Sword From Legend

Sword From Legend
Episode 13 : KEMUNCULAN


__ADS_3

Setelah aku dan Al bergurau cukup lama dan tak terasa sudah sore saja, dan Al memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Lalu aku ke kamar mandi untuk mandi karena badanku sudah pegal-pegal dan sudah lama juga aku tidak mandi.


“Wah enaknya mandi dulu, aku juga sudah beberapa hari tidak mandi. Tetapi ini juga karena kesalahanku.” Ucapku dalam hati sambil berjalan menuju ke kamar mandi.


Saat aku di kamar mandi aku mendengar seseorang masuk, tetapi kubiarkan saja. Setelah selesai mandi dan memakai baju aku segera keluar dari kamar mandi dan melihat siapa orang yang masuk ke kamarku.


“Oh ternyata Lusi, aku kira siapa!” Seruku saat keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambut.


“Memangnya kau kira siapa? Jangan-jangan kau pikir aku orang lain?” balasnya dengan muka cemberut.


“Eh, bukan soalnya sudah sering juga orang masuk tanpa ketuk pintu, dan orang tersebut pasti orang yang baru aku kenal. Jadi aku kira kau orang baru.” Jelasku sambil ke kursi tempat duduk Lusi.


“Memangnya siapa yang pernah datang tanpa ketuk pintu?” Tanyanya dengan penasaran.


“Ayahmu, paman Viole, Alex dan Ari.” Ucapku dengan menunjuk langi-langit.


“Hah, ayahku sampai ke sini?” Tanyanya dengan tidak kepercayaan yang tinggi.


“Iya, benar ayahmu. Aku pertama kali dulu juga terkejut, katanya ketika beliau melihat diriku beliau seperti melihat orangku.” Jelasku dengan menggerakan tangan.


“Wah, kalau ayahku bilang seperti itu kemungkinan juga memang benar. Tapi aku juga tidak bisa marah ataupun melarang untuk bertemu dengan orang yang dia inginkan.” Jelasnya dengan menyentuh wajah.


Setelah itu kami berdua mengobrol biasa dan sampai larut malam, Lusi akhirnya kembali ke kamarnya dan aku pun langsung bersiap untuk beristirahat agar besok pagi bisa lebih segar lagi.


Saat pagi sudah menjelang aku terbangun dengan biasa, dan aku melakukan hal yang biasa kulakukan setelah bangun tidur. Setelah selesai aku mau mencoba melatih mengontrol energi, lalu setelah lama berlatih matahari sudah terbit dan di luar kamarku sudah mulai banyak suara langkah kaki.


“Wah ternyata sudah pagi, akankah temanku atau orang yang kenal denganku akan datang?” Pikirku sambil bertanya kepada diriku sendiri.


Tak lama kemudiam Lusi datang sendirian.


“Ismelda boleh aku masuk?” Tanya Lusi sambil mengetuk pintu kamarku.


“Masuk saja pintunya tidak aku kunci!” Seruku dari dalam kamar.


“Ternyata kau sudah bangun?” Tanyanya saat sudah masuk ke dalam.


“Iya tubuhku sudah sembuh sepenuhnya, tadi aku sempat berlatih juga.” Ceritaku kepada Lusi dengan semangat.


“Hah tadi? Jadi kau sudah bangun daritadi?” Tanyanya dengan penuh penasaran.

__ADS_1


“Iya, memangnya kenapa? Apa ada yang salah? Kan aku kalau sehat kan memang bangun lebih awal.” Aku yang kebingungan memberikan banyak pertanyaan kepada Lusi.


“Tidak, jika kau bilang sesuatu berarti memang kau sudah pulih betul. Jadi apa kau sudah bisa mengendalikan energimu?” Lusi kembali bertanya sembari duduk di sebelahku.


“Sudah, aku sudah bisa mengendalikan penggunaan energiku. Apa ada yang mau kamu lakukan?” Ucapku dengan penasaran.


“Sebenarnya bukan aku, apa kau sudah lupa? Kau kan masih punya janji.” Jelasnya.


“Ohhh iya, aku masih belum bertarung dengan paman Viole. Apa paman Viole ada?” Tanyaku dengan serius.


“Ada, dia sudah ada di tempat kemarin. Sekarang kalau kau mau, sekarang kau bisa ke sana!” Jelas Lusi dengan menunjuk arah tempat kemarin aku bertarung.


“Baiklah terima kasih Lusi, aku akan ke sana sekarang!!!” Seruku dengan penuh semangat.


“Iya, aku akan menemanimu ke sana. Aku juga mau melihat kau bertarung dengan Viole.” Jelasnya sembari berdiri.


