
Saat aku sedang mengisi energi untuk melakukan latihan dengan Alex dan Ari, ketika aku
sudah selesai Alex juga datang dan segera mengajak kami berdua untuk ke tempat
mereka biasa latihan. Namun sudah dipersiapkan untuk latihan kami bertiga.
“Hei Ari Ismelda, ayo kita pergi ke sana!!” Seru Alex yang mengajak kami pergi dan menunjuk
sebuah ruangan.
“Oke, kebetulan sekali kedatangmu sangat tepat. Aku juga sudah cukup mengumpulkan
energi.” Ucapku sembari berdiri.
“Ayo kita pergi sekarang, aku sudah tidak sabar!!” Seru Ari dengan penuh semangat.
Setelah itu kami bertiga pergi ke sebuah ruangan yang ditunjuk oleh Alex dan di sana sudah
ada Tendro guru mereka dan juga murid-muridnya. Saat aku masuk ke sana aku
sangat terkejut karena banyak orang yang akan melihat kami berlatih.
“Hoi, kalian berdua tidak bilang kalau ada orang yang akan menonton kita berlatih!!” Kataku
dengan wajah yang sedikit kesal karena tidak diberitahu apapun tentang
penonton.
“Yahhh, maaf ini kemauan Tendro. Jika mau Tendro jadi juri dia mau ada penontonnya, jadi
muridnya lah yang jadi penonton.” Jelas Alex dengan memalingkan wajah.
“Yasudahlah tidak apa-apa, mereka juga tidak akan mengganggu kita berlatih.” Sahut Ari yang
ada di belakangku.
“Ya sudahlah, Tendro apa kabar?” Tanyaku sambil mendekati paman Tendro.
“Eh Ismelda, aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” Tanya paman Tendro.
“Aku juga baik-baik saja, apakah Tendro mau menjadi juri?” Tanyaku dengan penuh rasa
hormat.
“Boleh saja, tetapi harus ada pelindung di sekitar tempat kalian akan berlatih. Aku tidak
bisa membuatnya dan tidak ada yang bisa, apa kau bisa membuatnya?” Kata paman
Tendro sambil menunjuk sekeliling.
“Kalau aku bisa saja, jadi tolong jadi juri di pertarungan kami.” Pintaku dengan senang
hati.
“Tentu saja aku mau menjadi juri di pertarungan kalian bertiga.” Jawab paman Tendro.
Setelah itu aku langsung membuat penghalang dengan enegi, untuk melindungi daerah sekitar
untuk tidak terkena kerusakan.
“Kontrol Energi : Pelindung Total”
Selesai aku mengucapkan kata-kata itu, ada pelindung berbentuk kotak yang lumayan besar ada
di depan kami semua.
“Sudah ayo sekarang kita mulai saja sebelum energiku terkuras untuk pelindung ini.” Seruku
mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam pelindung.
“Kita bertarung satu-persatu saja. Bertarung seperti itu lebih baik dan mudah untuk
menunjukan kekuatan individual kita.” Kata Alex sambil menganjurkan saran yang
sangat berguna.
“Oke deh, jadi siapa duluan Alex atau Ari?” Tanyaku dengan sambil melepas jaket yang aku
kenakan.
“Aku saja, kau istirahat dahulu!!” Seru Alex dengan bersemangat.
“Oke deh, aku juga sedang lelah dan mau mengumpulkan energi dahulu.” Ucap Ari dengan
menyetujui ucapan Alex.
Setelah itu aku dan Alex langsung masuk ke dalam pelindung yang aku buat dan mulai bersiap.
“Pembatas Lepas : Pedang Ilusi” Saat aku selesai mengucapkan
kata-kataku, aku melihat sekitar dan banyak orang yang kaget ketika aku
mengeluarkan pedang ilusi ini.
“Wah Ismelda, bagaimana kau bisa memanggil pedang itu?” Tanya Alex dengan penuh rasa
__ADS_1
penasaran. “Datanglah ke sini wahai pedang terkuatku” Saat Alex selesai bertanya langsung mengucapkan kata-kata untuk memanggil
pedangnya.
