Sword From Legend

Sword From Legend
Episode 6 : Kurusu Grace


__ADS_3

Di tempat di mana Lusi, Alex, dan juga Ari.


“Hei Ku, mengapa kau membawa aku dan para pengawalku ke sini?” Tanya Lusi kepada Ku.


“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menguji temanmu itu apakah dia pantas menyandang nama


Grace atau tidak!!” Seru Ku sembari ia memerintahkan pengawal, pelayan dan para


pekerja terhebat di keluarga untuk menghadang Ismelda.


“Hah? Hanya untuk alasan itu kau sampai membawaku? Kenapa kau tidak bertanya saja kepadaku!


Dasar bodoh!” Serunya dengan kesal.


“Eh_, mengapa aku harus bertanya kepadmu? Mungkin saja jika aku bertanya kepadamu kau


pasti akan berbohong tentang jati dirinya, kan?”


“Heh, baiklah kalau maumu begitu akan aku tanyakan suatu hal. Apakah kau mengingat


julukan kepada seorang anggota keluarga ‘Pangeran Yang Dibuang’. Apakah kau


mengingatnya?” Tanya Lusi kembali kepada Ku.


“Pangeran yang di___, tentu saja aku mengingatnya, dia itu yang menyebabkan aku sampai


harus mengganti kakiku ini dengan kaki palsu karena ia patahkan. Dan aku tidak akan melupakan


kejadian itu.” Dengan gemetaran Ku menjawab.


“Syukurlah kalau kau masih mengingatnya, dan sekarang mungkin saja kau akan melihat


sesosok yang sama sepertinya. Soalnya Ismelda adalah putrinya.”


“Hah? apa yang kau ucapkan pasti kebohongan, kan?” Mulai lebih bergetar sekujur tubuhnya.


“Aku tidak mungkin berbohong jika soal dia, dulu waktu pertama kali aku mendengar nama


ayahnya aku juga terkejut dan sedikit takut dan ternyata dia tidak semenakutkan


itu. Namun jika dia kau perlakukan seperti ini aku tidak mengetahui apa yang


akan dilakukannya.”


Setelah itu Kurusu langsung pergi untuk menyiapkan pertahanan yang lebih untuk menghentikan


aku, namun semuaya telah terlambat.


“Tuan Kurusu, kami mendeteksi ada kumpulan energi dengan jumlah yang banyak mengarah ke


sini.” Ucap seorang penyihir kepada Kurusu.


“Cepat aktifkan pelindung energi di udara tingkat paling tinggi.”


“Apakah itu tidak berle__” tanpa sempat menyelsaikan ucapannya. “Sudah lakukan saja apa


yang aku perintahkan.”  “Baiklah, tuan.” Ucap si pentuihir sambil menganggukan kepala.


Setelah pelindung itu diaktifkan aku terhenti di depan pelindung.


“HAH, APA INI? PELINDUNG SEPERTI INI HANYA SEBUAH KAIN YANG MUDAH AKU RUSAK DENGAN


PEDANGKU INI.” Seruku sambil mengayunkan pedang yang ada di tangan kananku.


Setelah aku mengayunkannya aku maju lagi.


“Tuan pelindung itu telah di rusak oleh energi itu. Bagaimana ini tuan?”


“Suruh semua pengawal, penjaga terhebat kita untuk melindungi tempat ini.”


“Baik tuan.” Penyihir itu pun pergi.


Saat aku sudah sampai di sebuah lahan kosong aku disambut oleh banyak orang, lalu aku turun


saja.


“SIAPA KALIAN? JIKA TIDAK INGIN TERLUKA ATAU MATI CEPAT MINGGIR!!” Seruku sembari aku


memunculkan pedang ke-duaku di tangan kiri.


“Masa bodoh mau terluka atau mati kami akan melindungi tempat ini!!!!” Teriak seseorang


yang ada di depanku. “OHHHHH” Semua orang yang ada di belakangnya mengikuti


teriaknya.


“Hahahahaha, kalian mau menghentikan aku ini?, hahahaha lucu sekali kalian!! Jika kalian


ingin menghentikan kau coba maju sini aku ingin tahu kekuatan kalian!!”


Teriakku seperti menantang orang lemah dan sombong.