Setelah itu kami berdua pergi ke tempat yang ditunjuk Lusi. lalu saat kami berdua sudah sampai di depan ternyata sudah ada orang.


“Permisi, Paman Viole kau ada?” Tanyaku sambil menengok ke dalam tempat bertarung yang sebenanya tempat latihan Alex dan Ari.


“Eh Ismelda, kau sudah lebih baik?” Tanya paman Viole sambil berjalan mendekati aku dan juga Lusi.


“Baiklah, ayo kita lakukan tetapi siapa yang jadi wasitnya? Tendro apa kau mau?” Tanya paman Viole ke Paman Tendro.


“Baiklah, aku mau menjadi wasit di pertarungan kalian, tetapi aku tidak bisa membuat penghalang. Apa kau bisa melakukannya sekaligus, Ismelda?” Tanya Paman Tendro.


“Kalau aku melakukannya sekaligus, banyak kemungkinan aku masih belum mempertahankan jumlah energi yang kugunakan. Tapi ada orang yang bisa melakukannya selain aku.” Ucapkau sambil memalingkan wajah ke arah Lusi.


“Iya iya, aku akan menciptakan penghalangnya.” Jawab Lusi sambil melihat ke arah lain.


“Terima kasih Lusi.”


Setelah itu Lusi bersiap untuk menciptakan penghalang. Lalu saat sudah siap Lusi membuat penghalang di sekitar aku dan Paman Viole.


“Ismelda keluarkan kekuatanmu yang sekarang, dan pastinya melebihi waktu itu!” Seru paman Viole sambil bersiap menyerang.


“Baiklah paman aku akan menunjukan kekautanku yang sekarang dan akan mengalahkan paman dengan kekautan penuhku!” Aku membalas seru dari paman Viole.


“Pedang Ilusi Penuhilah kemauanku”

__ADS_1


Tanpa pikir panjang aku mengeluarkan pedang ilusi dan tanpa sengaja aku memanggil kedua pedang ilusi bersamaan.


“Wah kau hebat sekali kau Ismelda, kau bisa memanggil pedang legenda, itu!!” Seru paman Viole saat aku mengelarkan pedang ilusi.


“Aku akan maju paman Viole!!” Aku kembali menyeru dan bersiap maju.


”Peniru”


Setelah aku mengucapkan itu terdengar paman Viole berbicara itu, lalu aku melihatnya dia memegang pedang yang sama denganku.


“Kalau begitu maju sini, aku akan mengalahkanmu dengan mudah!!” Sembari bersiap pada posisi bertahan.


“Fast Speed” Aku langsung maju dengan berputar-putar di sekeliling paman Viole.


Saat aku sudah maju dan ternyata paman Viole bisa menangkis seranganku, meskipun aku sudah mencari dan menunggu celah pada paman Viole.


“Wah-wah, kau sudah bisa maju dengan cepat seperti itu, aku sungguh terkejut kau bisa melakukannya dengan hanya beberapa hari kita tidak bertemu. Aku akan menyerangmu setelah ini!!” Seru Paman Viole dengan bersiap menyerangku meskipun aku masih berlari mengitarinya.


“Wuahh, paman kau bisa melakukan hal seperti ini juga, ya?” Tanyaku saat berhasil menangkis serangan dari paman Viole.


“Sebenarnya, ini caraku bertarung satu lawan satu dan jika musuhku terlalu kuat saja. Karena waktu itu kau masih belum bisa menggunakan kekuatanmu jadi aku menahan diri.” Jelasnya sambil melompat menjauh dariku.


“Kalau begitu, apakah paman bisa menirukan gerakanku ini?” Tanpa sempat melihat aku langsung maju menyerang dengan brutal.


Saat aku masih melancarkan sekitar empat kali tubuhku langsung merasa kelelahan seperti tidak punya tenaga untuk berdiri, dan gerakanku langsung terenti.


“Ismelda? Apa kau baik-baik saja?” Tanya paman yang melihatku terhenti setelah melancarkan serangan tadi.


“Aku tidak apa__” Aku yang belum menyelesaikan kalimatku langsung terduduk dan pedang ilusi yang kubawa langsung hilang.


“Hei Ismelda, kau tidak apa-apa? Apa ada luka yang kau rasakan?” Tanya Lusi yang berlari mendekatiku yang terduduk.


“Kalau luka a_aku tidak mer_asakan apa-apa, namun tubuhku seperti ke_hilangan seluruh energi.” Jelasku dengan ter-engah-engah.


“Ya sudah, kau istirahat saja aku akan menggendongmu kembal ke kamarmu.” Ucap paman Viole sambil mengulurkan tangannya.


“Teri_” Saat itu aku langsung pingsan karena saat bertarung dengan menggunakan ke-dua pedang ilusi menguras banyak energi.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2