Sword From Legend

Sword From Legend
Episode 1 : Permulaan


__ADS_3

Pada suatu


hari di desa Raven kedatangan seorang pedagang yang ingin mencari pelindung


seorang pendekar pedang, karena si pedagang mengetahui bahwa desa Raven


terkenal akan pendekar pedang yang terpandang. Saat si pedagang sampai di


gerbang desa, ia langsung membuat keramaian di didepan gerbang masuk desa


Raven.


“Aku kemari


untuk mencari seorang pendekar pedang terhebat di desa ini!!!”


“Aku akan


mengadakan sebuah pertandingan, untuk menentukan pendekar pedang yang akan aku


jadikan sebagai pengawal pribadiku!, pertandingan itu akan aku adakan di


pusat desa ini besok pagi!” (Sambung si pedagang dengan berteriak)


Ismelda,Ari, dan Alex yang sedang duduk di sebuah kedai, mendengar ucapan dari si


pedagang.


“Hey Ari kau dengar yang diucapkan oleh pedagang itu?”


“Ya, memang kenapa?, Jangan bilang kau mau ikut pertandingan itu”


“Pastilah aku akan ikut pertandingan itu, soalnya itu adalah peluangku untuk menjadi


pendekar pedang yang terpandang”


“Sudahlah Ari, kau tak akan bisa menghentikannya ketika sudah bertekad ingin melakukan


sesuatu” Sambung Alex sambil tertawa


“Yasudahlah,


kita latian aja untuk persiapan sayembara besok!” ajak Ari sambil berdiri dari


kursi


Dan akhirnya


mereka bertiga berlatih sampai sore, dan mereka pun pulang ke rumah masing


masing.


Keesokan


harinya Ismelda sangat bersemangat dan tidak sabar untuk mengikuti pertandingan


pertamanya. Ia berpamitan dengan ibunya seperti biasa sebelum ia pergi keluar


rumah .


“Ibu, doakan


Ismelda untuk keberhasilanku di pertandingan nanti”


“Ismelda,


doa ibu tidak akan berhenti mendoakan kamu, apa lagi itu untuk keinginan yang


ingin kamu capai”


“Terima


kasih ibu, aku berangkat” dengan semangatnya Ismelda pun berangkat dengan wajah


tenang.


Ismelda


selalu menunggu teman-temannya di persimbangan rumahnya, dan selang tidak lama


pasti temannya pun datang.


“Ismelda


cepat sekali kau datang pagi ini, biasanya kan kau yang paling belakangan


datang” Ucap Ari yang sedang mengambil nafas setelah berlari.


“Sesering


itukah aku terlambat? Sampai yang kau ingat hanya telambatku saja” Ucap Ismelda


dengan  wajah malu.


“Hahaha,


saking seringnya kau telambat sampai hanya terlambatmu saja yang kami ingat”


Ucap Ari yang baru datang dengan santainya.


“Ya


sudahlah, ayo kita berangkat. Keburu sayembaranya dimulai” Ucap Ismelda dengan


mulai berjalan menuju pusat desa.


Dan setelah


berjalan kurang dari 10 menit mereka bertiga sampai di pusat desa. Tempat itu


pun sudah ramai dengan para peserta sayembara. Mereka bertiga pun langsung


mendaftar di depan pintu masuk arena sayembara, dan mereka mendapat nomer


urutan beretanding.


Jumlah


peserta yang ikut hanya 20 orang saja...


Dan mereka


menunggu sekitar 30 menit, dan si pedagang memulai sayembara tersebut....


“Akhirnya


sayembara ini dimulai” Ucap Ismelda dengan senangnya


“Hei, kalian


dapat nomer berapa?, kalau aku mendapat nomer 7.” Tanya ismelda kepada kedua


temannya.


“Aku nomer


4, kalau kamu Ari?” jawab Alex dengan nada kurang yakin .


“Aku


mendapat nomer urutan 1” sambung Alex dengan nada takut.


“Hahaha,


sabar ya Alex, kau pasti bisa melawan musuhmu di pertandingan nanti” respon Ismelda


dengan jawaban Alex, dengan wajah mendukung Alex.


“Terima


kasih Ismelda”


Ketika


setelah pertandingan Alex berakhir, dengan kemenangan Alex. Sekarang malah Ari


yang gugup karena ini pertandingan pertamanya. Hal yang sama dilakukan oleh


Ismelda yaitu memberi semangat dan menyakinkan kalau ia pasti bisa memenangkan


pertandingannya. Dan Ari pun memenangkan pertandingannya juga.