Semua pengawal dan penjaga yang ada di depanku maju semuanya untuk menyerangku dan


tanpa sadar diriku juga mengikuti langkah mereka yaitu maju. Dan pada akhirnya


mereka tidak ada apa-apanya, hanya sebuah boneka saja.


“HEIII LUSI, ALEX, ARI DI MANA KALIAN!!” Teriakku sambil aku berjalan masuk dan melihat


secercah cahaya.


“Hei Ismelda ini aku KURUSU GRACE, aku yang telah menculik teman-temanmu karena kau


seenaknya saja memakai na__” “TEBASAN ANGIN” Ucapku sambil menebaskan


pedangku ke arah Kurusu


Kurusu yang hampir terkena tebasanku sempat gemetar karena hampir kehilangan nyawanya.


“MEMANGNYA KENAPA AKU HARUS IJIN KEPADAMU UNTUK MEMAKAI NAMA GRACE, HA?” Teriakku sambil


mengeluarkan banyak sekali pedang di belakangku.


“Memangnya siapa kau bernai memakai nama GRACE, HA?”


“Biar aku perkenalkan diriku sekali lagi aku Ismelda Grace putri dari Renaldi Grace, apakah kau


puas?” sembari bersiap melepaskan pedang yang telah aku ciptakan dengan energi.


“HUH, memangnya aku takut? Kau itu hanyalah anak dari seseorang yang dibuang, tau!!” Ucap Kurusu


dengan sombong dan arogan.


“Hah? Apa yang kaubilang? Tarik kembali ucapanmu atau kau mau menerima akibatnya, HAA?”


Teriakku sembari menggabungkan pedang yang aku munculkan.

__ADS_1


“Dasar ANAK BUANGAN. Maju sini kalau kau memang berani!!”


Sesaat Kurusu selesai berbicara, aku sudah ada di depannya dan pedangku tepat mengarah


ke lehernya.


“APA BEGINI SUDAH CUKUP UNTUK BUKTINYA? CEPAT TARIK UCAPANM.” Bisikku ke telinga Kurusu.


“Memangnya kenapa aku harus menarik ucapanku?”


Saat aku mau menebas leher dari Kurusu, terdengar suara yang aku kenal dan aku langsung


melihat ke arah tersebut.


“Ismelda hentikan, kau tidak perlu melakukan hal konyol seperti itu. Kau bisa dituntut


oleh pihak keluarga”


“Pihak keluarga? Aku tidak perduli, dia sudah menjelekan ayahku, aku tidak bisa


terima hal seperti itu. Sebelumnya ada seseorang ada yang pernah berkata


demikian aku juga tidak memberi ampun kepada orang tersebut. Namun, aku


gagal!!” Teriakku sambil menahan keinginan menebaskan pedangku.


“Hah? ada yang pernah melakukannya juga? Siapa?” Tanya Lusi sambil mendekat kearahku.


“Dia adala_” mungkin karena energi di tubuhku sudah habis aku langsung pingsan tanpa bisa


menyelesaikan ucapanku.


“KU, cepat bawa dia ke penginapan dan mereka berdua juga, setelah itu kau harus minta maaf


kepada Ismelda!” Suruh Lusi ke Kurusu.


“Baiklah tuan putri aku akan melakukan apa yang anda perintahkan.” Sambil pergi


mempersiapkan pengawal.


Keesokanharinya aku terbangun di sebuah kamar dengan ingatanyang sedikit kabur. Saat aku


tersadar penuh aku akhirnya mengingat aku ada di mana dan apa yang terjadi


semalam.


“Putri Ismelda, selamat pagi.” Ucap seseorang yang ada di pojok kamar.


“Selamat pagi, dan kau siap_, eh tunggu bukannya anda Kurusu?”


“Ya benar saya adalah Kurusu Grace. Orang yang anda temui dan hampir anda bunuh.”


“Ehhh, aku hampir membunuhmu?”


“Iya mungkin anda lepas kendali atas apa yang saya perbuat kemarin.” Jelas kembali oleh


Kurusu.


*****


Tak lama kemudian datanglah Lusi...


“Selamat datang Nona Lusi.” sambut Kurusu dengan ramah dan formal.


