
Pada suatu
hari di desa Raven kedatangan seorang pedagang yang ingin mencari pelindung
seorang pendekar pedang, karena si pedagang mengetahui bahwa desa Raven
terkenal akan pendekar pedang yang terpandang. Saat si pedagang sampai di
gerbang desa, ia langsung membuat keramaian di didepan gerbang masuk desa
Raven.
“Aku kemari
untuk mencari seorang pendekar pedang terhebat di desa ini!!!”
“Aku akan
mengadakan sebuah pertandingan, untuk menentukan pendekar pedang yang akan aku
jadikan sebagai pengawal pribadiku!, pertandingan itu akan aku adakan di
pusat desa ini besok pagi!” (Sambung si pedagang dengan berteriak)
Ismelda,Ari, dan Alex yang sedang duduk di sebuah kedai, mendengar ucapan dari si
pedagang.
“Hey Ari kau dengar yang diucapkan oleh pedagang itu?”
“Ya, memang kenapa?, Jangan bilang kau mau ikut pertandingan itu”
“Pastilah aku akan ikut pertandingan itu, soalnya itu adalah peluangku untuk menjadi
pendekar pedang yang terpandang”
“Sudahlah Ari, kau tak akan bisa menghentikannya ketika sudah bertekad ingin melakukan
sesuatu” Sambung Alex sambil tertawa
“Yasudahlah,
kita latian aja untuk persiapan sayembara besok!” ajak Ari sambil berdiri dari
kursi
Dan akhirnya
mereka bertiga berlatih sampai sore, dan mereka pun pulang ke rumah masing
masing.
Keesokan
harinya Ismelda sangat bersemangat dan tidak sabar untuk mengikuti pertandingan
pertamanya. Ia berpamitan dengan ibunya seperti biasa sebelum ia pergi keluar
rumah .
“Ibu, doakan
Ismelda untuk keberhasilanku di pertandingan nanti”
“Ismelda,
doa ibu tidak akan berhenti mendoakan kamu, apa lagi itu untuk keinginan yang
ingin kamu capai”
“Terima
kasih ibu, aku berangkat” dengan semangatnya Ismelda pun berangkat dengan wajah
tenang.
Ismelda
selalu menunggu teman-temannya di persimbangan rumahnya, dan selang tidak lama
pasti temannya pun datang.
“Ismelda
cepat sekali kau datang pagi ini, biasanya kan kau yang paling belakangan
datang” Ucap Ari yang sedang mengambil nafas setelah berlari.
“Sesering
itukah aku terlambat? Sampai yang kau ingat hanya telambatku saja” Ucap Ismelda
dengan wajah malu.
“Hahaha,
saking seringnya kau telambat sampai hanya terlambatmu saja yang kami ingat”
Ucap Ari yang baru datang dengan santainya.
“Ya
sudahlah, ayo kita berangkat. Keburu sayembaranya dimulai” Ucap Ismelda dengan
mulai berjalan menuju pusat desa.
Dan setelah
berjalan kurang dari 10 menit mereka bertiga sampai di pusat desa. Tempat itu
pun sudah ramai dengan para peserta sayembara. Mereka bertiga pun langsung
mendaftar di depan pintu masuk arena sayembara, dan mereka mendapat nomer
urutan beretanding.
Jumlah
peserta yang ikut hanya 20 orang saja...
Dan mereka
menunggu sekitar 30 menit, dan si pedagang memulai sayembara tersebut....
“Akhirnya
sayembara ini dimulai” Ucap Ismelda dengan senangnya
“Hei, kalian
dapat nomer berapa?, kalau aku mendapat nomer 7.” Tanya ismelda kepada kedua
temannya.
“Aku nomer
4, kalau kamu Ari?” jawab Alex dengan nada kurang yakin .
“Aku
mendapat nomer urutan 1” sambung Alex dengan nada takut.
“Hahaha,
sabar ya Alex, kau pasti bisa melawan musuhmu di pertandingan nanti” respon Ismelda
dengan jawaban Alex, dengan wajah mendukung Alex.
“Terima
kasih Ismelda”
Ketika
setelah pertandingan Alex berakhir, dengan kemenangan Alex. Sekarang malah Ari
yang gugup karena ini pertandingan pertamanya. Hal yang sama dilakukan oleh
Ismelda yaitu memberi semangat dan menyakinkan kalau ia pasti bisa memenangkan
pertandingannya. Dan Ari pun memenangkan pertandingannya juga.
“Ari selamat
ya atas kemenanganmu” Sambut Ismelda dan Alex setelah Ari turun dari arena.