“Ari selamat


ya atas kemenanganmu” Sambut Ismelda dan Alex setelah Ari turun dari arena.


“Terima


kasih Ismelda, Alex” jawab Ari dengan senang.


Setelah


menunggu agak lama, akhirnya sampai pada giliran Ismelda.


“Ismelda


semangat ya, jangan sampai kalah di awal pertandingan” Seru Ari dan Alex


dipinggir arena pertandingan.


“OK, aku


juga tak mau kalah dari kalian berdua” jawab Ismelda yang sedang menaiki arena


Di atas


arena aku mulai gugup karena musuhnya telihat sangat kuat dan membawa senjata


yang kuat, sedangkan aku tidak membawa apapun, hanya membawa sebilah kayu


panjang. Mungkin akan kutunjukan hasil latihanku saja.


“Pertandingan


dimulai” Teriak wasit sambil menurunkan tangan kanan dari atas ke bawah.


“Akan


kuhancurkan tubuhmu dengan sekali ayunan pedangku ini!, gdis bodoh” Teriak


musuhku sambil bergerak menuju ke arahku dengan santai.


Namun itu


malah memberiku waktu untuk membisikan kata yang harus aku keluarkan sebelum


memakai kekuatanku.


“Lepaskan


pembatasan kekuatanku dari apa yang membatasinya dan berikan aku kekuatan untuk


mengalahkan musuhku” Bisikku dengan menghunuskan kayu yang aku bawa seperti

__ADS_1


menghunuskan pedang.


Akhirnya aku


bisa menyelesaikan tekni ini!!. Memang benar ini hanyalah sebuah kayu namun,


setelah aku mengucapkan kata-kata itu, kayu yang mudah patah bisa menjadi


setajam dan sekuat pedang. Tetapi aku hanya mengetahui sebatas itu, aku tak


mengetahui jika aku mengatakan kata-kata itu, aku mengubah apapun yang ada di


tanganku menjadi pedang legenda yang sangat kuat.


“Bersiaplah,


gadis bodoh!!” Teriak musuhku dengan sombongnya.


Ketika aku


mendengar teriakan itu aku sadar bahwa aku telah mengucapkan kata-kata itu. Namun


aku tak bisa menggerakan tubuh maupun tanganku dan tiba-tiaba saja tanganku


bergerak mengayunkan kayu ( Pedang ) yang kubawa, saat aku sadar sepenuhnya aku


telah berada di bawah arena, di sebuah kursi panjang, aku terbangun dan


terkejut dan yang kulihat pertama adalah Ari.


“Apa yang


terjadi mengapa aku ada di sini?” tanyaku kepada Ari yang ada di sampingku


dengan wajah yang terlihat kelelahan.


“Syukurlah


kau telah sadar, kau tadi pingsan setelah mengayunkan kayu yang kaubawa ke atas


arena. Dan musuhmu langsung tumabng tanpa bisa mengayunkan pedangnya. Apa kau


tidak mengingatnya?” jawab Ari sambil tangannya mengelus dadanya.


“Aku sama


sekali tidak mengingatnya, yang kuingat hanyalah sesaat aku mengucapkan


kata-kata yang ada di kepalaku, setelahnya tidak ingat.”


Saat


kesadaranku sudah pulih pertandingan Alex juga sudah selesai. Alex pun segera


datang kepada aku dan Ari berada.


“Ismelda kau


tidak apa-apa??” tanya Alex dengan penuh ketakutan.


“Tidak


apa-apa Alex, jadi tenang saja”


“Syukurlah”


Sahut Alex dengan lega dan segera duduk di sebelahku.


Semuanya


berjalan lancar, saat giliranku untuk bertarung lagi akan tiba aku mulai


menenangkan pikiranku. Dan saatnya tiba.


“aku pergi


dulu Alex, Ari!”


“Semangat


Ismelda” sahut Alex dan Alex


Sesampainya


di atas arena aku mulai merasakan perasaan seperti pertandingan di awal tadi.


Sepertinya musuhku kali ini sedikit pintar.


Mungkin aku


harus menggunakan teknik lain daripada yang aku gunakan di awal tadi. Kalau aku


menggunakan teknikku seperti di awal tadi mungkin aku akan kalah. Akan


kugunakan teknik itu saja.


“Pertandingan


dimulai” Teriak wasit


“Perkenalkan


namaku Ju Viole, kalau aku boleh tahu siapa namamu gadis muda?” Ucap Viole


dengan tenang.


“Namaku


penasaran.


“Ooooh, jadi


itu kau?, dasar keluarga yang di buang.”


