
Saat terbangun aku sudah ada di kamardan orang pertama yang aku lihat adalah Lusi
yang sedang duduk di sudut kamar, dan ia kelitannya juga tertidur.
“L-lu-lusi, bangunlah ini sudah sore, kembalilah ke kamarmu jika mau lanjut tidur.” Ucapku
dengan sedikit tertatih.
“Ah Ismelda, kau sudah bangun, ya? Maaf aku ketiduran di sini. Aku akan kembali nanti saja
aku masih mau berbicara agi dengamu.” Balas Lusi sambil mengusap-usap wajahnya.
“Memangnya kau mau berbicara apa? Dan kenapa harus sekarang? Dan apa kau mau memeriksa
energi yang mengalir di tubuhku, karena aku merasa sedikit berbeda saat aku
melakukan pertarungan tadi.” Jelasku dengan malu-malu.
“Baiklah aku akan memeriksa energimu sekarang, aku juga merasakan energi yang mengalir di
tubuhmu berbeda dari yang biasanya.” Kata Lusi sembari berjalan mendekatiku.
Saat sudah berada di sampingku Lusi langsung mengatakan kata khusus pengecekan tubuh.
Wahai pembatas berikan aku sedikit kekuatanmu untuk memeriksa targetku
Setelah itu dia langsung memberitahukan apa yang terjadi dengan tubuhku.
“Ismelda apa kau melakukan sesuatu yang tidak biasa kau lakukan?” Tanyanya dengan gelisah.
“Tidak ada, aku hanya mengumpulkan energi seperti biasa untuk bertarung. Tidak ada hal lain
yang aku lakukan.” Jawabku dengan berlagak berfikir keras.
“Kalau begitu, bagaimana mungkin energi yang mengalir di tubuhmu sangat meningkat jauh
daripada terakhir kali aku memeriksa energimu.” Jelasnya dengan pensaran.
“Apakah menurutmu itu ada hubunganya dengan aku bisa mengeluarkan kedua pedang ilusi?”
aku kembali bertanya lagi.
“Mungkin saja, saat aku pertama kali merasakan perbedaan aliran energi adalah saat kau
mengeluarkan dua pedang itu. Pasti ada pemicu kau bisa mengeluarkannya, dan
mengapa efeknya bisa sampai sekarang?”
“Ya sudahlah, besok aku akan melakukannya lagi agar aku sedikit lebih tahu dengan
energiku sekarang. Sekarang kau bisa kembali ke kamarmu untuk istirahat. Aku
juga sudah sadar dan aku juga merasa sedikit lebih baik.” Jelasku menyuruh Lusi
kembali ke kamarnya.
Saat Lusi sudah kembali aku kembali berfikir mengapa aku sampai bisa mengeluarkan kedua
pedang yang dianggap legenda. Aku sampai tertidur karena memikirkan tentang
itu.
Keesokan harinya aku bangun seperti biasa, namun ketika aku melihat sekitarku hanya
terlihat kegelapan. Saat itu juga aku merasa masih tidur langsung aku berusaha
untuk konsentrasi agar aku bisa bangun. Dan pada akhirnya aku berhasil bangun
dan sampai mengejutkan Lusi yang baru saja masuk ke kamarku.
“Haaaaaa!!” Teriakku dengan nyaring.
“Ada apa denganmu Ismelda? Apa kau bermimpi buruk?” Tanya Lusi sambil berjalan
mendekatiku dan duduk di sebelahku.
__ADS_1
“Aku tadi seperti terbangun namun aku hanya melihat kegelapa, namun sesaat aku sebelum
tersadar aku melihat sosok ayahku melambai kepadaku.” Jelasku dengan terengah-engah.
“Ayahmu? Apa kau melihat dia berkata sesuatu?” Lusi kembali bertanya kepadaku.
“Ya, dia bilang seperti “Carilah aku”. Hanya seperti itu yang aku bisa pastikan ia
katakan.”
“Kemungkinan memang sosok itu mau kamu segera mencari ayahmu!!”
“Aku juga berfikir seperti itu, besok aku akan pergi mencarinya lagi. Hari ini aku akan
mencari tahu informasi yang aku butuhkan di daerah sekitar.”
“Iya, memang seharusnya begitu. Besok aku akan menemanimu mencari ayahmu.” Ucap Lusi sambil
memegang tanganku.
“Apakah kau dibolehkan pergi oleh ayahmu? Dan kalau kau pergi apa tidak ada yang
mempermasalahkannya?” Tanyaku dengan sungguh-sungguh.
“Tidak apa-apa, hari ini aku akan meminta ijin kepada ayahku dan akan aku pastikan dia
memperbolehkan aku pergi. Bolehkan saja aku ikut denganmu, kumohon.” Lusi
memintanya dengan memelas.
“Iya iya, kau boleh ikut. Sekarang mulailah meminta ijin kepada ayahmu! Aku akan mencari
informasi terlebih dahulu.” Suruhku kepada Lusi.
