Sword From Legend

Sword From Legend
Episode 12 : MASA LALU


__ADS_3

Setelah sedikit siang Ari, Alex, Lusi, Kurusu, dan Al datang ke kamarku. Tapi kamarku


sudah sepi karena paman Viole ada pekerjaan jadi harus pergi dengan cepat.


“Ismelda apa kau sudah bangun?” Tanya seseorang yang ada di depan pintu.


“Iya aku sudah bangun, masuk saja pintunya tidak dikunci!” Suruhku kepada orang yang ada


di depan pintu kamarku.


Setelah kupersilakan masuk ternyata orang yang masuk adalah....


“Oh, ternyata kalian aku kira siapa!!” Ucapku kepada Alex, Ari, Lusi, Kurusu, dan


Al.


“Hahaha, sebenarnya kami bergantian menjagamu! Terutama Al dia merasa sangat bersalah


karena kau sampai terluka begini.” Ucap Alex sambil menunjuk Al.


“Iya kak Ismelda, aku minta maaf, ya. Gara-gara aku kakak jadi terluka seperti ini!!”


Seru Al sambil meminta maaf dengan memegang tanganku.


“Tidak apa-apa Al, ini bukan salahmu! Ini salahku karena aku yang tidak bisa


mengendalikan kekuatanku!” Jelasku dengan mengelus kepala Al.


“Mengapa kau bisa lepas kendali seperti itu, Ismelda?” Tanya Lusi dengan penasaran.


“Aku mulai lepas kendali karena aku melihat senjata Al yang akan digunakannya, seketika


ada ingatan yang mengalir ke kepalaku dan aku melihat ingatan seseorang yang


menggunakan pedang ilusi dan terbunuh oleh senjata yang mirip dengan senjata


Al.” Jelasku dengan terpatah-patah.


“Jadi seperti pedang itu mempunyai ingatan dan ingatan itu mengalir kepadamu?” Lusi


kembali bertanya.


“Iya, seperti itu lalu seketika badanku seperti dikendalikan oleh pedangku, dan aku


bisa kembali mengendalikan tubuhku ketika aku sudah mengeluarkan serangan yang


mengarah ke Al.” Kembali aku menjelaskan apa yang aku tahu.


“Dan apa kau melihat wajah dari orang yang memakai senjata yang mirip itu?”


“Aku tidak bisa melihatnya karena wajahnya tertutup oleh rambut yang menjuntai di depan


wajahnya.” Jelasku.


“Ya sudah kalau begitu, aku juga tidak bisa memaksakan kau untuk mengingat-ingat apa yang


bukan ingatanmu.” Ucap Lusi sambil mengurungkan niatnya.


“Ya sudah, sekarang ayo kita berbincang santai jangan terlalu serius. Kasian Ismelda kalau


berbicara yang serius dia kan baru bangun!” Timbrung Alex.


“Iya, hei Alex dan Ari, apa kalian tidak ingat?” Tanyaku sambil melirik kepada Alex dan


Ari.


Deg..


“Memangnya apa yang kami lupakan?” Jawab Ari.


“Iya, apa yang kami lupakan?” Sahut Alex sembari menahan malu.


“Kan waktu itu sebelum bertarung kan kalian sudah janji. Kalau yang kalah harus mengikuti


keinginan yang menang.” Jelasku kepada semua orang yang ada di kamarku.


“Heh, jadi aku juga dong kak?” Tanya Al dengan takut.


“Kalau kamu berbeda akukan yang kalah dari kamu bukan kamu kalah dari aku. Jadi kamu boleh


meminta apapun dari aku.” Jelasku kepada Al.

__ADS_1


“Terima kasih kak!!” Seru Al dengan sangat senang.


“Jadi apa yang kamu inginkan Ismelda??” Tanya Alex dan Ari bersamaan.


“Kalau begitu aku ingin kalian membantu Al berlatih supaya bisa ikut dengan kita,


kalaupun diijin oleh Lusi.” Ucapku dengan sopan.


“Tentu saja aku mau-mau saja, tambah banyak aku juga bisa merasa makin aman!!” Seru Lusi


dengan mengijinkan Al ikut dengan kami.


“Terima kasih Lusi, dan untuk kalian berdua harus melatih Al dengan baik, ya!” Ucapku


dengan menoleh kepada Alex dan Ari.


“Iya iya, tenanglah kami akan mengajari Al dengan baik.” Jawab Ari dengan wajah yang


sedikit lega.


“Aku mohon bantuannya kak Ari dan kak Alex!!” Ucap Al dengan menunduk.


Setelah itu kami melanjutkan berbincang-bincang, sambil aku memakan apa yang sudah di


siapkan oleh mereka. Tanpa sadar kami berbincang sampai sore dan mereka pergi


untuk melakukan apa yang perlu mereka lakukan.


“Huh, sudah sepi sekarang aku mau apa, ya?” Gumamku sambil berfkir.


Setelah itu terlintas untuk melatih kontrol energi. Langsung aku coba.


“Latih kontrol energi enak nih!” Teriakku di dalam hatiku mendapat ide. Namun saat aku


coba malah tidak bisa, mungkin karena tubuhku masih belum pulih.


