Sword From Legend

Sword From Legend
Episode 2 : PERJALANAN


__ADS_3

Keesokan harinya, sesuai yang disuruh oleh Lusi aku pun datang ke gerbang selatan sangat


pagi-pagi sekali. Sesampainya aku disana aku hanya melihat Lusi yang sedang


menunggu aku dan teman-temanku, setelah cukup dekat aku memanggilnya.


“Lusi selamat pagi.” Ucapku dengan sedikit berteriak.


“Hai, Ismelda kemarilah aku akan memberitahukan mengapa kemarin aku sempat menanyakan


ayahmu sebelum kamu pulang.”


“Iya, memangnya kenapa dengan ayahku? Apa ada yang terjadi antara kalian?” tanyaku


dengan wajah yang sangat penasaran.


“Mungkin kau tidak mengetahui apa pun tentang ayahmu kan, ayahmu itu sebenarnya adalah


seorang yang sangat hebat dan terpandang sebagai “Ahli Pedang Legendaris”,


karena dari itulah, kemarin aku sempat memastikan nama ayahmu.”


“HAH, ayahku sehebat itukah samapai membuatmu sangat terkesan? Kalau kau memang mengetahui


tentang ayahku, apakah kamu juga mengetahui dimana ayahku berada?”


“Maaf Ismelda aku tidak mengetahui tentang keberadaan ayahmu, yang aku tahu beberapa


minggu yang lalu Renaldi Grace ada di Desa Karam. Aku tidak mengetahui apa yang


sedang dilakukannya disana.”


“Baiklah, terima kasih atas informasinya.” Jawabku dengan sedikit rasa senang karena


sekian lama tidak ada kabar dan sekarang ada kemungkinan aku akan bertemu


ayahku.


Sesaat kemudian


terdengar suara yang tidak asing memanggilku dan Lusi.


“Ismelda Lusi, maaf kami terlambat.” Teriak Alex yang sedang berjalan kearahku dengan


tergesa-gesa.


“Iya maafkan kami.” Timpa Ari yang ada di samping Alex.


“Tidak apa-apa ini kan masih sangat pagi juga jadi tidak apa-apa. Istirahatlah


sebentar kalian berdua itu aku sudah menyiapkan air minum.” Jawab Lusi dengan


ramah dan lembut.


“Baiklah, terima kasih Lusi.” Timpa Alex dan Ari secara bersamaan.


Setelah sekitar 20 menit istirahat kami pun berangkat ke Desa Karam.


“Hey Ari Alex ayo berangkat Lusi telah menungu kita.” Ucapku dengan sedikit terbur-buru.


“Iya, ayo Alex.” Sahut Ari yang lekas berdiri .


Saat kami siap berangkat di samping kereta ada dua kuda yang diikat ke pohon, dan tidak


terlihat siapa yang akan mengemudikan kuda yang akan menarik kereta yang sedang


di dudukki oleh Lusi.


“Lusi siapa yang akan mengendarai kuda ini?” Tanya ku kepada Lusii sambil menunjuk kuda


yang ada di depan kereta.


“OH IYA, aku lupa untuk membagi siapa yang akan menaiki kuda mana. Ari dan Alex kalian


berdua menaiki kuda yang ada di sebelah dan Ismelda mengendarai kuda ini, oke.”


“Baiklah Lusi.” Jawab kami bertiga.


Setelah itu pun kami memulai perjalanan kami. Sekitar 1 jam, kami bertemu dengan bandit


yang ingin merampok kami. Dan akupun menyuruh Ari dan Alex yang paling mudah


untuk turun dari kuda dan menhadapi para bandit itu.


“Ari Alex, tolong hadapi mereka.” Ucapku kepada Ari dan Alex dengan sedikit terkejut


dengan kedatangan para bandit.


“Baiklah Ismelda, kau juga jaga Lusi dengan baik kami akan mengurus mereka.” Teriak Ari


sambil mengeluarkan pedang yang sedang disarungkannya.


Saat Ari dan Alex menghadapi para bandit ternyata dari belakang kami juga ada bandit yang


ingin merampok kami. Dan aku segera turun dari tempat dudukku untuk menghadapi


bandi yang ada di  belakang kami. Saat


aku berada di belakang kereta aku hanya di tertawakan dan diejek oleh para


bandit, dan samapai salah satu bandit berbicara.


