aku memang bodoh, mengapa harus hamil..." Aluna menangis histeris, tangannya terus memukul perut yang masih terlihat rata.
Anael langsung menangkap tangan sang istri, menghentikan tindakan sang istri yang bisa menyakiti calon anaknya
__ADS_1
" Ku mohon jangan sakiti dia, dia tak salah ! Yakinlah itu sudah suatu kehendak Tuhan. Anggaplah anak itu sebagai kenang-kenangan dari cinta kita ! Aku berharap dirinya bisa menjadi pelindung dan kekuatan untuk dirimu saat diriku tak ada. " Ucap Anael membuat Aluna bertambah frustasi.
" Hiks...hiks...Pergi ! Aku tak menginginkan anak ini ! Aku tak akan sanggup membesarkan dirinya seorang diri ! "
Anael merasa sedih, karena ternyata sang istri tak menginginkan kehadiran anak dalam pernikahan nya. Aluna berusaha menghindari kehamilan dengan meminum obat yang dia beli di toko obat , obat itu selalu dia minum setelah habis berhubungan intim dengan sang suami. Setelah sekian lama berhasil, namun untuk saat ini Tuhan berkata lain. Aluna harus menerima hasil dari percintaan dengan sang suami.
Anael langsung mendorong tubuh sang istri hingga kini mereka sudah berada di ranjang, Anael memeluk erat sang istri dan menjadikan sandaran sang istri dalam meluapkan perasaannya.
Tubuh Aluna semakin melemah karna terlalu banyak menangis, hingga akhirnya dirinya tertidur dalam pelukan suaminya.
Anael mengusap lembut rambut sang istri dan mengecup kening sang istri dengan lembut.
__ADS_1
" Selamat tidur, istri dan calon ibu dari anak ku ! Aku akan selalu membuat mu bahagia saat aku masih di sisi mu ! "
Anael bangkit dari ranjang dan memilih pergi ke ruangan kerjanya.
Dirinya menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya sambil memijat keningnya yang terasa sakit.
" Terkadang aku berpikir takdir memang kejam, maafkan aku sayang yang melibatkan dirimu dalam hidupku. Aku tak berniat menyakiti mu, namun aku sangat yakin jika akhirnya aku akan menorehkan sebuah luka yang teramat dalam di hati mu ! Ku mohon maafkan aku jika semua itu terjadi ! " Anael menghembuskan nafas nya. Sungguh hatinya juga merasa sangat sesak jika harus memikirkan waktu yang suatu saat akan memisahkan dirinya dengan istri tercintanya dan juga anaknya.
Setelah menenangkan dirinya , Anael memilih untuk kembali ke kamar istri nya tidur. Dirinya ikut naik ke atas ranjang, tidur di sebelah sang istri.
" Semoga waktu tak cepat berlalu, agar aku bisa lebih lama bersama dengannya. " Ucap Anael.
__ADS_1
Perlahan matanya mulai terpejam sambil memeluk tubuh sang istri dengan erat...