“Iya, eh Ismelda sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?” Tanya Lusi.


“Baik-baik saja Cuma kelelahan biasa. Dan juga memangnya kemarin aku hampir membunuh Paman


“Duh jangan panggil aku paman dong, panggil saja aku Ku.” Keluh Kurusu yang aku panggil


paman.


“Hehehehe, iya baikah pam_, eh Ku.” Ucapku sambil beranjak dari tempat tidur.


“Iya kemarin malam kau hampir membunuh Kurusu karena kau sangat kesal soal ayahmu dihina


oleh Ku.”


“Oh itu, maaf ya Ku, aku tidak bermaksut membunuhmu karena Ku juga sudah membawa


teman-temanku secara diam-diam dan mengasih catatan seperti penculik, dan saat


sampai di sana malah menghina ayahku jadinya aku lebih kelepasan. Hehehe, maaf


ya Ku!” aku mohon maaf kepada Ku sambil menjelaskan apa yang aku alami.


“Bukan salah nona Ismelda, soalnya ayah anda sendiri yang menyuruhku seperti itu.”


“Hah, seperti ini lagi, kenapa ayah, kenapa kau melakukan hal seperti ini?”


“Hah? ‘Seperti ini lagi’, memangnya dulu pernah ada yang melakukan seperti ini?”


tanya Lusi sambil memegang dagu.


“Iya dulu pernah saat pertandingan pemilihan pengawalmu, aku pernah memakai kekuatanku


ini sampai lepas kendali, dan berkahir dengan pingsan.”


“HOHO, jadi dulu yang membuat ledakan besar itu kamu? Pantas saja saat itu tanah sampai


bergetar. Memangnya siapa dia?”


“Kalau tidak salah ingat namanya J-J-Ju-Ju Viole. Ya itu namanya Ju Viole.”


“Wah Ju Viole, kau bisa membuatnya sampai menyerah hebat sekali anda, nona?” Sahut


Kurusu dengan tercengang.


“Wah hebat sekali kamu. Bisa membuat orang seperti dia menyerah.” Sambung Lusi dengan


senang.


“Memangnya siapa paman Ju Viole, kalau tidak salah katanya dia teman ayahku. Apa kalian


mengetahui tentang dia?” Tanyaku kepada kedua orang yang masih tercengan di


depanku ini.


“Tentu saja kami mengetahui sesuatu tapi dia orangnya sama seperti ayahmu dia menghilang


tanpa meninggalkan jejak apapun.” Jelas Lusi sambil menjentikan jarinya.


“Iya Tuan Ju Viole adalah orang yang sangat dekat dengan ayahmu nona. Dan mereka selalu


berlomba untuk menjadi nomor satu di keluarga Grace, ya walaupun Tuan Viole


bukan berasal dari keluarga Grace, beliau telah dianggap keluarga sendiri.”

__ADS_1


Jelas Kurusu sembari Lusi menganggukan kepalanya.


“Oh jadi begitu ya, baiklah terima kasih atas informasinya.” Lalu aku berjalan ke arah


Lusi dan belum sampai aku malah terjatuh pingsan lagi.


Samar-samar aku mendengar suara Kurusu.....


“Nona Lusi sebaiknya kita bawa saja nona Lusi ke dokter keluarga!” Pinta Kurusu.


“Baiklah, kau bawa dia terlebih dahulu aku akan memberitahu temanku yang ada di sebelah.”


“Baik.”


Setelah itu tubuhku sudah tidak merasakan apa-apa. Dan di saat bersamaan, setelah aku


dibawa oleh Kurusu Lusi memberitahu Alex dan Ari.


“Alex Ari apa kalian di dalam?” Seru Lusi sambil mengetuk pintu kamar Alex dan Ari.


Saat pintu sudah terbuka......


“Iya ada apa?” jawab Ari dengan Alex dengan kompak.


“Hari ini kalian bebas mau melakukan apa saja. Aku dan Ismelda ada urusan sebentar.


Sampai jumpa.”


“Sampai jumpa.”


Setelah Lusi pergi, Lusi segera ke tempat dokter keluarga yang dibicarakannya tadi dengan


Kurusu. Namun saat aku di tempat dokter itu aku tak kunjung sadar bahkan sampai


seminggu. Dan saat aku sadar....