“Dasar gadis bodoh mau kau apaakan kayu itu? Paling kayu itu akan patah ketika terkena


pedang kami.” Ucap bandit yang berbicara dengan sombong.


“Baiklah kalau menurutmu begitu aku akan menunjukan apa yang bisa dilakukan oleh kayu


ini. Wahai pembatas lepasakan batasan kekuatanku dan berikan sedikit dari


kekuatanmu untuk mengalahkan musuh-musuh yang ada di depanku.” Ucapku dengan


nada sedikit terengah-engah karena setelah mengucapkan kata itu.


“HAH? apa yang kau ucapkan dasar gads bodoh, hah sudahlah ayo kita serang dan kita akan


berpesta setelah ini.” Teriak bandit yang berbicara kepadaku dan menyuruh


teman-temanya menyerangku.


SWING...


Dan seperti biasa aku mengayunkan pedangku namun saat aku mengayunkan pedangku aku masih


sepenuhnya sadar dan aku hanya menebas pedang yang ada di tangan dan yang ada


di sarung pedang mereka, bahkan setelah hal itu terjadi para bandit itu pun


pingsan semuanya.


“Rasakan kekuatan dari kayuku ini dasar bandit bodoh.” Ucapku dengan sedikit mengejek


namun aku juga kelelahan.


Setelah aku berhadapan dengan bandit itu aku kembali ke kereta yang harusnya aku berada dan


semuanya baik-baik saja. Ari dan Alex pun telah menyelesaikan pertarungannya


dengan bandit yang lain. Aku pun menengok kedalam kereta dan melihat Lusi yang


mulai terbangun, setelah melihatnya aku pun entah kenapa terjatuh pingsan dan


Lusi yang melihat hal itu terjadi ia langsung keluar dari kereta untuk


membantuku, Ari dan Alex pun segera kembali ke dekat kereta.


“Hei Ari Alex, apa hal ini sering terjadi?” Tanya Lusi kepada Ari dan Alex.

__ADS_1


“Tidak, dia pingsan hanya saat setelah ia mengucapkan kata-kata yang kami tidak ketahui


untuk mengalahkan musuhnya.” Jawab Alex sambil mencoba membangunkan aku.


Dan pada saat bersamaan Ari melihat ke belakang kereta dan terkejut melihat apa yang


sudah terjadi. Ari pun segera kembali kepada ke depan lagi.


“Pantas saja Ismelda pingsan, di belakang sana banyak sekali bandit yang pingsan dan semua


pedangnya patah menjadi dua.” Ucap Ari dengan santainya.


“Apakah itu benar Ari?” tanya Alex kepada Ari untuk memastikan.


“IYA BENERAN.” Jawab ari sambil mendekati Lusi dan Alex.


“Ya sduah kita lanjutkan perjalanannya aku akan mengendalikan kuda yang menarik kereta.


Ismelda kalian angkat dan baringkan dia di dalam untuk beristirahat.” Sahut


Lusi dengan menunjuk ke arah kereta.


“Apakah Lusi bisa mengendalikan kuda?” Tanya Ari dengan wajah penasaran.


“HEI, menurutmu siapa yang kemarin lusa datang ke desa kalian dengan kereta kuda?”


sahut Lusi.


“Jadi yang mengendarai kuda dulu itu kamu sendiri?” Sekarang malah Alex yang bertanya


sambil menggaruk kepalanya.


“Iya, pokoknya sekarang kalian berdua angkat dan baringkan Ismelda di dalam dan biarkan


istirahat sebentar.”


“Baiklah Lusi.” Jawab Alex dan Ari sambil mengangkatku ke dalam kereta.


Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Desa Karam, kurang dari 30 menit kami telah sampai di


Desa Karam. Di Desa Karam Lusi berencana akan mencari persediaan barang untuk


dijual dan untuk dijadikan bahan makanan kami selama melakukan perjalanan


selanjutnya. Karena di Desa Raven Lusi tidak sempat menyuplai barang-barang. Setelah


sampai di sebuah penginapan Lusi menyewakan 2 kamar untuk kami.


“Alex sementara kamu menjaga Ismelda terlebih dahulu, setelah aku kembali dari


mencari barang yang aku inginkan nanti kalian berdua akan berganti menjaga


Ismelda.”


“Baiklah Lusi.” Jawab Alex dan Ari serentak.


“Ayo Ari kita pergi. Jaga dia dengan benar Alex jangan macam-macam ya!” Ucap Lusi sambil


sedikit tertawa.


