
Setelah sedikit siang Ari, Alex, Lusi, Kurusu, dan Al datang ke kamarku. Tapi kamarku
sudah sepi karena paman Viole ada pekerjaan jadi harus pergi dengan cepat.
“Ismelda apa kau sudah bangun?” Tanya seseorang yang ada di depan pintu.
“Iya aku sudah bangun, masuk saja pintunya tidak dikunci!” Suruhku kepada orang yang ada
di depan pintu kamarku.
Setelah kupersilakan masuk ternyata orang yang masuk adalah....
“Oh, ternyata kalian aku kira siapa!!” Ucapku kepada Alex, Ari, Lusi, Kurusu, dan
Al.
“Hahaha, sebenarnya kami bergantian menjagamu! Terutama Al dia merasa sangat bersalah
karena kau sampai terluka begini.” Ucap Alex sambil menunjuk Al.
“Iya kak Ismelda, aku minta maaf, ya. Gara-gara aku kakak jadi terluka seperti ini!!”
Seru Al sambil meminta maaf dengan memegang tanganku.
“Tidak apa-apa Al, ini bukan salahmu! Ini salahku karena aku yang tidak bisa
mengendalikan kekuatanku!” Jelasku dengan mengelus kepala Al.
“Mengapa kau bisa lepas kendali seperti itu, Ismelda?” Tanya Lusi dengan penasaran.
“Aku mulai lepas kendali karena aku melihat senjata Al yang akan digunakannya, seketika
ada ingatan yang mengalir ke kepalaku dan aku melihat ingatan seseorang yang
menggunakan pedang ilusi dan terbunuh oleh senjata yang mirip dengan senjata
Al.” Jelasku dengan terpatah-patah.
“Jadi seperti pedang itu mempunyai ingatan dan ingatan itu mengalir kepadamu?” Lusi
kembali bertanya.
“Iya, seperti itu lalu seketika badanku seperti dikendalikan oleh pedangku, dan aku
bisa kembali mengendalikan tubuhku ketika aku sudah mengeluarkan serangan yang
mengarah ke Al.” Kembali aku menjelaskan apa yang aku tahu.
“Dan apa kau melihat wajah dari orang yang memakai senjata yang mirip itu?”
“Aku tidak bisa melihatnya karena wajahnya tertutup oleh rambut yang menjuntai di depan
wajahnya.” Jelasku.
“Ya sudah kalau begitu, aku juga tidak bisa memaksakan kau untuk mengingat-ingat apa yang
bukan ingatanmu.” Ucap Lusi sambil mengurungkan niatnya.
“Ya sudah, sekarang ayo kita berbincang santai jangan terlalu serius. Kasian Ismelda kalau
berbicara yang serius dia kan baru bangun!” Timbrung Alex.
“Iya, hei Alex dan Ari, apa kalian tidak ingat?” Tanyaku sambil melirik kepada Alex dan
Ari.
Deg..
“Memangnya apa yang kami lupakan?” Jawab Ari.
“Iya, apa yang kami lupakan?” Sahut Alex sembari menahan malu.
“Kan waktu itu sebelum bertarung kan kalian sudah janji. Kalau yang kalah harus mengikuti
keinginan yang menang.” Jelasku kepada semua orang yang ada di kamarku.
“Heh, jadi aku juga dong kak?” Tanya Al dengan takut.
“Kalau kamu berbeda akukan yang kalah dari kamu bukan kamu kalah dari aku. Jadi kamu boleh
meminta apapun dari aku.” Jelasku kepada Al.
__ADS_1
“Terima kasih kak!!” Seru Al dengan sangat senang.
“Jadi apa yang kamu inginkan Ismelda??” Tanya Alex dan Ari bersamaan.
“Kalau begitu aku ingin kalian membantu Al berlatih supaya bisa ikut dengan kita,
kalaupun diijin oleh Lusi.” Ucapku dengan sopan.
“Tentu saja aku mau-mau saja, tambah banyak aku juga bisa merasa makin aman!!” Seru Lusi
dengan mengijinkan Al ikut dengan kami.
“Terima kasih Lusi, dan untuk kalian berdua harus melatih Al dengan baik, ya!” Ucapku
dengan menoleh kepada Alex dan Ari.
“Iya iya, tenanglah kami akan mengajari Al dengan baik.” Jawab Ari dengan wajah yang
sedikit lega.
“Aku mohon bantuannya kak Ari dan kak Alex!!” Ucap Al dengan menunduk.
Setelah itu kami melanjutkan berbincang-bincang, sambil aku memakan apa yang sudah di
siapkan oleh mereka. Tanpa sadar kami berbincang sampai sore dan mereka pergi
untuk melakukan apa yang perlu mereka lakukan.
“Huh, sudah sepi sekarang aku mau apa, ya?” Gumamku sambil berfkir.
Setelah itu terlintas untuk melatih kontrol energi. Langsung aku coba.
“Latih kontrol energi enak nih!” Teriakku di dalam hatiku mendapat ide. Namun saat aku
coba malah tidak bisa, mungkin karena tubuhku masih belum pulih.
Setelah gagal mau mengontrol enrgi, aku kembali berfikit mau apa. Aku terus berfikir
tentang itu sampai ada orang yang mengetuk pintu kamarku lagi dan langsung aku
persilakan masuk.