“Terima
kasih Ismelda, Alex” jawab Ari dengan senang.
Setelah
menunggu agak lama, akhirnya sampai pada giliran Ismelda.
“Ismelda
semangat ya, jangan sampai kalah di awal pertandingan” Seru Ari dan Alex
dipinggir arena pertandingan.
“OK, aku
juga tak mau kalah dari kalian berdua” jawab Ismelda yang sedang menaiki arena
Di atas
arena aku mulai gugup karena musuhnya telihat sangat kuat dan membawa senjata
yang kuat, sedangkan aku tidak membawa apapun, hanya membawa sebilah kayu
panjang. Mungkin akan kutunjukan hasil latihanku saja.
“Pertandingan
dimulai” Teriak wasit sambil menurunkan tangan kanan dari atas ke bawah.
“Akan
kuhancurkan tubuhmu dengan sekali ayunan pedangku ini!, gdis bodoh” Teriak
musuhku sambil bergerak menuju ke arahku dengan santai.
Namun itu
malah memberiku waktu untuk membisikan kata yang harus aku keluarkan sebelum
memakai kekuatanku.
“Lepaskan
pembatasan kekuatanku dari apa yang membatasinya dan berikan aku kekuatan untuk
mengalahkan musuhku” Bisikku dengan menghunuskan kayu yang aku bawa seperti
__ADS_1
menghunuskan pedang.
Akhirnya aku
bisa menyelesaikan tekni ini!!. Memang benar ini hanyalah sebuah kayu namun,
setelah aku mengucapkan kata-kata itu, kayu yang mudah patah bisa menjadi
setajam dan sekuat pedang. Tetapi aku hanya mengetahui sebatas itu, aku tak
mengetahui jika aku mengatakan kata-kata itu, aku mengubah apapun yang ada di
tanganku menjadi pedang legenda yang sangat kuat.
“Bersiaplah,
gadis bodoh!!” Teriak musuhku dengan sombongnya.
Ketika aku
mendengar teriakan itu aku sadar bahwa aku telah mengucapkan kata-kata itu. Namun
aku tak bisa menggerakan tubuh maupun tanganku dan tiba-tiaba saja tanganku
bergerak mengayunkan kayu ( Pedang ) yang kubawa, saat aku sadar sepenuhnya aku
telah berada di bawah arena, di sebuah kursi panjang, aku terbangun dan
terkejut dan yang kulihat pertama adalah Ari.
“Apa yang
terjadi mengapa aku ada di sini?” tanyaku kepada Ari yang ada di sampingku
dengan wajah yang terlihat kelelahan.
“Syukurlah
kau telah sadar, kau tadi pingsan setelah mengayunkan kayu yang kaubawa ke atas
arena. Dan musuhmu langsung tumabng tanpa bisa mengayunkan pedangnya. Apa kau
tidak mengingatnya?” jawab Ari sambil tangannya mengelus dadanya.
“Aku sama
sekali tidak mengingatnya, yang kuingat hanyalah sesaat aku mengucapkan
kata-kata yang ada di kepalaku, setelahnya tidak ingat.”
Saat
kesadaranku sudah pulih pertandingan Alex juga sudah selesai. Alex pun segera
datang kepada aku dan Ari berada.
“Ismelda kau
tidak apa-apa??” tanya Alex dengan penuh ketakutan.
“Tidak
apa-apa Alex, jadi tenang saja”
“Syukurlah”
Sahut Alex dengan lega dan segera duduk di sebelahku.
Semuanya
berjalan lancar, saat giliranku untuk bertarung lagi akan tiba aku mulai
menenangkan pikiranku. Dan saatnya tiba.
“aku pergi
dulu Alex, Ari!”
“Semangat
Ismelda” sahut Alex dan Alex
Sesampainya
di atas arena aku mulai merasakan perasaan seperti pertandingan di awal tadi.
Sepertinya musuhku kali ini sedikit pintar.
Mungkin aku
harus menggunakan teknik lain daripada yang aku gunakan di awal tadi. Kalau aku
menggunakan teknikku seperti di awal tadi mungkin aku akan kalah. Akan
kugunakan teknik itu saja.
“Pertandingan
dimulai” Teriak wasit
“Perkenalkan
namaku Ju Viole, kalau aku boleh tahu siapa namamu gadis muda?” Ucap Viole
dengan tenang.
“Namaku
penasaran.
“Ooooh, jadi
itu kau?, dasar keluarga yang di buang.”
“Hah?,keluarga
yang di buang?” tanya Ari kepada Alex.