SRINGG.....Saat sudah selesai dia mengucapkan
kata-kata khusus, langsung keluar sebuah pedang yang sangat tipis dan panjang.
“Ya sudah nanti saja kita bicarakan sekarang kita fokus bertarung saja!!” Seru Alex.
“First Speed. Ya seperti yang kau inginkan! Aku akan maju sekarang !!” Saat
sudah selesai berbicara aku langsung maju menyerang Ale dan dia bisa
menangkisnya.
“Wah ternyata kau cepat juga, ya Ismelda? Aku kira kecepatanmu sudah menurun karena kejadian
kemarin.” Ucap Alex dengan mengejekku.
Lalu saat Alex selesai berbicara aku langsung melompat kebelakang dan langsung
mempersiapkan serangan berikutnya.
“Seribu Pedang : Bersiap Serang” Selesai mengucapkan
kata untuk menciptakan pedang dan langsung melesatkan pedang yang ada di
sekitarku.
“Wow wow wow, hei Ismelda apa kau yakin?” Ucap Alex sambil mencoba menangkis semua
pedang yang mengarah padanya.
Saat semua pedang sudah ditangkis oleh Alex, tanpa aku sadari aku malah mengeluarkan
pedang lagi dan langsung bersiap menyerang Alex. Dan Alex langsung hilang fokus
dan sedikit gelisah.
Ketika aku sudah maju ke arah Alex dan aku langsung berpindah ke titik buta Alex dan membuatnya
pingsan. Saat Alex pingsan aku langsung melepaskan mode pedangku.
“Haha, aku menang!!” Teriakku sangat senang.
“Hebat sekali kau Ismelda aku tidak menyangkan kamu bisa mengalahkan Alex seudah itu?”
Ucap Ari dengan mendekatiku saat penghalang yang aku buat sudah menghilang.
Aku mengucapkan itu dengan tanpa aku sadari aku malah jatuh karena kelelahan.
“Ismelda kau baik-baik saja?” Tanya Tendro sambil membopong aku ke dekat dinding.
“Aku baik-baik saja aku hanya kelelahan saja, karena bertarung dan menahan
penghalangku.” Jelasku kepada Tendro yang membopongku.
“Hei, Alex ayo kita pergi ke pinggir.” Ucap Ari dengan berusaha membopong Alex yang sedang
pingsan.
Saat aku, Tendro, Ari, dan Alex sudah ada di pinggir, kami berbincang-bincang. Lalu Tendro
menyuruh semua muridnya untuk kembali dan istirahat.
“Ismelda, bagaimana kamu bisa mendapatkan pedang ilusi?” Tanya Tendro ketika sudah
menyuruh murid-muridnya untuk kembali.
“Aku mendapatkannya kemarin, itupun aku sebenarnya diberi ketika di dalam mimpi
cuman aku mencoba memanggilnya dan akhirnya aku bisa memanggilnya dan saat aku
memanggilnya saat itu ada Lusi dan Kurusu, mereka juga terkejut karena aku bisa
memanggil pedang legenda.” Jelasku kepada Tendro.
“Wah, begitu, ya?” Tanya Tendro dengan penuh penasaran.
“Iya, tapi maaf ya Tendro, aku mau tidur sebentar mungkin sepuluh sampai dua puluh menit
aku akan tidur.”
“Iya kau istirahat saja terlebih dahulu, jangan kau paksakan tubuhmu jika kau masih
belum cukup sehat. Dan kau nanti akan melawan Ari.” Suruh Tendro.
Setelah Tendro menyuruh aku untuk istirahat aku langsung tidur. Saat aku terbangun dari
tidurku aku tidak melihat siapapun, dan aku merasa linglung kenapa tidak ada
orang sama sekali. Saat aku mulai berdiri ada seseorang yang masuk dan melihat
sekeliling yang aku tidak kenal siapa dia. Lalu aku memberanikan diri untuk
__ADS_1
bertanya siapa orang itu.