“Ternyata paman Saint. Ada apa paman sampai mengunjungi aku yang sedang sakit?” Tanyaku
“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin melihat wajahmu saja, soalnya ketika melihat wajahmu
aku teringat dengan ayahmu, wajahnya mirip dengan wajahmu." Jelas paman
Saint sambil duduk di dekatku.
“Tentu saja aku ini-kan anaknya. Ngomong-ngomong memangnya paman tidak sibuk sampai bisa
menjenguk aku?” Aku kembali bertanya dengan sopan.
“Sebenarnya ada tetapi tidak terlalu penting kare__” Sebelum paman selesai berbicara aku
langsung memotong ucapannya.
“Paman tidak boleh seperti itu, meninggalkan pekerjaan itu tidak boleh nanti malah jadi
menumpuk dan tidak bisa diselesaikan. Jadi sekarang paman kembali menyelesaikan
urusan paman terlebih dahulu. Aku sudah tidak apa-apa, jadi paman tenang saja!”
Jelasku kepada paman dengan sedikit membentak.
“Wah kalau kamu seperti itu, kamu malah lebih mirip ayahmu. Soalnya ketika ayahmu masih di
sini dan tinggal bersama paman dia selalu menasehati paman seperti itu!! Tapi
ya sudahlah, aku akan menyelesaikan urusanku terlebih dahulu dan aku akan
kembali ke sini, sampai jumpa Ismelda!” Ucap paman Saint sembari berjalan
keluar kamar.
“Sampai jumpa paman, semoga urusanmu cepat selesai!!” Teriakku sambil melambaikan
tangan.
Setelah paman Saint pergi, aku kembali berfikir tentang apa yang akan aku lakukan
__ADS_1
sendiri di kamar ini. Terlintas untuk mengisi energi, namun saat aku kembali
memfikirkannya aku menduga pasti akan gagal seperti aku mengontrol energi tadi.
Tetapi aku membulatkan tekad untuk mengisi energi di dalam tubuhku dan hasilnya
sama saja gagal.
“AHHHHHHhH, apa yang harus aku lakukan, kenapa otakku tidak bisa berfikir!!” Teriakku untuk
menjernihkan pikiran. Setelah berteriak aku kembali melamun lagi.
Lamunanku terpecahkan saat ada seseorang yang mengetuk kembali pintu kamarku.
Lalu aku langsung menyuruh orang itu untuk masuk.
“Masuk saja!!” Seruku dari dalam untuk menyuruhnya masuk.
“Ternyata Al, ada apa kau kembali Al? Ada yang tertinggal?” Tanyaku kepada Al yang baru
saja masuk ke kamarku.
“Sebenarnya begini kak, aku mau bertanya sesuatu.” Jawabnya dengan sedikit takut dan
menghampiriku yang duduk di atas tempat tidur.
“Memangnya kau mau bertanya apa, dan jangan takut aku tidak akan marah kok.” Balasku sambil
mengelus kepalanya.
“Apa orang yang kakak lihat saat kakak dikendalikan, rambutnya berwarna putih?” Al lanjut
bertanya sambil terus gelisah.
“Kalau aku ingat-ingat memang benar rambutnya sedikit putih. Memangnya kenapa? Apa kau
mengenalinya?” Tanyaku kembali dengan penasaran.
“Jika memang benar dia adalah guruku yang menyerahkan senjatanya kepadaku karena beliau
sudah meninggal.” Jelas Al dengan tetap gelisah.
“Oh jadi begitu, tidak apa-apa toh sekarang beliau sudah tidak ada jangan mengingat
keburukannnya. Ingatlah kebaikannya.” Jelasku dengan menenangkan Al yang terus
gelisah.
“Lalu kakak dapat dari mana pedang itu? Apa dari orang yang penting bagi kakak?” Al kembali
bertanya dengan penuh kepastian.
“Tidak, aku mendapatkan pedang itu dari aku tidak sadarkan. Lagipula aku
juga tidak mengetahui siapa pemiliknya. Jadi kau tidak usah khawatir
aku akan melakukan hal yang berbahaya bagimu.” Jelasku dengan
tetap menenangkan Al.
“Kalau begitu, terima kasih kakak masu meluangkan waktu hanya untuk menjawab pertanyaanku.”
Ucap Al dengan menghela nafas lega.
“Kalau begitu syukuralah, kau sudah merasa lega. Aku jadi tidak merasa bersalah karena
mau membunuhmu!!” Seruku dengan tertawa.
“Kakak bisa saja, tetapi waktu itu aku benar-benar takut karena kakak berteriak tanpa
alasan lalu mengelurakan banyak pedang!!” Seru Al menyahut seruanku.
“Hahahahaha, bisa saja kau Al.” Aku kembali tertawa dengan Al.
Setelah itu kami bergurau dengan santai dan sebenarnya ada seseorang yang mengawasi namun
dia tidak di sekitar diriku. Namun biarlah jika dia tidak membahayakan bagi
teman atau diriku sendiri au akan biarkan dia sampai dia melakukan hal yang
bisa membahayakan.
__ADS_1
TO BE CONTINUED