“Ya, mana
aku tahu Ari” jawab Alex dengan wajah sedikit kesal.
“Maksutmu
apa paman dengan menyebutku keluarga yang di buang, HAH?” aku mengucapkan itu
hanya sebagai pengalih agar aku bisa mengucapkan seluruh mantraku.
“Kalau kau
bisa mengalahkan aku di sini aku akan menceritakan apa yang aku tahu, sekarang
kau ku beri waktu 5 detik untuk kau menyelesaikan mantra yang sedang kau
ucapkan sekarang!” ucap Viole dengan nada yang sedikit menyindir.
Hah? apa dia
tahu kalau aku mencoba mengucapkan mantra?. Biarkan saja aku sekarang akan
menyerang langsung saja namun.....
“Baiklah,
paman bersiaplah aku akan menyerang dengan seluruh kekuatanku.” Aku yang
sedikit marah, sambil langsung maju ke arah depan si paman itu.
TINGG......
“Wah kau
ternyata hebat juga ya?, aku kira kau selemah ayahmu.” Membisikan ke telinga sebelah
kiri ku.
“HAHHHH.
Jangan mengejek ayahku lagi JU VIOLE” aku yang sedang marah mulai dengan
sendirinya mengucapakan dengan keras. “ Lepaskan pembatas kekuatanku dari apa
yang membatasinya dan berikan aku kekuatan untuk mengalahkan musuhku.”
Aku telah
mengucapkan mantranya namun kali ini aku tidak akan membiarkan kekuatanku
mengendalikan kau lagi seperti di awal tadi.
“WAH WAH
WAH, seranglah aku dengan kekuatanmu itu wahai putri dari Grace.” Ucap Viole
dengan senang. “Wahai pembatas lepaskan batasan dari kekuatanku dan berikan
kepadaku sebagian dari kekatanmu.” Bisik Viole
DARRRR....
Dan pada
akhirya aku pun tetap tidak bisa mengendalikan kekuatanku namun pada saat
sebelum aku pingsan aku mendengar paman Viole berteriak “Aku menyerah”. Saat
aku terbangun Ari dan Alex sedang bertarung di atas arena dan aku di jaga oleh
paman Viole.
“Kau sudah
bangun Ismelda??” tanya paman Viole kepadaku yang baru saja terbangun dari
pingsan.
“Tidak
apa-apa paman. Sekarang jelaskan kepadaku mengapa paman menjelekan keluargaku?”
jawabku dengan wajah penasaran.
“Baiklah
baiklah, begini ini bermula sekitar 16 tahun yang lalu. Ayahmu menyuruhku untuk
melakukan hal tersebut ketika aku bertemu dengan putrinya, dan sekarang aku
telah melakukan apa yang di inginkannya, dan sebatas itu saja yang aku tahu.
Tidak ada yang lain, aku hanya melakukan apa yang di inginkan ayahmu.”
“HAH, ayahku
__ADS_1
yang menginginkan itu? Apa tidak ada informasi yang lain tentang ayahku?” jawab
sekaligus aku bertanya lagi kepada paman Viole.
“Iya,
Ismelda. Dan juga ayahmu tak pernah mau menceritakan apa yang terjadi dengannya
jadi aku tidak tahu apa yang menjadi bebannya.”
“Baiklah
paman aku berterima kasih telah menjelaskan apa yang aku ingin tahu tadi.
Apakah ayahku mempunyai pesan atau apapun yang ayah berikan kepadamu untukku?”
“OH IYA,
dulu sebelum ia pergi berkelana ia titip pesan kepadaku untukmu. (Carilah aku
jika kau ingin tahu tentang keluarga kita).”
Setelah paman
Viole menyelesaikan ucapannya Ari dan Alex pun datang. Dan sambil bersenda
gurau berjalan mengarah kepada aku dan paman Viole yang sedang duduk di kursi
panjang awal aku bangun tadi.
“Ismelda,
paman pergi dulu ada urusan yang harus paman selesaikan, sampai jumpa Ismelda.”
ucap paman Viole yang buru-buru pergi.
“Baiklah,
hati-hati paman, sampaii jumpa”
“Hei Ari
Alex siapa yang memenangkan pertandingan tadi?” tanyaku kepada mereka berdua.
“Tidak ada,
soalnya kami berdua jatuh di saat yang sama dan dinyatakan seri, jaid tidak
akan lanjut kebabak selanjutnya.” Ucap Alex dengan muka senang setelah selesai
bertarung.
“Hah, bisa
saja kalian ini. Tapi yasudahlah, jadi aku kan tidak perlu melawan kalian.”