“Anda siapa ya?” Aku yang bertanya dengan sedikit gemetar.
“Eh...” Ucap orang tersebut dengan terkaget karena mendengar suaraku.
“Aku sedang mencari seorang perempuan, aku mau bertemu dengannya!!” Seru seseorang tadi
yang sekarang mulai mendekat kepada aku yang terdiam kaku.
“Memangnya kamu ada apa dengannya? Dan kalau kau boleh tahu siapa orang yang kamu cari?”
Aku kembali bertanya dengan maksud membantu.
“Kalau tidak salah namanya Ismelda, kalo tidak salah itu!!” Jawab seseorang tersebut.
“Apakah namanya Ismelda Grace?” Tanyaku untuk memastikan untuk memastikan.
“Iya iya, benar Ismelda Grace. Apakah kau mengetahui dia di mana?” Dia kembali bertanya
dengan semangat.
“Kalau itu aku adalah Ismelda Grace, memangnya ada apa sampai mencariku?” Tanyaku dengan
“Wahhhh, sungguh ini anda Ismelda Grace?” Tanyanya seperti tidak perecaya apa yang
sedang ia lihat.
“Ya pastilah, ini aku Ismelda Grace mana mungkin aku berbohong. Dan juga ada apa
sampai kau mencariku?” Tanyaku sambil membuat mereka percaya.
“Aku ini adalah Alfonso hanya Alfonso. Tujuanku mencari kak Ismelda adalah untuk
berterima kasih atas apa yang kakak lakukan di tengah kerajaan beberapa hari
lalu.” Ucapnya dengan formal.
“Oh begitu, kalau masalah itu jangan berterima kasih. Karena banyak juga yang menyelesaikan
lebih banyak masalah daripada aku.” Saat selesai berbicara aku melihat ada
seseorang masuk.
“Heii, Alex Ari ke sini aku mau memperkenalkan kalian kepada seseorang!!” Teriakku sambil
menyuruh mereka berdua mendekat ke arahku.
“Ohhh, jadi siapa dia dan kenapa dia ke sini?” Tanya Alex dengan berjalan mendekat.
“Dia ini Alfonso warga di daerah tengah kerajaan yang diserang bandit beberapa hari
lalu, dan dia mau berterima kasih kepadaku. Soalnya yang dia lihat mengalahkan
banditnya ialah aku jadi ia berfikir aku yang menyelesaikan masalah pada hari
itu.” Jelasku.
“OH begitu, perkenalkan aku Leandre Alex dan dia ini Ari Kanda, Salam kenal.” Ucap Alex
sambil memperkenalkan diri dengan senang hati.
“Jadi kalian berdua temannya kak Ismelda?” Tanya Alfonso dengan penuh rasa penasaran.
“Iya benar kami berdua adalah temannya Ismelda. Dan juga Ismelda apa kau sudah cukup
istirahat?” Tanya Ari seperti biasa.
“Tentu sajalah, apa kau sudah siap untuk kalah Ari?” Aku membalik pertanyaan Ari
dengan mengejek Ari.
“Hei, kali ini aku akan mengalahkanmu Ismelda, aku tidak sama seperti Alex yang asal
serang!” Ari membalas ejekanku.
“Eh, memangnya kak Ismelda mau apa?” Alfonso kembali bertanya disela aku dan Ari
saling ejek.
“Sebenarnya kami akan melakukan latihan bertarung apa kau mau lihat? Kalau kau mau kau juga
bisa bertarung melawan aku!! Tetapi kalau kau mau melawanku kau harus
menungguku mengalahkan dia!” Ucapku dengan menunjuk Ari dan mengejeknya.
“Wah aku mau sekali bertarung dengan kak Ismelda. Malahan ini akan menjadi pengalaman yang
tidak akan aku lupakan!!” Serunya dengan senang dan haru.
Setelah itu aku dan Ari mulai bersiap-siap untuk pertarungan kami, aku mengumpulkan energi
yang banyak dan Ari menyiapkan pedangnya.
TO BE CONTINUED
__ADS_1