Setelah gagal mau mengontrol enrgi, aku kembali berfikit mau apa. Aku terus berfikir


tentang itu sampai ada orang yang mengetuk pintu kamarku lagi dan langsung aku


persilakan masuk.


“Ternyata paman Saint. Ada apa paman sampai mengunjungi aku yang sedang sakit?” Tanyaku


“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin melihat wajahmu saja, soalnya ketika melihat wajahmu


aku teringat dengan ayahmu, wajahnya mirip dengan wajahmu." Jelas paman


Saint sambil duduk di dekatku.


“Tentu saja aku ini-kan anaknya. Ngomong-ngomong memangnya paman tidak sibuk sampai bisa


menjenguk aku?” Aku kembali bertanya dengan sopan.


“Sebenarnya ada tetapi tidak terlalu penting kare__” Sebelum paman selesai berbicara aku


langsung memotong ucapannya.


“Paman tidak boleh seperti itu, meninggalkan pekerjaan itu tidak boleh nanti malah jadi


menumpuk dan tidak bisa diselesaikan. Jadi sekarang paman kembali menyelesaikan


urusan paman terlebih dahulu. Aku sudah tidak apa-apa, jadi paman tenang saja!”


Jelasku kepada paman dengan sedikit membentak.


“Wah kalau kamu seperti itu, kamu malah lebih mirip ayahmu. Soalnya ketika ayahmu masih di


sini dan tinggal bersama paman dia selalu menasehati paman seperti itu!! Tapi


ya sudahlah, aku akan menyelesaikan urusanku terlebih dahulu dan aku akan


kembali ke sini, sampai jumpa Ismelda!” Ucap paman Saint sembari berjalan


keluar kamar.


“Sampai jumpa paman, semoga urusanmu cepat selesai!!” Teriakku sambil melambaikan


tangan.


Setelah paman Saint pergi, aku kembali berfikir tentang apa yang akan aku lakukan

__ADS_1


sendiri di kamar ini. Terlintas untuk mengisi energi, namun saat aku kembali


memfikirkannya aku menduga pasti akan gagal seperti aku mengontrol energi tadi.


Tetapi aku membulatkan tekad untuk mengisi energi di dalam tubuhku dan hasilnya


sama saja gagal.


“AHHHHHHhH, apa yang harus aku lakukan, kenapa otakku tidak bisa berfikir!!” Teriakku untuk


menjernihkan pikiran. Setelah berteriak aku kembali melamun lagi.


Lamunanku terpecahkan saat ada seseorang yang mengetuk kembali pintu kamarku.


Lalu aku langsung menyuruh orang itu untuk masuk.


“Masuk saja!!” Seruku dari dalam untuk menyuruhnya masuk.


“Ternyata Al, ada apa kau kembali Al? Ada yang tertinggal?” Tanyaku kepada Al yang baru


saja masuk ke kamarku.


“Sebenarnya begini kak, aku mau bertanya sesuatu.” Jawabnya dengan sedikit takut dan


menghampiriku yang duduk di atas tempat tidur.


“Memangnya kau mau bertanya apa, dan jangan takut aku tidak akan marah kok.” Balasku sambil


mengelus kepalanya.


“Apa orang yang kakak lihat saat kakak dikendalikan, rambutnya berwarna putih?” Al lanjut


bertanya sambil terus gelisah.


“Kalau aku ingat-ingat memang benar rambutnya sedikit putih. Memangnya kenapa? Apa kau


mengenalinya?” Tanyaku kembali dengan penasaran.


“Jika memang benar dia adalah guruku yang menyerahkan senjatanya kepadaku karena beliau


sudah meninggal.” Jelas Al dengan tetap gelisah.


“Oh jadi begitu, tidak apa-apa toh sekarang beliau sudah tidak ada jangan mengingat


keburukannnya. Ingatlah kebaikannya.” Jelasku dengan menenangkan Al yang terus


gelisah.


“Lalu kakak dapat dari mana pedang itu? Apa dari orang yang penting bagi kakak?” Al kembali


bertanya dengan penuh kepastian.


“Tidak, aku mendapatkan pedang itu dari aku tidak sadarkan. Lagipula aku


juga tidak mengetahui siapa pemiliknya. Jadi kau tidak usah khawatir


aku akan melakukan hal yang berbahaya bagimu.” Jelasku dengan


tetap menenangkan Al.


“Kalau begitu, terima kasih kakak masu meluangkan waktu hanya untuk menjawab pertanyaanku.”


Ucap Al dengan menghela nafas lega.


“Kalau begitu syukuralah, kau sudah merasa lega. Aku jadi tidak merasa bersalah karena


mau membunuhmu!!” Seruku dengan tertawa.


“Kakak bisa saja, tetapi waktu itu aku benar-benar takut karena kakak berteriak tanpa


alasan lalu mengelurakan banyak pedang!!” Seru Al menyahut seruanku.


“Hahahahaha, bisa saja kau Al.” Aku kembali tertawa dengan Al.


Setelah itu kami bergurau dengan santai dan sebenarnya ada seseorang yang mengawasi namun


dia tidak di sekitar diriku. Namun biarlah jika dia tidak membahayakan bagi


teman atau diriku sendiri au akan biarkan dia sampai dia melakukan hal yang


bisa membahayakan.

__ADS_1


TO BE CONTINUED


__ADS_2