“Iya iya, kau kira aku ini pria macam apa? Dan juga Ismelda kan teman lama kami dari


kecil juga.” Jawab Alex dengan sedikit malu.


Setelah berselang 10 menit keberangkatan Ari dan Lusi, aku pun bangun dan badanku terasa sangat


berat. Dan yang kulihat hanya Alex yang sedang mengasah pedangnya. Aku pun


bangkit dar tempat tidurku dengan pelan-pelan dan juga meminta bantuan kepada


Alex.


“Alex bisa kau bantu aku bangun?” Ucapku dengan lirih menahan sakit di seluruh tubuh.


“OH, iya iya sini aku bantu.”


ucapkan setelah aku bangun dan membuat bingung Alex.


“Tenanglah  semua bak-baik saja tadi kau pasti pingsan


setelah menggunakan kekuatanmu itu. Lusi dan Ari pergi mencari barang-barang


yang di perlukan untuk berdagang.” Sahut Alex dengan menenangkan aku yang


sedang khawatir.


“Untung saja kalau mereka baik-baik saja, dan juga maaf kan aku karena memakai kekuatan itu


tanpa memberitahukan kepada kalian dan membuat khawatir.” Sahut ku dengan nada


bersalah.


“Tidak apa-apa Ismelda yang penting kita semua selamat.”


Seketika itu aku langsung tak tahan menahan tangis dan akhirnya tangisku pecah ketika Alex


selesai berbicara. Samapai Lusi dan Ari kembali pun aku masih menangis. Saat mereka


masuk langsung menintrogasi Alex apa yang dilakukan kepada ku. Pada akhirnya


Alex menjelaskan semuanya kepada mereka berdua dan mereka menjadi mengerti


mengapa aku menangis.


“Tenanglah Ismelda karena kau kan aku jadi selamat dan kaulah yang paling berjasa


menyelamatkanku tadi. Jadi berhentilah menangis.” Ucap Lusi sambil mengelus


punggungku untuk menenangkanku.


“sekarang kalian berdua kembali ke kamar kalian sana. Inikan kamar perempuan.” Suruh kepada


Alex dan Ari.


“Iya, kami akan kembali ke kamar kami Lusi, jaga dia ya Lusi kami tidak mau terjadi


apa-apa kepadanya.” Pinta Alex kepada Lusi sambil tangannya mulai membuka


pintu.


“Iya iya, aku juga tahu itu.”


Setelah sekitar 10 menit Lusi menenangkan aku dan mengambilkan aku teh hangat untuk membuat


diriku lebih rileks.


“Ismelda kau sudah tenang? Kalau sudah aku akan mengajakmu keluar mencari barnag yang lain


sambil mencari angin.”


“Aku akan ikut kamu Lusi, aku juga sudah lebih tenang daripada tadi. Tapi bukannya kau


sudah pergi mancarinya tadi?”


“Memang aku tadi sudah pergi, cuman karena terlalu banyak yang aku cari jadi aku cari


setengah dulu. Sebenarnya aku ingin mengajak Alex, tapi kau sudah lebih baik


jadi kuajak saja kamu.”


“Hmhm. Iya, kapan kita berangkat?” tanyaku kepada Lusi.


“Sekarang saja karena masih pagi dan belum terlalu panas di luar.”


“Ayo kita pergi.”


Kami berjalan keluar dari penginapan, kami berjalan-berjalan sekitar 1 jaman dan sudah

__ADS_1


mendapatkan banyak barang yang diperlukan. Setelah mendapat barang yang kami


perlukan Lusi mengajak aku ke sebuah kedai di pinggir jalan. Dan di kedai itu kami


melakukan pembicaraan yang bersangkutan dengan Lusi .


“Ismelda sebenarnya aku punya nama belakang yang mungkin kamu akan terkejut ketika


mendengarnya.” Kata Lusi yang sedikit galau dengan apa yang akan di ucapkannya.


“Memangnya siapa nama belakangmu? Pertama kali bertemu pun kamu hanya memberitahukan nama


depanmu saja.” Jawabku dengan santai.


“Sebenarnya.....


nama belakangku adalah Lusiandra Grace.”


“Hah, nama belakangmu sama denganku? Apakah kau mengetahui sesuatu?” ucapku dengan sedikit


memaksa Lusi untuk mengatakan apa yang diketahuinya.