“Hmmp, aku akan mulai memintanya sekarang!!” Lusi keluar kamarku dengan berlari penuh
semangat.
Setelah itu aku bersiap untuk pergi dan mencari informasi di sekitar sini terlebih dahulu.
yang ingin aku temui dan tanyai adalah paman Viole karena dia sering keluar dan
kemungkinan besar paman Viole punya informasi yang aku inginkan. Setelah
berjalan beberapa menit aku bertemu dengan paman Viole.
“Paman Viole... Tunggu!!” Teriakku sambil berlari mendekati paman Viole.
“Ehh, Ismelda. Ada apa? Sampai kau mengejarku seperti ini?” Jawab paman setelah
mendengar teriakanku.
“Ada yang aku ingin tanyakan kepada paman, ayo kita duduk di kursi taman itu, paman!”
Ucapku sambil menunjuk salah satu kursi yang ada di taman.
“Begini paman, kan paman sering keluar, apa paman ada informasi tentang ayahku?”
Tanyaku sesudah sampai di kursi yang aku tunjuk.
“Ohhh, soal itu aku terakhir mendengar tentang dia kemarin di sebelah timur dari sini di
desa Kayar. Terakhir kali aku mendengar tentangnya dia ada di sana.” Jelas
paman dengan sedikit lupa.
“Apakah desa itu banyak penduduk?” Tanyaku dengan penuh rasa penasaran.
“Berpenduduk? Malah sebaliknya desa itu adalah desa kosong hanya ada bangunan tidak ada
penduduknya.” Jawab paman sambil tertawa.
“Hah... kosong? Bagaimana mungkin?” Aku kembali bertanya.
“Karena desa itu pernah menjadi medan pertempuran dan sampai sekarang ditinggalkan oleh
__ADS_1
penduduknya, dan paman juga tidak tahu mengapa mereka meninggalkannya.”
“Jadi begitu ceritanya. Hmmm, baiklah terima kasih paman.” Ucapku sambil beranjak pergi.
“Memangnnya kau mau apa kau ke sana?” Tanya paman Viole sambil menatapku serius.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin bertanya. Sampai jumpa paman!!” Ucapku sambil berlari
meninggalkan paman.
Setelah itu aku hanya melihat paman menghela nafas dari kejauhan sambil berlari. Lalu aku
pergi keluar dan berhenti dan kembali berfikir.
“Hahhh, jadi informasi yang aku butuhkan sudah aku dapatkan. Besok bisa langsung berangkat.”
Gumamku.
“Ismelda, kau ku cari ke mana-mana tidak ada ternyata kau ada di sini.” Ucapnya saat
mendekatiku.
“Memangnya ada apa, sampai mencariku?”
“Aku sudah di ijinkan oleh ayahku untuk ikut denganmu!!” Serunya dengan penuh semangat.
“Baiklah kalau begitu, sekarang ayo ikut aku untuk menemui mereka.”
“Mereka? Siapa?” Tanya Lusi dengan penasaran.
“Sudahlah pokoknya ikut saja!!” Jawabku sambil berdiri dan menggandeng tangan Lusi untk
segera pergi.
Setelah itu aku dan Lusi pergi untuk menemui orang yang aku maksudkan.
“Hoi, Alex Ari!! Berhenti sebentar aku mau bertanya!!” Teriakku saat mulai mendekati Alex
dan Ari.
“Memangnya ada apa?” Tanya Alex sambil memutar badan dan berhenti.
“Begini, besok aku dan Lusi akan pergi mencari ayahku. Apa kalian mau ikut?”
“Kalau aku tidak bisa, aku harus menjaga daerah selatan. Karena penjaga daerah itu terluka
karena berlatih denganku kemarin.” Ujar Ari.
“Aku juga tidak bisa, aku diminta oleh seseorang untuk menjaganya.”Timpa Alex.
“Jadi begitu, baiklah aku dan Lusi saja yang pergi. Apa tidak apa-apa Lusi kalau
hanya kita berdua?” Tanyaku dengan sedikit kecewa.
“Tidak apa-apa, karena mereka juga harus melakukan hal yang penting bagi mereka
sendiri.” Jelas Lusi dengan senang.
“Ya sudah, maaf kalau aku mengganggu waktu kalian berdua.” Ucapku dengan melambakan
tanganku dan mulai berjalan pergi.
“Maaf ya, aku tidak bisa menemani kalian berdua.” Ucap Alex dengan mulai berjalan pergi.
“Sampai jumpa Ismelda, Lusi, sampai ketemu lagi.” Sahut Ari sambil melambaikan tangan.
“Ya sudah Lusi, ayo kita pergi ke taman dan membicarakan apa yang perlu kita bawa.” Ajakku
dengan menunjuk arah taman.
Setelah itu aku berbicara tentang apa yang akan kami bawa, dan kami sampai lupa waktu
sampai sore. Lalu aku kembali ke kamar dan Lusi pergi mengurus sesuatu yang seharusnya
dikerjakan besok.
__ADS_1
TO BE CONTINUED