“Di mana aku? Kenapa tidak ada orang sama sekali? Dan kenapa di luar sangat berisik ya?”


ucapku sambil aku berdiri dan berjalan ke arah pintu.


Saat aku sudah berada di luar tempat aku terbangun tadi ternyata juga kosong, berarti


asal suara bising ini ada di luar bangunan ini, aku langsung reflek mencari


sumber suara ini dan berhasil keluar dari bangunan ini.


“Wah daerah ini sedang di serang sesuatu? Ataukah seseorang?”


Langsung setelah melihat hal itu aku langsung memakai mode pedang tanpa memikirkan


keadaanku sendiri. Lalu aku terbang untuk melihat situasi dari atas. Saat aku


berada di atas aku melihat segerombol orang yang sedang bertarung.


“Wah di sana ada yang bertarung! Aku harus ke sana untuk menghentikannya!” Seruku dari atas


langit.dan mulai terbang mendekat ke gerombolan orang yang bertarung tadi.


“Hei kalian berhenti bertarung!!” Teriakku sembari aku turun.


“Memangnya kau siapa dasar perempuan tak tahu malu, datang-datang langsung memerintah


sesuatu, kau tidak di ajarkan sopan santun oleh orang tuamu?” Teriak orang yang


paling besar yang ada di barisan ke-tiga.


“Kau tidak perlu tahu siapa aku, tetapi cukup hentikan pertarungan ini dan pergilah.”


Ucapku sambil menenangkan orang besar itu.


“Beraninya kau menyuruh aku yang seorang raja Bandit yang terhebat di kerajaan ini!!”


“Haha, paling hebat katamu? Tunjukan kehebatanmu sini!!” Balasku dengan sombongnya.


“Baiklah akan aku tunjukan kehebatanku, Pedang Bermata Dua datanglah!!” Teriak si bandit


untuk memanggil senjatanya.


“Sekarang apa? Hanya itu saja? Kalau sebatas itu saja aku juga bisa bahkan lebih hebat!!”


“Hei, bawakan itu ke sini!!”


“Itu? Apa maksudnya?” pikirku.


“HA, mau kau apakan dengan temanku, jangan macam-macam jika terjadi sesuatu kau akan tau


akibatnya.”


“Hahahahahaha, memangnya kau bisa apa sampai berani mengatakan itu?”


“Baiklah akan aku tunjukan juga, Pusaran Pedang Seribu.”


“Kau akan melancarkan pusaran itu kepadaku? Mungkin saja salah satu pedang akan mengenai


temanmu!!”


“Itu tidak akan terjadi karena ini pedangku jadi aku bisa menargetkan apa yang harus


mereka serang. Dan asalkau tahu temanku pernah tertusuk pedangku ini dan tidak


terjadi apa-apa, karena dia itu istimewa!!”


“HO, kalau begitu maju sini kau perempuan keparat!!!!” Teriak si bandit itu dengan sangat


marah dan mulai melakukan kuda-kuda untuk menangkis semua pedangku.


Setelah itu aku langsung menyerangnya, dan tanpa dia sadari aku melompat ke atas karena


seranganku bukanlah pusaran itu melainkan ini.


“Hahahaha, Cuma itu saja kemampuanmu? Mana mungkin serangan seperti itu bisa melukaku!!” Dengan


sombonya karena si bandit telah menangkis semua pedang yang mengarah ke depan


itu.


“Dasar bandit bodoh siapa yang kau ajak bicara? Aku ada di atas sini!! Terima


seranganku ini!!”. ‘DEG’ saat yang bersamaan pandanganku sedikit buram namun


tetap kulancarkan serangan dari atasku dan mengenai si bandit dan membunuhnya.


Dan saat aku turun dengan perlahan tiba-tiba terlihat Lusi dan Kurusu yang sudah ada di bawahku,


lalu aku sudah kehilangan kesadaranku dan terjatuh sangat cepat. Untungnya Kurusu dapat


menangkapku dengan kemampuannya. Dan aku dibawa entah kemana lagi oleh mereka

__ADS_1


berdua.


TO BE CONTINUED


__ADS_2