“Maah Ismelda yang aku tahu hanya ayahku sebenarnya adik dari ayahmu yaitu Saint


Grace.”


“HUH, tapi baiklah aku akan mempercayainya dan mencoba menerima apa adanya dan apa yang


baru saja aku ketahui ini. Aku akan tetap maju meskipun hal yang akan ku ketahui


ini akan menyakiti hatiku.” Ucapku dengan senang sambil tertawa kepada Lusi.


“Baiklah kalau begitu aku akan membantu mencari ayahmu juga, dan jangan beritahu mereka


berdua ya, Ismelda.” Pinta Lusi kepadaku untuk menyembunyikan hal ini dari Alex


dan Ari.


“Iya, aku akan menyembunyikan hal ini dari Alex dan juga Ari, tapi anggaplah aku sebagai


saudara ketika kita hanya berdua seperti ini, ya Lusi?” Aku juga meminta


sesuatu kepada Lusi dengan senang.


“Iya iya, kan kita saudara mana mungkin aku ingkar janji.” Jawab Lusi sambil mulai


menangis.


“Loh loh loh,


Lusi ada apa kenapa kau menangis? Aku mengatakan hal yang salah atau menyakiti


hatimu ya? Ha? Katakan kepadaku kalau ada yang salah.” Aku menanyai Lusi dengan


kebingungan karena melihat Lusi menangis di tempat umum.


“Tidak ada apa-apa Ismelda, aku menangis bahagia karena kau tidak marah ataupun


membenciku, karena aku tidak memberitahukan ini kepadamu di awal pertemuan


kita.”


“Hahahahaha,


itu hal biasa, sudah banyak orang seperti itu yang aku temui contohnya Alex


dulu dia sama seperti mu, hanya memberitahukan apa yang perlu kuketahui, namun


sekarang bila dia ada masalah dia akan menanyakan atau meminta saran kepadaku.”


“Hahahaha,


dia ternyata orang yang seperti itu? Pantas saja dia tadi berkata seperti itu. Apa


Ari juga orangnya seperti itu?” sambung Lusi dengan banyak pertanyaan.


“Tidak,


Ari orangnya lebih terbuka, aku awal bertemu dengannya dia langsung seperti orang


yang sudah kenal lama. Kamu sebenarnya sifatmu itu mirip seperti mereka berdua


jika digabungkan.” Jawabku dengan sedikit mengejek Lusi.


“HAHAHAHAHA,


kau bisa saja Ismelda. Wah sudah sore begini ayo kita kembali ke penginapan


mungkin mereka akan mencari kita berdua, jika tidak segera kembali.”


“Iya, ayo kita kembali.”


Akhirnya kami


kembali ke penginapan sambil bersenda gurau seperti biasaya. Dan seperti apa


yang dipikirkan Lusi saat mau sampai di kamar kami Alex dan juga Ari sudah mau


berngkat mencari kami.


“Hoi, Alex, Ari mengapa kalian ada di depan pintu kamar kami?” tanyaku kepada mereka


berdua.


“Tidak apa-apa, kami hanya memastikan kamu baik-baik saja, tetapi tidak ada jawaban


sama sekali di dalam, jadi mungkin kalian sedang mandi atau apa gitu.” Jawab


Alex dengan malu-malu.


“Hahahaha, aku dan Lusi tadi pergi keluar untuk mencari barnag yang belum ia beli ketika


keluar bersamamu Ari. Dan aku juga sudah baik-baik saja, jadi tenanglah Alex,


Ari.”


“Baiklah,


kami pergi keluar sebentar mau cari angin.” Timpa Ari yang segera menarik


tangan Alex.


“Ya sudah, hati-hati kalian berdua. Ayo kita masuk Lusi.” Ucapku sambil membuka pintu


kunci.


Saat di dalam kamar ...


“Nah kan benar meraka itu sangat menghawatirkan aku saja karena mereka menganggapku


sebagai seorang ibu mereka.”


“IBU??”


tanya Lusi dengan wajah yang penasaran.


“Iya, karena mereka berdua sudah kehilangan ibu mereka sejak kecil. Dan mereka mengangap aku


sebagai ibu mereka.”


“Ya sudah, aku dulu yang mandi.” Ucap Lusi sambil mengambil handuk dan pergi ke kamar


mandi.


“OKE Lusi.” Jawabku


sambil menaruh barang-barang yang aku bawa.

__ADS_1


TO BE CONTINUED


__ADS_2