“Hah?,keluarga


yang di buang?” tanya Ari kepada Alex.


“Ya, mana


aku tahu Ari” jawab Alex dengan wajah sedikit kesal.


“Maksutmu


apa paman dengan menyebutku keluarga yang di buang, HAH?” aku mengucapkan itu


hanya sebagai pengalih agar aku bisa mengucapkan seluruh mantraku.


“Kalau kau


bisa mengalahkan aku di sini aku akan menceritakan apa yang aku tahu, sekarang


kau ku beri waktu 5 detik untuk kau menyelesaikan mantra yang sedang kau


ucapkan sekarang!” ucap Viole dengan nada yang sedikit menyindir.


Hah? apa dia


tahu kalau aku mencoba mengucapkan mantra?. Biarkan saja aku sekarang akan


menyerang langsung saja namun.....


“Baiklah,


paman bersiaplah aku akan menyerang dengan seluruh kekuatanku.” Aku yang


sedikit marah, sambil langsung maju ke arah depan si paman itu.


TINGG......


“Wah kau


ternyata hebat juga ya?, aku kira kau selemah ayahmu.” Membisikan ke telinga sebelah


kiri ku.


“HAHHHH.


Jangan mengejek ayahku lagi JU VIOLE” aku yang sedang marah mulai dengan


sendirinya mengucapakan dengan keras. “ Lepaskan pembatas kekuatanku dari apa


yang membatasinya dan berikan aku kekuatan untuk mengalahkan musuhku.”


Aku telah


mengucapkan mantranya namun kali ini aku tidak akan membiarkan kekuatanku


mengendalikan kau lagi seperti di awal tadi.


“WAH WAH


WAH, seranglah aku dengan kekuatanmu itu wahai putri dari Grace.” Ucap Viole


dengan senang. “Wahai pembatas lepaskan batasan dari kekuatanku dan berikan


kepadaku sebagian dari kekatanmu.” Bisik Viole


DARRRR....


Dan pada


akhirya aku pun tetap tidak bisa mengendalikan kekuatanku namun pada saat


sebelum aku pingsan aku mendengar paman Viole berteriak “Aku menyerah”. Saat


aku terbangun Ari dan Alex sedang bertarung di atas arena dan aku di jaga oleh


paman Viole.


“Kau sudah


bangun Ismelda??” tanya paman Viole kepadaku yang baru saja terbangun dari


pingsan.


“Tidak


apa-apa paman. Sekarang jelaskan kepadaku mengapa paman menjelekan keluargaku?”


jawabku dengan wajah penasaran.


“Baiklah


baiklah, begini ini bermula sekitar 16 tahun yang lalu. Ayahmu menyuruhku untuk


melakukan hal tersebut ketika aku bertemu dengan putrinya, dan sekarang aku


telah melakukan apa yang di inginkannya, dan sebatas itu saja yang aku tahu.


Tidak ada yang lain, aku hanya melakukan apa yang di inginkan ayahmu.”


“HAH, ayahku

__ADS_1


yang menginginkan itu? Apa tidak ada informasi yang lain tentang ayahku?” jawab


sekaligus aku bertanya lagi kepada paman Viole.


“Iya,


Ismelda. Dan juga ayahmu tak pernah mau menceritakan apa yang terjadi dengannya


jadi aku tidak tahu apa yang menjadi bebannya.”


“Baiklah


paman aku berterima kasih telah menjelaskan apa yang aku ingin tahu tadi.


Apakah ayahku mempunyai pesan atau apapun yang ayah berikan kepadamu untukku?”


“OH IYA,


dulu sebelum ia pergi berkelana ia titip pesan kepadaku untukmu. (Carilah aku


jika kau ingin tahu tentang keluarga kita).”


Setelah paman


Viole menyelesaikan ucapannya Ari dan Alex pun datang. Dan sambil bersenda


gurau berjalan mengarah kepada aku dan paman Viole yang sedang duduk di kursi


panjang awal aku bangun tadi.


“Ismelda,


paman pergi dulu ada urusan yang harus paman selesaikan, sampai jumpa Ismelda.”


ucap paman Viole yang buru-buru pergi.


“Baiklah,


hati-hati paman, sampaii jumpa”


“Hei Ari


Alex siapa yang memenangkan pertandingan tadi?” tanyaku kepada mereka berdua.


“Tidak ada,


soalnya kami berdua jatuh di saat yang sama dan dinyatakan seri, jaid tidak


akan lanjut kebabak selanjutnya.” Ucap Alex dengan muka senang setelah selesai


bertarung.