“HEHEHEHE.
Iya Ismelda.” Ucap mereka berdua dengan tertawa terbahak-bahak.
Dan akhir
pertandingan pun ditentukan aku menjadi pemenangnya soalnya penantang yang terakhir
tidak bisa datang ke atas panggung arena. Jadi pertandingan selesai dengan aku
sebagai pemenangnya. Sedangkan Ari dan Alex menjadi juara ke-dua. Dan seluruh
peserta pertandingan dipersilakan istirahat terlebih dahulu saat, pedagang yang
menjadi penyelenggara pertandingan ini untuk memutuskan siapa yang akan menjadi
pengawalnya.
Setelah
menunggu sekitar 30 menit akhirnya pengumuman itu di bacakan, namun tidak oleh
si pedagang langsung namun oleh orang yang menjadi wasit di pertandingan tadi.
“Dengan ini
saya akan membacakan keputusan dari penyelenggara acara ini. Pengawal ke-3 Ari
Kanda, pengawal ke-2 Leandre Alex, dan pengawal ke-1 Ismelda Grace. Sekian itu
saja, dan untuk nama-nama yang di sebut untuk segera ke belakang arena ini.”
“HOREEE.”
Ucapku, Ari, Alex dengan senang
Setelah
pengumuman itu aku dengan ke dua temanku menuju belakang arena untuk bertemu
dengan si pedagang. Namun, sesampainya di sana kami hanya menemukan seseorang
yang memakai tudung kepala dan tidak terlihat wajahnya, sehingga aku pun
bertanya kepadanya.
“Apakah anda
si pedagang?” Ucapku dengan nada sedikit takut karena mungkin aku salah orang.
Tak lama
seseorang tersebut mengangguk dan perlahan membuka tudung yang ia kenakan.
“Jadi kau
ya, Ismelda Grace yang menjadi pengawalku?”
“Iya, akulah
Ismelda Grace yang akan menjadi pengawal anda berdagang.” Aku hanya bisa
mengucapkan kata-kata itu karena saking terpesona akan kecantikan pedagang
tersebut.
“Perkenalkan
namaku Lusiandra hanya Lusiandra. Kalian bisa memanggilku dengan seseuka kalian
asalkan aku menerimanya.” Ucap Lusi dengan sedikit sombong.
“Baiklah
nona Lusi.” Ucap kami bertiga yang ada di depannya.
“Kita akan
berangkat besok pagi-pagi sekali, kita bertemu di gerbang selatan dan akan
menuju desa Karam. Desa tersebut lebih dekat dengan pelabuhan, sehingga jika
kita ingin pergi ke daerah yang lain akan lebih mudah dan lebih jauh.” Ucap
nona Lusi sambil menjelaskan apa yang akan kita lakukan besok.
“Baiklah
nona Lusi.” Ucap kami bertiga dengan tegas.
“Oh iya
bisakah kalian berhenti memanggilku dengan “NONA”, aku ini masih selisih
sedikit dengan kalian bahkan mungkin lebih muda tau.” Teriak Lusi kepada kami
bertiga dengan wajah yang sedikit memerah.
“Baiklah no-
eh, baiklah Lusi.” Ucap kami bertiga dengan sedikit gugup dan juga malu.
“Satu hal
lagi, Ismelda ikut aku sebentar, kalian berdua tunggu di sini”
“Baiklah
Lusi”
Aku di ajak
kedalam sebuah tenda di dekat kami tadi.
“Ismelda aku
akan bertanya tentang suatu hal yang mungkin akan menyinggung perasaanmu.
Apakah tidak apa-apa?” tanya Lusi kepadaku dengan wajah penasaran.
“Boleh Lusi,
tanyakan apapun yang kamu mau.”
“Apakah
benar kamu ini putri dari Renaldi Grace?”
“Iya benar,
aku putri dari Renaldi Grace.” Jawabku dengan tenang.
“Syukurlah
itu memang benar kau.” Sambil menghela nafas dan mengelus dadanya.
Kemudian
dari luar terdengar suara Alex yang berteriak kedalam.
“Hei,
Ismelda belum selesai ya urusanmu?, ini sudah hampir malam.”
“Yasudahlah,
besok saja aku beri tahu. Benar apa kata temanmu pulanglah dulu, besok datang pagi-pagi
di gerbang Selatan, aku akan beritahu semua yang aku tahu di sana.”
“Baiklah
Lusi, terima kasih, dan selamat malam.”
TO BE
CONTINUED
__ADS_1