“Hah, bisa


saja kalian ini. Tapi yasudahlah, jadi aku kan tidak perlu melawan kalian.”


“HEHEHEHE.


Iya Ismelda.” Ucap mereka berdua dengan tertawa terbahak-bahak.


Dan akhir


pertandingan pun ditentukan aku menjadi pemenangnya soalnya penantang yang terakhir


tidak bisa datang ke atas panggung arena. Jadi pertandingan selesai dengan aku


sebagai pemenangnya. Sedangkan Ari dan Alex menjadi juara ke-dua. Dan seluruh


peserta pertandingan dipersilakan istirahat terlebih dahulu saat, pedagang yang


menjadi penyelenggara pertandingan ini untuk memutuskan siapa yang akan menjadi


pengawalnya.


Setelah


menunggu sekitar 30 menit akhirnya pengumuman itu di bacakan, namun tidak oleh


si pedagang langsung namun oleh orang yang menjadi wasit di pertandingan tadi.


“Dengan ini


saya akan membacakan keputusan dari penyelenggara acara ini. Pengawal ke-3 Ari


Kanda, pengawal ke-2 Leandre Alex, dan pengawal ke-1 Ismelda Grace. Sekian itu


saja, dan untuk nama-nama yang di sebut untuk segera ke belakang arena ini.”


“HOREEE.”


Ucapku, Ari, Alex dengan senang


Setelah


pengumuman itu aku dengan ke dua temanku menuju belakang arena untuk bertemu


dengan si pedagang. Namun, sesampainya di sana kami hanya menemukan seseorang


yang memakai tudung kepala dan tidak terlihat wajahnya, sehingga aku pun


bertanya kepadanya.


“Apakah anda


si pedagang?” Ucapku dengan nada sedikit takut karena mungkin aku salah orang.


Tak lama


seseorang tersebut mengangguk dan perlahan membuka tudung yang ia kenakan.


“Jadi kau


ya, Ismelda Grace yang menjadi pengawalku?”


“Iya, akulah


Ismelda Grace yang akan menjadi pengawal anda berdagang.” Aku hanya bisa


mengucapkan kata-kata itu karena saking terpesona akan kecantikan pedagang


tersebut.


“Perkenalkan


namaku Lusiandra hanya Lusiandra. Kalian bisa memanggilku dengan seseuka kalian


asalkan aku menerimanya.” Ucap Lusi dengan sedikit sombong.


“Baiklah


nona Lusi.” Ucap kami bertiga yang ada di depannya.


“Kita akan


berangkat besok pagi-pagi sekali, kita bertemu di gerbang selatan dan akan


menuju desa Karam. Desa tersebut lebih dekat dengan pelabuhan, sehingga jika


kita ingin pergi ke daerah yang lain akan lebih mudah dan lebih jauh.” Ucap


nona Lusi sambil menjelaskan apa yang akan kita lakukan besok.


“Baiklah


nona Lusi.” Ucap kami bertiga dengan tegas.


“Oh iya


bisakah kalian berhenti memanggilku dengan “NONA”, aku ini masih selisih


sedikit dengan kalian bahkan mungkin lebih muda tau.” Teriak Lusi kepada kami


bertiga dengan wajah yang sedikit memerah.


“Baiklah no-


eh, baiklah Lusi.” Ucap kami bertiga dengan sedikit gugup dan juga malu.


“Satu hal


lagi, Ismelda ikut aku sebentar, kalian berdua tunggu di sini”


“Baiklah


Lusi”


Aku di ajak


kedalam sebuah tenda di dekat kami tadi.


“Ismelda aku


akan bertanya tentang suatu hal yang mungkin akan menyinggung perasaanmu.


Apakah tidak apa-apa?” tanya Lusi kepadaku dengan wajah penasaran.


“Boleh Lusi,


tanyakan apapun yang kamu mau.”


“Apakah


benar kamu ini putri dari Renaldi Grace?”


“Iya benar,


aku putri dari Renaldi Grace.” Jawabku dengan tenang.


“Syukurlah


itu memang benar kau.” Sambil menghela nafas dan mengelus dadanya.


Kemudian


dari luar terdengar suara Alex yang berteriak kedalam.


“Hei,


Ismelda belum selesai ya urusanmu?, ini sudah hampir malam.”


“Yasudahlah,


besok saja aku beri tahu. Benar apa kata temanmu pulanglah dulu, besok datang pagi-pagi


di gerbang Selatan, aku akan beritahu semua yang aku tahu di sana.”


“Baiklah


Lusi, terima kasih, dan selamat malam.”


TO BE


CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2